Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 61


__ADS_3

Hari ini, Hana dan Angga sudah berjanjian untuk bertemu di rumah sakit. Hubungan keduanya memang belum banyak berubah. Tapi tekad Hana sudah bulat. Bahwa ia tak ingin membuat Rasyid semakin berharap. Hana yakin bahwa Rasyid bisa menemukan gadis lain yang juga mencintai Rasyid dengan tulus. Hana memang menyayangi Rasyid. Tapi rasa sayangnya tak lebih dari rasa sayang kepada sahabat.


Sejak lima belas menit yang lalu Hana sudah menunggu Angga di lobi rumah sakit. Senyum Hana mengembang sempurna melihat Angga yang berjalan ke arahnya. Hari ini Angga terlihat begitu santai dan emm... Tampan.


Kaos berkerah berwarna biru navy dipadukan dengan celana slim fit berwarna abu tua membuat Angga terlihat begitu menawan. Hana sempat menahan napas saat melihatnya.


"Sudah lama?" Tanya Angga saat sudah berdiri di dekat Hana.


"Baru lima belas menit," Hana mengerucutkan bibirnya seolah merasa kesal karena terlalu lama menunggu.


"Maaf, ya?" Ucap Angga lembut. "Sudah siap?" Hana mengangguk. Siap disini dalam artian bahwa Hana akan jujur yang sebenarnya pada Rasyid. Angga memang tahu semuanya. Tapi bukan berarti Angga yang meminta Hana untuk mengatakan pada Rasyid bahwa Hana tidak memiliki perasaan lebih pada Rasyid.


Semalam Angga berucap, "bukan hanya wanita saja yang butuh kepastian. Tapi laki-laki juga butuh kepastian."


Meskipun ucapan Angga tak megartikan bahwa dirinya juga meminta kepastian pada Hana, namun Hana merasa tersindir dengan ucapan Angga.


Mungkin Ikhsan benar bahwa diamnya Hana pada kedua lelaki tersebut, bisa jadi mereka mengartikan bahwa Hana memberikan harapan palsu pada mereka.


Keduanya berjalan pelan melewati koridor rumah sakit. Ingin rasanya Angga menautkan jari-jarinya pada jari-jari Hana. Namun Angga malu kalau Hana menolak akan hal itu.


Sebaliknya, Hana justru menginginkan tangan Angga menggenggam tangannya. Namun juga Hana merasa malu kalau harus meminta akan hal itu terlebih dahulu.


Sesampainya didepan kamar Rasyid, Hana terlihat ragu untuk membuka pintunya. Hana menoleh sebentar ke arah Angga. Angga mengangguk dan tersenyum meyakinkan.


"Assalamualaikum," ucap keduanya.


"Waalaikumsalam," jawab Rasyid, Nilam, dan Andri, ayah Rasyid.


Senyum sumringah yang semula Rasyid tunjukkan pada Hana kini mengendur saat melihat Angga berjalan di belakang Hana.


Rasyid melengos tak suka. Wajahnya mendadak muram tak bersemangat lagi. Dua hari ia menanti kedatangan Hana. Namun sekalinya Hana datang dia bersama Angga. Orang yang Rasyid anggap saingan terberatnya dalam mendapatkan Hana. Meskipun Rasyid tahu bahwa sebenarnya dia tidak akan pernah menang melawan Angga.


"Kalian ngobrol dulu, ya? Kami mau ke depan sebentar," kedua orangtua Rasyid pamit undur diri. Mereka sengaja pergi agar Rasyid, Hana, dan Angga bisa mengobrol lebih leluasa.


"Hai?" Sapa Hana canggung. Hana menyadari perubahan raut wajah Rasyid saat melihatnya datang bersama Angga. Rasyid membalasnya dengan senyuman tipis yang sedikit dipaksakan.


"Hari ini semakin baik?"


"Alhamdulillah. Besok boleh pulang."


Hana berbinar mendengarnya. "Beneran?" Tanyanya meyakinkan. Rasyid mengangguk pasti. "Alhamdulillah.." pekiknya senang.


"Seneng, kan, nggak jenguk aku lagi?" Ujar Rasyid sarkasme.


"Kok kamu ngomongnya gitu, sih?" Protes Hana tak suka. "Aku pasti bakal sering jenguk kamu sampai kamu benar-benar sehat, Rasyid. Apalagi dirumah nggak ada lagi batasan waktu kayak dirumah sakit yang harus nunggu jam besuk dulu biar bisa masuk ke kamar pasien."


Angga merasa Rasyid dan Hana butuh waktu berdua untuk berbicara. Oleh sebab itu, Angga juga berpamitan untuk menunggu Hana di luar.


"Aku keluar sebentar, ya? Kalau sudah selesai kamu bisa telepon." Hana mengangguk mengerti. "Rasyid, cepat sehat, ya? Saya keluar dulu."


Rasyid hanya mengangguk tanpa minat. Pun dengan jawaban yang ia berikan hanya berupa deheman singkat tanpa mengucapkan terimakasih karena sudah menjenguknya.


"Kamu balikan sama Pak Angga?" Tanya Rasyid setelah Angga tak terlihat lagi.


"Belum. Eh, eng.. Enggak." Jawab Hana dengan tergagap.


"Belum? Itu artinya ada kemungkinan kalian akan balikan. Atau justru rencana kalian sudah lebih jauh dari sekedar kata balikan?"


Ucapan Rasyid begitu menohok. Hana masih tak mengerti bagaimana Rasyid bisa mengetahui semua hal tentang dirinya meskipun ia belum mengatakan apapun.


Hana duduk di kursi dekat ranjang Rasyid. Tangannya dengan cekatan mengupas jeruk dan memberikannya kepada Rasyid. Rasyid menerima dan memakannya.


"Aku tahu, tanpa aku mengatakan apapun kamu sudah bisa menebaknya," ucap Hana pelan.


"Bagaimana bisa secepat itu kamu menerima dia kembali?"


"Langkah kami belum jauh. Hanya saling instrospeksi diri. Memperbaiki kesalahan kami di masa lalu. Itu saja."

__ADS_1


"Kamu masih mencintainya?" Tanya Rasyid pelan. Rasyid sudah menyiapkan hatinya kalau seandainya Hana menjawabnya secara gamblang. Selama ini ia bisa bersikap seolah baik-baik saja karena Hana memang tak menanggapi saat Rasyid mencoba menggodanya. Tapi sekarang entah mengapa Rasyid ingin Hana mengatakan "tidak."


Hana mendongak menatap Rasyid. Sedetik kemudian ia menghela napas pelan.


"Kamu tahu jawabannya, Rasyid. Aku..."


"Kamu nggak lupa, kan, dengan apa yang dia lakukan dulu?" Rasyid memotong ucapan Hana.


Hana menggeleng pelan. "Aku tidak akan pernah lupa. Tapi aku ikhlas. Sudah ku bilang, kami baru sebatas saling instrospeksi diri. Belajar dari kesalahan di masa lalu."


"Lalu apa tujuan kamu kesini?" Rasyid mulai jengah. Ia tak ingin lagi berbasa-basi dan banyak mengorek tentang hati Hana dan berujung dengan hatinya yang semakin terasa sakit.


"Rasyid, tolong berhenti berharap padaku. Jangan potong ucapanku!" Cegah Hana yang melihat Rasyid akan kembali menyela ucapannya. Rasyid menghela napas sembari mengurungkan niatnya.


"Di luar sana ada banyak wanita yang bisa mencintai kamu dengan tulus. Kamu tinggal membuka mata hati kamu. Melihat di sekitar kamu.."


"Tapi aku cuma cinta sama kamu, Na!"


"Itu karena kamu tidak pernah mencoba melihat sekeliling kamu. Cinta itu tidak memaksa, cinta itu membahagiakan. Aku memang sayang sama kamu. Tapi tidak lebih dari rasa sayang kepada sahabat." Hana berhenti sejenak. "Tolong Rasyid, jangan rusak persahabatan kita hanya karena cinta yang tidak bisa kamu gapai. Selama ini aku bahagia didekat kamu, aku senang, aku nyaman. Tolong jangan rusak itu semua hanya karena kamu memaksakan perasaan kamu."


Dalam hati Rasyid membenarkan apa yang Hana ucapkan. Seandainya dia memaksa Hana untuk menerima cintanya, lalu suatu saat bisa saja berakhir, mungkin saja hubungan keduanya tak akan sedekat ini lagi.


Jaman sekarang, banyak orang yang tidak bisa bersikap dewasa. Ketika hubungan mereka berakhir, yang terjadi adalah permusuhan. Persaingan dalam mendapatkan kembali pasangan yang baru. Bahkan tak jarang dari mereka yang saling membeberkan aib masing-masing.


Rasyid tak ingin hal itu terjadi. Selamanya ia ingin bisa berada di dekat Hana. Kalau memang tak bisa menjadi orang yang dicintai oleh Hana, Rasyid bisa menjadi orang yang disayangi oleh Hana. Sebagai sahabat. Terdengar sangat baik meskipun sebenarnya hati Rasyid terasa perih.


"Aku dukung kamu."


Ucapan Rasyid menciptakan binar cerah di wajah Hana.


"Serius?"


Rasyid mengangguk dan tersenyum tipis. "Tapi aku tidak akan segan-segan menghajar Pak Angga kalau sampai dia menyakiti kamu lagi."


Hana tersenyum penuh haru. Tak menyangka bahwa Rasyid akan berbesar hati menerima semua ini. Ia pikir Rasyid akan marah padanya. Namun ternyata tidak. Hana tahu ini sulit untuk Rasyid. Tapi Rasyid tetap mendukungnya.


"Enggak, Na. Aku yang minta maaf karena telah membuat kamu merasa terbebani dengan perasaan yang aku miliki."


Suasana kembali mencair saat Rasyid dan Hana mengubah topik pembicaraan mereka. Sesekali Hana tertawa mendengar kelakar Rasyid yang begitu menggelikan. Mereka lupa kalau diluar sana seseorang tengah menunggu dengan gelisah. Sudah setengah jam berlalu namun Hana belum juga menghubungi Angga.


Angga merasa was-was. Takut kalau Hana tidak berhasil dan tidak bisa berkata jujur kepada Rasyid.


Baru saja Angga beranjak berniat untuk menyusul Hana, pintu kamar Rasyid sudah terbuka dan menampakkan Hana disana yang sudah berdiri dengan senyuman tipis dibibirnya.


Tanpa Angga bertanya pun Angga sudah tahu bahwa usaha Hana sudah pasti berhasil.


"Mau langsung pulang?" Tanya Angga.


"Iya. Memang mau kemana lagi?"


"Boleh Mas ikut?"


Hana tersentak mendengarnya. "Buat apa?" Seru Hana seolah tak setuju dengan permintaan Angga.


"Kamu sudah berjuang dengan menjelaskan perasaan kamu pada Rasyid. Sekarang ijinkan Mas berjuang untuk kamu didepan keluarga kamu."


Diam-diam hati Hana menghangat kendati ia tetap berusaha untuk tidak menampakan senyum bahagianya.


"Terserah Mas Angga aja."


Hana berlalu tanpa menunggu Angga. Senyum lebar mengembang dibibir keduanya meskipun tak dapat melihat satu sama lain.


Hati Hana berdebar kuat. Tak memungkiri bahwa hatinya merasa bahagia.


🌹🌹🌹


"Masuk, Mas!"

__ADS_1


Hana mempersilahkan Angga untuk masuk dan duduk di kursi ruang tamunya.


Angga mengamati sekeliling ruang tamu rumah Hana. Tak banyak berubah sejak terakhir Angga datang beberapa tahun yang lalu. Hanya ada tambahan foto Hana saat wisuda SMA dan juga foto keluarga mereka di pernikahan Ikhsan dan Kinan.


"Aku panggil mama dan papa dulu, ya?"


Angga mengangguk. Ia merasa begitu deg-degan akan bertemu dengan kedua orangtua Hana lagi. Pasalnya, Angga akan memberanikan dirinya untuk meminta ijin untuk melanjutkan hubungannya dengan Hana ke jenjang yang lebih serius. Angga berharap semoga kedua orangtua Hana menyetujui hubungan keduanya.


Tak lama kemudian, Anang dan Widia keluar. Angga berdiri dan menyalami mereka.


"Nak Angga?" Sapa Anang ramah. Senyum ramah juga terlukis di bibir Widia. Sejenak Angga merasa bersalah karena di pernah menyakiti anak gadis mereka.


"Apa kabar, Pak, Bu?"


"Alhamdulillah, kami baik. Angga sendiri bagaimana? Sehat?"


"Alhamdulillah, Pak, sehat."


Hana datang membawa tiga gelas jus alpukat dan ia sajikan di depan Angga dan juga kedua orangtuanya.


"Kesukaannya masih sama," batin Angga.


Setelah berbasa-basi sebentar, Angga mulai mengutarakan tujuannya datang ke rumah Hana.


"Maaf, Pak, Bu, kedatangan saya kesini untuk meminta ijin kepada bapak dan ibu untuk mengajak putri bapak dan ibu untuk melangkah bersama saya ke jenjang yang lebih serius."


Anang dan Widia saling berpandangan. Kemudian keduanya melihat Hana yang kini menunduk gelisah menunggu jawaban dari kedua orangtuanya.


"Saya tahu, Pak, Bu. Mungkin dulu saya sempat menyakiti Hana. Tapi saya berjanji untuk kedepannya tidak akan lagi menyakiti Hana," lanjutnya percaya diri.


"Tapi Hana masih kuliah, Nak Angga," timpal Anang kemudian.


"Saya tahu, Pak. Saya siap menunggu kalau Hana ingin menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu."


"Bagaimana, Hana? Angga siap menunggumu sampai kamu lulus." Anang beralih bertanya pada Hana.


Hana memandang wajah papanya dengan ragu. Menunggu sampai dirinya lulus? Mampukah? Hana baru akan memasuki semester empat. Itu artinya masih di tahun lagi untuk bisa lulus. Belum koas yang harus ia jalani, internship dan lain-lain yang semua itu harus ditempuh kurang lebih selama enam tahun.


Sekarang Hana baru satu setengah tahun pendidikannya. Itu berarti masih tersisa empat serangga tahun lagi. Bukan tersisa, tapi memang masih banyak.


Sanggupkah mereka bertahan selama itu? Saling menunggu?


Sudah cukup Hana menunggu selama ini. Belajar dari pengalaman, nyatanya LDR yang sempat mereka jalani dulu berujung pada kehancuran hubungan mereka.


Hana bergidik ngeri membayangkan hal itu akan terjadi lagi.


Tapi kalau menikah dalam waktu dekat? Sebenarnya bukan masalah kalau seorang mahasiswi menyandang status menikah. Tapi yang menjadi masalah, Hana kuliah di Surabaya dan pekerjaan Angga di Karanganyar. Itu artinya mereka akan tetap LDR meskipun status mereka sudah sah di mata hukum dan agama.


Kali ini, untuk pertama kalinya Hana menyesali keputusannya untuk kuliah di Surabaya.


"Bagaimana, Hana?" Widia mengulang pertanyaan Anang dengan menyentuh punggung tangan Hana.


Hana tersentak dan tersadar dari pikirannya yang melanglang buana.


"Aku.. Mau."


"Alhamdulillah.." ucap Angga lega.


"Tapi....."


🌹🌹🌹


Tapi apa hayoo...? πŸ˜…πŸ˜…


Ada yang nunggu cerita ini up nggak? πŸ˜… maaf ya lama πŸ™πŸ™ harusnya udah up dua hari lalu tapi ternyata masih banyak yang harus diperbaiki lagi. 😁


Aku nggak mau cerita ini berbelit-belit ya.. mau dibikin simple aja. πŸ˜…πŸ˜…

__ADS_1


Semoga suka yaa.. πŸ€—πŸ€— jangan lupa like dan vote nya πŸ˜‚


__ADS_2