
Di usia kehamilan Hana yang memasuki trimester kedua, Hana tak terlalu mengalami mual dan muntah. Hanya saat mencium bau tertentu saja yang membuatnya tak bisa menahan mualnya. Termasuk ketika mencium aroma tubuh Angga, suaminya sendiri. Padahal saat sebelum hamil, Hana selalu mengatakan bahwa ia tak bisa tidur kalau tidak memeluk Angga dan mencium aroma tubuhnya.
"Mas Angga bisa nggak jauh-jauh dari Hana dulu? Mas itu bau banget."
Angga bingung. Padahal ia baru saja selesai mandi dan memakai parfum yang biasa ia pakai. Hana sendiri yang memilihkan jenis parfumnya karena Hana mengatakan bahwa ia menyukai harumnya.
"Mas baru selesai mandi, sayang? Bau dari mananya?"
"Ya pokoknya Mas bau. Jauh-jauh dulu, atau lama-lama Hana bisa muntah."
Angga mendesah pelan. Ia memilih pergi ke dapur dan meninggalkan Hana sendiri diruang keluarga. Ada Ningsih di dapur sedang memasak. Hari itu sengaja Ningsih datang dan memasak di rumah Hana karena Hana mengatakan bahwa ia ingin makan sayur asem buatannya.
"Kenapa, Le?" Tanya Ningsih yang melihat Angga berwajah kusut.
"Hana itu aneh, Bu. Masak Angga dibilang bau, padahal Angga baru selesai mandi. Beberapa hari ini dia juga nggak mau dekat-dekat Angga, Bu. Aneh dia itu."
"Jangan bilang aneh begitu. Bisa jadi itu bawaan bayi."
"Masak anak Angga nggak mau dekat sama bapaknya?" Sungut Angga tak terima.
"Ya kadang, kan, orang hamil memang begitu, Le. Nggak usah kaget begitu atau nggak terima anaknya nggak mau dekat-dekat bapaknya. Itu cuma sementara saja, Le."
Mau tak mau, Angga terima kenyataan dimana ia tak bisa dekat-dekat dengan Hana untuk sementara waktu daripada Hana merasa mual dan muntah karena dirinya nekat dekat-dekat dengan Hana.
Akhirnya, selama sebulan Angga rela harus tidur di sofa yang berada di kamarnya karena Hana benar-benar sedang tak ingin dekat dengannya.
"Maaf, ya, Mas. Anak Mas Angga ini yang nggak mau dekat-dekat bapaknya." Ucap Hana beberapa hari yang lalu.
"Enggak apa-apa sayang." Angga tersenyum manis menutupi hatinya yang sedikit merasa kesal karena tak bisa dekat dengan istri tercintanya itu.
Maka disaat Hana sudah tak lagi merasa mual saat berada didekatnya, Angga seolah balas dendam. Angga seolah tak membiarkan sedetikpun Hana lepas dari pelukannya. Mungkin kalau bisa, Hana ke kamar mandi pun Angga akan membuntutinya.
***
Tengah malam, Hana terbangun dari tidur nyenyaknya. Tiba-tiba saja ia merasa lapar padahal sebelum tidur ia sudah menghabiskan sekotak donat kiriman dari Karina. Sahabatnya yang sekarang memiliki toko kue itu sangat pengertian bahwa bumil cantik itu sedang doyan makan. Iya, memasuki bulan kelima masa kehamilannya, makanan apapun yang masuk ke dalam perutnya tak ada yang ditolak.
"Mas.."
Hana menggoyang-goyangkan tubuh Angga yang tidur disampingnya dan memeluknya erat.
"Mas, bangun dulu."
"Apa, sayang?" Angga enggan membuka mata.
"Hana lapar."
"Makan, sayang." Jawab Angga dengan mata yang masih terpejam.
"Iya, kalau lapar ya makan, Mas. Cuma Hana pengen makan siomay Bandung."
"Makan yang ada dulu aja, sayang."
"Ih, pengennya makan itu."
"Ya sudah besok, ya?"
"Maunya sekarang."
Angga terpaksa membuka mata. Melirik jam yang tertempel didinding. Pukul 11.40.
__ADS_1
"Jam segini cari dimana, sayang?"
"Cari di taman, Mas. Mungkin masih."
"Besok aja, ya?" Angga mencoba membujuk Hana. Sudah tengah malam, pedagang yang biasa berdagang di taman Pancasila pasti sudah tidak ada.
"Enggak mau, Ma, Hana maunya sekarang. Kalau Mas nggak mau Hana minta tolong sama Pak Adam aja yang sekarang lagi ronda di gerbang komplek."
"Eh, jangan! Ya sudah Mas cariin."
Hana tersenyum puas. Kalau Hana sudah menyebut nama Adam, pasti Angga merasa tak suka. Bukan tanpa alasan Angga merasa tak suka pada Adam itu. Adam adalah satpam komplek yang usianya masih cukup muda. Mungkin seusia Angga. Namun Adam sering berlagak sok kenal sok dekat pada Hana. Intinya, Angga cemburu.
**
Angga berjalan mengelilingi taman untuk mencari pedagang siomay yang semoga saja masih ada. Taman sudah mulai sepi pengunjung. Hanya ada pedagang saja yang mulai membereskan dagangan mereka.
Sekitar lima menit Angga mencari, akhirnya Angga menemukan lapak siomay yang masih buka.
"Mas, siomaynya dua porsi, ya? Tanpa pare."
"Iya, Mas. Silahkan duduk dulu."
Angga mengangguk dan tersenyum. "Jam segini belum pulang, Mas?" Tanya Angga berbasa-basi.
"Belum, Mas, sebentar lagi. Biasanya tengah malam begini banyak yang beli. Alasannya karena menuruti istrinya yang sedang ngidam. Mas-nya istrinya juga sedang ngidam?"
Angga mengangguk lagi. "Iya, Mas." Kali ini senyumnya mengembang sempurna mengingat dirinya dan Hana akan segera menjadi orangtua.
"Selamat, ya, Mas, semoga anaknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah."
"Aamiin, makasih atas doanya, Mas. Semoga dagangan Mas juga laris terus, ya? Berkah buat keluarga."
Angga menerima plastik berisi dua porsi siomay dan mengulurkan selembar uang berwarna merah. "Kembaliannya buat keluarga Mas yang dirumah saja."
"MaasyaaAllah, ini terlalu banyak, Mas."
"Enggak apa-apa. Rejeki anak dan istri Mas dirumah."
"Terimakasih banyak ya, Mas."
"Sama-sama, Mas. Saya pulang dulu."
"Iya, Mas. Hati-hati."
🥀🥀🥀
"Sayang, Mas pulang bawa siomay yang kamu mau, nih." Angga mencoba membangunkan Hana yang tertidur di depan tv di ruang keluarga. Siomay yang Angga beli sudah Angga pindahkan ke atas piring.
"Mas sudah pulang?" Hana mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya lampu.
"Iya. Dimakan dulu, yuk, siomaynya."
"Hana ngantuk, Mas. Besok aja makannya." Hana kembali memejamkan matanya. Langsung kembali terlelap begitu saja.
Angga mendesah pelan membiarkan Hana tertidur kembali. Bahkan ia mengangkat Hana untuk dipindahkan ke dalam kamar. Sama sekali Hana tak merasa kesal karena Hana tak mau memakan siomaynya padahal Angga rela malam-malam keluar membelikannya. Karena bagi Angga, momen-momen seperti ini yang selama tujuh tahun ia tunggu. Dimana ia harus kelimpungan mencari makanan yang Hana inginkan saat Hana hamil.
Beruntung selama ini Hana tak pernah meminta makanan yang aneh-aneh atau menyulitkan Angga atau keluarga yang lain untuk mencarikannya.
Dengan hati-hati Angga membaringkan tubuh Hana diatas ranjang kemudian menyelimutinya. Angga menatap wajah Hana yang kini pipinya sudah sedikit lebih berisi. Tubuh Hana juga sedikit berisi. Berbanding terbalik dengan dulu dimasa awal kehamilan Hana. Tubuh Hana terlihat lebih kurus karena memang tak ada makanan yang bisa masuk kedalam perutnya.
__ADS_1
Tangan Angga mengelus perut Hana yang sudah sedikit membuncit. Angga dapat merasakan anaknya didalam sana bergerak lembut menendang pelan perut Hana namun tak mengusik Hana sama sekali.
Ini baru awal karena memang janin yang belum terlalu besar. Dari artikel yang ia baca di internet, semakin besar kandungannya, gerak janin akan semakin kencang. Jadi kalau malam si ibu sulit tidur karena merasakan tendangan janin didalam perutnya, itu wajar. Angga hanya akan mempersiapkan diri menemani Hana bergadang kalau-kalau Hana tak bisa tidur.
"Sehat, ya, sayang. Ayah sama bunda sayang sama kamu." Ucapnya pelan diakhiri dengan mencium perut Hana.
🥀🥀🥀
Hari Senin pagi, Angga harus mengikuti seminar pendidikan di dinas pendidikan selama sehari penuh. Sebenarnya Angga merasa tak tenang karena sejak subuh Hana mengeluh bahwa perutnya sedikit mulas. Angga takut kalau Hana akan segera melahirkan mengingat hari perkiraan kelahiran bayi mereka sekitar seminggu lagi.
Namun itu hanya perkiraan saja. Bisa jadi akan lahir lebih cepat dari perkiraan, atau justru lebih lama dari hari perkiraannya.
Hampir setiap setengah jam sekali Angga mengirimkan pesan kepada Hana untuk bertanya bagaimana keadaanya. Angga merasa lega saat balasan Hana tertulis bahwa ia baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Padahal, itu hanya cara Hana untuk menenangkan Angga agar ia bisa berkonsentrasi pada seminarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Itu artinya satu jam lagi seminar akan selesai dan sekitar pukul setengah lima Angga akan sampai rumah.
Sejak pagi memang Hana mengeluhkan perutnya terasa mulas dan pinggangnya terasa pegal. Namun sekitar pukul dua siang, Hana merasakan kram di bagian perut bawahnya namun masih dapat ia tahan. Hana tahu itu adalah tanda kontraksi dan dirinya akan segera melahirkan.
Belajar dari pengalaman saat ia menangani pasiennya dulu, Hana mencoba bersikap tenang. Ia berjalan-jalan di depan rumah agar pembukaannya lebih cepat. Tidak ada yang menemani Hana dirumah. Bu Parmi yang biasa membantunya mengerjakan pekerjaan rumah sudah pulang sejak pukul satu siang. Selama kontraksi belum teratur, Hana tak perlu khawatir.
Hana tersenyum lebar saat melihat mobil Angga berhenti di depan rumah. Tak lama, Angga keluar dari dalam mobil dan langsung menghampiri Hana.
"Kenapa diluar?" Tanya Angga.
"Jalan-jalan aja, Mas. Masuk, yuk, Mas mandi dulu habis itu temani Hana, ya?"
"Kemana?" Tanya Angga bingung. Pasalnya, sebelumnya Hana tak mengatakan bahwa ia minta ditemani untuk pergi.
"Sudah, Mas mandi dulu. Nanti Mas juga akan tahu."
Selama Angga didalam kamar mandi, Hana menyiapkan tas-tas yang sudah berisi pakaiannya dan juga perlengkapan bayi yang sudah mereka siapkan jauh-jauh hari. Sesekali Hana mendesis pelan dan beristighfar saat pesan cinta itu ia rasakan. (Pesan cinta : kontraksi)
Masih belum intens. Masih sekitar sepuluh sampai lima belas menit sekali. Hana perkirakan bahwa ia masih proses pembukaan dua atau tiga. Entahlah, Hana tak bisa mengeceknya sendiri meskipun dirinya adalah seorang dokter kandungan.
"Itu kenapa tas-tas dikeluarkan semua, sayang?" Ucap Angga yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dirinya belum sadar bahwa itu artinya Hana akan segera melahirkan.
"Kerumah sakit, Mas."
"Ngapain?" Tanya Angga bingung. Masih saja belum sadar.
"Anak Mas Angga sudah mau keluar ini." Hana merasa gemas sendiri melihat suaminya yang sedang dalam mode lemot.
"Maksud kamu gimana, sayang?" Angga masih saja bersikap tenang dan dengan santainya memakai baju.
"Hana.. sssshh.. astaghfirullah.." Hana mulai merasakan kontraksi lagi.
"Sayang?" Tanya Angga panik saat melihat Hana kesakitan.
"Mas... Ini Hana udah kontraksi. Anaknya mau lahir."
"Hah!!?"
🥀🥀🥀
beberapa part menuju ending. rela nggak? 😅 harus rela, ya?
mampir ke cerita baru ku ya, judulnya "TEMAN TAPI MENIKAH"
Terimakasih 🤗🤗
__ADS_1