
Hana mematut dirinya di depan cermin. Hari ini ia dan Angga akan menghadiri acara pernikahan Devina dan Rendi.
"Cantik banget, sih?" Angga menggoda Hana dengan menoel-noel pipinya dari belakang. Hana dapat melihat Angga yang tertawa pelan dari dalam cermin.
"Mas Angga juga ganteng." Puji Hana dengan pipi yang merona setelahnya.
Keduanya memakai batik sarimbit dengan bahan dasar berwarna coklat tua. Keduanya tampak serasi. Angga yang tampan dan juga Hana yang cantik.
"Sudah siap, tuan putri?" Tanya Angga sambil mengulurkan tangannya.
Hana tertawa pelan. "Siap!" Menerima uluran tangan Angga kemudian bergandengan dan berjalan keluar kamar.
Di lantai bawah, Rajiman dan Ningsih sudah menunggu sepasang pengantin baru yang menghabiskan waktu terlalu banyak untuk berdandan.
Ningsih menggeleng pelan sambil menatap keduanya yang seolah merasa tak bersalah karena telah membuat kedua orangtuanya menunggu.
***
Tak ada yang perlu di ceritakan mengenai apa saja yang terjadi dan apa yang mereka lakukan di acara pernikahan Devina.
Angga dan Hana fokus mengikuti susunan acara, kemudian bersalaman dengan kedua mempelai dan mengucapkan selamat. Berfoto bersama kemudian menikmati hidangan setelah itu pulang.
Keduanya sempat bertemu dengan Denis. Sudah lama Hana tak melihatnya. Bahkan Denis tak datang saat Hana mengundangnya untuk datang ke acara pernikahannya.
"Hana, Pak Angga, aku minta maaf," ucap Denis. Ia merasa malu dan begitu canggung saat berhadapan dengan Angga dan juga Hana.
Denis merasa menyesal telah menghancurkan kepercayaan Hana kepadanya hanya karena cinta. Seharusnya ia merasa cukup saat Hana hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat. Namun yang namanya manusia memang terkadang tak pernah merasa puas dengan apa yang ia miliki.
Toh sekarang kenyataannya Hana dan Angga tetap bisa bersatu meskipun dulu mereka sempat berpisah karena dirinya dan juga kakaknya. Kini mereka sudah menemukan kebahagiaan mereka masing-masing. Denis pun sudah menata hidupnya agar menjadi manusia yang lebih baik.
"Semua sudah berlalu. Kami sudah memaafkan, Nis." Jawab Angga tenang.
"Kami pamit, ya, Nis."
"Iya. Selamat untuk pernikahan kalian. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah." Doa Denis dengan tulus.
"Aamiin.. terimakasih, ya."
Selanjutnya, mereka sudah tak lagi berada di tempat pernikahan Devina karena harus segera mempersiapkan segala keperluan mereka untuk berangkat ke Surabaya besok.
***
__ADS_1
"Ada yang kamu pikirkan?"
Hana terkesiap saat merasakan sentuhan lembut diatas tangannya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Angga?
"Tidak ada, Mas."
Angga tahu bahwa Hana sedang memikirkan sesuatu. Angga merasakan bahwa Hana sedang berusaha menyembunyikan suatu hal.
Angga menepikan mobilnya. Apa yang Hana pikirkan harus diselesaikan saat itu juga. Ia tak ingin berlarut-larut dalam masalah.
"Kenapa berhenti?"
Tak ada jawaban dari mulut Angga. Angga melepas seat belt dan mengubah posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Hana.
"Ada apa?"
Dua kata namun sanggup membuat Hana gelagapan sendiri. Hana mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Ia tak ingin menatap mata Angga yang menatapnya lekat dan meminta penjelasan.
"Kita ini suami istri, Na. Mas harap tidak ada hal yang kamu sembunyikan dari Mas."
Hana menelan ludah. Kemampuannya dalam berbohong dan menutupi masalah ternyata nol. Seberapa kuat dirinya menutupi, tetap saja Angga mengetahuinya.
"Lalu apa yang membuat kamu jadi kepikiran?"
"Kayaknya beliau pengen aku cepet hamil, Mas. Beliau bilang kalau kita di Karanganyar, nanti bisa bantu jagain anak kita kalau aku kuliah."
Sejujurnya Hana merasa malu membicarakan masalah hamil. Bahkan menyebut kata "anak kita". Hana tidak terlalu agresif, kan?
Angga tersenyum tipis. Genggaman tangannya pada tangan Hana sedikit mengerat. "Jangan terlalu dipikirkan. Fokus saja sama kuliah kamu."
"Mas nggak apa-apa, kan, kalau kita menunda untuk punya anak?" Tanya Hana dengan hati-hati.
"Anak itu urusan Allah. Kapan kita di kasih kita harus siap, kan? Insyaallah Mas nggak apa-apa kalau kamu belum siap."
Entah mengapa Hana merasa bahwa Angga seperti terpaksa mengatakan hal itu. Hana paham, dalam rumah tangga anak itu penting. Kehadiran seorang anak merupakan bukti dari sempurnanya sebuah pernikahan.
Namun kenyataannya memang Hana sendiri merasa tidak siap untuk memiliki seorang anak. Kuliahnya di kedokteran cukup menyita waktu dan tenaga serta pikirannya. Hana tak ingin ketika ia memiliki anak di saat ia belum lulus, anaknya justru tidak mendapat perhatian darinya.
Ahh.. Mendadak kenapa Hana merasa menyesal telah menikah muda?
Hana menggeleng pelan menghalau pikiran buruknya. Tidak, ia tidak menyesal telah menikah muda. Menikah muda murni keputusannya. Bukan paksaan dari orang lain. Hana yakin setiap masalah pasti ada solusinya.
__ADS_1
"Kita pulang?" Suara Angga membuyarkan lamunan Hana. Hana mengangguk sebagai jawaban dan Angga segera menjalankan mobilnya.
πΉπΉπΉ
Hana dan Angga sedang mengemas pakaian dan segala keperluan mereka untuk di bawa ke Surabaya. Rencananya Angga akan menyetir mobilnya sendiri. Selain karena disana tidak ada mobil dan mereka membutuhkan mobil sebagai alat transportasi, keduanya juga ingin menikmati perjalanan jauh bersama.
"Itu kado dari Karina sama Lila di masukin, dong, sayang. Nanti sampai sana Mas belikan lagi yang banyak."
Hana mendelik tajam menatap Angga. Bisa-bisanya Angga menggodanya seperti itu.
"Buat apa dibawa, Mas? Dipake bentar juga udah di lempar entah kemana."
Angga tertawa mendengar ucapan Hana yang terdengar menggemaskan. Memang benar apa yang Han ucapkan. Angga terlalu gemas saat melihat Hana menggunakan kado dari Karina dan Lila.
Namun Hana juga tak menolak saat Angga memasukkan benda itu ke dalam koper. Ia tahu bahwa ha itu dapat menyenangkan suaminya. Ia pernah membaca di internet bahwa salah satu cara untuk membahagiakan suami di dalam kamar adalah dengan kita memakai pakaian yang menggoda.
Hanya dengan suami sendiri ya! Jangan suami orang lain apalagi yang belum sah menjadi suami istri. Ingat dosa, ingat orangtua agar mereka tak kecewa.
Keesokan harinya, Angga dan Hana berpamitan kepada seluruh anggota keluarga mereka.
Anang dan Widia kembali bersedih hati karena harus berpisah dengan anak mereka. Namun mereka juga tak memungkiri bahwa mereka juga merasa tenang karena kini Hana bersama orang yang dapat di percaya.
Tentu pesan mereka sama. Belajar yang rajin, jadi istri yang baik dan yang terpenting menjaga kesehatan.
Setelah berpamitan dengan keluarga Hana, keduanya berpamitan dengan orangtua Angga sebelum berangkat ke Surabaya.
"Jaga diri kalian baik-baik, ya? Ibu sama bapak selalu berdoa yang terbaik buat kalian." Ucap Ningsih.
"Iya, Bu. Bapak sama ibu juga harus sehat terus, ya?"
Ningsih mengangguk dan tersenyum. Kemudian memeluk Hana dan membisikkan sesuatu di telinga Hana. "Ibu tunggu kabar bahagianya.."
Tubuh Hana menegang seketika. Ia tak mampu untuk menjawab sepatah katapun. Hana hanya tersenyum simpul sebagai jawaban dari ucapan Ningsih.
π·π·π·
Ini pendek banget π£π£
Jujur pikirannya buntu banget mau nulis apa juga bingung. mungkin ada yg punya ide habis ini Angga dan Hana gimana. spesial part selanjutnya aku pakai ide dari teman-teman. tentu yang menarik ya..
boleh via wa ya 0838-3677-2030. sertakan nama juga. ada pulsa 10rb untuk yang idenya aku pakai π€π€
__ADS_1