Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 48


__ADS_3

Satria dan Angga duduk disalah satu cafe di Karanganyar. Setelah mencoba menemui Hana dan berujung pada penolakan Hana, Angga menelepon Satria dan mengajaknya bertemu. Satria mengajaknya bertemu di sore harinya.


Perlahan, Angga mulai bercerita tentang apa yang terjadi pada hubungannya bersama Hana. Tentang awal perjodohannya, pertunangannya dan juga hubungannya dengan Hana.


Angga memang belum bisa menceritakan pada Hana tentang semuanya. Selain karena Angga merasa tak sanggup menyakiti Hana, juga karena Hana akan menghadapi ujian nasional. Angga takut kalau konsentrasi Hana akan terganggu.


Pada akhirnya, cepat atau lambat Hana juga akan tahu. Angga sama sekali tak menyangka kalau Rumi itu adalah Devina, guru les Hana. Angga juga tak menyangka sama sekali kalau Rumi ternyata juga kakak dari Denis. Dunia benar-benar terasa sempit bagi Angga.


Angga juga merasa bahwa Denis sebenarnya sudah tahu bahwa yang dijodohkan dengan kakaknya adalah Angga. Tapi Angga yakin kalau Denis sengaja menutupi kebenaran dari Hana dan Rumi.


Saat Angga datang untuk menemui Rumi dirumahnya, Angga begitu terkejut melihat motor Hana terparkir didepan rumah Rumi. Angga ingin berputar balik, tapi sudah terlambat. Angga tak punya waktu lagi.


Dengan langkah beratnya, Angga keluar dari mobil. Pertama kali yang ia lihat adalah tatapan terkejut dari Hana juga tatapan marah dan kekecewaan disana.


Mulut Angga terbungkam tak dapat berucap sepatah kata pun. Sampai Rumi mengenalkannya pada Hana dan mengatakan bahwa Angga adalah calon tunangannya.


"Kamu gila, Ga... Kamu gila..!! Gadis sebaik Hana kamu sakiti sampai kayak gini?" Satria menggeleng tak percaya. "Aku yakin kalau Ikhsan tahu, dia akan membunuh kamu, Ga!"


"Aku harus gimana, Sat? Semua atas kemauan bapakku," keluh Angga.


"Kamu laki-laki, Ga. Cobalah kamu berdiri di atas kaki kamu sendiri. Sesekali perjuangkan hidup kamu sesuai keinginan kamu sendiri. Jangan hanya menurut dan membuat kamu menyakiti banyak orang."


Ucapan Satria membuat Angga terdiam cukup lama. Satria memang benar. Sikapnya yang tak bisa membantah kemauan ayahnya berujung dengan tersakitinya orang-orang di sekitarnya. Hana yang berstatus kekasihnya, juga Rumi yang cepat atau lambat akan tahu bahwa Angga tak pernah menyayanginya. Dan menyetujui perjodohan itu karena terpaksa.


"Kalau kamu lupa, aku ingatkan kamu sekarang. Dulu, kamu berjuang buat mendapatkan hati Hana. Sampai akhirnya Hana jatuh cinta sama kamu. Orangtua Hana sudah mempercayakan Hana sama kamu walaupun pada akhirnya mereka menyuruh kalian untuk break terlebih dahulu. Sekarang, dengan mudahnya kamu menerima perjodohan dengan wanita lain saat Hana masih berstatus pacar kamu. Hati dan otak kamu dimana, Ga?"


Satria merasa geram pada Angga yang tak bisa tegas pada jalan hidupnya sendiri. Juga karena Angga yang dengan tega menyakiti gadis sebaik Hana.


"Dulu, Hana rela menjalani backstreet agar satu sekolah tak tahu kalau kalian pacaran. Rela main kucing-kucingan agar kalian bisa pulang bersama. Saat hubungan kalian terungkap, Hana itu rela di bully sama teman-temannya yang nggak suka kalau kalian pacaran. Kamu pergi begitu saja saat hubungan kalian terungkap, tanpa kamu tahu bully'an yang sering Hana dapatkan. Mereka memang tak membully Hana secara fisik, tapi ucapan-ucapan mereka membuat siapapun yang mendengarnya merasa sakit hati. Tapi Hana apa? Dia terima semuanya. Demi siapa? Demi kamu, Ga!"


Satria memang sering mendengar kalau Hana sering di bully karena hubungannya dengan Angga. Walaupun sudah diperingatkan untuk tidak saling membully, tapi tetap saja hal itu masih terjadi. Satria juga cukup salut pada Hana yang seolah menulikan telinganya.


Angga semakin merasa bersalah setelah mendengar apa yang Satria ucapkan. Selama ini Hana tak pernah bercerita apapun tentang bully'an yang ia dapatkan hanya demi mempertahankan hubungan mereka.


Wajar kalau Hana begitu marah pada Angga. Perjuangannya selama ini begitu besar. Tapi Angga justru membalasnya dengan membuat Hana sakit hati.


Masih pantaskah Angga meminta Hana kembali padanya? Bahkan untuk mendapatkan maaf dari Hana pun Angga merasa tidak pantas. Apa yang Angga lakukan sudah melampaui batas kesabaran Hana.


***


Pagi harinya, Angga memutuskan untuk mendatangi Ikhsan ditempat kerjanya. Angga sudah ijin libur sampai seminggu ke depan untuk menyelesaikan masalahnya.


"Ngapain kamu kesini?" Ikhsan enggan menatap Angga yang sudah duduk di sofa yang berada di ruangannya.


"Hana apa kabar, San?" Tanya Angga takut-takut. Takut kalau Ikhsan menghajarnya saat itu juga. Meskipun Angga memang pantas untuk mendapatkannya.


Ikhsan berdiri lalu berjalan mendekati Angga. Kedua tangannya ia masukan kedalam saku celananya. "Hana baik. Sangat baik. Dan akan lebih baik lagi kalau kamu berhenti mengganggunnya," jawab Ikhsan dengan penuh penekanan.


"San, aku minta maaf. Tolong ijinkan aku menemui Hana," Angga memohon kepada Ikhsan.


"Hana sudah memaafkan kamu. Aku juga sudah memaafkan kamu. Bahkan jika kedua orangtuaku tau kelakuan kamu. Tapi untuk menemui Hana lagi, jangan harap kamu bisa melakukannya."


"Tolong jangan seperti ini, San. Aku sayang sama Hana. Aku mau jelasin semuanya sama Hana."


"Simpan saja penjelasan kamu. Hana sudah memaafkan kamu tak peduli dengan apa alasan kamu melakukan itu semua. Yang Hana mau, kamu tak lagi berusaha menemuinya. Biarkan Hana bahagia dengan caranya sendiri."


"Tapi, San..."


"Aku banyak pekerjaan. Silahkan kamu keluar," Ikhsan mengusir Angga tanpa rasa sungkan sedikitpun. Sungguh, ingin rasanya Ikhsan memberi pelajaran kepada Angga dengan memukul Angga sepuas Ikhsan. Tapi Ikhsan cukup bisa mengendalikan dirinya agar tidak bertindak melampaui batas.

__ADS_1


"San..." Ucap Angga putus asa. Berharap agar Ikhsan bisa memberinya ijin untuk menemui Hana. Lima menit saja sudah cukup.


"Pintunya masih berada ditempat yang sama. Silahkan!" Usir Ikhsan sekali lagi. Angga menyerah. Ia kemudian melangkah keluar dari tempat kerja Ikhsan.


Angga menyadari, kesalahannya memang sangat fatal dan tidak bisa dimaafkan. Angga juga membenci dirinya sendiri yang tak bisa tegas dengan jalan hidupnya sendiri.


Dalam hati ia bertekad akan menghentikan semua ini. Menghentikan pertunangannya dengan Rumi. Tak peduli bagaimana dengan ayahnya yang sudah pasti akan marah besar mendengar keputusannya.


🌹🌹🌹


Seperti janjinya pada Ikhsan kemarin, kemarin adalah terakhir Hana menangisi Angga. Benar kata Ikhsan, air mata Hana terlalu berharga untuk laki-laki macam Angga.


Keceriaan yang akhir-akhir ini hilang dari dalam dirinya, kini berusaha ia bangkitkan kembali. Kebahagiaan bisa Hana dapatkan dari mana saja. Kehilangan Angga, bukan berarti Hana harus kehilangan hidupnya.


Hana patut bersyukur. Karena dengan terkuaknya hubungan Angga dengan wanita lain, itu berarti Allah sedang menunjukkan bahwa Angga bukanlah yang terbaik.


Hana mencoba mengambil hikmah dari apa yang telah ia alami. Mungkin Hana harus fokus pada pendidikan dan masa depannya terlebih dahulu tanpa memikirkan cinta. Sesuai dengan prinsipnya dulu. Yang mana telah Angga hancurkan dengan iming-iming cinta dan kebahagiaan yang Angga tawarkan dulu.


Yang ternyata semua itu palsu. Semua hanya semu. Berujung pada rasa sakit yang Hana dapatkan.


"Jadi kapan mau daftar kuliah? Nanti biar papa yang antar. Jadi kuliah di UNS?" Tanya Anang saat semua keluarganya sedang menikmati makan malam.


Hana menghentikan aktifitas makannya dan melihat Anang lekat. "Kalau... Hana kuliah di Surabaya aja gimana, Pa?" Tanya Hana pelan.


"No!" Widia sontak memekik. "Mama nggak mau anak gadis mama jauh-jauh dari Mama," Widia menolak keras.


"Kenapa harus jauh-jauh, sih, Na?" Anang bertanya.


"Iya. Nanti siapa yang jagain kamu disana?" Widia menimpali.


"Kan ada budhe Ratih disana. Tadi Hana sudah telepon Budhe Ratih. Dan Budhe Ratih sangat senang, Pa."


"Hana janji akan menjaga diri Hana baik-baik, Pa," ucap Hana memelas. Berharap kedua orangtuanya memberinya ijin untuk kuliah di Surabaya.


"Universitas disini juga bagus-bagus, kenapa harus di Surabaya?" Tanya Widia penuh selidik. Sebagai seorang ibu, Widia paham kalau Hana sedang menyembunyikan sesuatu.


Mata Hana melirik Ikhsan. Dalam hati ia berteriak meminta bantuan Ikhsan. Tapi Ikhsan justru asyik dengan dunianya sendiri.


"Emm.. Hana mau cari pengalaman aja, Ma, Pa. Boleh, ya?"


"Papa sama Mama pikir-pikir dulu, deh."


"Yah... Kok pakai pikir-pikir lagi, sih, Pa," protes Hana.


"Mau diijinkan apa enggak? Melepas anak gadis untuk pergi jauh itu butuh petimbangan yang matang. Bukan asal iya aja, Na. Kamu anak gadis, Papa sama Mama nggak mau ambil resiko."


Baiklah, Hana menyerah. Mungkin memang tak mudah bagi kedua orangtuanya melepas Hana untuk pergi jauh. Apalagi untuk waktu yang lama. Dekat saja mereka belum bisa sepenuhnya menjaga Hana apalagi kalau jauh.


Tetapi Hana tetap optimis kalau orangtuanya akan mengijinkannya. Hana akan berusaha menjadi anak baik untuk meyakinkan kedua orangtuanya.


***


Hari berlalu. Hana tak pernah mengungkit lagi soal Angga didepan teman-temannya. Padahal, teman-temannya sudah merasa gemas dan kepo dengan hubungan Angga dan Hana. Gosip antara Hana dan Angga yang sempat menjadi trending topik pun perlahan menghilang.


Hana benar-benar tak ingin menemui Angga. Beberapa kali Angga meminta bertemu lewat perantara Satria, namun dengan keras Hana menolak.


Angga juga berusaha meminta bantuan Karina dan Lila. Tapi mereka berdua tak berani mengatakan pada Hana karena takut akan merusak mood Hana.


Hubungan pertemanan Hana dengan Denis pun kandas. Hana tak lagi memperdulikan Denis yang sering mencoba meminta maaf padanya. Sejujurnya Hana sudah memaafkan orang-orang yang telah menyakitinya. Tapi kekecewaannya tak bisa membuat hubungan Hana dengan mereka yang telah menyakiti Hana menjadi baik seperti semula.

__ADS_1


Hari perpisahan dan kelulusan pun tiba. Sekolah memberi dress code setelan jas untuk laki-laki. Dan kebaya untuk perempuan.


Dengan dandanan yang sempurna, Hana tampil percaya diri. Tak sedikit yang mengagumi kecantikan Hana. Tanpa make up saja Hana sudah cantik, apalagi dengan ber-make up. Sudah pasti kecantikan Hana bertambah berkali-kali lipat.


Saat kelulusan di umumkan, Hana dan teman-temannya bersorak gembira karena mereka lulus seratus persen dengan Hana yang meraih peringkat pertama.


Suatu kebanggaan bagi kedua orangtua Hana karena Hana mampu menunjukkan bahwa ia mampu menjadi yang terbaik. Ucapan selamat datang bergiliran untuk dirinya.


Perpisahan yang melibatkan orangtua didalamnya telah usai. Para orangtua sudah pulang meninggalkan anak-anaknya yang masih memiliki acara perpisahan sendiri.


Acara diisi dengan pentas seni dan menampilkan band sekolah. Hana dan teman-temannya begitu menikmati hari terakhir mereka bisa berkumpul bersama. Setelah ini, mereka akan berpisah dan berjuang meraih mimpi mereka.


Hanya dirimu yang ku cinta


Takkan membuatku jatuh cinta lagi


Aku merasa kau yang terbaik untuk diriku


Sebuah alunan lagu mengalihkan perhatian Hana yang sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya.


"Ngapain kamu, Mas?" Teriak Hana dalam hati. Matanya menatap lurus sesosok yang duduk diatas panggung sambil memetik gitarnya. Seseorang itu juga sedang menatapnya lekat.


Walau ku tahu kau tak sempurna


Takkan membuat aku jauh darimu


Apa adanya ku kan setia kepadamu


"Omong kosong kamu, Mas!" Hana masih berucap dalam hati. Tiba-tiba saja Hana menangis. Mengingkari janjinya untuk tidak lagi menangisi Angga. Tapi nyatanya, saat berhadapan seperti ini Hana tak mampu membendung air matanya.


Tuhan jagakan dia


Dia kekasihku


Kan tetap milikku


"Kita udah putus, Mas. Kita putus sejak kamu memutuskan untuk bertunangan dengan wanita lain."


Aku sungguh mencintai


Sungguh menyayangi


Setulus hatimu


Sorak sorai dan tepuk tangan meriah dipersembahkan untuk Angga. Semua mengagumi keindahan suara dan keromantisan Angga. Tapi tidak dengan Hana. Hana justru semakin membenci Angga dengan segala sikapnya.


Cukup. Hana tak kuat lagi. Hana memilih pergi berlari meninggalkan tempat duduknya sebelum Angga menyelesaikan lagunya.


Hana memilih berlari menuju belakang sekolah. Disana, Hana menangis menumpahkan segala kesedihannya. Hana berjongkok dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Hana??"


🌹🌹🌹


Kira-kira siapa ya yang manggil Hana itu??? 🀭🀭


Up banyak-banyak untuk kalian 😘😘


semoga suka yaaaa.... πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote-nya 😁😁


__ADS_2