Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 28


__ADS_3

Kalau yang sudah menikah, bilangnya manis-manis pengantin biru. Kalau aku dan Mas Angga yang baru saja jadian, manis-manis pacar baru. Uuwwuuww


Sampai aku berangkat sekolah, Mas Angga sudah menelepon berkali-kali hanya untuk memastikan aku sudah bangun apa belum, sudah mandi atau belum. Mas Angga tak mau aku ada orang lain yang melihat tampilan ku yang acak-acakan seperti kemarin.


"Mas enggak mau, ya, tampilan imutmu pas bangun tidur dilihat orang lain. Cuma Mas yang boleh lihat," ucapnya ditelepon tadi membuat aku tersipu. Malu-malu meong.


Lagi pula Mas Angga itu aneh, tampang kucel saja dia suka. Tapi aku senang, itu tandanya Mas Angga menerima aku apa adanya. Uhuyy!!


Tadinya, Mas Angga ingin menjemputku. Tapi aku menolak keras. Aku tak mau ambil resiko. Tak mau ada yang melihat dan mereka menyebarkan gosip. Lagi pula rumah kami jauh dan juga berlawanan arah. Daripada menunggu Mas Angga lama, lebih baik aku menghemat waktu dengan meminta mama mengantarkan aku. Lebih baik uang bensin Mas Angga ditabung buat beli rumah kita nanti.


Aiishh.. Hana! Mikirnya kejauhan!


Aku lebih banyak tersenyum pagi ini. Menyapa Pak scurity dengan senyum manis, juga saat berpapasan dengan adik kelas atau teman-teman yang lainnya. Semoga tidak ada yang mengira aku kurang sesendok, ya? Ini efek kasmaran, kok.


Ngomong-ngomong, dimana Mas Angga? Dia sudah sampai belum, ya? Gini amat orang kasmaran. Setiap saat inginnya bertatap muka.


Drrrtt.. Drrrtt..


Ponselku bergetar. Satu pesan di WhatsApp dari Mas Angga.


My Angga : "Belajar yang bener, ya, Hana. Meskipun kita pacaran tapi prestasi kamu juga harus kamu pertahankan. πŸ€—πŸ˜˜"


Tulisnya manis di pesan singkatnya. Senyumku bagaikan adonan donat yang diberi farmipan, lalu di tutup dengan lap basah dan ditunggu selama setengah jam. Mengembang sempurna!


Apaan, sih!!


Kalian pasti gagal fokus dengan nama kontak Mas Angga. "My Angga". Aku juga mengganti namaku di ponsel Mas Angga menjadi "My Hana". Mas Angga cuma menggeleng kepala melihat tingkahku.


Mohon dimaklumi ya, Mas Angga. Namanya juga pacaran sama anak ABG. Haha.


"Kamu sehat?" Tanya Karina tiba-tiba saat aku baru saja duduk diatas kursi.


Aku mengangguk. "Kenapa?" Tanyaku heran pada Karina dan Lila yang menatapku begitu lekat.


"Yakin kamu sehat?" Kini Lila yang bertanya.


"Kalian kenapa, sih?"


"Kamu senyum-senyum sendiri dari tadi. Kita takut kalau otak kamu tertinggal dirumah."


Ucapan Lila membuatku mendelik ke arah mereka. Enak saja aku dibilang kurang waras. Tidak tahu saja mereka kalau aku begini karena sedang kasmaran.


Ups! Belum waktunya mereka tahu. Hoho..


Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi. Pelajaran pertama adalah matematika. Banyak yang tidak suka dengan pelajaran satu itu. Tapi buatku biasa saja. Tidak ada pelajaran yang aku tak suka. Karena memang aku suka belajar.


"Pak Angga, gaess. Pak Angga yang masuk," bisik teman-teman perempuanku dengan heboh.


Tunggu! Kenapa bisa Mas Angga yang masuk? Harusnya kan Bu Hesty.


Cih.. Bilang aja mau cari kesempatan!


"Selamat pagi," ucap Mas Angga. Eh, Pak Angga. Ini kan di sekolah. Jangan sampai aku keceplosan memanggilnya Mas.

__ADS_1


"Pagi, Pak," jawab kami serempak.


"Hari ini Bu Hesty sedang ada kepentingan, jadi saya uang menggantikan. Buka buku kalian halaman 26. Kerjakan latihan soalnya dan dikumpulkan sekarang juga," perintahnya tegas.


"Yaaaahh!!" Keluh beberapa temanku. Sudah dipastikan bahwa yang mengeluh itu berarti tidak suka pelajaran ini. Termasuk si Karina.


"Boleh dikerjakan secara berkelompok, tapi masing-masing harus mengumpulkan tugas. Pastikan kalian berfikir, bukan hanya mengharapkan teman kalian."


Ucapan Pak Angga disambut bahagia. Karina, Lila, Indra, Fahmi, Rini, Denis, Metha dan Zikri langsung menata meja dan kursi mengelilingi aku.


"Kalian ngapain?" Tanyaku dengan memicingkan mata ke arah mereka.


"Minta diajarin kamu, Na," jawab Zikri enteng.


"Minta diajarin apa minta contekan?" Pertanyaanku disambut tawa oleh mereka.


"Dua-duanya," celetuk Fahmi.


"Woy, itu yang pintar-pintar kenapa pada ngumpul disitu," protes Sandy.


"Iya, tuh. Denis kesini lah, jangan nempel si Hana mulu," Sinta menimpali.


"Namanya juga usaha buat PDKT. Ya enggak, Nis?" Celetuk Roni yang membuatku ingin menyembunyikan diriku di kolong meja. Apalagi ku lihat Pak Angga mendelik tak suka kearahku.


"Sudah. Jangan ribut. Kerjakan sekarang!"


***


Me : "Mau ngapain? Jangan aneh-aneh, deh, Mas."


My Angga : "Harus mau,"


Me : "Enggak."


My Angga : "Nanti Mas antar pulang."


Aku tak membalas lagi karena Karina dan Lila sudah kembali dari memesan makanan. Di susul Indra dan Denis dibelakang mereka. Aku heran, itu dua cowok ngintilin kita bertiga terus perasaan.


"Hana lagi bahagia banget kayaknya. Memang lotre, ya?" Celetuk Indra. Anak satu itu kalau bicara jarang ada benarnya.


"Kok tahu, Ndra? Haha," aku menanggapi candaannya.


"Hadiah lotre-nya apa, Na? Aku mau dong,"


"Boleh Ndra kalau kamu mau. Lipstik merah merona kamu mau?" Ucapku membuat Indra memasang wajah cemberut. Diiringi tawa Denis, Karina dan Lila.


"Tapi bener lho yang Indra bilang. Hari ini kamu kelihatan senang banget. Senyum-senyum terus dari tadi pagi," Lila menyetujui ucapan Indra.


"Kenapa, sih, Na?" Tanya Karina penasaran.


"Kalian kepo!" Jawabanku membuat mereka diam. Walau kadang masih sering memaksaku untuk bercerita tentang kenapa hari ini aku banyak tersenyum.


Kami menikmati waktu istirahat kami untuk makan siang bersama. Untuk kelas dua belas sudah ada pelajaran tambahan untuk persiapan ujian nasional. Jadi setelah ini kami akan berkutat kembali dengan pelajaran sampai jam 4 sore.

__ADS_1


Bukan masalah besar bagi kami. Yang terpenting kami bisa mengerjakan soal-soal ujian Nasional nanti dan lulus dengan nilai yang memuaskan.


"Boleh gabung?" Suara Pak Satria mengejutkan kami. Pak Satria tidak sendiri, tapi ada Pak Angga juga. Aww.. Pujaan hati.


Biasa aja, Hana! Entar ketahuan bisa berabe.


"Boleh, Pak." Ucap Indra kemudian menggeser tempat duduknya menyisakan tempat duduk untuk Pak Satria dan untuk pujaan hatiku. Uhukk! Mana Pak Angga duduknya disebelah aku lagi.


Ya Allah.. Kan Hana jadi tambah deg-degan.


"Tumben, Pak?" Tanya Karina yang terlihat begitu antusias karena kedua guru idolanya duduk satu meja dengannya. Eh, tapi bagaimana ya kira-kira reaksi mereka kalau ternyata Pak Angga itu pacarku? Apalagi si Karina yang udah ngefans berat sama Pak Angga.


"Pengen ikut ngobrol aja sama kalian, kayaknya seru. Didalam sana juga masih penuh," jawab Pak Satria sambil menuangkan kecap ke dalam baksonya.


"Hana diam terus dari tadi?" Tanya Pak Satria.


"Eh, kan Hana baru makan, Pak. Masak suruh ngomong terus," jawabku sambil sesekali melirik Pak Angga. Yang dilirik maag asyik dengan baksonya.


"Lagi pada ditraktir Hana, ya?" Tebak Pak Satria.


"Kok bapak tahu?" Indra langsung menyela. Membuatku melotot ke arahnya. Enak saja! Uang jajan seminggu ludes, dong.


"Kita berdua sekalian, ya, Na?" Pak Satria melihatku dengan tatapan menggoda. Sepertinya tahu sesuatu sudah terjadi diantara aku dan Pak Angga. Aku salah tingkah dibuatnya.


"Bayar sendiri-sendiri mereka, Pak. Hana enggak traktir mereka, kok."


"Udah, biar saya yang bayar," Pak Angga menyela cepat.


"Serius, Pak?"


"Beneran, Pak?"


"Makasih, Pak."


Teman-temanku merespon senang, sudah pasti. Pemburu gratisan mereka, mah.


"Serius. Saya lagi bahagia karena kemarin habis jadian sama pacar saya."


Uhukkk uhukkk...


"Hana kamu enggak apa-apa?" Tanya Pak Angga dan Denis bersamaan, disusul Karina dan Lila. Denis dan Pak Angga menyodorkan minuman. Aku mengambil minuman dari Pak Angga karena memang lebih dekat. Pak Angga juga menepuk punggungku pelan.


Tenggorokanku terasa begitu panas. Sampai air mataku keluar karena efek perih. Kalian bisa bayangkan, saat tersedak sesuatu yang panas dan pedas. Rasanya luar biasa bukan?


Setelah aku merasa lebih baik, aku mendongak. Mataku langsung tertuju pada Denis yang melihatku dengan pandangan yang.. Entahlah.


Aku tak tahu apakah dia marah karena aku tak mengambil minuman darinya dan lebih memilih minumnya dari Pak Angga. Karena tak lama setelah itu, Denis berpamitan dan berkata bahwa ia akan membayar makanannya sendiri.


"Kayaknya aku harus bikin hastag hari patah hati sesekolah," ucap Karina sedih. Tapi itu hanya akting saja pemirsaah..


"Gosip ini akan segera tersebar," Lila ikut mengompori.


"Dasar tukang gosip!"

__ADS_1


__ADS_2