Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 36


__ADS_3

POV: HANA


"APAA!!??"


Hana menutupi telinganya mendengar teriakan teman-temannya karena terkejut mendengar pengakuannya.


"Sejak kapan?"


"Sudah berapa lama?"


Sesi wawancara masih berlanjut. Nyali Hana seketika menciut, tak berani menatap teman-temannya.


"Jawab Zee!!!" Karina mulai geram. Aduuhh... Teman-teman akuhh. Sahabat akuhh.. kenapa judes begitu sama aku?


"Empat bulan yang lalu," ujarku pasrah. Teman-temanku melongo mendengarnya. Sudah teman-teman. Kamera dimana kamera? Aku mau melambaikan tangan pertanda aku ingin berhenti.


"Gimana ceritanya?" Tanya Lila. Kini suaranya lebih lembut. Mungkin karena tadi efek kepo, jadi Lila menjadi galak.


Teman-temanku membubarkan diri. Aku pikir mereka sudah puas dengan jawabanku. Tapi nyatanya enggak. Mereka menyeret kursi mereka lalu berjajar di depanku untuk mendengarkan ceritaku. Itu teman-teman yang cowok juga tak mau ketinggalan. Mereka juga ikut berjajar di depanku.


Aku merasa seperti sedang disidang, atau ujian lisan dengan penguji yang sangat banyak. Aku bingung. Rasanya untuk menelan ludah saja sulit.


"Ceritakan sejak awal, Na!" Perintah Shinta.


Aku menggeleng kuat. "Itu privasi kami. Bagaimana ceritanya, itu rahasia diantara kami," jawabanku membuat mereka semua mendesah kecewa. "Yang jelas, kami memang pacaran. Udah itu aja! Aku mau keluar!" Aku mulai beranjak dan meninggalkan mereka yang masih saja memandangku dengan tatapan kepo.


Karina dan Lila juga tak menyusul ku. Hiks.. Mas Angga! Ini semua gara-gara kamu!


Aku berjalan menuju roof top. Tempat dulu Mas Angga meminta maaf dan membawakan aku jus alpukat. Kalian ingat, kan?


Aku duduk ditempat duduk yang sama dengan tempat dudukku saat bersama Mas Angga dulu. Kalau mengingat masa lalu, dulu aku dan Mas Angga tidak pernah akur. Ada saja yang diperdebatkan. Tapi lama-lama kami bisa saling jatuh cinta dan akhirnya pacaran.


Aish.. Hana sudah berani bicara tentang cinta sekarang.


"Enggak nyangka, ya, ternyata kamu pacaran sama Pak Angga?"


Aku tersentak saat Denis tiba-tiba duduk dan berbicara. Sejak kapan dia disini? Aduh.. Mana aku juga sendirian disini. Jangan sampai Mas Angga tahu dan jadi salah paham.


"Kenapa? Takut kalau Pak Angga tahu, ya?" Tanyanya seolah tahu dengan apa yang aku pikirkan.


"Eh, enggak, kok!" Jawabku berbohong. Padahal sebenarnya iya.


"Aku udah ngerasa, sih, kalau ada sesuatu antara kamu sama Pak Angga. Cuma nggak nyangka aja ternyata hubungan kalian sejauh ini," ujarnya pelan. Tatapannya lurus ke depan. Matanya memancarkan luka yang teramat dalam.


Eh, sok tahu kamu, Na!


"Baru berani go publik, ya? Apa karena Pak Angga mau keluar jadi baru go publik? Secara kalau dia keluar, kan, konsekuensinya enggak ada. Sedangkan kamu disini, belum tahu dukungan yang teman-teman kamu berikan, atau malah bully'an yang kamu dapatkan. See? Baru sehari saja teman-teman kamu enggak ada yang ngejar kamu pas kamu lari, kan?"

__ADS_1


Ucapan Denis membuatku berpikir keras. Apa iya seperti itu?


Sebelum Mas Angga keluar, dia menggemparkan sekolah terlebih dahulu dengan terbongkarnya status kami.


Sedikit banyak perkataan Denis ada benarnya juga. Mas Angga pergi ya pergi saja. Sedangkan aku disini? Teman-temanku belum tentu mendukungku. Bisa jadi aku malah mendapat bully'an disana-sini.


"Aku turun dulu, Nis," pamitku. Lalu aku pergi tanpa menunggu Denis menjawab ucapanku.


***


POV : ANGGA


"Pak Angga, benarkah soal gosip yang beredar, Pak?" Tanya Pak Hartono saat aku sedang membereskan barang-barangku yang berada diatas meja. Aku akan membawa pulang semuanya karena semester depan aku sudah tidak ada disini.


"Bapak ngikutin gosip juga, ya, Pak?" Aku mencandainya.


Pak Hartono tertawa pelan. "Bukan mengikuti gosipnya, Pak. Tapi memang sudah berseliweran beritanya."


"Bapak cukup berani, ya, memacari murid sendiri? Jangan-jangan nilainya dibuat bagus karena pacar sendiri," celetuk Bu Rahma yang memang orangnya sedikit julid. Ucapannya membuat aktifitas ku terhenti.


"Saya profesional, kok, Bu. Kalau nilai Hana kurang bagus, ya saya tulis apa adanya. Tapi Hana kan memang anak yang pintar, selalu tiga besar. Jadi kalau nilai Hana bagus, itu bukan karena saya yang menambah nilainya. Tapi karena memang kerja keras Hana sendiri. Lagi pula kan saya hanya mengampu pelajaran olahraga, nilai yang lain kan yang merekap Bu Feni selaku wakil kelas. Benarkan, Bu Feni?" Bu Feni mengangguk membenarkan. Jawabanku membuat Bu Rahma mingkem tak berucap apapun lagi meskipun ekspresinya tidak terima aku menjawab ucapannya.


"Saya, sih, cuma berharap prestasi Hana enggak turun, ya, Pak. Anak sepintar Hana sayang banget kalau harus turun rankingnya karena pacaran," Bu Rahma kembali berucap setelah terdiam cukup lama.


"Bu Rahma tenang saja. Saya juga sudah diwanti-wanti oelh orangtunya Hana jangan sampai prestasi Hana turun. Saya juga tahu waktu kok, Bu. Waktunya Hana belajar ya dia harus belajar. Saya tidak mengganggunya," Bu Rahma kembali tak bisa menjawab apapun.


"Laki-laki sejati itu menikahi, Pak. Bukan memacari. Iya kalau bisa sampai menikah, kalau ditinggalkan, kan, kasian si Hana," Bu Rahma masih tak mau mengalah. Apa Bu Rahma ini iri, ya? Mengingat usianya yang sudah 34 tahun tapi masih belum menikah juga.


Tapi ucapan Bu Rahma ada benarnya. Tapi aku berharap saat Hana siap nanti aku bisa menikahi dia. Aku selalu berdoa semoga hubungan kami bisa sampai menikah nanti.


"Sudah, jangan berdebat lagi. Pak Angga dan Hana yang menjalani. Semoga mereka bisa sampai menikah nanti," Pak Hartono dengan tulus memberi doa. Langsung saja aku aamiinkan.


***


Bagaimana dengan Hana sekarang, ya? Apa teman-temannya masih saja menginterogasinya. Sejak tadi Hana tidak menghubungiku. Itu berarti semuanya baik-baik saja. Semoga saja. Sejak tadi aku merasa tak tenang memikirkan Hana.


"Munafik kamu, Na! Dulu kamu bilang aku suruh ngambil Pak Angga, tapi ternyata sendirinya yang macarin Pak Angga. Enggak tahu malu kamu!"


Itu siapa yang memaki-maki Hana?


"Bilangnya dulu enggak suka. Tapi nyatanya di embat juga!"


Itu suara mereka ada dimana, sih? Aku mencoba mendatangi belakang gudang. Dan ternyata memang mereka ada disana. Vera dan kedua temannya, dan juga Hana. Tapi kemana teman-teman Hana yang seolah tak bisa lepas dari Hana itu? Kenapa saat Hana seperti ini mereka tidak ada?


Hana diam saja kendati Vera mengatainya habis-habisan. Hana hanya memandang Vera dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.


"Sudah ngomongnya?" Hana bersuara dengan tenang. "Kalau Pak Angga sukanya sama aku kamu mau apa?" Ucap Hana sombong. Anak itu, narsisnya terlalu tinggi. Tapi benar juga, sih, aku sukanya sama Hana.

__ADS_1


"Songong banget, sih, kamu!"


"Hey! Mau kalian apakan Hana?" Aku bersuara, mengehentikan gerakan tangan Vera yang akan menjambak rambut Hana.


"Pak Angga??" Vera menatapku tak percaya, begitupun dengan Hana. Aku berjalan mendekati mereka dan menatap Vera tajam. Vera dan teman-temannya terlihat gugup.


"Sana! Jangan ganggu Hana atau kalian berurusan sama saya!" Tanpa melawan, Vera dan teman-temannya pergi meninggalkan aku dan Hana.


Setelah kepergian Vera, aku menatap lembut mata Hana yang juga sedang menatapku. Tetapi ada yang berbeda dengan tatapan Hana kali ini.


"Hana baik-baik saja?" Tanyaku pelan.


Bukannya menjawab, Hana justru menangis pelan dan membuatku panik.


"Kamu kenapa Hana?" Tanganku ingin memegang kedua bahunya, tapi Hana menepis tanganku dengan kasar. Hana menghapus air matanya lalu pergi berlari meninggalkan aku.


Ya ampun!! Ini anak kenapa lagi?


***


POV : HANA


Aku sendiri. Kemanapun aku pergi, aku sendiri. Karina dan Lila tidak lagi menjadi sahabat untukku saat aku susah begini. Aku bingung sendiri harus bagaimana.


Aku juga teringat akan ucapan Denis. Bagaimana kalau satu sekolah akan membully aku? Bagaimana kalau aku dikucilkan? Siapa lagi yang akan menolongku kalau Mas Angga keluar dari sekolah ini?


Dengan langkah gontai aku berjalan menuju kelas untuk mengambil tasku. Aku memutuskan untuk pulang saja. Hari-hari menjelang penerimaan rapor bebas dari KBM, jadi tak masalah jika muridnya mau pulang jam berapapun. Yang terpenting pagi tetap datang ke sekolah.


Saat aku memasuki kelas, kelas begitu sepi. Hanya ada beberapa orang saja dan mereka tak memperdulikan aku sama sekali.


Bahkan Karina dan Lila juga meninggalkan aku? Kalian tega banget, sih!! Hiks..


"Kasian benget sendirian."


"Pak Angga mana, kak Hana? Udah ditinggalin, ya?"


"Sudah nggak ada temen yang pasti."


Aku tak menghiraukan kicauan orang-orang yang aku temui sepanjang koridor sekolah. Saat ini aku hanya ingin pulang, cepat sampai rumah, dan cepat-cepat tidur. Aku lelah!


Aku memutuskan untuk memesan ojek online. Kalau aku naik angkot, sudah pasti akan bertambah lama untuk sampai rumah.


Sesampainya aku dirumah, rumah masih sepi. Pasti lah! Mama, Papa dan Mas Ikhsan pasti juga masih bekerja. Lengkap sudah kesendirianku.


Saat aku membuka pintu, aku bingung kenapa pintu tidak terkunci. Padahal semua orang sedang pergi. Ini yang terakhir berangkat siapa, sih? Sembrono begini. Kan kalau ada maling kita juga repot sendiri.


Bodo amat! Lebih baik aku segera masuk dan tidur.

__ADS_1


__ADS_2