
POV : HANA
Dapat aku lihat tatapan Mas Angga yang penuh harap. Mama dan papa juga memandangku penuh tanya.
"Tapi apa, sih, Na?" Gerutu mama tak sabar.
"Tapi... Tapi Hana nggak mau LDR-an."
Sudah jelas, kan? Aku tak mau mengulang masa suram itu lagi.
"Lah? Terus bagaimana? Angga pekerjaannya disini, kamu kuliahnya di Surabaya sana. Kamu pindah kuliah? Ribet. Kalau Angga pindah kerja disana, papa nggak setuju selagi kalian belum menikah."
"Berarti papa setuju kalau Hana nikah waktu masih kuliah?" Tanyaku tak percaya.
"Emang Hana mau nikahnya dalam waktu dekat?" Timpal mama.
Aku mengalihkan tatapanku ke arah lain. Malu. Masak iya aku yang lebih dulu bilang kalau aku mau seandainya Mas Angga mengajakku menikah dalam waktu dekat. Lagi pula aku berkata bahwa aku tak mau LDR-an itu sudah cukup untuk bisa di jadikan sebuah kode kalau Mas Angga peka.
Memangnya Mas Angga juga mau kalau harus ikut pindah ke Surabaya? Kalau aku yang pindah, benar kata papa. Ribet. Aku sudah cukup pusing dengan materi kuliah dan tugas-tugas yang seolah tidak ada habisnya. Aku tak mau menambah lagi dengan urusan pindah kampus.
Aku juga tak mau kalau harus kembali beradaptasi dan mencari teman baru. Aku sudah sangat nyaman dengan teman-temanku disana. Apalagi aku juga punya sahabat baru. Salsa.
"Saya tidak masalah kalau harus ikut Hana ke Surabaya," celetuk Mas Angga tiba-tiba. Sudah pasti membuat aku, mama dan papa terkejut dan langsung menatap Mas Angga.
"Serius!?"
"Serius?"
"Serius?"
Ucap kami bersamaan. Mas Angga tersenyum dan mengangguk pasti. Tanpa sadar membuatku juga tersenyum lebar.
"Saya sebenarnya tidak masalah kalau Hana menikah meskipun kuliahnya belum selesai. Tapi Hana juga harus bisa membagi waktu antara kuliah dan menjadi istri. Papa tidak mau kuliah kamu berhenti di tengah jalan. Sayang, kan?" Papa memberi wejangan.
"Mama juga tidak masalah. Asal jangan hamil dulu nanti kalau bisa."
Ucapan Mama membuat pipiku terasa panas. Menikah? Hamil? Tiba-tiba saja jantungku berdebar. Membayangkan saja sudah membuatku malu. Malu dengan ucapan frontal mama.
"Bawa orangtua kamu kesini kalau kamu memang serius dengan Hana!" Ucap papa bijak. Benar, aku akan melihat keseriusan Mas Angga kalau Mas Angga sudah berhasil membawa kedua orangtuanya untuk datang menemui papa dan mama.
"Insyaallah, Pak. Apa boleh kalau saya mengajak Hana untuk bertemu dengan orangtua saya terlebih dahulu?"
Apa? Bertemu dengan orangtua Mas Angga?
Kenapa mendadak aku merasa takut? Aku takut kalau ibu atau ayah Mas Angga tidak setuju dan tidak menyukai aku. Atau bisa jadi mereka baik padaku ketika di depan Mas Angga dan menindas ku ketika tidak ada Mas Angga.
Aih! Ini pasti karena aku terlalu banyak nonton sinetron atau karena terlalu sering baca novel tentang mertua dan menantu.
Wajar, kan, kalau aku takut? Mengingat cerita Mas Angga kalau ayahnya dulu begitu keras memaksakan kehendaknya pada Mas Angga. Tapi kalau Mas Angga saja bisa membatalkan pertunangannya dengan kak Devina, apa itu berarti ayah Mas Angga sudah berubah menjadi baik? Semoga saja.
"Bagaimana, Hana?"
"Eh?"
"Melamun?" Tanya Mama. Aku tersenyum kikuk.
"Bagaimana?" Tanya papa lagi.
"Bagaimana apanya, Pa?" Tanyaku bingung.
Papa menghela napas panjang. "Angga mau mengajak kamu kerumahnya. Mau apa nggak?"
"Sekarang?" Aku memastikan.
"Tahun depan! Ya sekarang lah!"
"I-Iya.. Hana ganti baju dulu."
Aku langsung berdiri dan berjalan menuju kamarku. Masih sempat ku lihat papa yang menggeleng pelan melihat tingkahku. Mas Angga juga terkekeh pelan melihatku. Sedangkan mama berdecak pelan melihat tingkah anak gadisnya ini.
πΉπΉπΉ
Gugup. Itu yang aku rasakan. Tanganku terasa dingin, jantungku begitu deg-degan. Duduk didalam mobil pun aku tak bisa tenang.
Bertemu dengan calon mertua? Mendadak seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutku. Aku tak percaya bahwa jalanku dengan Mas Angga sudah sejauh ini. Sebelum Mas Angga menjalankan mobilnya meniggalkan rumahku, Mas Angga sempat mengatakan kalau dia ingin kami menikah sebelum aku kembali masuk kuliah.
Yang benar saja? Liburanku tinggal dua bulan lagi. Memangnya cukup untuk mempersiapkan pernikahan?
Bukannya aku ingin pesta yang mewah atau apalah itu. Tapi sebagai perempuan, aku ingin persiapan dan hasil yang sempurna untuk momen sekali dalam hidup ini.
"Gelisah banget, sih, dari tadi?" Mas Angga membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
"Deg-degan." Ucapku lirih yang dibalas kekehan pelan darinya.
"Malah ketawa?" Sungutku tak suka.
"Tenang aja. Bapak sama ibu pasti setuju, kok." Ujarnya mencoba menenangkan aku.
"Dari mana Mas Angga tahu kalau mereka pasti setuju?"
"Bagi mereka, apapun yang membuat Mas bahagia, mereka akan setuju."
Benarkah begitu? Kalau iya, aku bisa sedikit tenang sekarang.
"Kalau soal Mas ikut aku ke Surabaya, apa iya mereka setuju?"
"Hanya untuk sementara, kan? Sampai kamu lulus. Mas rasa mereka tidak akan keberatan."
Semoga saja, batinku. Jujur aku lelah kalau dalam hal ini masih saja ada yang di permasalahkan. Jalanku dengan Mas Angga untuk bisa sampai saat ini sudah sulit. Aku tak ingin lagi ada kesulitan dalam hubungan kami.
Aku terlalu sibuk dengan pikiran ku sendiri sampai aku tidak sadar bahwa mobil Mas Angga sudah berhenti di halaman rumahnya yang cukup luas.
Rumahnya terlihat begitu asri. Beberapa pot bunga anggrek menggantung di atap terasnya. Juga terdapat beberapa bunga mawar, bunga aster, dan masih banyak lagi bunga-bunga yang tumbuh terawat. Ku pikir ibunya Mas Angga begitu menyukai menanam bunga.
"Yuk, masuk," Ajaknya.
Aku mengikuti langkah Mas Angga dibelakangnya. Tubuhku rasanya panas dingin, perutku terasa mulas efek grogi. "Rileks aja," hiburnya. Aku hanya bergumam pelan.
"Assalamualaikum," ucap kami bersamaan.
"Waalaikumsalam," terdengar beberapa suara dari dalam sana. Ku pikir tidak hanya ada bapak dan ibu Mas Angga di dalam sana.
Tak lama kemudian sesosok perempuan berusia sekitar tiga puluhan keluar dengan menggandeng tangan seorang anak laki-laki yang begitu menggemaskan. Ku pikir itu kakaknya Mas Angga. Mas Angga sempat cerita kalau dia punya dua kakak perempuan.
"Wahh.. Hana?" Dia menyapaku ceria. Dia tahu namaku? Tidak perlu aku tanyakan dia tahu dari mana. Sudah pasti, kan, dari Mas Angga?
Aku hanya tersenyum dan mengangguk canggung. Lalu mempersilahkan aku untuk duduk. "Kenalkan, aku Anggi, kakaknya Angga!" Ucapnya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman denganku. Aku menerimanya kemudian mencium tangannya. Layaknya seorang yang lebih muda menghormati yang lebih tua.
"Diajak duduk, dong, Ga!" Perintahnya.
Mas Angga mengajakku duduk di kursi ruang tamunya. Mbak Anggi berpamitan untuk memanggil kedua orangtuanya, orangtua Mas Angga juga.
Aku mengalihkan kegugupanku dengan melihat foto-foto yang tertempel di dinding meskipun aku melihatnya hanya dari tempat ku duduk.
Ada foto Mbak Anggi saat menikah, foto Mbak Anggun juga waktu menikah. Yang belum ada hanya foto Mas Angga dengan agenda yang sama. Haha! Foto Mas Angga yang terpajang hanya foto di saat Mas Angga wisuda.
Mbak Anggi tak lagi ikut keluar. Entah kemana kakaknya Mas Angga yang satu itu.
"Kenalkan, Pak, Bu, dia Hana. Emm.. Calon istri Angga."
Hwuaaaa.. Pipiku terasa panas mendengar Mas Angga memperkenalkan aku sebagai calon istrinya. Aku tersenyum tipis. Sangat canggung rasanya.
"Masih kuliah?" Tanya bapak Mas Angga.
"Masih, Pak." Jawabku sopan.
"Semester berapa?"
"Semester empat, Pak."
"Ambil apa?"
"Kedokteran."
"Dimana?"
"Emm.. Surabaya, Pak."
Kedua orangtua Mas Angga sedikit terkejut mendengarnya.
"Kenapa sudah memutuskan untuk menikah?" Tanya Bapak Mas Angga lagi yang membuatku terdiam tak tahu harus menjawab bagaimana. Mana mungkin aku menjawab, "karena aku cinta sama anak bapak!" Eh? Memang begitu, kan, hati?
"Terus kalau sudah menikah, kuliah kamu bagaimana? Harus kembali ke Surabaya, kan, pasti?" Bapak Mas Angga menambah pertanyaan baru. Padahal yang sebelumnya belum sempat aku jawab.
Aku menoleh ke arah Mas Angga. Beruntung dia sedang melihatku juga. Aku memberinya kode untuk membantuku menjawab pertanyaan bapaknya.
"Emm.. Sementara waktu, Angga akan ikut ke Surabaya, Pak."
Lagi-lagi kedua orangtuanya terkejut mendengar ucapan Mas Angga.
"Istri yang harusnya ikut suami, bukan suami yang ikut istri," jawab Bapak Mas Angga cepat dan membuat nyaliku menciut.
Aku hanya menunduk. Tak berani melihat orangtua Mas Angga. Dalam hati berdoa, semoga ini bukan rintangan untuk kami melangkah. Jujur, aku sudah lelah dengan hubungan kami yang sebelumnya sudah banyak drama. Aku ingin jalanku dengan Mas Angga lancar jaya lurus tanpa hambatan.
__ADS_1
"Semua orang maunya juga seperti itu, Hana! Mana ada orang mau hubungannya banyak rintangan?" Olokku dalam hati.
"Hanya sementara, Pak. Sampai Hana lulus. Setelah itu kami akan kembali kesini. Daripada Hana harus pindah kuliah, ribet, lebih baik Angga yang pindah kesana. Pekerjaan bisa di handle dari jauh. Kalau perlu Angga buka cabang disana juga tidak masalah."
Kedua orangtua Mas Angga saling berpandangan. Ibunya yang sejak tadi lebih banyak diam kini tersenyum seolah meyakinkan suaminya. Belajar dari yang sempat Mas Angga ceritakan, sejak Mas Angga dulu memilih pergi dari rumah, sejak itu pula bapak Mas Angga tidak pernah memaksakan kehendaknya lagi pada Mas Angga.
Ngomong-ngomong nama bapak Mas Angga siapa, sih? Nggak enak banget bilangnya bapaknya Mas Angga terus. Wkwkwkwk.
"Hana yakin mau menikah dengan Angga?" Pada akhirnya, ibunya bersuara. Suaranya begitu teduh. Seketika hatiku terasa disiram air es. Adem. Menenangkan.
"Insyaallah, Bu," jawabku yakin.
"Semua keputusan ada ditangan kalian karena kalian yang menjalani. Kami sebagai orangtua hanya bisa mendoakan yang terbaik buat anaknya."
What? Ini serius? Aku tidak salah dengar, kan?
Bapaknya Mas Angga juga tersenyum setelah ibu Mas Angga berucap seperti itu.
Aku sendiri juga tak bisa lagi menahan senyum haruku. Apalagi Mas Angga yang reflek menggenggam tanganku.
"Angga..." Bapak menegur Mas Angga saat melihat Mas Angga menggenggam tanganku.
Langsung saja Mas Angga melepasnya dan kami terkekeh pelan. Ahh.. Bahagianya kami..
"Terimakasih, Pak, Bu. Terimakasih.." ucap Mas Angga sambil memeluk dan menciumi kedua orangtuanya.
Mas Angga terlihat begitu bahagia. Aku pun mengakui kalau aku juga sangat berbahagia. Aku tahu ini bukan akhir segalanya. Tapi ini adalah awal dari kehidupan kami. Didepannya tak mungkin hidup kami akan selalu bahagia. Pasti akan ada banyak rintangan yang harus kami lalui.
Untuk saat ini, biarlah kami berbahagia dengan restu kedua orangtua kami yang sudah berada dalam genggaman.
"Jadi kapan rencana kalian untuk menikah?" Tanya Bapak.
"Secepatnya." Jawab Mas Angga tanpa ragu.
πΉπΉπΉ
Sehari setelah aku datang kerumah Mas Angga, kedua orangtua Mas Angga datang ke rumahku untuk melakukan lamaran.
Hwuaaaa.. Lamaran? Aku seolah tak percaya dengan apa yang terjadi di hidupku saat ini.
Mas Ikhsan dan Teh Kinan masuk ke kamarku saat aku sedang bersiap-siap menyambut kehadiran keluarga Mas Angga. Teh Kinan tersenyum menghampiri ku. Sedangkan Mas Ikhsan menatapku dengan tatapan permusuhan.
Iya, dia masih tak terima karena tak menceritakan hal ini kepadanya dan tahu-tahu keluarga Mas Angga akan datang untuk melamar ku secara resmi.
"Kamu anggap apa aku, Hana?" Ucapnya dramatis waktu itu. Rasanya aku ingin tertawa melihat ekspresi wajahnya yang terlihat kesal. Padahal aku tahu, dalam hatinya pasti bahagia melihatku bahagia.
Acara lamaran berlangsung khidmat dan penuh haru. Terlebih saat ibu Mas Angga memasangkan cincin pertunangan di jari manis ku. Aku ingat cincin ini adalah cincin yang dulu ku kembalikan pada Mas Angga. Ternyata dia masih menyimpannya.
One step closer.. Akhirnya, setelah sekian tahun.
Kedua keluarga sepakat untuk melaksanakan pernikahan kami sebulan setelah lamaran. Terlalu cepat? Tidak menurutku. Karena kurang dari dua bulan lagi aku sudah harus kembali kuliah.
Lagi pula kami tak mau menunggu lebih lama lagi. Lebih cepat lebih baik, kan? Daripada semakin lama akan semakin menambah dosa. Entah dosa yang bagaimana karena setan tidak akan pernah berhenti menggoda manusia sampai manusia benar-benar terjerumus ke dalam golongannya.
Aku dan Mas Angga sedang memilih design undangan pernikahan kami. Mas Angga hanya bilang, "terserah kamu, sesuka kamu, yang kamu suka Mas juga suka."
Kalau sudah begitu, berarti semua keputusan aku yang ambil, kan?
Akhirnya pilihanku jatuh pada undangan berwarna maroon dengan pita berwarna silver. Terlihat anggun dan elegan.
Setelah dari percetakan, Mas Angga melajukan mobilnya ke sebuah butik baju pengantin. Aku mencoba beberapa gaun yang pasti dengan design simple, elegan, dan tentunya tidak menampakkan lekuk tubuhku.
"Kalau ini bagaimana, Mas?" Tanyaku padanya saat aku mencoba gaun berwarna putih dengan bagian belakang yang menjuntai namun tak terlalu panjang.
"Bagus." Jawabnya singkat. Aku menghela napas mendengarnya.
"Kalau yang ini?" Tanyaku lagi setelah aku berganti gaun berwarna maroon.
"Sesuai keinginan kamu saja, sayang."
Kali ini jawabannya benar-benar membuatku kesal. Aku berbalik dan kembali ke ruang ganti. Kemudian mengganti gaun dengan bajuku sendiri.
"Kapan-kapan saja, mbak, saya ada urusan."
Ucapku pada pegawai butik sambil mengambil tas yang ku letakkan di sofa dan langsung berjalan keluar butik. Mbak-mbak itu melihatku bingung tapi aku tak peduli.
Mas Angga juga terlihat bingung dan berulang kali memanggilku.
Bodo amat! Aku kesal. Aku sebal.
πΉπΉπΉ
__ADS_1
Bagaimana? π π