Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 25


__ADS_3

Denis duduk ditempat duduknya yang berada dibelakang Hana. Denis menatap lekat punggung Hana yang masih fokus pada novelnya. Kedatangan Vera sepertinya tak membuat Hana takut atau terganggu.


"Sepatu kamu disita, Na?" Tanya Denis mengejutkan Hana.


"Eh, iya. Hihi," jawab Hana sambil tersenyum geli. Kemudian melihat kaki telanjangnya. Hana merasa lucu, sekolah tapi tak memakai alas kaki.


Denis tersenyum senang melihat senyuman Hana. Senyum yang beberapa hari ini tak ia lihat. Denis sempat ingin menjenguk Hana ketika Hana sakit kemarin. Tapi saat mencoba menghubungi ponsel Hana dan ternyata tidak aktif sama sekali, Denis berfikir bahwa Hana memang butuh istirahat.


Senyum Denis mengembang saat melihat Hana sudah kembali ke sekolah. Diam-diam Denis memperhatikan Hana saat Hana baru saja menginjakkan kakinya dilantai dua. Hati Denis merasa senang, pujaan hatinya telah sehat kembali seperti sedia kala.


"Kamu enggak jajan kayak Karina sama Lila?" Tanya Denis.


"Enggak, Nis. Malu keluar enggak pakai alas kaki. Hehe."


"Pakai sepatu aku mau enggak?" Canda Denis membuat Hana tertawa terbahak. Denis sempat terpana melihatnya.


"Enggak mau, yang ada nanti aku kayak donald bebek karena kegedean sepatu," jawab Hana sambil sesekali terkekeh geli.


"Pepet terus, Nis," bisik Indra lirih. Indra duduk satu meja dengan Denis. Denis hanya tersenyum penuh arti menanggapinya.


***


Angga memijat pangkal hidungnya pelan. Angga merasa semuanya semakin rumit. Kehangatan yang terjalin antara dirinya dengan Hana kini kembali dingin karena penegasan antara dirinya dan Hana bahwa hanya sebatas guru dan murid beberapa waktu lalu.


Angga merasa Hana semakin jauh. Tak ada lagi senyuman manis ketika Hana berhadapan dengan dirinya. Tak ada lagi ucapan manja atau keluh kesah manja yang Hana lontarkan pada dirinya. Hana seperti membatasi jarak diantara mereka.


Hal itu membuat Angga kembali menjadi seorang yang begitu dingin. Tak ada lagi keramahan saat Angga mengajar. Sikapnya kembali menjadi Angga yang dulu, sebelum dekat dengan Hana.


"Assalamualaikum," Hana mengucap salam.


"Waalaikumsalam," Angga membenarkan posisi duduknya menjadi lebih tegak. "Ada apa?" Tanya Angga datar. Sedikit menyesal melihat Hana datang bersama kedua sahabatnya. Angga tidak bisa lebih leluasa berbicara dengan Hana. Padahal, ada banyak hal yang ingin Angga perjelas. Agar hubungan mereka tak seburuk ini.


"Mau ambil sepatu, Pak."


"Silahkan!"


Tak ingin lebih lama lagi berhadapan dengan Angga, dengan cepat Hana mengambil sepatunya lalu berjalan keluar setelah mengucapkan maaf dan terimakasih.


Angga berdiri dan berjalan menuju jendela yang memperlihatkan suasana luar sekolah. Angga masih dapat melihat Hana yang memakai sepatu di salah satu kursi di halaman sekolah ditemani kedua sahabatnya.


Tak lama setelah itu, Denis dan Indra datang menghampiri mereka. Hana menyambut Denis dengan senyuman yang mengembang sempurna dibibirnya. Kemudian berjalan berdua dibelakang Indra, Karina dan Lila.


Hal itu membuat Angga mengepalkan tangannya. Hana bisa tertawa bebas di luar sana tanpa memikirkan apa yang Angga rasakan.


***


Gelak tawa terdengar dari dalam rumah saat Angga mulai menginjakkan kakinya di teras rumah. Angga mengerutkan keningnya dan mengira-ngira siapa yang ada didalam rumah bersama orangtuanya. Suara tawa itu bukan suara kedua kakaknya dan kakak iparnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum," Angga mengucap salam.


"Waalaikumsalam," jawab orang-orang yang berada didalam rumah serempak. "Itu Angga sudah pulang," ucap Rajiman, ayah Angga, sambil menunjuk ke arah Angga.


Angga menyalami tamu-tamu ayahnya. Adalah Ratno dan Sumarni, sepasang suami istri yang Angga sendiri sudah mengenal mereka sejak beberapa tahun yang lalu.


"Apa kabar Pak, Bu?" Tanya Angga basa-basi.


"Baik, Angga. Kamu baik?"


"Alhamdulillah, Pak Ratno," jawab Angga dengan tersenyum.


"Baiklah, karena Angga sudah pulang, bagaimana kalau kita langsung saja Pak Ratno?" Ucap Rajiman yang membuat Angga tahu betul kemana arah pembicaraan mereka.


"Apa enggak sebaiknya Nak Angga istirahat dulu, Pak?" Usul Sumarni.


Rajiman memberi kode pada Angga agar Angga menyetujui. Mau tak mau Angga mengangguk dan tersenyum tipis mengiyakan ucapan ayahnya.


***


POV: HANA


"Mas Angga.. Hana kangen!" Gumamku tanpa sadar. "Eh?"


Tapi biasanya sesuatu hal yang kita ucapkan tanpa kita sadari adalah suara hati kita yang sesungguhnya.


Tapi bener, kok. Aku beneran kangen sama Mas Angga. Biasanya jam segini Mas Angga tak pernah absen menelpon aku. Tapi sekarang, tak ada lagi telepon darinya. Tak ada lagi WhatsApp darinya.


Kangen perhatiannya, kangen tawanya, kangen candaannya, kangen omelannya.


Aku kangen berdebat tentang hal-hal yang tak begitu penting dengannya.


*Kira-kira kamu lagi ngapain, ya, Mas?


Kangen juga enggak sama aku*?


Ini buku matematika kenapa isinya wajah Mas Angga semua, sih?


Apa jangan-jangan aku sudah gila kali, ya?


Yakin! Saat ini aku sudah seperti orang gila. Disetiap lembar buku matematika yang ku pelajari terdapat wajah Mas Angga yang sedang tersenyum.


Benar kata orang, kita akan terus mengingat seseorang yang ingin kita lupakan kalau dalam pikiran kita selalu memikirkan bagaimana cara untuk melupakan orang itu. Biarlah semua mengalir apa adanya, suatu saat pasti akan lupa juga.


Mungkin aku terlalu sibuk berpikir bagaimana cara melupakan Mas Angga. Sampai aku tidak sadar bahwa itu membuatku semakin sering mengingatnya.


Dua bulan terakhir ini aku terbiasa dengan kedekatan kami. Kini aku tinggal membiasakan diriku menjadi seperti dulu, saat aku dan Mas Angga belum dekat.

__ADS_1


Lagi pula sebentar lagi aku lulus. Disekolah juga intensitas pertemuan kami tidak sering. Kecuali kalau aku melanggar peraturan. Semoga saja aku bisa jadi siswa yang disiplin.


Triiiiing..


Satu notifikasi masuk ke ponselku. Dengan cepat aku meraihnya dan membuka pesannya.


Denis..


Terbesit rasa kecewa karena bukan nama Mas Angga yang terpampang di layar ponselku.


Denis : "Hana? Sudah tidur?"


Me : "Belum. Ada apa, Nis?"


Denis : "Apa aku mengganggu?"


Me : "Enggak, Nis. Ada apa?"


Sudah centang biru, tapi lama Denis tidak membalasnya. Aku tak ambil pusing. Tak mau tau juga dia sedang apa disana.


Ku putuskan untuk naik ke ranjang dan segera tidur.


Ada dua notifikasi masuk lagi saat aku dalam keadaan setengah sadar. Mataku terasa berat untuk terbuka. Samar-samar aku melihat dua nama terpampang pada layar ponselku. Denis dan juga...


Mas Angga?


Rasa kantukku hilang seketika. Aku mengucek mataku untuk memperjelas penglihatan ku.


Benar Mas Angga! Hanya mengirimkan sebuah stiker yang bertuliskan "Miss you" dengan latar bentuk love berwarna merah.


Sejujurnya tanganku terasa gatal. Ingin mengetik balasan.


Mengetik.. Hapus lagi..


Mengetik lagi, aku hapus lagi. Sampai beberapa kali.


*Mas Angga...!! Kenapa sikap kamu begitu absurd begini. Beneran berasa kayak jemuran akutuh! Digantungin.


Bentar disayang, bentar dicuekin. Enggak dikasih kepastian pula*.


Aku tak mau ambil pusing. Ku matikan ponselku lalu ku letakkan diatas meja. Tarik selimut bobok manis aja.


🌹🌹🌹


**kalian bosan enggak sama cerita aku? jangan yaaaa 🀭🀭


pliss vote dan like-nya gaess.. biar karya aku bisa menang. 😁

__ADS_1


lagi ngejar target buat kompetisi yang diadakan oleh Noveltoon.


mohon dukungannya readers-ku tersayang. 😘😘**


__ADS_2