
POV : ANGGA
Ku pandangi wajah yang kini tertidur lelap dalam pelukanku. Wajahnya begitu tenang tak terusik sama sekali kendati aku mengelus rambutnya pelan. Sesekali aku juga mengelus pipi halusnya yang putih bersih sedikit kemerah-merahan.
Sebagai lelaki, aku merasa bangga ketika aku mendapatkan sesuatu yang Hana jaga selama hidupnya. Harta terbesarnya sebagai seorang gadis. Ehm! Ralat. Kini Hana bukan lagi seorang gadis. Aku lah yang mengambil kegadisannya satu jam yang lalu.
Aku merasa sangat bersalah karena Hana harus menangis menahan rasa sakit saat... Emm.. Kalian sudah tahu pasti. Tak mungkin aku menjelaskan hal itu panjang lebar. Biar menjadi privasi buat kami berdua.
Dengan pelan aku mengubah posisiku menjadi berbaring. Aku mengambil ponsel di atas meja. Banyak pesan masuk mengucapkan selamat untuk pernikahanku dengan Hana. Namun aku belum berniat untuk membuka maupun membalas pesan mereka.
Aku lebih tertarik untuk memposting satu foto di story WhatsApp disaat aku memeluk pinggang Hana dari samping. Hana masih mengenakan gaunnya. Sebenarnya aku bukan orang yang sering update status. Tapi entah kenapa sekarang aku ingin melakukannya.
"Istriku β₯οΈ"
Beberapa menit setelah aku memposting story, banyak pesan yang masuk. Ku buka satu persatu pesan yang masuk.
Karina : "Ciyee.. Go publik π"
Lila : "Ya ampun... Pengennn π€"
Vera : "Beneran nikah? π± Gue nggak nyangka!!"
Satria : "Habis berapa ronde, Ga? π "
Aku terkekeh pelan membaca pesan dari Satria. Ah, bapak anak satu itu bisa-bisanya menggodaku.
"Mas?"
"Eh, kenapa bangun?"
Aku terkejut saat Hana memanggilku. Ternyata tawaku mengganggu tidurnya walaupun aku sudah berusaha sepelan mungkin.
"Mas Angga kenapa tertawa sendiri?"
"Kamu dengar?"
"Hmm.. Dari tadi juga mainan hp terus," ucapnya dan kembali merapatkan selimut yang membungkus tubuhnya.
Jadi Hana sudah bangun sejak tadi? Kenapa aku bisa tak sadar? Padahal posisi kami sangat menempel.
"Maaf, ya? Mas habis update status," ucapku jujur. Aku tak ingin Hana mengira yang tidak-tidak tentang aku.
"Update status apa?"
"Kamu lihat aja sendiri. Nih.." aku memberikan ponselku namun Hana menggeleng menolaknya.
"Mending tidur," ucapnya.
"Yakin mau tidur?" Godaku membuat Hana mengernyitkan keningnya.
"Memangnya mau ngapain?"
Aku tersenyum penuh arti. Selanjutnya.. Sensor!!! Haha.
πΉπΉπΉ
"Sayang, bangun. Mandi terus sholat." Ucapku sambil mengguncang bahu Hana pelan. Namun Hana terlalu lelap sehingga tak terusik sama sekali saat aku membangunkannya.
"Sayang.." panggilku sekali lagi.
"Hana capek, Ma.."
Lah? Dua justru mengira aku Mama. Apa iya Hana lupa kalau semalam sudah tidur dengan suaminya? Menggemaskan sekali istriku ini..
"Sayang.. Ini Mas Angga, bukan Mama."
Berhasil. Hana langsung terperanjat dan mengangkat kepalanya. Matanya terbuka sempurna. Berbeda dengan beberapa detik yang lalu yang sepertinya sangat lengket tak bisa terbuka.
"Mas Angga? Kok disini?" Pekiknya tak percaya.
"Terus maunya dimana?"
Apa Hana benar-benar lupa? Padahal semalam bukan hanya tidur dengan suaminya, tapi juga.. Ehm! Sudahlah, sudah subuh ini. Memikirkan semalam bisa-bisa aku ingin mengulanginya untuk yang kesekian kalinya. Jangan ditanya yang ke berapa, ya!
"Astaghfirullah.. Hana lupa kalau udah nikah, Mas. Maaf, ya? Hehe." Ujarnya merasa bersalah.
__ADS_1
"Buruan mandi, bentar lagi adzan."
Aku mencoba membantu menarik selimutnya, namun Hana justru mencengkeramnya erat.
"Kenapa?" Tanyaku heran.
"Nggak usah cari kesempatan, deh!"
Awalnya aku masih bingung. Namun setelah aku tahu apa maksud Hana, aku tertawa pelan sambil mengacak rambutnya.
"Ya sudah, Mas ke musholla dulu. Jangan lupa mandi, ya?" Aku tersenyum menggodanya.
"Iya!" Sungutnya kesal. Namun sebelum aku keluar kamar, aku melihat senyum manisnya.
***
Acara resepsi pernikahan kami yang ku pikir hanya akan dihadiri keluarga terdekat saja, nyatanya hanya perkiraan ku saja. Tak ku sangka Papa Anang dan Mama Widia mengundang hampir dua ribu orang.
Hana mengalungkan tangannya di tanganku. Kami berjalan beriringan di tengah-tengah gedung dengan tamu undangan disisi kanan kirinya. Diiringi Gending Jawa khas pernikahan. Maaf, aku tak banyak tahu apa judul dari Gending tersebut.
Ku lirik Hana yang tersenyum malu-malu. Namun tak dapat menyembunyikan raut bahagianya. Sama halnya denganku, aku pun sangat bahagia. Pada akhirnya memang seorang Farhana Aghnia yang ku gandeng ke pelaminan.
"Hai, bro! Akhirnya, ya? Sampai jam berapa semalam?" Goda Satria saat ia mendapat giliran untuk bersalaman. Dia datang bersama istrinya yang tengah hamil anak kedua. Padahal anak pertamanya baru berumur sekitar satu tahun. Benar-benar Satria. Tidak bisa membiarkan istrinya beristirahat sebentar saja.
Mendengar pertanyaan Satria, Hana melihatku bingung. "Apanya, Mas?" Tanyanya yang sukses membuat tawa Satria dan istrinya pecah.
"Masih polos ya, Hana? Belum nyambung. Haha!"
Tidak tahu saja si Satria. Semalam aku dan Hana sudah.. Ehm! Sudah, sudah!
"Sudah sana! Giliran yang lain." Putus ku cepat sebelum Satria semakin meracuni pikiran Hana.
"Haha.. iya, iya. Selamat, ya? Semoga pernikahan kalian sakinah mawadah warohmah."
"Aamiin.. Terimakasih, Pak."
"Aamiin. Makasih, bro!"
Satria dan istrinya berlalu setelah kami foto bersama.
"Hanaaa... Duh, akhirnya resmi juga. Jadi juga sama Pak Angga.." Karina, Lila dan Annisa datang dan memeluk Hana bergantian. Mereka begitu antusias memberi selamat.
"Apa?"
"Rahasia, dong. Haha. Udah, kita foto dulu,"
Setelah berfoto dengan beberapa pose. Yang pasti ala mereka. Yang sudah pasti heboh. Aku menurut saja saat Hana menggandeng ku posesif dan meletakkan kepalanya di bahuku saat fotografer mengambil gambar kami.
Setelah ketiga cewek heboh itu, ada Rasyid dan juga seorang gadis yang aku tak tau dia siapa berjalan menuju arah kami.
"Hana... Ya Allah, pulang-pulang ternyata mau nikah. Jahat banget nggak ngomong sama aku."
"Sorry, Sa. Rencananya mendadak banget."
Aku melirik Rasyid yang hanya diam tanpa senyuman sedikitpun. Mungkin belum bisa merelakan Hana. Tapi dia bisa apa? Hana sudah sah menjadi milikku.
"It's oke. Nggak masalah. Sakinah mawadah warohmah ya, Hana. Btw kamu pasti balik ke Surabaya, kan?"
"Balik, dong. Makasih, ya, udah jauh-jauh datang kesini."
Fotografer kembali mengambil gambar kami. Setalah itu baru Rasyid membuka suara.
"Selamat Pak Angga, Hana. Semoga rumah tangga kalian berkah."
"Aamiin. Makasih, ya." Ucap kami bersamaan.
Rasyid tersenyum dan berlalu begitu saja. Senyum yang sedikit di paksakan. Sebagai sesama laki-laki, aku mengerti apa yang Rasyid rasakan. Dimana harus merelakan orang yang disayangi bersanding dengan orang lain.
"Dia siapa?" Tanyaku pada Hana. Yang aku maksud gadis yang bersama Rasyid.
"Dia Salsa. Sahabat aku di Surabaya. Sahabat Rasyid juga."
Aku mengangguk mengerti. "Kayaknya dia suka sama Rasyid?" Celutuk ku asal.
Hana mengendikkan bahunya. "Entahlah.."
Tamu yang datang dan bersalaman dengan kami rata-rata ucapan mereka sama. Mendoakan agar rumah tangga kami sakinah mawadah warohmah. Bahkan tak sedikit yang mendoakan agar kami segera memiliki momongan.
__ADS_1
Aku mengaminkan dalam hati. Tapi Mama Widia pernah berpesan agar Hana lulus terlebih dahulu baru setelah itu kami kami program memiliki anak. Aku tak ingin terburu-buru. Terserah Hana saja mau bagaimana.
Di atas pelaminan, sesekali aku menggoda Hana saat tak ada tamu yang menyalami kami. Aku selalu menyukai ekspresi Hana ketika aku menggodanya. Tersenyum malu dan pipinya bersemu merah.
Saat kami sedang asyik tertawa, Vera dan laki-laki yang ku pikir adalah pacarnya datang. Keduanya bergandengan tangan. Masih dengan tampang juteknya saat melihat Hana. Aku masih heran, sebenarnya apa yang membuat Vera begitu tak menyukai Hana. Padahal Hana tak pernah mengganggu Vera.
"Pak Angga selamat, ya, semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah." Ucapnya dengan senyum mengembang. Aku tak tahu doanya tulus atau tidak. Ku harap, sih, tulus.
"Makasih, ya, sudah datang." Jawabku.
"Hana!" Dia memanggil Hana ketus sambil mengulurkan tangannya. Hana menyambutnya. "Selamat, ya. Semoga langgeng, deh."
Hana tersenyum manis. See? Hana masih bisa tersenyum saat orang lain bersikap seenaknya di acaranya hari ini.
"Makasih, ya." Ucap Hana.
"Hmm.." Vera bergumam. Ku pikir dia akan segera berlalu. Namun siapa yang menyangka kalau Vera tiba-tiba memeluk Hana.
Reaksi Hana sama sepertiku, terkejut. Hana melirikku sambil tersenyum canggung karena pacar Vera terheran-heran melihat tingkah Vera.
Aku tak tahu apa yang dibisikkan Vera di telinga Hana. Yang ku lihat, keduanya tersenyum saat Vera melepaskan pelukannya. Kemudian saling cium pipi kanan dan pipi kiri.
"Tadi Vera ngomong apa?" Tanyaku kepo saat Vera sudah turun.
"Ada, deh." Hana tersenyum penuh arti.
πΉπΉπΉ
Pukul empat sore, kami sekeluarga baru saja sampai di rumah. Ada keluarga Hana dan Kinan yang berasal dari Bandung dan membuat rumah begitu ramai. Sebenarnya keluarga mereka sudah datang sejak kemarin pagi sebelum akad. Tapi nenek dan kakek Hana memutuskan untuk mengajak mereka menginap di hotel agar rumah tak terlalu ramai dan mengganggu kami berdua.
Aku dan Hana langsung pergi ke kamar. Tapi saat sampai di depan kamar Ikhsan, Ikhsan menghentikan langkah kami.
"Semalem di kamar kalian ada apa, sih?" Tanyanya penuh selidik.
Aku dan Hana saling berpandangan. "Memangnya ada apa, San? Kayaknya enggak ada apa-apa."
"Yang sopan. Sekarang aku kakak ipar kamu!" Sungutnya. "Semalam kayaknya ada yang nangis di kamar kalian. Aku pikir kuntilanak, makanya aku nggak berani ngetuk pintu kalian."
Aku dan Hana kembali saling berpandangan. Ada yang menangis? Semalam memang Hana menangis. Tapi masak iya sampai terdengar dari luar?
"Siapa yang nangis?" Tanya Ikhsan lagi karena pertanyaan yang sebelumnya tak kunjung mendapatkan jawaban dari kami.
"Enggak ada." Jawab Hana cepat.
"Ada. Orang nangisnya sambil merintih begitu. Kayak gini. Hiks.. hiks.. Mass.. Sakiittt.. kayak gitu." Ucap Ikhsan sambil menirukan suara yang ia maksud.
Hana melebarkan matanya mendengar ucapan Ikhsan. Apa yang Ikhsan tirukan itu benar, sebenarnya. Semalam Hana juga berucap semacam itu sambil menangis. Itu karena.. Ehm! Sensor again!
"Asem!" Umpat Hana yang langsung masuk ke kamar diiringi tawa puas Ikhsan. Aku hanya menggeleng melihat tingkah Ikhsan yang terus saja menggoda Hana.
***
Malam harinya, Hana di sibukkan dengan membuka kado-kado yang menumpuk di sudut kamar. Tidak semuanya Hana buka. Hanya kado dari Karina dan Lila yang menarik perhatiannya.
Hana mengambil dua paper bag bertuliskan nama Karina dan Lila dan membawanya ke atas tempat tidur.
"Cuma dari mereka aja yang dibuka?"
"Iya. Penasaran sama kado mereka." Jawabnya sambil membuka paper bag tersebut.
Aku terkejut, tapi juga tersenyum geli melihat Hana mengangkat isi dari paper bag tersebut.
"Serius Karina ngasih kayak gini?" Pekiknya tak percaya.
"Ya pasti serius, sayang. Kan udah disini barangnya. Di pakai, ya?" Ucapku setengah menggodanya.
"Mas Angga suka, dong."
"Iya, bikin suami senang, kan, pahala, sayang."
"Modus!"
Aku tertawa dan memeluknya. Mencium pipinya berkali-kali karena gemas melihatnya yang mengerucutkan bibirnya karena kesal.
πΉπΉπΉ
Monggo yang mau komen π π
__ADS_1
Makin banyak yang vote, like, dan komen makin cepet up nya.. insyaallah π€π€