Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 67


__ADS_3

POV : HANA


Kalau kalian berpikir bahwa acara pernikahan ku dengan Mas Angga sudah selesai, kalian salah. Nyatanya kami harus menjadi raja dan ratu dalam sehari sekali lagi.


Ya, keluarga Mas Angga mengadakan acara ngunduh mantu. Terlebih Mas Angga adalah anak laki-laki satu-satunya. Jadi pernikahannya harus dirayakan besar-besaran.


Begitu kebanyakan tradisi orang Jawa. Misalkan anak perempuan hanya satu, pasti pernikahannya dibuat mewah. Begitupun jika mempunyai anak laki-laki hanya satu. Note, hanya sebagian, ya? Sebagian lagi memilih untuk acara yang sederhana saja.


Dalam hatiku sebenarnya aku tak ingin acara ngunduh mantu ini digelar dengan mewah. Cukup acara resepsi kemarin membuatku lelah karena harus berdiri sekian jam untuk menyalami tamu dan berfoto ria.


Namun aku bisa apa? Mas Angga saja hanya terlihat pasrah apalagi aku yang hanya seorang anak mantu yang baru menjadi menantu mereka beberapa hari yang lalu.


Tak ada yang bisa ku lakukan kecuali diam dan pasrah saat MUA menghias wajahku. Memakaikan gaunku, lalu hijab ku, dan yang terakhir menghias kepalaku dengan mahkota cantik dan juga ronce bunga melati.


Kali ini aku memakai gaun berwarna soft hijau tosca dan jilbab berwarna senada. Mas Angga memakai setelan jas berwarna hitam yang membuatnya terlihat semakin gagah dan... Tampan. Ehm!




Aku memandangnya lekat Mas Angga yang sedang menyisir rambutnya dan dibelah pinggir agar terlihat lebih rapi. Dia berdiri didepan cermin dan aku berada disampingnya. Walaupun sudah menikah, namun tetap saja jantungku berdebar kencang saat berdekatan dengannya. Bahkan hanya melihatnya dari jauh pun sudah membuatku gugup.


"Mas ganteng, ya, Na? Sampai segitunya lihatin Mas?" Ucapnya jumawa.


Aku mencebik menanggapinya. Namun dalam hati tak bisa berbohong kalau Mas Angga semakin hari semakin mempesona.


"Biar istri saya saja yang memasang, Mbak," ucapnya saat Mbak Nita akan membantu memasangkan dasi dan juga bunga kecil untuk di saku jasnya.


"Iya, Mas. Iya.. Haha." Mbak Nita, perias yang sudah cukup mengenal dengan baik keluarga Mas Angga, tertawa menggoda kami.


Rasanya aku ingin mencubit pinggang Mas Angga karena disaat-saat seperti ini bisa-bisanya dia memintaku untuk memasangkan dasinya. Untung aku bisa memasang dasi. Kalau tidak kan aku malu.


"Manja banget jadi orang," ucapku sedikit berbisik saat aku mulai mengalungkan dasi di kerah kemejanya. Takut kalau Mbak Nita atau yang lainnya dengar. Karena bukan hanya aku, Mas Angga dan juga Mbak Nita yang ada diruang make up. Masih ada dua orang lainnya. Mbak Nita khusus mengurus make up ku dan Mas Angga. Dua orang lainnya bertugas mengurus gaunku dan menata hijab ku dan hiasan kepala yang lainnya.


"Memangnya kamu mau kalau Mbak Nita yang memasang lalu posisinya sedekat ini?" Jawabnya yang juga berbisik.


Benar juga apa kata Mas Angga. Aku tak rela perempuan lain bisa sedekat ini dengan Mas Angga.


"Duh, manten anyar (pengantin baru) nempel terus, ya, mbak Nita?" Seloroh Mbak Rindi menggoda kami. Reflek aku mendorong pelan tubuh Mas Angga untuk menjauh karena aku juga sudah selesai memasangkan dasinya. Aku berpura-pura membenarkan gaunku sebelum duduk kembali agar mereka tak tahu kalau aku malu.


"Nek iso malah nang kamar terus wae, Mbak. Gak usah metu." (Kalau bisa di dalam kamar saja terus, Mbak. Nggak usah keluar) jawaban Mas Angga justru menanggapi godaan mereka.


"Duh, mesakne Mbak Hana, Mas. Haha." (Duh, kasian Mbak Hana, Mas)


Oke, skip. Obrolan ini semakin lama semakin absurd. Lebih baik fokus saja pada acara yang sudah di mulai.


Aku sempat melongo melihat jejeran tamu yang luar biasa banyaknya. Mas Angga sempat berkata kalau bapak dan ibu mengundang lebih dari seribu orang. Oke, kita nikmati saja semua ini. Hanya sekali seumur hidup ini. Dan aku bahagia.


Sepanjang acara aku dan Mas Angga memang tak bisa menutupi betapa bahagianya kami. Namun hatiku terasa mendung saat acara sudah selesai dan Papa Mama berpamitan untuk pulang.


Dan kalian tahu, aku ditinggal di rumah Mas Angga. Hiks.. Meskipun aku kuliah berjauhan dengan Papa dan Mama, tapi rasanya tetap berbeda saat aku harus tinggal di rumah mertua untuk sementara waktu.


Bapak dan ibu serta kedua kakak Mas Angga memang baik. Sangat baik malah. Namun bayangan-bayangan tentang mertua dan kakak ipar yang galak dengan lancangnya mampir ke pikiran aku.


"Kalau dirumah mertua, bangun pagi, ya? Kerjakan apa yang bisa kamu kerjakan. Ya nyapu, beresin rumah, bantu masa, nyuci baju. Walaupun mencuci baju kamu sendiri sama baju Angga, jangan sampai menumpuk cucian. Cepat dicuci biar terlihat rapi," nasehat mama yang selalu terngiang di pikiranku.


Semenjak aku memutuskan untuk menikah, tak henti-hentinya Mama dan Papa memberiku wejangan dan mengingatkan kewajiban aku sebagai seorang istri dan juga menantu.


Mama juga mengatakan bahwa aku sekarang adalah milik suamiku, namun suamiku tetap milik ibunya. Jadi kalau suatu hari nanti Mas Angga lebih mementingkan ibunya dalam suatu hal, aku tidak boleh memprotesnya atau marah pada Mas Angga.


Mas Angga juga masih berkewajiban atas orangtuanya. Jadi kalaupun rejeki Mas Angga harus dibagi antara aku dan kedua orangtuanya, aku tak boleh menolaknya. Bagaimanapun sebagai seorang istri aku harus mendukung suamiku untuk terus berbakti kepada orangtuanya.

__ADS_1


"Hati-hati, ya, sayang. Kami pulang dulu. Jadi anak dan istri yang baik, ya?" Pamit mama sambil mencium kedua pipiku. Rasanya aku ingin menangis, namun aku menahannya. Malu, bapak dan ibu melihatku dengan tersenyum.


"Papa titip Hana ya, Ga?" Pesan papa pada Mas Angga.


"Iya, Pa. Papa dan Mama hati-hati."


Kami mengantar rombongan keluargaku sampai depan mobil mereka. Berkali-kali aku menarik napas dan menghembuskannya keras agar dadaku terasa sedikit lega. Menahan tangis itu sangat menyiksa.


Kurasakan sebuah tangan menggenggam tanganku pelan. Itu tangan Mas Angga. Mas Angga seolah tahu bahwa aku sedang merasa sedih. Ku paksakan sedikit senyumku untuk menenangkannya. Aku tak ingin Mas Angga merasa dia penyebab aku merasa sedih. Dia, kan, orangnya baperan. Sama kayak aku! Wkwkwkwk.


Mas Ikhsan dan Teh Kinan mendekatiku untuk berpamitan. Aku merasa bingung saat Mas Ikhsan menarik ku pelan dan berbisik di telingaku.


"Kalau malam jangan keras-keras, ya? Malu, dirumah mertua ini."


Tanganku reflek mencubit keras lengannya yang terbalut jas. Mas Ikhsan mengaduh kesakitan.


"Rese' banget jadi orang!"


Papa dan mama yang melihat kami hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak-anaknya ini.


🌹🌹🌹


Malam harinya, aku diculik oleh kedua kakak ipar ku. Yes, Mbak Anggi dan juga Mbak Anggun. Mereka mengajak ku masuk ke sebuah ruangan yang ternyata adalah sebuah perpustakaan mini. Anak mereka sudah tertidur sejak setengah jam yang lalu.


Terdapat tiga rak yang tingginya sekitar dua meter. Semua penuh dengan buku-buku. Tentu aku paham mengapa di rumah ini ada perpustakaan mini.


Bapak adalah seorang kepala sekolah. Dulu ibu juga sempat mengajar, namun berhenti setelah melahirkan Mas Angga. Dan sampai sekarang, beliau fokus menjadi ibu rumah tangga dan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya.


Terbukti dari suksesnya pendidikan Mas Angga dan kedua kakaknya. Semua hasil didikan bapak dan ibu.


Mas Angga menjadi guru dan pengusaha sukses. Meskipun aku belum tahu apakah Mas Angga akan kembali mengajar atau tidak.


Mbak Anggi adalah seorang bidan dan bertugas di salah satu klinik ternama di Karanganyar. Sedangkan Mbak Anggun adalah seorang PNS sekaligus ibu Bhayangkari karena suaminya seorang polisi.


"Terus kok kamu mau, sih, balik sama Angga lagi? Apa dia nggak terlalu tua buat kamu?" Tanya Mbak Anggi. Heran ini kakak satu, bukannya cerita yang bagus tentang adiknya justru mengatakan kalau Mas Angga terlalu tua buat aku. Wkwkwkwk.


"Hanya terpaut lima tahun, Mbak. Yang jaraknya lima belas tahun saja banyak. Hehe."


"Emang sama-sama bucin mereka itu."


Kami tertawa bersama sampai sebuah ketukan pintu menghentikan tawa kami. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Mas Angga muncul dari balik pintu.


"Sudah malam, tidur yuk, Na." Mas Angga mengajakku untuk ke kamar.


"Mau tidur apa tidur? Baru sebentar di pinjem udah bingung."


"Capek, Mbak, kasian. Besok lagi, deh."


Mas Angga memang benar. Aku memang merasa lelah. Namun aku merasa tak enak kalau harus menolak ajakan mereka.


Ku lirik Mbak Anggi yang menghembuskan napas pelan. "Ya sudah kalau gitu. Besok lagi kita ngobrol. Kamu istirahat sana, Na."


Aku mengangguk dan berpamitan kepada mereka. Mas Angga menarik tanganku pelan untuk menaiki tangga. Sebelum menaiki tangga aku sempat menyapa bapak dan ibu yang masih duduk menonton tv bersama kedua anak mantu mereka yang laki-laki.


"Istirahat, Ga, nggak usah lembur," teriak Mas Erwin menggoda kami yang masih bisa kami dengar sebelum Mas Angga menutup pintu dan menguncinya.


Nggak Mas Ikhsan, nggak kakak-kakaknya Mas Angga, semuanya memang iseng. Suka banget godain kami pengantin baru ini.


"Tadi kalian ngobrol soal apa?" Tanya Mas Angga yang sudah duduk di ranjang dan bersandar di kepala ranjang. Aku duduk disampingnya.


"Mas Angga kepo."

__ADS_1


"Kalian ngomongin aku?"


"Dih, kepedean!"


"Jujur nggak?"


"Nggak!"


"Gelitikin, nih."


"Jangan!"


Aku bersiap untuk turun namun kalah cepat dengan Mas Angga yang sudah berhasil memegang tanganku dan memelukku dari belakang. Dagunya ia letakkan di pundak kanan ku.


"Masih nggak mau jujur?" Tanyanya. Hembusan napasnya terasa hangat menerpa wajahku.


Aku menggeleng. "Beneran?" Tanyanya lagi.


"Iya, bener."


Dan akhirnya, Mas Angga benar-benar menggelitik perutku dan membuatku menggelinjang kegelian. Aku berusaha untuk tidak berteriak karena aku mengingat pesan Mas Ikhsan bahwa ini dirumah mertua.


"Haha.. Mas Angga, ampun, Mas. Geliii..." Teriakku manja. Tubuhku sampai terhempas ke ranjang karena tak kuat menahan gelitikan tangan Mas Angga diperut dan pinggangku.


"Bilang dulu.."


"Iya. Haha.. Udah, Mas."


Mas Angga menghentikan aksinya. Napasku ngos-ngosan seperti orang yang habis lari maraton.


Mas Angga mengurungku menggunakan tubuh kekarnya. Dia menatapku lekat. Wajah kami hanya berjarak sepuluh centimeter. Dengan posisi seperti ini aku dapat melihat pandaran cinta yang begitu besar untukku dari kedua mata Mas Angga.


"I love you, Na."


Aku tersenyum lebar mendengarnya. "I love you too.."


Ya Allah.. Aku bersyukur dan sangat bahagia bersuamikan dia. Berikan berkah untuk rumah tangga kami. Biarkan kami menjadikan rumah tangga ini sebagai ladang ibadah kami. Ijinkan kami bersama di dunia dan akhirat.


🌹🌹🌹


Sudah dua hari aku dirumah Mas Angga. Sehari kemarin kami gunakan untuk sama-sama membersihkan rumah karena kemarin digunakan untuk acara. Dan hari ini, aku bersama ibu dan kedua kakak ipar ku sedang memasak bersama.


"Alhamdulillah dapur ramai. Anak-anak ibu pada kumpul. Biasanya cuma ibu sendiri di dapur." Ibu berucap sumringah sambil meracik bumbu ayam rendang.


Hari ini kami memasak rendang daging, sambal goreng hati, opor ayam dan telur dan juga ada lontong. Belum lebaran tapi menu kami sudah menu lebaran.


Semua request dari Mbak Anggun karena lebaran tahun ini jatahnya lebaran bersama keluarga Mas Erwin di Wonosobo. Karena cuti Mas Erwin hanya empat hari jadi tidak memungkinkan mereka untuk pulang ke Karanganyar. Besok pun mbak Anggun dan suaminya juga sudah kembali ke Sleman. Tempat tugas Mas Erwin yang baru.


"Apa Hana nggak ada rencana buat kuliah disini saja?" Tanya ibu membuat aktifitas ku yang sedang memarut kelapa terhenti.


"Nanti kalau hamil dan punya anak, ibu bisa bantu buat mengasuh anak kalian kalau kamu tinggal kuliah."


Ucapan ibu kembali membuatku tercenung. Punya anak? Bahkan Mama sempat melarangku untuk memiliki anak terlebih dahulu sebelum aku lulus kuliah. Entah itu serius atau tidak tapi Mama tak pernah membahasnya lagi sampai sekarang.


Mbak Anggi melirikku yang belum menjawab pertanyaan ibu. "Untuk sementara biar di lanjut di Surabaya dulu, Bu. Nanti biar mereka pikirkan lagi gimana baiknya." Ucapnya pada ibu.


Aku tersenyum. Semacam kode untuk mengucapkan terimakasih padanya. Mbak Anggi seolah tahu apa yang aku pikirkan.


Setelah ini aku harus bicara dengan Mas Angga untuk mencari solusi. Ibu ingin kami tetap di Karanganyar. Sedangkan Papa tidak mengijinkan aku untuk pindah kuliah.


Masalah pertama untuk kami baru saja dimulai!

__ADS_1


🌹🌹🌹


maapkan author baru update cerita. beberapa hari ini author sedang kurang enak badan. jadi kurang fokus buat nulis. mohon maaf ya teman2.. author hanyalah manusia biasa. πŸ˜ŠπŸ€­πŸ™


__ADS_2