
HANA
Aku cuma bisa menutup wajahku saat Budhe Ratih menggodaku setelah aku mengenalkan temanku satu itu. Eh, ralat! Sekarang aku memanggilnya Bunda. Itu karena anak-anak panti yang memprotes ku saat mendengar aku memanggil Bunda dengan sebutan Budhe. Sejak saat itu, aku mulai membiasakan memanggil Budhe Ratih dengan sebutan Bunda.
Bunda terus saja mengatakan "ciee.. Yang disusul pacarnya..". Padahal aku sudah mengatakan kalau dia bukan pacar aku. Bahkan aku tak pernah membayangkan hal itu.
"Bunda, ih! Godain Hana terus dari tadi," keluhku manja. Bunda masih saja senyum-senyum sambil mengerlingkan matanya.
"Tapi dia kelihatan suka sama kamu, lho, Na," godanya lagi.
"Enggak, Bunda. Dia kayaknya udah punya pacar, kok."
Bisa saja dugaanku benar, kan? Dulu saat aku membeli keperluanku di salah satu supermarket di Karanganyar aku melihat dia bersama seorang perempuan yang juga seumuran dengan dia. Aku melihat wajahnya dengan jelas walaupun sebelum dia melihatku aku sudah lebih dulu berlari untuk bersembunyi. Takut kalau keberadaanku di ketahui olehnya dan dia mengatakan di grup kelas. Karena pada saat itu aku sedang menjadi buronan anak-anak. Iya, waktu itu. Waktu aku menonaktifkan ponselku sebelum aku berangkat ke Surabaya.
Saat ini pun aku masih menonaktifkannya. Aku memakai handphone baru hasil aku merayu Papa habis-habisan agar Papa membelikan aku handphone baru.
Sebenarnya bisa saja aku hanya mengganti nomor ponselnya saja. Tapi aku tak mau memakai handphone sejuta kenangan itu. Ah.. Lupakan!
Selain itu, itu juga salah satu caraku biar aku bisa mendapatkan handphone merk terbaru yang sudah menjadi incaran ku. Haha.. Kurang ajar memang. Dasar aku!
"Dunia itu sempit ya, Sa? Sejauh apapun kita mencoba berlari, tapi tetap saja ada yang kita temui. Walaupun bukan orang yang selama ini kita hindari, tapi dia tetap berhubungan dengan masa yang ingin aku lupakan," tanpa sadar aku mulai bercerita dengan Salsa.
"Curhat?" Tanyanya iseng. Aku memukul lengannya pelan karena Salsa justru mencandai ku.
"Iya. Puas!?" Dia tertawa puas. Salsa memang sudah tahu perihal temanku satu itu.
"Nggak usah berusaha kuat buat melupakan, Na. Nanti malah ingat terus. Biar aja mengalir. Toh kalian di pertemukan disini juga pasti ada alasan," ucapnya bijak.
Aku membenarkan. Selama ini aku memang terus berusaha melupakan semua yang telah terjadi. Tapi bukannya lupa, aku justru terus teringat akan hal itu. Itu karena fokus ku melupakan.
Dan ketika aku merubah mindset ku untuk menjalani hidup apa adanya, membiarkan semua mengalir begitu saja, aku bisa lebih bahagia dari sebelumnya. Aku juga lebih bisa menerima keadaan.
Terbukti sekarang kami bertiga, aku, Salsa dan dia berteman baik meskipun dia berbeda fakultas dengan aku dan Salsa. Aku dan Salsa kedokteran, sedangkan dia di fakultas hukum. Cocok, sih, untuk dia yang terkadang terlihat lebih bijak dalam menyikapi sesuatu. Berbeda dengan teman-temannya yang lain.
Mungkin karena itu juga dulu dia dijadikan sebagai ketua OSIS. Iya, ketua OSIS. Sudah bisa menebaknya, kan, dia siapa?
Aku tak menyangka kalau dia ternyata begitu menyebalkan. Walaupun aku tak mengelak bahwa hidupku sekarang juga lebih berwarna karena dia. Hari-hari banyak yang ku lalui bersamanya meskipun perdebatan kecil lebih banyak mendominasi di antara kami. Dan Salsa selalu menjadi penengah di antara kami.
"Kalian kayaknya jodoh," celetuk Salsa yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat aku dan Rasyid saling melempar kacang atom. Bukan tanpa alasan, itu semua berawal dari Rasyid yang melihat pesan WhatsApp dari kakak tingkat ku yang terang-terangan mengatakan kalau dia menyukaiku.
Dia terus saja menggodaku, "ciee.. Udah move on." Dan juga, "cepet, ya, dapat penggantinya? Aku kalah cepat ternyata. Hahaha."
Aku mendelik tak suka pada Salsa. "Aku?" Menunjuk diriku sendiri. "Jodoh sama dia?" Gantian aku menunjuk Rasyid. "BIG NO!!!"
"Hati-hati kalau ngomong! Entar kebalikannya baru tahu rasa kamu!" Salsa memeringati. Sedangkan Rasyid dengan santainya menjulurkan lidahnya sedikit untuk mengejekku.
Status kami bertiga sekarang bersahabat. Mengingat Salsa dan Rasyid yang orangnya mudah bergaul dengan orang lain, itu memudahkan kami untuk saling mengakrabkan diri. Terkadang Rasyid dengan sukarela mengantarkan aku dan Salsa untuk pulang menaiki mobilnya.
Satu yang baru ku tahu dari seorang Rasyid adalah, ternyata dia cucu dari pemilik salah satu pusat perbelanjaan di kota Surabaya yang sudah memiliki beberapa cabang. Aku hanya bisa melongo saat mendengar Bunda bercerita tentang keluarga Rasyid yang ternyata adalah salah satu donatur tetap dan terbesar untuk panti asuhan Bunda.
"Nak Rasyid tinggal dimana selama di Surabaya?" Tanya Bunda waktu itu saat Rasyid sengaja berkunjung untuk bermain dengan anak-anak panti.
"Tinggal di perumahan Diamond, Tante," jawab Rasyid sopan. (Nama perumahan fiktif, yes π)
"Serius?" Tanya Bunda antusias. Rasyid mengangguk membenarkan. "Donatur panti ini juga ada yang tinggal di perumahan itu. Namanya Pak Atmaja."
"Itu... Kakek saya, Tante," jawab Rasyid malu-malu. Membuat Bunda memekik terkejut. Aku hanya menatap tak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Menatap keduanya dengan tatapan penuh pertanyaan. Namun sayang, obrolan itu tak berlanjut karena Bunda dipanggil oleh salah satu petugas dapur.
Rasyid tak bercerita apapun tentang kakeknya itu setelah Bunda beranjak dari tempat duduknya. Tak peduli dengan aku yang terus saja kepo.
Setelah pulangnya Rasyid, aku langsung mencari Bunda dan menanyakan tentang kakek Rasyid.
__ADS_1
"Ayo dong, Bun, cerita...." Aku terus mendesak Bunda.
"Kenapa nggak tanya sama Rasyid, sih?"
"Dia nggak mau cerita, Bun.."
"Berarti dia nggak mau kamu tau," Bunda tersenyum geli melihatku yang mengerucutkan bibir karena melihat Bunda dan Rasyid seolah bekerjasama agar tak cerita apapun padaku.
"Jadi begini.." Bunda mulai membuka suara. "Tau Danindra Swalayan?" Tanyanya. Aku mengangguk mengerti. Danindra Swalayan adalah pusat perbelanjaan di Surabaya. Aku baru sekali kesana saat menemani Salsa belanja bulanan. Tapi apa hubungannya dengan Rasyid? Pikirku saat itu.
(Nama Swalayannya juga fiktif π)
"Itu yang punya kakeknya Rasyid."
Ucapan Bunda sukses membuatku membelalakkan mataku. Sesaat setelah itu aku baru sadar bahwa nama depan Rasyid sama dengan nama Swalayan itu. Danindra Ar-Rasyid.
Aku tak menyangka bahwa ternyata Rasyid sekaya itu. Wait! Bukan aku matre atau apa, ya! Aku cuma tak menyangka saja. Masih sedikit bermimpi bahwa ternyata aku berteman dengan cucu salah satu orang terkaya di Surabaya.
Selama ini Rasyid selalu terlihat sangat sederhana. Saat ke sekolah pun motor yang dia pakai motor matic biasa. Bahkan motor matic punyaku masih lebih bagus dari punya Rasyid.
"Biasa aja, Hana. Aku nggak mau di pandang lebih karena kekayaan keluarga aku. Aku belum punya apa-apa. Apa yang aku gunakan sekarang itu punya orangtua dan kakek aku," ucap Rasyid saat aku mengklarifikasi kebencian itu. Dan jangan cukup membuatku kagum. Tak banyak orang seusia Rasyid yang punya pemikiran seperti itu.
Anak jaman sekarang lebih banyak membanggakan harta kedua orangtuanya. Bergaya ini itu dengan uang orangtuanya. Sedangkan Rasyid, ia justru ingin dipandang sebagai dirinya sendiri. Menyadari bahwa apa yang ia miliki bukan hasil dari usahanya sendiri, Rasyid selalu berpenampilan sederhana. Memakai mobil saja atas dasar paksaan dari kakeknya. Bukan kemauan dia sendiri.
"Terus selama ini kamu di Karanganyar sama siapa?" Tanyaku kemudian.
"Mama aku dari Karanganyar dan sampai sekarang masih di Karanganyar. Sejak SMP aku pindah dari Surabaya ke Karanganyar. Cari suasana baru."
"Kenapa kuliahnya disini?" Tanyaku lagi. Kadar kekepoanku memang sudah level 10.
"Ck, kepo banget, sih!" Rasyid mengacak jilbabku hingga sedikit berantakan.
"Masih cantik, kok," ucapnya dengan menatapku serius.
Aku menggerakkan mataku gelisah menghindari tatapannya. Aku jadi berfikir kenapa bisa salah tingkah begini hanya karena Rasyid menatapku seserius itu.
πΉπΉπΉ
ANGGA
Sudah hampir satu tahun setelah Hana meninggalkan Angga, Angga masih saja terus mencoba mencari tahu di mana Hana. Sudah berkali-kali Angga mencoba mencari tahu lewat Ikhsan tapi Ikhsan tak pernah memberi tahukan kepada Angga dimana Hana berada.
Dengan memantapkan hati, untuk yang kesekian kalinya Angga mendatangi Ikhsan. Angga berharap semoga kali ini Ikhsan mau sedikit membuka hatinya dan memberitahu dimana Hana sekarang.
Ikhsan menghembuskan napas pelan melihat Angga yang seolah tidak ada lelahnya mendatanginya. Sebenarnya Ikhsan juga merasa kasian pada Angga. Dengan melihat perjuangannya selama ini untuk mencari tahu keberadaan Hana, itu sudah cukup membuat Ikhsan percaya bahwa Angga benar-benar menyayangi Hana.
"Maaf aku kesini lagi," ucap Angga setelah mendudukkan dirinya diatas sofa.
"Masih belum lelah juga?" Ikhsan sedikit menyindir Angga.
"Tidak akan sebelum tahu dimana Hana dan Hana memaafkan aku," Angga menjeda ucapannya beberapa menit. "Ayolah, San. Kasih tahu aku dimana Hana sekarang. Aku sudah berkali-kali mengatakan bahwa aku menyesal. Dan sekarang pun aku sudah memutuskan hubunganku dengan Rumi. Aku juga sudah mengatakan alasan aku melakukan ini semua."
"Untuk saat ini, Hana masih tidak ingin di ganggu. Aku juga nggak bisa kasih tahu di mana Hana sekarang. Kalau kamu mau menunggu, tunggu saja sampai hari pernikahanku dengan Kinan enam bulan lagi. Saat itu Hana akan pulang. Kamu bisa temui dia."
Mata Angga berbinar mendengar apa yang Ikhsan ucapkan. Angga seolah menemukan semangat baru. Menunggu satu tahun saja Angga bisa, apalagi hanya enam bulan.
Berkali-kali Angga mengucapkan terimakasih kepada Ikhsan. Tak apa Angga tak mengetahui dimana Hana sekarang. Yang penting enam bulan lagi Angga bisa bertemu dengan Hana. Angga akan mempersiapkan dirinya sebaik mungkin.
***
Setahun lamanya, Angga sudah pulang kembali ke rumahnya. Itu saja setelah kedua kakaknya memarahinya habis-habisan.
__ADS_1
Awalnya, Ningsih berulangkali mengunjungi Angga ditempat kerjanya. Tapi Angga selalu menolak untuk pulang sebelum Rajiman menyetujui semua keputusan Angga.
Entah apa yang Ningsih lakukan, tiba-tiba saja Rajiman menelepon Angga dan meminta Angga untuk pulang ke rumah. Namun Angga masih saja mengedepankan egonya. Angga masih tak ingin pulang ke rumah.
Dan ketika kedua kakaknya yang bergerak dengan mendatangi Angga di hari kedua sebelum lebaran, barulah Angga menuruti kemauan mereka dan Angga pulang kerumah.
Kepulangannya di sambut haru oleh Ningsih. Hal yang membahagiakan bagi seorang ibu adalah ketika melihat anak-anaknya bahagia tak kekurangan satu apapun.
Berbeda dengan reaksi Ningsih, Rajiman terlihat lebih banyak diam meskipun Rajiman tak menolak saat Angga menyalami tangannya.
"Bapak sehat?" Tanya Angga.
"Alhamdulillah.." jawab Rajiman singkat. Setelah itu, tak ada lagi percakapan antara Angga dan Rajiman.
Hari lebaran adalah hari yang paling mengharukan bagi keluarga Angga. Untuk pertama kalinya, Rajiman meminta maaf kepada keluarganya atas sikap egoisnya selama ini.
Hari itu menjadi hari yang paling membahagiakan. Keluarga Angga bisa hidup rukun dan tak ada permasalahan apapun lagi.
***
Konsentrasi Angga terganggu karena mendengar keributan di luar ruangannya.
"Ada apa ini?" Tanya Angga pada Reni, pegawainya.
"Ini, Mas. Mbak Rumi maksa masuk padahal aku udah bilang kalau Mas Angga sedang sibuk."
Pandangan mata Angga beralih pada Rumi yang berdiri di dekat kasir. Angga heran, sampai sekarang Rumi masih saja berusaha mendekati Angga dan meminta Angga untuk kembali bertunangan dengan Rumi. Angga tak habis pikir, seperti tidak ada laki-laki lain saja di dunia ini.
Angga menghembuskan napas kasar. "Masuk!" Perintahnya dingin pada Rumi.
"Mau apa lagi, Rumi?" Tanya Angga setelah mereka berdua berada di dalam ruangan Angga.
"Permintaan aku masih sama, Angga. Aku mau kita tetap bertunangan," jawab Rumi tak tahu malu.
Angga hanya bisa menggelengkan kepala melihat Rumi. "Kamu itu cantik. Masih banyak laki-laki di luar sana, Rum. Berhenti bersikap seperti ini. Itu hanya membuat aku semakin hilang respect sama kamu!"
"Aku tetap mau kamu, Ga," Rumi masih tak menyerah.
"Aku sudah punya pilihan lain."
"Hana maksud kamu?" Tanya Rumi tak suka. Angga diam tak menanggapi karena memang Hana-lah yang Angga maksud.
"Hana udah ninggalin kamu, Ga. Dia udah pergi entah kemana."
"Dia pergi juga karena kamu!" Bentak Angga karena Angga mulai hilang kesabaran.
"Juga karena kamu yang tak punya pendirian...."
"Pergi dari sini!" Bentak Angga kemudian. "Pergi atau aku panggil scurity!"
Rumi mengepalkan kedua tangannya. Selama ini dia tak pernah menerima sebuah penolakan. Tapi dengan Angga, Rumi harus rela memohon agar Angga kembali.
'Kamu harus jadi milikku...' Ucap Rumi dalam hati.
Rumi melangkah meninggalkan ruangan Angga. Tapi sebelum Rumi benar-benar keluar, Rumi mengucapkan sebuah kalimat kepada Angga.
"Kalau aku tidak bisa memiliki kamu. Maka orang lain juga tidak bisa memiliki kamu. Apalagi Hana."
πΉπΉπΉ
Up lagi kalau followers nya udah banyak πππ
__ADS_1