
"Hana?"
Hana mendongak mendengar namanya dipanggil. Melihat siapa yang memanggilnya, Hana buru-buru menghapus air matanya. Cepat-cepat Hana berdiri.
"Ngapain kamu disini?" Tanya Hana ketus demi menutupi rasa malunya.
"Kamu nangis?"
"Enggak!" Jawab Hana. Dalam hati ia menggerutu, "sudah tahu pakai nanya!"
"Nangis aja, sih. Kali aja hati kamu bisa lega," perintahnya.
Benar saja, setelah itu Hana melanjutkan tangisnya yang sempat terhenti. Hana tak peduli lagi rasa malu. Yang penting saat ini ia melampiaskan perasaannya yang begitu sakit.
"Aku malu sama kamu Rasyid. Kenapa, sih, lagi-lagi kamu yang mergokin aku nangis kayak gini?" Ucap Hana di sela tangisnya. Iya, Rasyid.
Rasyid terkekeh pelan mendengarnya. "Enggak apa-apa. Itu artinya aku adalah salah satu laki-laki beruntung yang bisa melihat bidadari nangis. Siapa tau aja air matanya berubah jadi mutiara," godanya.
"Rese' banget, kamu!" Sungut Hana dengan mendorong bahu Rasyid pelan.
"Nih," Rasyid menyodorkan sebuah sapu tangan. Hana mengerutkan keningnya tanda ia tak mengerti. "Buat bersihin air mata kamu yang bikin make up kamu luntur. Udah mirip panda. Haha," jelas Rasyid diiringi dengan tawa setelahnya.
Hana mengambil ponselnya dan berkaca lewat layar ponsel. "Ih, enggak. Aku pakainya waterproof, kok."
Rasyid tertawa lepas. Merasa puas dengan kepolosan Hana yang ia jadikan lelucon. Hana memalingkan wajahnya untuk menutupi rasa malunya meskipun senyuman tipis terlukis dibibirnya.
"Udah belum nangisnya?" Tanya Rasyid memecah keheningan setelah beberapa saat mereka saling diam.
"Udah. Nih sapu tangan kamu," Hana menyodorkan sapu tangan Rasyid yang sudah basah dengan air matanya. "Maaf ya, kayaknya ada ingusku juga," lanjutnya iseng tanpa rasa malu.
"Buat kamu aja! Aku masih ada banyak!" Jawab Rasyid membuat Hana memicingkan mata.
"Buat jaga-jaga kalau ada cewek lagi?" Tanya Hana.
"Iya dong!" Jawab Rasyid iseng sambil menaikturunkan kedua alisnya.
Hana mencebik kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Rasyid. "Mau kemana?" Tanya Rasyid sambil menahan tangan kanan Hana.
"Mau pulang!"
"Yakin?" Pertanyaan Rasyid membuat Hana meragu. "Didepan masih ada Pak Angga," lanjut Rasyid.
"Iya juga, ya?" Gumam Hana lirih. "Terus aku harus gimana dong?" Tanya Hana frustasi.
"Saran aku sih temui Pak Angga. Dengarkan penjelasannya dulu."
"Harus gitu?" Tanya Hana. Rasyid mengangguk meyakinkan.
Hana melangkahkan kakinya pelan menuju parkiran. Dia tidak akan menemui Angga. Tapi kalau Angga melihatnya dan meminta waktu untuk menjelaskan semuanya, Hana tak akan lagi berlari.
Ia akan memberikan kesempatan pada Angga untuk menjelaskan semuanya. Hanya menjelaskan, tapi tidak untuk kembali padanya.
"Ge-er banget kamu, Na! Dia kan udah tunangan, mana mungkin mau minta balikan sama kamu!" Gumam Hana dalam hati.
Hana berjalan tak tenang. Matanya melihat ke kanan dan ke kiri mencari aman. Dalam hati berharap Angga tak melihatnya.
Teman-temannya masih asyik menikmati alunan lagu yang dimainkan oleh band sekolah. Acara belum juga selesai. Entah kapan akan selesai Hana tak peduli. Yang terpenting bagi Hana sekarang adalah ia segera pergi dari sekolah.
__ADS_1
"Hana!"
Spontan Hana menghentikan langkahnya. Matanya terpejam menyesalkan keadaan ini. Berharap tak bertemu, kini malah Angga memanggilnya.
"Mas mau bicara sebentar," ucap Angga saat Angga sudah berdiri di samping Hana. Angga begitu senang karena Hana tak lagi menghindarinya.
"Bicaralah!" Ucap Hana cepat tanpa menatap Angga. Matanya menatap ke segala arah.
"Mas minta maaf."
"Udah aku maafin," sahut Hana dengan cepat.
Angga menghembuskan napas pelan. Tangannya mencoba memegang tangan Hana namun Hana menepisnya cepat. Angga pasrah, Angga memaklumi kalau Hana masih marah kepadanya.
"Mas terpaksa melakukan ini semua, Na," ucap Angga pelan. Hana masih tetap bergeming dan tak menanggapinya.
"Semua karena Mas harus menuruti keinginan orangtua Mas."
Dalam hati Hana tersenyum sinis. Menurut Hana, alasan yang diberikan oleh Angga terlalu klise. Dulu dia pindah bekerja ke Wonogiri juga karena paksaan dari orangtuanya. Sekarang menerima bertunangan dengan orang lain juga karena paksaan dari orangtuanya.
"Laki-laki yang tak memiliki pendirian," maki Hana dalam hati.
"Mas sama sekali nggak cinta sama dia, Na. Mas cintanya sama kamu. Kamu mau kan berjuang untuk kita?"
"Berjuang kata Mas Angga?" Tanya Hana sarkasme. "Lalu apa yang aku lakukan selama ini? Aku lelah berjuang, Mas. Aku lelah," bersamaan dengan hal itu, runtuh sudah pertahanan Hana untuk tidak menangis didepan Angga.
"Apa perlu aku jelaskan satu per satu perjuangan aku selama ini?" Angga terdiam mendengar ucapan Hana.
"Selama ini aku udah sabar, Mas. Aku udah berjuang demi hubungan kita di saat kita harus menghadapi ujian LDR. Aku sudah berjuang mempertahankan hubungan kita di depan orangtuaku. Aku rela di bully teman-teman dan adik kelas. Tapi apa balasan kamu!? Dengan mudahnya kamu memutuskan untuk bertunangan dengan orang lain. Dimana perasaan kamu, Mas? Dan sekarang kamu masih bisa mengajakku berjuang bersama?" Hana tersenyum miris. Selama ini hanya Hana hanya menghabiskan waktunya untuk mencintai orang yang sama sekali tak menghargai perjuangannya.
Semua penuturan panjang Hana mampu membungkam mulut Angga. Angga tak dapat lagi berkata-kata. Rasa bersalah dalam hatinya pun semakin besar.
"Dan Mas Angga lebih memilih aku melihat sendiri di depan mata aku kalau orang yang aku cintai ternyata berkhianat?" Hana menyela ucapan Angga. "Mas nggak tahu gimana rasanya saat kak Devina memperkenalkan Mas sebagai calon tunangannya. Mas nggak tahu! Dan sejak saat itu, aku menganggap kita sudah selesai."
"Tolong jangan pergi dari Mas, Na. Mas nggak bisa.. Mas akan segera membatalkan pertunangan Mas dengan Devina tapi kamu jangan tinggalkan Mas," Angga mencoba memohon pada Hana.
Hana menatap tajam mata Angga. "Setelah apa yang Mas lakukan, Mas masih bisa bicara seperti itu?" Hana menggeleng pelan. Tak mengerti dengan jalan pikiran Angga.
"Maaf, Mas. Aku nggak bisa. Aku udah maafin Mas Angga. Tapi biarkan aku mencari kebahagiaan ku sendiri tanpa kamu, Mas."
"Na... Please! Stay with me!" Angga kembali memohon. Berharap hati Hana bisa luluh.
Hana menggeleng kuat. "Enggak, Mas!"
Kemudian Hana mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kotak berisi cincin yang dulu pernah Angga berikan. Hana sengaja membawanya agar saat suatu hari bertemu dengan Angga, Hana bisa mengembalikannya langsung. Lalu meraih tangan kanan Angga dan meletakkan kotak itu diatas tangan Angga.
Hana mengambil napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya keras untuk meredakan sesak yang ia rasakan akibat menahan tangis.
"Ini cincin yang dulu Mas Angga pernah kasih ke aku. Aku kembalikan ke Mas Angga. Ada wanita lain yang lebih berhak menerimanya. Barang-barang yang lain menyusul ya, Mas."
Bukannya menerima cincin tersebut, Angga justru melemparnya ke segala arah. Angga meraih tangan Hana dengan cepat untuk ia genggam. Angga tak peduli meskipun Hana menolak dan mencoba melepaskan tangannya.
"Tolong jangan seperti ini, sayang. Jangan pergi. Mas janji akan memperjuangkan hubungan kita. Tapi kamu jangan pergi!" Angga tak peduli lagi harga diri dan rasa malu. Demi orang yang ia sayangi, Angga rela meneteskan air matanya di depan orang-orang yang kini sudah berkerumun melihat mereka. Entah sejak kapan, Hana dan Angga tak menyadarinya.
Hampir saja pertahanan Hana runtuh karena permohonan Angga yang terlihat begitu tulus. Tapi Hana mampu untuk bertahan mengingat apa yang Angga lakukan kepadanya sudah benar-benar menyakitkan.
"Enggak, Mas. Maaf, Hana lebih memilih pergi. Silahkan Mas berbahagia dengan pilihan Mas. Biarkan Hana juga mencari kebahagiaan Hana sendiri," Hana mencoba tersenyum. Menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja tanpa Angga. "Sekali lagi selamat atas pertunangannya. Semoga lancar sampai hari pernikahannya nanti."
__ADS_1
Hana mengalah. Hana lebih memilih pergi membawa cinta dan sayangnya untuk Hana. Hana tak akan pernah mencoba untuk melupakan segala kenangannya bersama Angga. Biarlah semua berjalan apa adanya.
Dulu sebelum ada Angga, Hana baik-baik saja. Dan akan tetap baik-baik saja setelah kehadiran dan kepergian Angga.
***
"Semua sudah siap?" Tanya Widia kepada Hana yang sedang memasukkan ponsel barunya dan charger ke dalam tas.
"Sudah, Ma," jawab Hana sambil tersenyum tipis.
Widia berjalan mendekati Hana kemudian memeluknya dari arah samping. "Mama sepertinya belum rela lho, Na, kalau harus jauh-jauh dari kamu," ucapnya sendu.
"Mama biasanya juga ninggalin Hana kerja, kan?" Goda Hana iseng.
"Kan itu beda, Na."
"Bedanya apa?" Hana tertawa cekikikan melihat ekspresi wajah Widia yang memerah karena malu. Merasa bersalah juga karena selama ini jarang ada waktu untuk Hana. Saat Hana akan pergi seperti ini, barulah Widia tersadar.
Hana memang akan kuliah di salah satu universitas di Surabaya. Tentu saja setelah melalui diskusi dan perdebatan alot antara dirinya dan kedua orangtuanya.
"Ya sudah, yuk. Papa sama Mas Ikhsan udah nunggu dibawah."
Hana mengangguk dan meminta Widia untuk turun terlebih dahulu.
Setelah Widia keluar, Hana memandangi sekeliling kamarnya. Kamar yang akan ia tinggalkan untuk beberapa waktu.
Kemudian Hana memandang fotonya bersama kedua sahabatnya, Karina dan Lila. Hana merasa bersalah karena ia tak mengatakan kalau akan pergi ke Surabaya dan melanjutkan kuliahnya disana.
Baik Angga maupun teman-temannya, tak ada satupun dari mereka yang mengetahui rencana Hana. Hanya keluarganya yang tahu. Itu sudah cukup.
Hana melihat satu kardus besar berisi barang-barang pemberian Angga. Boneka Teddy bear, sepatu, jam tangan, beberapa stel baju, dan masih banyak lagi. Ia sudah meminta tolong kepada Ikhsan untuk mengirimkannya ke distro Angga lewat jasa ekspedisi. Hana mengirimkan ke distro Angga karena tak tahu dimana alamat lengkap rumah Angga.
Hana mengambil ponsel lamanya, kemudian membuka blokirannya pada nomor Angga. Setelah itu, Hana mematikan ponselnya dan memasukannya ke dalam laci lalu menguncinya.
"Selamat tinggal Mas Angga dan semua kenangannya," ucapnya sebelum menutup pintu kamarnya dari luar.
END
πΉπΉπΉ
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Tapi bohong!! ππ