Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 20


__ADS_3

POV : HANA


Sepagi ini, aku harus sudah sampai di sekolah. Bayangkan saja, seorang Hana, jam 6 pagi sudah harus di sekolah. Itu hal yang luar biasa.


Semalam setelah isya aku langsung tidur. Menyetel alarm sekeras mungkin sebelum subuh untuk bersiap-siap agar tidak terlambat datang.


Sebelum MOS dimulai, kami para anggota OSIS dan juga sebagai panitia, mengadakan briefing terlebih dahulu. Jadwal hari ini adalah pembukaan MOS, dilanjut dengan memperkenalkan SMA Harapan Bangsa, kemudian berkeliling untuk melihat seluruh gedung sekolah ini.


Aku tak banyak terlibat dalam acara karena memang tugasku yang berada di balik layar.


Gaya banget, Hana! Haha.


Jangan dipikir enak. Setelah ini aku pasti dipusingkan dengan laporan-laporan kegiatan karena memang aku sekertarisnya. Rasyid yang baik itu berbaik hati membebaskan aku dari segala kegiatan.


"Kamu fokus aja merekap laporan. Aku yakin kamu sudah cukup pusing dengan hal itu," ucapnya sambil cengengesan waktu rapat hari Kamis kemarin. Perdana aku ikut rapat untuk acara MOS ini. Padahal yang lain sudah rapat yang ke 4. Haha, mungkin itu hukuman buat aku kali, ya?


Aku sepertinya tak ingin membahas Pak Angga saat ini. Hatiku masih terlalu dongkol dengan sikap kurang ajarnya kemarin.


Tapi sepertinya semesta tidak mendukungku untuk tak melihatnya lagi.


Ya jelaslah, Hana! Selama Pak Angga masih mengajar disini dan status kamu masih siswa disini. Kamu pasti akan terus bertemu dengannya! Dasar Hana dodol!!


Ow iya. Ngomong-ngomong, aku belum ketemu dengan sahabat koplak ku si Karina dan si Lila. Gimana ya mereka? Pulang dari Bandung kemarin aku selalu dirumah dan tak pergi kemanapun. Full time sama mama dan papa meskipun hanya malam hari. Disiang harinya sudah pasti mereka kerja.


Iya, full time di malam hari. Karena aku selalu tidur di tengah-tengah mereka sambil memeluk mama. Hal itu membuat Papa bersungut tak suka seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.


Saat ini aku sedang berada diruang OSIS bersama Nissa. Sebelumnya ada Rahma, Indra, dan Denis yang bertugas di bagian perlengkapan dan sekarang sudah pergi ke aula untuk melakukan tugas.


Nissa sendiri ada sekertaris II. Aku memintanya menemaniku di ruang OSIS meskipun belum ada yang bisa ku kerjakan. Hanya bersantai, menikmati kebebasan terlebih dahulu sebelum akhirnya berpusing-pusing ria.


Pak Angga masuk ruangan bersama Rasyid. Sontak membuat aku langsung menunduk bermain ponsel. Membuka instagram-scroll-keluar. Ganti buka Facebook-scroll-keluar. Pindah ke WhatsApp-scroll-keluar. Seperti itu sampai berkali-kali. Sesekali aku tersenyum sendiri, padahal tidak ada yang lucu sama sekali. Duh, udah mirip orang gila belum?


Aku tak terlalu fokus pada pembicaraan Pak Angga, Rasyid dan juga Nissa. Sampai akhirnya senggolan pelan dilenganku menyadarkan aku yang sedang asyik dengan duniaku sendiri. Lebih tepatnya, menghindari Pak Angga.


"Kenapa?" Tanyaku polos pada Nissa.


"Ditanya Pak Angga tuh!" Tunjuknya dengan mengangkat dagunya.


"Pak Angga nanya apa?" Tanyaku santai. Memberanikan diri untuk melihatnya.

__ADS_1


"Tidak ada pengulangan," ucapnya ketus.


"Oh," responku cuek. Setelah itu aku kembali melihat ponsel. Tak ku pedulikan bagaimana reaksi Pak Angga saat ini.


"Aku ke toilet dulu, Na!" Bisik Nissa pelan yang hanya ku jawab dengan gumaman saja tanpa mengalihkan perhatianku yang tetap setia pada ponsel.


"Kamu masih marah?"


"Eh?" Aku mengangkat kepalaku. Ternyata Rasyid dan Nissa meninggalkanku berdua saja dengan Pak Angga. Melihat ke arah pintu, aku bernafas lega karena masih terbuka lebar. Dasar mereka berdua! Asem memang! Awas aja, sih!


"Sebenarnya masalah kita itu apa, sih, Na?" Tanya Pak Angga yang kini sudah duduk di depanku berbastaskan sebuah meja.


"Kan Bapak yang marah-marah sama saya. Bilang enggak mau ganggu saya lagi. Salah saya apa?"


"Kamu masih enggak nyadar salah kamu apa?" Aku menggeleng kuat. "Sepertinya kemarin ada yang marah-marah gara-gara saya foto sama Vera," lanjutnya membuatku melotot seketika.


"Kenapa marah-marah waktu itu? Kamu..... Cemburu?"


"Enggak! Bapak kepedean banget. Siapa yang cemburu?" Elakku cepat. Masak aku cemburu, sih? Enggaklah. Tapi Pak Angga bener juga. Kenapa aku harus marah melihat foto-fotonya dengan Vera?


"Kamu pikir saya anak kecil yang bisa dibohongi?"


"Bapak pikir saya sedang berbohong?"


"Saya senang kalau kamu cemburu?" Perkataannya membuatku tercengang. Apa maksudnya? Duh, kok aku jadi gugup gini?


"Maksud Bapak?" Tanyaku memastikan sesuatu. Apa itu? Kita tebak saudara-saudara....


"Panggil saya "Mas" dulu!" Perintahnya.


"Enggak mau! Ini kan disekolah," tolakku judes. Jual mahal cuy!


"Berarti kalau diluar sekolah mau?" Tanyanya menggodaku.


"Kan juga udah pernah manggil "Mas". Masih juga nanya?" Aku balik bertanya. "Udah, enggak usah berbelit-belit, maksud ucapan bapak tadi apa?" Tanyaku penuh selidik.


"Saya senang kalau kamu cemburu sama saya. Itu artinya perasa__"


"Pak Anggaaaa...!!"

__ADS_1


Ucapan Pak Angga terputus karena teriakan manja Mak lampir. Siapa lagi kalau bukan Vera!?


Aku memutar bola mata jengah melihat Vera yang kegenitan sama Pak Angga.


"Pak Angga kok berduaan sama Hana?" Tanyanya curiga meskipun masih dengan suara manjanya. Huek!! Kantong plastik mana kantong plastik?


"Saya lagi ngajarin Hana ngerjain laporan," jawab Pak Angga datar. Haha! Kasian, deh, dicuekin!


"Kenapa harus Bapak yang ngajarin?" Protesnya tak suka.


"Kan saya pembina dan penanggungjawab kegiatan ini." Pak Angga seperti enggan untuk menjawab.


"Eh, Pak, kemarin pas saya posting foto kita berdua di Instagram, saya tag akun distro bapak. Setelah itu teman-teman saya banyak yang kesana, loh. Sebenarnya saya mau nge-tag akun Pak Angga juga, tapi saya follow belum bapak konfirmasi."


Sekuat tenaga aku menahan tawaku agar tak pecah saat itu juga. Aku melipat bibirku kedalam dan menutupnya dengan telapak tanganku. Ekspresi Pak Angga sendiri terlihat sangat mengenaskan. Haha!


Eh, tadi apa? Akun Vera belum dikonfirmasi sama Pak Angga? Kasian, deh. Aku dong, di follow duluan sama Pak Angga. Yuhuuu!!


"Terimakasih, ya, Vera. Sekarang kamu bisa keluar dulu? Pekerjaan kami tidak akan selesai kalau kamu terus mengganggu kami," usir Pak Angga tanpa tedeng aling-aling.


Vera tak bisa membantah, berjalan keluar meskipun enggan meninggalkan kami berdua. Hanya berdua.


"Jadi tau dari instagram?" Tanyanya menggodaku setelah Vera keluar dari ruangan.


"Apanya?" Aku berlagak polos.


"Yang membuat seorang Hana cemburu dengan guru kesayangannya," ucapnya jumawa.


"Bapak narsis!!" Setelah itu aku langsung berdiri dan berjalan meninggalkan Pak Angga. Aku akan menemui kedua sahabat koplak ku di kantin.


Sebelum aku keluar, aku berpapasan dengan Denis yang katanya akan mengambil perlengkapan yang disimpan di ruang OSIS ini. Entah apa, aku tak bertanya banyak.


Kami sedikit berbincang, berbasa-basi dan saling menanyakan kabar. Iya, kami baru bertemu lagi. Rapat kemarin Denis tidak datang karena sedang liburan di rumah kakek dan neneknya di Boyolali. Sesekali kami tertawa bersama.


"Ehm!" Pak Angga mengagetkan kami.


"Pak?" Sapa Denis pada Pak Angga yang hanya dibalas dengan anggukan saja. Pak Angga berlalu setelahnya. Dih, sombong amat!


Triing..

__ADS_1


Satu notifikasi masuk ke dalam ponselku.


Pak Angga : "Saya juga cemburu melihat kamu sama Denis!"


__ADS_2