
POV : HANA
Hari ini aku sudah mulai masuk sekolah setelah ijin beberapa hari karena sakit. Aku sudah merindukan suasana belajar didalam kelas. Merindukan kedua sahabat koplak ku itu. Merindukan..... Ahh! Aku tak mau menyebutnya.
Selama aku sakit aku juga tak mengaktifkan ponselku sama sekali. Bahkan hari ini saja aku lupa membawanya. Aku benar-benar menghabiskan waktuku untuk beristirahat. Mengistirahatkan tubuh dan pikiranku. Membuang hal-hal negatif yang menari-nari di otakku, menggantinya dengan hal-hal yang positif. Termasuk mencoba mengenyahkan perasaan sayang kepada seseorang sebelum terlalu dalam.
Jangan tanya seseorang itu siapa! Aku sedang tak ingin membahasnya.
"HANAAA!!"
Ya ampun! Manusia satu itu. Suaranya paling tidak bisa di rem!
"Karina... Kebiasaan kamu teriak-teriak begitu. Dipikir ini hutan!"
Bukannya marah, Karina malah cengengesan seperti manusia kekurangan dosa.
"Kamu sudah sehat?" Tanyanya perhatian. Uhh.. Sahabatku satu ini!!
Aku mengangguk dan tersenyum. "Sudah, buktinya aku udah sekolah," jawabku.
"Bentar lagi upacara dimulai. Ke kelas dulu, yuk."
Aku mengikuti langkah Karina menuju kelas untuk meletakkan tas dimeja. Setelah itu berjalan menuju halaman sekolah untuk mengikuti upacara.
Aku berbaris paling belakang. Samping kanan kiri ku ada Karina dan Lila. Kita bertiga sudah seperti perangko dan amplopnya. Dimana ada aku, pasti ada Karina dan Lila. Begitupun sebaliknya.
"Hana!"
Deg! Suara itu? Aku hafal betul siapa pemiliknya.
"Ya, Pak?" Aku menatapnya datar.
"Kenapa sepatu kamu berwarna putih?" Tanyanya mulai menginterogasi ku.
Ya ampun! Kenapa aku bisa tidak sadar kalau aku memakai sepatu warna putih. Padahal setiap hari Senin sampai Kamis harus memakai sepatu hitam. Sepertinya aku kebanyakan cairan infus. Jadinya eror!
"Setelah ini ke ruangan saya!" Perintahnya lalu pergi meninggalkan barisan kami.
Habis kamu, Hana! Berniat menghindari malah harus berhadapan dengannya.
"Kayaknya kamu kebanyakan cairan infus," bisik Lila. Sama persis dengan pemikiran ku.
"Aku tadi juga mikir gitu," bisikku balik pada Lila. Setelah itu kami cekikikan berdua.
"Kamu cari masalah terus, Hana! Sengaja, ya, biar ketemu Pak Angga terus?" ucap Karina curiga.
"Enak aja!"
***
Tok tok tok..
"Permisi, Pak!" Sapaku saat mulai memasuki ruangan yang puntung tidak tertutup itu.
Pak Angga mendongak sebentar, lalu kembali fokus pada anak-anak yang lain yang juga melanggar peraturan. Ada yang tidak memakai topi, ada yang tidak memakai dasi, ada juga yang sama sepertiku. Bahkan sepatunya berwarna pink. Ya ampun!! Dia Vera! Aku tahu pasti dia sengaja.
"Masuk!" Ucap Pak Angga datar.
Aku berjalan perlahan dan bergabung dengan yang lainnya. Sialnya, aku berdiri disampingnya Vera. Satu persatu keluar setelah diberi hukuman. Aku menjadi siswa yang paling akhir. Aku yakin pasti Pak Angga akan menahan ku lebih lama lagi.
"Kamu sengaja melanggar, kan, biar bisa ketemu Pak Angga?" Bisik Vera lirih sambil menyenggol lenganku pelan.
"Enggak kebalik?" Bisikku tak kalah lirihnya.
__ADS_1
"Bilang aja mau cari kesempatan!" Tuduhnya.
"Enggak kebalik?"
Perdebatan kami terhenti karena Pak Angga yang melotot ke arah kami. Membuat kami terdiam dan kembali menundukkan kepala.
"Vera!" Kini giliran Vera yang akan diinterogasi. Hanya tinggal aku dan Vera yang berada disini.
"Iya, Pak?" Jawab Vera manja. Ya ampun! Masih sempat-sempatnya ya dia?
"Kenapa kamu pakai sepatu warna pink?"
"Eh.. Anu, Pak. Sepatu Vera yang hitam sudah kekecilan, Pak. Belum sempat beli," Vera beralibi.
"Alasan, kamu! Lepas sepatu kamu! Sampai pelajaran terakhir kamu nyeker alias tidak pakai alas kaki. Pulang sekolah kamu ambil sepatu kamu. Kalau kamu ulangi lagi, saya bakar sepatu kamu. Sudah kelas 12 bukannya memberi contoh yang baik malah memberi contoh yang enggak benar."
"Masak Vera nyeker, Pak?"
"Tidak ada protes! Sekarang lepas, dan keluar!"
Mau tak mau, Vera menuruti ucapan Pak Angga. Ya ampun! Kalau begitu aku nanti juga harus nyeker, dong? Kan malu. Kenapa harus berhitung, sih, hukumannya? Mending suruh merangkum materi atau menghafal rumus matematika. Lebih bermanfaat juga, kan? Eh, enakan di kamu dong, Hana! Dasar dodol!!
Tak lama setelah itu, Vera keluar. Kini tinggallah aku dan Pak Angga. Hanya berdua.
Atmosfer di ruangan Pak Angga berubah menjadi begitu mencekam. Aku seperti terdakwa yang di vonis mati dan akan segera di eksekusi.
"Hana?" Panggilnya. Tak ada nada ramah disana.
"Iya, Pak?" Jawabku takut sambil menundukkan kepala.
"Kamu tahu kesalahan kamu apa?" Aku mengangguk. "Hukuman kamu sama seperti Vera," lanjutnya.
Tanpa berfikir lagi, aku segera melepas kedua sepatu dan kaos kakiku. Aku tak mau berlama-lama didalam ruangan Pak Angga dan hanya berdua dengannya.
"Mau keluar, Pak. Kan sudah dilepas sepatunya," jawabku gugup.
"Belum ada yang menyuruhmu keluar,"
Pak Angga berjalan menuju kursinya dan mendudukkan dirinya diatas kursi. Kemudian melipat kedua tangannya di atas dada. Matanya memandangku lekat. Aku yang dipandang seperti itu merasa salah tingkah dan begitu gugup.
"Katanya kamu sakit?" Tanyanya setelah lama kami terdiam.
"Sudah sembuh kok, Pak," jawabku cepat agar aku bisa segera keluar.
"Kenapa ponsel kamu tidak aktif? Sengaja mau buat saya khawatir?"
"Eh? Enggak, Pak. Bukan begitu. Saya hanya ingin fokus pada kesehatan saya," aku tak berbohong, kan? Aku mau fokus pada kesembuhanku. Terutama kesembuhan hatiku.
"Kamu marah sama saya?" Tanyanya.
"Kenapa saya harus marah, Pak?" Aku bertanya balik pura-pura tak mengerti.
Terdengar Pak Angga menghela napas keras. Sepertinya Pak Angga sudah mulai jenuh denganku yang bersikap seperti ini. Bersikap sama dengan murid yang lain. Tidak apa, kan? Toh aku dan Pak Angga hanya sebatas guru dan murid. Enggak lebih!
"Kamu tahu saya khawatir sama kamu. Saya tidak tahu kepada siapa saya bertanya keadaan kamu selama beberapa hari ini? Kamu membuat saya hampir gila, Hana!" Suaranya sedikit meninggi. Membuatku memejamkan mata erat karena takut.
"Maaf," ucapnya kemudian.
"Kenapa Bapak harus khawatir sama saya?" Tanyaku datar.
"Kamu masih bisa bertanya kenapa, Hana?"
"Saya tidak tahu, Pak. Hubungan kita hanya sebatas gu-ru dan mu-rid. Saya pikir dengan Papa saya mengirimkan surat ijin dari dokter itu sudah cukup untuk Bapak bisa mengetahui bahwa saya sedang sakit," ucapku pelan sambil menekan-nekan kata guru dan murid. Mengingatkannya dengan apa yang telah dia ucapkan beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
"Saya permisi," pamitku. Pak Angga tak menjawab. Masih terdiam begitu lama. Mungkin tertampar dengan ucapanku.
Maafkan Hana, Mas. Ini cara Hana untuk bisa menjauh dari Mas Angga.
***
POV : AUTHOR
Bel pertanda istirahat pertama telah di bunyikan. Para siswa berhamburan keluar kelas untuk beristirahat. Ada yang sholat Dhuha, ada yang mencari cemilan ke kantin sekolah. Ada juga yang pergi ke perpustakaan.
Hana sendiri memilih tetap tinggal di kelas. Lebih memilih membaca novelnya. Hana merasa malas keluar kelas. Terlebih lagi Hana tak pakai alas kaki. Hana malu kalau ada yang mengejeknya.
Braakkk
"Heh!"
Hana dibuat kaget dengan suara bentakan disertai dengan gebrakan meja. Hana mendongak, ada Vera dan kedua temannya berdiri didepan meja Hana yang terletak di barisan paling depan.
"Kenapa, sih, Ver?" Tanya Hana tak suka. Ketenangannya diganggu oleh tiga makhluk tak diundang itu.
"Kemarin kamu pulang bareng Pak Angga, kan? Ngaku kamu!" Ucap Vera tanpa berbasa-basi. Hana dibuat terkejut dengan ucapan Vera. Tak menyangka kalau ada yang melihatnya pulang bersama dengan Angga.
"Kamu salah lihat kali, Ver," ucap Hana pelan sambil menutupi kegugupannya.
"Kamu pikir aku rabun? Ega sama Amel juga lihat. Udah sekarang kamu ngaku,"
Hana tak tahu lagi mesti jawab bagaimana. Kalau Hana berbohong, mereka tak akan percaya. Mereka pasti benar-benar melihatnya dengan Angga.
*Flashback..
Vera, Ega dan Amel berjalan beriringan keluar dari toko pernak-pernik yang berada sekitar limapuluh meter dari sekolah. Beruntung sekolah pulang lebih awal, jadi mereka bisa bermain sebentar sebelum pulang kerumah.
"Eh, Vera. Lihat, deh! Itu si Hana ngapain duduk sendiri disitu?" Ucap Amel yang pertama kali melihat Hana sambil menunjuk halte tempat Hana duduk.
"Nunggu jemputan kali!" Jawab Vera cuek sambil memakai helm nya.
"Ehh.. Itu mobil Pak bukan, sih?"
Mendengar nama Angga disebutkan, langsung saja Vera menoleh ke arah mobil tersebut berhenti.
"Hana masuk mobil Pak Angga, loh, Ver!" Ucap Ega heboh. "Mereka janjian?" Lanjut Ega.
Vera mengepalkan tangannya. Kali ini Vera merasa kalah cepat dari Hana. Vera tak menyangka bahwa Hana sudah sedekat itu dengan Angga sampai janjian pulang bersama.
Vera merasa tak terima. Vera merasa bahwa ia harus membuat perhitungan dengan Hana.
Flashback off*.
"Jawab, Hana!" Vera mulai geram melihat Hana yang tak membuka mulutnya sedikitpun.
"Aku enggak janjian sama Pak.."
"Kalian ngapain disini?"
Belum sempat Hana melanjutkan ucapannya, Indra yang baru saja masuk bersama Denis bertanya curiga pada Vera.
"Dia nyakitin kamu, Na?" Tanya Indra pada Hana.
Aku menggeleng. "Enggak, kok," jawab Hana.
"Keluar kalian. Mataku sepet lihat kalian," perintah Indra dengan judesnya.
Vera melihat Indra dengan pandangan tak suka. Memberi kode pada kedua temannya untuk keluar dari kelas Hana. "Urusan kita belum selesai," ucap Vera pada Hana sebelum meninggalkan ruang kelas Hana.
__ADS_1
🌹🌹🌹