
Devina Harumi : "Angga, bisa kita bertemu? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
Angga melempar ponselnya begitu saja ke atas kasur setelah membaca pesan masuk dari Devina. Angga sendiri tak berniat membalasnya. Ia sudah merasa malas dengan perempuan satu itu. Berkali-kali Devina meminta bertemu dengan beralasan untuk meminta maaf. Tapi ujung-ujungnya Devina meminta Angga kembali padanya. Dan kali ini, untuk kesekian kalinya Angga menolak ajakan Devina untuk bertemu.
Bukankah lebih baik kalau Angga memikirkan bagaimana caranya agar Hana bisa kembali padanya daripada harus memikirkan Devina?
Angga tak peduli jika dia dikatakan bucin atau apalah itu. Yang terpenting, selama Hana belum menjadi milik orang lain, Angga akan terus memperjuangkannya.
Hal yang sedikit Angga sesalkan adalah mengapa Angga tak meminta nomor ponsel Hana yang baru. Hal itu karena Hana lebih memilih pergi begitu saja. Padahal, hujan masih mengguyur kawasan rumah sakit. Tak peduli dengan Angga yang memintanya untuk bertahan sampai hujan reda.
Hana pun juga tak memberikan jawaban perihal pertanyaan Angga tentang hubungan Hana dengan Rasyid. Sebenarnya Angga sedikit kecewa, namun ia juga tak ingin memaksa. Biarlah waktu yang menjawab. Yang harus Angga lakukan kali ini adalah berjuang untuk membuat takdir Hana bersamanya. Sedikit memaksa memang.
Berhari-hari setelahnya, Angga dan Hana tidak lagi bertemu. Selain memang Angga tak memiliki alasan untuk menemui Hana, Angga juga sedang sibuk untuk persiapan pembukaan cabang baru usahanya yang akan dibuka sekitar dua minggu lagi. Impiannya, Hana bisa datang ke acara opening distro baru miliknya.
Menurut kabar yang dibagikan Indra lewat WhatsApp story miliknya, Rasyid sudah sadar dari koma. Angga bersyukur dan ikut senang. Tapi juga sedikit was-was karena itu artinya kemungkinan ia bisa mendekati Hana lagi akan semakin kecil.
Angga sedang beristirahat dan duduk diatas kursi kerjanya. Punggungnya bersandar dan tangannya memainkan ponsel. Tak sengaja jarinya menekan nama Rasyid yang baru lima menit yang lalu membuat story.
Rasa cemburu Angga tersulut begitu saja saat melihat foto Rasyid duduk berdekatan dengan Hana dengan senyuman mengembang di bibir mereka. Dengan caption,
"Aku bersyukur Tuhan masih memberiku kesempatan untuk melihat senyuman manis wanita yang sekarang sedang duduk di sampingku sambil mengupas buah apel untuk aku makan. Hana πΉπΉ"
Angga tersenyum sinis. "Sudah berani go publik ternyata. Apa hubungan mereka sudah jauh?" Gumam Angga.
Usaha Angga untuk mendapatkan Hana kembali sepertinya akan terasa sulit kalau ia hanya berjuang sendiri tanpa bantuan orang lain. Angga merasa bahwa ia butuh bantuan seseorang. Angga memutuskan untuk menghubungi Karina. Angga pikir Karina bisa diajak untuk bekerja sama mengingat dulu dia begitu mendukung hubungan Angga dengan Hana.
Angga : "Rin.."
Karina : "Ya ampun! Ada angin apa bapak kirim pesan ke saya? π€π€"
Angga : "Kami dukung Hana sama saya atau Hana sama Rasyid?"
Karina : "Si bapak, nggak ada basa-basi sama sekali! π"
Angga : "Jawab saja, Rin!"
Karina : "Kalau saya sih sebahagianya Hana saja, Pak. Dengan siapapun Hana, saya dukung. Sekalipun nanti bukan bapak atau Rasyid."
Angga : "Kalau saya memperjuangkan Hana lagi, kira-kira Hana mau nggak ya, Rin?"
Untuk pertama kalinya, Angga membuka suara hatinya pada orang lain selain pada Anggun maupun Anggi. Bahkan kali ini dengan mantan muridnya sendiri. Hanya demi Hana, Angga rela membuang rasa gengsi dan rasa malunya.
Karina : "Saya dukung, Pak. Asalkan bapak serius dan tak lagi membuat Hana terluka. Jujur waktu itu saya juga ikut kesal sama Bapak. Tapi setelah saya tau alasan yang sebenarnya, saya jadi ikut prihatin, Pak."
Saat itu Karina mendengar alasan Angga menerima pertunangan dengan Devina dari Satria yang memang dipaksa Karina dan Lila untuk memberitahu mereka. Saat itu mereka bertemu dengan Satria dan istri di sebuah pusat perbelanjaan. Dan tanpa rasa malunya, Karina dan Lila merengek pada Satria untuk menceritakan semuanya. Mau tak mau, daripada Satria dan istrinya dibuat malu, Satria menceritakan semuanya.
Angga : "Menurut kamu, Hana sama Rasyid pacaran apa nggak?"
Karina : "Kasih tahu nggak, ya? π"
Angga : "Riiinnn...."
Karina : "Hehe βοΈβοΈ. Katanya sih enggak, Pak."
Angga tersenyum senang membaca balasan dari Karina. Itu artinya harapannya untuk mendapatkan Hana kembali masih sangat besar.
Angga : "Saya minta nomor ponsel Hana, Rin."
Karina : "Kalau Hana marah sama saya gimana, Pak?"
Angga : "Kamu tenang saja! Hana tidak akan marah."
Akhirnya, dengan segala paksaan dan bujukan ini itu, Karina mengirimkan nomor ponsel Hana yang baru. Angga tersenyum puas saat usaha tahap pertama yang ia lakukan berhasil.
πΉπΉπΉ
__ADS_1
"Itu apelnya dimakan lagi dong, Rasyid. Aku udah capek-capek kupasin malah nggak dimakan," gerutu Hana sambil membersihkan kulit apel yang berceceran di lantai.
"Jadi kamu nggak ikhlas?" Tuduh Rasyid yang membuat Hana semakin kesal dibuatnya. Rasyid terkekeh senang melihatnya.
Sejak Rasyid sadar dan kondisinya semakin hari semakin membaik, keisengan Rasyid perlahan juga kembali.
Sedikit yang Hana sesalkan, kenapa keisengan Rasyid itu tidak ditinggal di alam yang Rasyid tinggali selama koma.
"Memangnya kalau koma tinggalnya dimana itu ruh?" Pikir Hana konyol.
Seminggu yang lalu, sehari setelah kedatangan Angga kerumah sakit, Rasyid tiba-tiba saja membuka matanya yang sudah seminggu terpejam.
Tak ada Hana disana saat Rasyid membuka mata. Karena saat itu Hana sedang pulang kerumah.
Keesokan harinya, Hana dibuat kebingungan mencari Rasyid di ruang ICU. Ranjang yang semula ditiduri oleh Rasyid sudah digantikan oleh seorang wanita yang tertidur diatasnya.
Hana dibuat kelimpungan karena suster yang berjaga bukan suster yang biasa Hana temui hanya menjawab "sudah tidak disini" tanpa memberitahu dimana Rasyid saat Hana bertanya dimana Rasyid.
Hana terduduk lemas di kursi saat tak menemukan kemana Rasyid dipindahkan. Mungkin kalau orang lain akan bertanya pada bagian administrasi. Namun Hana tak melakukan hal itu karena otak pintar Hana mendadak kosong dan tak bisa berpikir tenang.
"Rasyid dimana, ya?" Ucapnya tak tenang sambil menggigit jari telunjuknya.
Baru saja Hana berdiri dan berniat untuk pergi, Nilam dengan tergopoh-gopoh berjalan mendekati Hana.
"Hana!" Panggilnya.
Hana menoleh. "Ya ampun, ibu. Kalian dimana? Rasyid dimana?" Tanya Hana tak sabar.
Nilam tersenyum senang melihat Hana yang begitu mengkhawatirkan anak laki-lakinya. "Rasyid sudah sadar. Dan sekarang sudah pindah kamar," jawab Nilam tenang.
Tak tahu saja kalau ucapan Nilam membuat Hana terbelalak bahagia. Rasyid telah sadar. Kekhawatirannya selama ini hilang begitu saja.
"Terus sekarang kamar Rasyid dimana, Bu?"
"Ada di paviliun, sengaja disana biar Rasyid istirahatnya lebih tenang. Kalau di ruangan biasa agak ramai."
Tak peduli seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan asalkan Rasyid mendapatkan perawatan yang terbaik.
Saat pertama kali memasuki kamar Rasyid, yang pertama kali Hana lihat adalah Rasyid yang menatapnya dengan tatapan bahagia.
Hana tak dapat berkata-kata. Hana hanya mampu menangis terharu melihat Rasyid yang sudah sadar bahkan tersenyum manis sambil menatapnya.
"Kenapa nggak ada yang bilang ke aku kalau kamu udah sadar? Aku kebingungan nyari kamu di ruang ICU," ucap Hana yang sudah duduk di kursi dekat ranjang Rasyid.
"Maaf, ya, Na. Ibu benar-benar lupa saking bahagianya. Ini saja tadi yang mengingatkan Rasyid. Makanya ibu langsung cari kamu," jawab Nilam. Rasyid hanya diam dan tersenyum lembut.
"Terimakasih, ya, udah nungguin aku pas aku koma," ucapnya sambil menggenggam tangan Hana.
"Kamu tau?" Tanya Hana.
Rasyid mengangguk pelan. "Ibu yang cerita."
"Maaf, ya? Karena aku kamu jadi seperti ini. Kalau saja kamu nggak jemput aku mungkin kamu tidak akan tidur di tempat ini."
"No! Kamu nggak salah. Semua sudah jalannya seperti ini. Lagi pula waktu itu aku juga salah. Aku menyeberang tanpa menoleh kanan kiri. Nggak pakai helm lagi."
"Kamu harus cepat sembuh. Aku akan sangat merasa bersalah kalau ada apa-apa sama kamu."
"Kalau dirawat sama kamu pasti cepet sembuh."
Hana mencebik. Disaat-saat seperti itu masih saja Rasyid menggodanya. Baru juga sadar, tapi isengnya sudah mulai.
Triing..
Suara ponsel Hana menarik kembali Hana yang tengah mengingat momen dimana Rasyid sudah sadar. Buru-buru Hana mengambil ponselnya yang berada di atas meja lalu membukanya.
__ADS_1
+6285728849xxx : "Hana..."
Hana memicingkan matanya membaca pesan dari sebuah nomor baru. Jarinya tergerak untuk melihat profil dari nomor tersebut.
Jantung Hana seakan berhenti berdetak saat melihat foto profil nomor tersebut. Sebuah gambar tangan yang bergandengan erat. Hana bukan tak tahu itu foto tangan siapa. Itu adalah tangannya yang bergandengan dengan tangan Angga. Gambar itu di ambil saat keduanya masih berstatus pacaran.
"Siapa, Na?" Suara Rasyid membuyarkan Hana.
"Eh? Bukan siapa-siapa. Nomor nyasar," jawab Hana sambil tersenyum kikuk.
Tak lama kemudian, nomor yang Hana yakini adalah nomor Angga menelepon. Hana panik dan langsung berpamitan pada Rasyid untuk keluar sebentar untuk mengangkat telepon.
Rasyid hanya mengangguk tak menanggapi. Ia tahu bahwa Angga yang menelepon Hana. Rasyid sempat melihat foto yang terpampang jelas di layar ponsel Hana.
Rasyid menghembuskan napas pelan. Betapa sulitnya untuk mengambil hati Hana. Betapa susahnya untuk menghapus nama Angga di hati Hana. Selama ini segala upaya telah Rasyid lakukan agar sekali saja Hana melihat perasaannya. Namun nyatanya, berkali-kali Rasyid mengungkapkan, berkali-kali pula Hana menolaknya dengan halus.
πΉπΉπΉ
"Maaf ya, lama," ucap Hana sambil menarik kursi untuk ia duduki. Angga yang sudah lebih dulu datang menatapnya sambil tersenyum.
"Enggak apa-apa," jawab Angga.
Angga memang mengajak Hana bertemu. Itu tujuan Angga menelpon Hana saat Hana tengah bersama Rasyid. Awalnya Hana menolak, namun Angga membujuknya dengan berbagai cara. Mau tak mau, Hana menurutinya.
Disinilah Hana dan Angga sekarang. Duduk berdua dan saling berhadapan di salah satu rumah makan dekat rumah sakit.
Dulu, mereka sering duduk berdua dengan status pacaran. Mereka terbiasa bercanda atau membicarakan banyak hal untuk mengurangi rasa bosan saat menunggu makanan datang.
Namun kini hanya keheningan yang ada. Angga hanya diam dengan melihat wajah teduh Hana yang selalu ia rindukan. Sedangkan Hana merasa grogi ditatap oleh Angga. Hana mengalihkannya dengan bermain ponsel padahal tidak ada yang asyik sama sekali di dalam ponselnya.
"Pak Angga mau terus diam? Aku sudah mulai bosan loh, Pak," gerutu Hana.
Bukannya menjawab, Angga justru menyodorkan ponselnya yang menampakkan sebuah flyer yang bertuliskan tanggal dan waktu untuk acara grand opening cabang distronya yang baru.
Hana membacanya dengan seksama. "Bapak mau aku datang?" Tanya Hana setelah selesai membacanya.
"Kalau kamu berkenan," jawab Angga. "Tapi aku sangat berharap kamu mau datang," lanjutnya.
"Kenapa begitu, Pak?" Tanya Hana bingung. Bingung kenapa Angga mengharapkan kehadirannya.
"Karena cabang baru itu khusus aku persembahkan buat kamu."
Ucapan Angga membuat Hana membelalakkan matanya. Bertanya-tanya untuk apa Angga melakukan hal itu.
"Ke.. Kenapa, Pak?" Tanya Hana dengan tergagap. "Kenapa untuk aku?"
Angga menegakkan tubuhnya yang semula duduk bersandar di kursi. Matanya mencoba menatap mata Hana yang bergerak gelisah menghindari tatapan mata Angga.
Sebenarnya ingin menyentuh dan memegang tangan Hana. Namun Angga menghormati Hana yang kini sudah berhijab.
"Na?" Angga membuka suara. "Aku tidak ingin berbasa-basi lagi. Sudah cukup aku menunggu kamu selama ini. Kamu pergi menghilang dan tak ada kabar sama sekali. Aku begitu kelimpungan mencari kamu."
Angga berhenti berbicara. Memberi waktu pada Hana untuk mencerna semua ucapan Angga.
"Aku minta maaf untuk kesalahan aku di masa lalu, Na. Aku juga sudah menceritakan semua sama kamu alasan aku dulu menerima permintaan kedua orangtuaku untuk bertunangan dengan Devina. Tapi kamu lebih memilih pergi bahkan tak meninggalkan pesan apapun. Aku bingung cari kamu dimana, Na."
Hana tak berkutik sama sekali. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangisnya agar tak tumpah di depan Angga.
"Hana, dengan segala kesalahan dan kekuranganku selama ini, maukah kamu memaafkan aku? Dan maukah kamu mengulang kisah indah kita dulu? Aku tak bisa berjanji bahwa hari yang akan kita lalui akan selalu bahagia. Tapi aku berjanji akan terus berusaha mengukir senyuman bahagia di wajah kamu."
Hana menunduk untuk menyembunyikan matanya yang mulai mengembun. Hana tak memungkiri bahwa hatinya begitu terharu. Nyatanya, selama ini hatinya memang tetap utuh untuk Angga.
Seberapa kuat Hana mencoba mengganti nama Hana dengan nama orang lain bahkan dengan nama Rasyid sekalipun, tidak pernah bisa. Hana tak tahu dengan apa Angga menempelkan namanya di dalam hati Hana sehingga begitu sulit bagi Hana untuk melepaskannya.
πΉπΉπΉπΉ
__ADS_1
Maaf yaa updatenya lama nggak jelas lagi π πππ sepertinya ramadhan ini memang akan jarang update. tapi apatis aku semepetin buat nulis.
semoga nggak bosan ya nunggunya. π€π€