
POV : AUTHOR
Angga menyesali apa yang telah ia kirimkan pada Hana. Meskipun itu nyata adanya, tapi Angga pikir belum saatnya Hana mengetahuinya. Angga masih ingin menikmati masa-masa bebas bercanda dengan Hana. Kalau sudah seperti ini, pasti rasa canggung akan tercipta dengan sendirinya.
Ingin menghapusnya, tapi sudah terlanjur centang biru. Artinya sudah dibaca oleh Hana.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Maki Angga dalam hati sambil menepuk jidatnya yang tidak bersalah.
"Kamu kenapa?" Tanya Satria yang tiba-tiba sudah ada diruang guru. Angga tak menyadari kehadirannya.
"Enggak apa-apa," Angga langsung bersikap tenang seperti tak pernah terjadi apa-apa. Sepintar-pintar Angga menutupi saja.
"Liburan kemarin ke Bandung, kan?" Angga mengangguk. "Jalan sama Hana juga, kan?" Lanjut Satria yang membuat Angga begitu terkejut. Angga pikir dari mana Satria bisa tahu?
Angga gelagapan. Tah tahu harus jawab apa. Seperti buah simalakama. Kalau Angga mengelak, sudah pasti Satria tidak mau berhenti menginterogasi karena Satrio sudah tahu entah dari mana. Mau bilang iya, Angga merasa malu. Satrio pasti akan semakin menggodanya.
"Tahu dari mana?" Tanya Angga datar walau dalam hatinya dag dig dug jeddeerr!!
"Jadi bener?" Satria menaikturunkan alisnya semakin menggoda Angga. Benar tebakan Angga, Satria semakin menggodanya.
"Tahu dari mana?" Angga mulai jengah.
"Santai, bro! Aku kemarin ketemu Ikhsan di Bandung. Dia bilang kamu juga habis dari sana. Bahkan jalan-jalan sama Ikhsan dan juga Hana. Sama pacarnya juga, kan? Double date, gitu?"
"Double date itu kalau semuanya pacaran. Yang pacaran cuma Ikhsan dan Kinan. Aku sama Hana enggak!" Sungut Angga tak terima.
"Enggak apa enggak?" Goda Satria.
"Enggak!"
"Yakin enggak?"
"Yakin!"
"Iya apa enggak?"
"Enggak!"
"Enggak apa iya?"
"Otw," ceplos Angga tak sadar.
"Hahahaha," sekuat tenaga Satria menahan tawanya walau akhirnya pecah juga. Angga yang melihatnya serasa ingin membungkam mulut Satria dengan remasan kertas. Hampir saja Angga melakukannya sebelum akhirnya terhentikan oleh para guru yang sudah masuk ke ruangan.
***
POV : ANGGA
Tepat jam 8 malam, aku sudah sampai rumah. Setelah dari sekolah, tentu saja aku pergi ke dua distro milikku untuk memantau perkembangannya. Aku memiliki orang kepercayaan untuk menjaga distroku. Mereka bertugas membuka di pagi hari, mengawasi karyawan, mengecek ketersediaan barang dan datangnya barang, sampai menutupnya dimalam hari. Berkat kelihaian mereka bermain sosmed juga distroku jadi ramai offline dan online.
"Assalamualaikum," salamku saat membuka pintu rumah.
"Waalaikumsalam," terdengar jawaban kedua orangtuaku dari ruang TV.
__ADS_1
"Baru pulang, Le?" Tanya ibu.
"Enggih, Bu," jawabku sambil mendudukkan diriku diatas sofa disamping Bapak.
"Jangan terlalu dipaksakan, Le. Distro-distro kamu kan sudah ada yang jaga. Kalau kamu merasa lelah, ya pulang, istirahat," nasehat Bapak pelan.
"Enggak apa-apa, Pak. Lagian kan sesekali Angga juga harus mengawasi mereka."
Kami terdiam cukup lama. Aku menikmati kopi panas yang dibuatkan oleh ibu baru saja. Ada cemilan kacang rebus yang menjadi teman kami menonton TV.
"Bagaimana keputusan kamu, Le?"
Kopi yang ku minum serasa berhenti di tenggorokanku saat mendengar pertanyaan dari Bapak. Setelah sekian lama aku diam tanpa memberikan jawaban, akhirnya Bapak menanyakannya juga.
"Sebenarnya Bapak tidak ingin memaksa kamu, Le. Tapi akan lebih baik lagi kalau kita menjadi orang yang tahu terimakasih," tegas Bapak.
"Apa berterimakasih harus dengan cara seperti itu, Pak?" Aku bertanya.
"Bapak pikir itu cara yang paling bagus, Le,"
"Angga belum kepikiran, Pak. Angga masih ingin fokus di Harapan Bangsa dan mengembangkan usaha Angga," jawabku hati-hati agar tak menyinggung perasaan Bapak. 'Dan juga demi Hana,' ucapku dalam hati.
"Pikirkan baik-baik, Le. Lebih cepat lebih baik," ucap Bapak sebelum akhirnya aku pamit untuk beristirahat didalam kamar.
Entahlah. Aku tak berpikir lagi tentang hal itu. Justru sekarang pikiranku tertuju pada Hana. Bagaimana reaksi gadis itu setelah membaca deretan pesanku yang mengatakan bahwa aku cemburu melihatnya bersama Denis. Sejak tadi aku memang tidak melihat ponsel. Jadi aku belum tahu apakah Hana membalasnya atau tidak.
Hana : "Maksud Bapak apa?"
Balasan dari Hana yang membuatku melongo. Hana ini benar-benar polos atau hanya berpura-pura? Hal seperti itu saja dia masih bertanya? Apakah dia tidak mengerti kalau cemburu itu tanda sayang?
Ahh.. Aku seperti ABG yang sedang jatuh cinta.
Ingat umur, Angga!!
Tak ada lagi pesan dari Hana. Ku geser layarku untuk melihat story WhatsApp. Kucari nama Hana. Ketemu!
'Di gantung kek jemuran gaess'. Tulisnya. Pukul 13.50, siang tadi.
Dan aku sampai sekarang belum menghubunginya lagi. Ku lihat statusnya 'online'. Ku putuskan untuk mengiriminya pesan.
Me : "Hana."
Masih online tapi tak kunjung membalas pesanku. Mungkinkah Hana marah? Ahh.. Mungkin ini yang dulu dibilang Mbak Anggun kalau cewek itu butuh kepastian. Apa sekarang aku harus memastikan semuanya?
Hana tak juga membalasnya meskipun sudah lima belas menit yang lalu. Padahal statusnya masih tetap online.
Aku mencoba meneleponnya. Satu kali, dua kali, Hana tak mengangkatnya. Aku semakin dibuat khawatir oleh gadis satu itu. Rasanya saat ini aku ingin datang kerumahnya dan melihatnya secara langsung. Tapi itu tidak mungkin aku lakukan.
Kamu kemana Hana?
Ku coba lagi berkali-kali.
"Assalamualaikum."
__ADS_1
Finally! Hana mengangkat di panggilanku yang ke sepuluh. Kamu luar biasa, Hana!
"Waalaikumsalam, Hana. Kamu kemana saja? Saya telepon berkali-kali baru kamu angkat? Kamu marah sama saya? Kamu enggak mau lagi balas pesan saya atau mengangkat telepon dari saya?" Berondongku dengan berbagai pertanyaan.
"Sudah, Pak? Pertanyaannya sudah cukup?" Tanyanya dengan pelan tapi aku yakin Hana juga merasa sebal mendengar beberapa pertanyaanku.
Aku menghirup napas panjang dan menghembuskannya kasar. "Oke, maaf," ucapku kemudian.
"Saya tadi baru makan, Bapak Angga. Hp saya tinggal di kamar," jelasnya dengan suara jengkel.
"Saya kira kamu marah," ucapku pelan.
"Marah kenapa?" Hana bertanya balik.
"Soal WA saya tadi pagi,"
"Oh, saya enggak marah, Pak. Saya anggap itu selesai karena Bapak saya tanya maksudnya apa juga enggak dibalas,"
"Belum sempat. Seharian ini saya sangat sibuk. Ini saja saya baru pulang sekitar satu jam yang lalu. Telepon kamu, WA kamu baru kamu respon," jelasku agar Hana merasa tidak di gantung, seperti yang dia tulis tadi.
"Iya," jawabnya pendek. Setelah itu kami saling diam meskipun sambungan telepon belum terputus. Aku bingung mau mulai dari mana. Yakin! Kali ini aku kalah dengan para ABG yang dengan mudahnya berteriak menyatakan cinta.
Tunggu! Ini beneran aku mau menyatakan cinta? Kira-kira bagaimana perasaan Hana kepadaku? Kalau dia tidak suka denganku, nanti aku yang jadi malu.
Tapi kemarin dia marah karena melihat fotoku bersama Vera. Bisakah aku menyimpulkan kalau dia juga ada rasa denganku melalui hal itu?
Apa aku harus mencobanya? Kalau tidak, aku takut Hana akan semakin dekat dengan Denis. Mengingat mereka satu kelas, intensitas pertemuan Hana dengan Denis lebih banyak dibandingkan denganku.
"Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan lagi saya matikan, ya, Pak?" Ucapnya memecah keheningan kami.
"Jangan!" Cegahku cepat. "Saya mau bicara," lanjut ku. Hana mempersilahkan aku dengan gumaman.
"Soal WA saya tadi pagi, saya serius,"
"Serius apa?"
"Serius kalau saya cemburu," ucapku membuat Hana terkekeh pelan. "Ada yang lucu?" Sungutku tak suka. Bisa-bisanya disaat seperti ini dia bisa tertawa. Aku saja gugupnya minta ampun.
"Enggak, Pak. Maaf," Hana masih sedikit tertawa meskipun samar aku mendengarnya. "Kenapa bisa cemburu, sih, Pak? Emang kita ini apa? Eh, maksud Hana, kita kan enggak ada hubungan apa-apa, Pak. Kenapa harus cemburu melihat saya sama Denis? Padahal saya dan Denis juga enggak ada hubungan apa-apa."
Penuturan Hana membuat mulutku terbungkam. Tidak tahu lagi harus berkata bagaimana.
"Hana,"
"Ya?"
"Saya... Saya sayang sama kamu!"
"*Hah?"
🌸🌸🌸*
**Hayy!! Ketemu lagi sama Pak Angga dan Hana. Cieee yang nungguin up-nya. ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1
Semoga enggak bosen ya sama ceritanya. Like dan comment ya.
happy reading 🤗🤗**