Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 41


__ADS_3

Entah sudah berapa lama aku menangis. Mas Angga masih tetap setia memeluk dan mengusap rambutku.


'Dih.. Cari kesempatan banget bapak satu ini.'


Aku langsung melepaskan diri setelah aku tersadar. Menghapus air mataku dan mengambil tissue yang berada di atas dasboard untuk mengusap ingusku.


Jangan berpikir aku jaga image di depan Mas Angga. Bodo amat dia mau menganggapku jorok atau bagaimana.


Ku lihat kemeja bagian depannya basah karena air mataku. Duh, jangan sampai ingusku juga menempel disana. Kalau sampai menempel itu sungguh memalukan.


"Kenapa?" Tanyanya sambil terkekeh kecil.


"Enggak apa-apa," suaraku terdengar serak karena habis menangis.


"Kita makan dulu, ya?" Ajaknya.


Aku mengangguk kuat. Lama menangis membuatku kelaparan sekarang. "Bakso," mauku seperti biasanya.


"Siap, tuan putri," Mas Angga tertawa pelan dan menuruti keinginanku.


Mobil Mas Angga berhenti didepan kedai bakso yang menjadi favorit kami berdua. Mas Angga mengesankan porsiku seperti biasa. Tanpa mie kuning dan lebih banyak sawi hijaunya.


Semangkuk bakso dan segelas es jeruk sudah berada di depanku. Menambahkan hampir lima sendok sambal dan satu sendok kecap.


"Hana, jangan banyak-banyak sambalnya," tegur Mas Angga membuatku melayangkan tatapan maut ku ke arahnya. Membuat Mas Angga terdiam dan tak membantahku sama sekali.


"Mas Angga kapan baliknya?" Suaraku sudah terdengar biasa. Tak seperti tadi yang masih dengan emosi. Agaknya semangkuk bakso pedas sudah berhasil mengembalikan mood-ku.


"Mungkin Minggu malam. Senin jam 7 Mas harus sudah standby di sana."


Aku menghembuskan napas keras. Bakso yang ku makan rasanya menjadi hambar.


"Yang sabar, ya? Kita harus kayak gini dulu," ucap Mas Angga sambil memegang satu tanganku. Mas Angga seolah tahu apa yang ada didalam pikiranku. "Udah, dong, sedihnya. Maaf kalau pertemuan pertama kita setelah tiga minggu LDR harus kayak tadi. Semua salah Mas. Mas janji akan selalu percaya sama kamu," ucapnya tulus. Matanya menatapku dalam, membuatku mengangguk dan tersenyum kepadanya.


Senyum Mas Angga merekah saat melihatku tersenyum. Suatu hal yang mungkin ditunggu Mas Angga sejak tadi.


Yuhuu!! Percaya diri sedikit boleh lah yaaaa??


***


Sore hari aku lebih memilih bersantai di atas ranjang sambil menonton TV. Sampai jam 4 sore aku masih saja berada dirumah sendiri. Papa dan mama belum pulang. Apalagi Mas Ikhsan, kebiasaannya selalu pulang diatas jam 7.


Setelah Mas Angga mengantarkan aku pulang, Mas Angga menolak saat ku ajak untuk mampir terlebih dahulu. Alasannya sama seperti yang sudah-sudah. Aku hanya sendiri di rumah. Itu berarti hanya akan berdua dengan Mas Angga kalau Mas Angga mampir. Mas Angga menolak, beralasan "takut khilaf".


Terkadang aku bergidik ngeri mendengar alasannya itu. Diam-diam aku juga merasa was-was. Meskipun Mas Angga selalu menjagaku dan menghargai ku dengan tidak melampaui batasnya, tapi setan itu pintar dan ada dimana-mana. Daripada terjadi yang tidak-tidak, lebih baik menghindari hal-hal yang menjurus ke sesuatu yang tidak-tidak.


Apaan, sih!


Aku membuka ponselku yang sejak pulang sekolah sama sekali tak ku hiraukan. Walaupun getaran ponselnya sedikit mengganggu, tapi aku tak berniat untuk mengeceknya. Aku hanya tak mau menyia-nyiakan waktu ku bersama Mas Angga sedetikpun walaupun harus diawali dengan pertengkaran akibat salah paham.


Kelas 12 Kompak Selalu


*Ega* : Hot News**! Hana dirangkul Denis, ketahuan sama Pak Angga.


Amel : Betul. Pak Angga wajahnya serem banget gaess!


Shinta : Serius kalian??? 😱


Ega : Dua rius πŸ˜›


Vera : Yes, mereka pasti berantem. 🀩


Indra : Mak-Emak rempong.

__ADS_1


Ega : Diem, Lo. @Indra


Karina : Ya ampun, jadi tadi serius si Denis nolongin kamu, Na? @HanaAghni


Lila : @Vera kalau ngomong di jaga.πŸ‘Š


Denis : Kalian jangan ikut-ikutan salah paham. Aku tadi cuma mau nolongin @HanaAghni


Vera : Yang penting Pak Angga sana @HanaAghni berantem, kan? Seneng banget aku. 😜😜


Hana : @Vera, aku nggak berantem sama Mas Angga. Nih kalau nggak percaya!



(anggap aja ini Angga sama Hana πŸ˜‚πŸ˜‚)


Aku melempar ponselku ke sembarang arah. Yang terpenting tidak sampai jatuh. Aku heran, kabar buruk sedikit saja bisa menyebar dengan cepat.


Aku sengaja mengirimkan fotoku saat bersama Mas Angga di kedai bakso tadi. Agar Vera bisa berhenti berdoa buruk untuk hubungan ku dengan Mas Angga. Semoga saja bisa. Sebenarnya aku tak yakin.


Sebenarnya aku mulai bosan bermusuhan dengan Vera. Ehm! Ralat! Kita tidak bermusuhan. Lebih tepatnya, Vera memusuhi ku. Entah apa salahku, aku tak tahu. Biarlah Vera melihatku dengan apa yang ada di pikirannya.


***


ANGGA


Kepulangan Angga pertama kalinya setelah tiga Minggu meninggalkan rumah, disambut hangat oleh kedua orangtuanya. Ditambah lagi dengan hadirnya Anggi dan suaminya, serta bayi kecil berjenis kelamin laki-laki yang sudah berusia dua bulan.


"Ponakan om ganteng banget, sih. Mirip sama om Angga, ya, dek!" Angga menoel-noel pipi bulat Aufar yang berada di gendongan Damar, ayahnya.


"Enak aja kamu!" Anggi memukul pelan bahu Angga. "Orang Mas Damar sama aku yang buat kok jadinya dibilang mirip kamu!" Ucap Anggi tanpa disaring terlebih dahulu.


"Nda! Omongannya, tolong. Aufar masih sangat kecil untuk mendengar hal-hal seperti itu," ucap Damar sambil mencoba menutupi kedua telinga anaknya dengan tangannya. Namun nihil, hanya bisa satu telinga yang tertutupi.


"Sudah, ayo masuk dulu," ajak Rajiman pada istri dan anak-anaknya.


Angga memutuskan untuk langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan berisitirahat sebentar.


Malam harinya, Angga menikmati makan malam bersama kedua orangtuanya dan kedua kakaknya. Suasana terasa begitu hangat dengan hadirnya bayi kecil diantara mereka.


"Kamu betah disana, Ga?" Tanya Anggi tiba-tiba. Angga menelan makanannya terlebih dahulu sebelum menjawab.


"Namanya juga masih baru, Mbak. Merasa nggak betah itu wajar. Tapi aku mencoba ikhlas aja, sih. Biar ngerjain pekerjaannya enak," jawab Angga santai sambil melirik ayahnya. Bagaimanapun, ayahnya yang telah memaksanya untuk bekerja di sana. Sedangkan Rajiman santai-santai saja merasa seolah tak bersalah sama sekali.


"Nanti lama-lama juga betah. Di nikmati saja dulu," Rajiman menimpali. Membuat Angga dan Anggi terdiam tak menanggapinya lagi. Mereka tahu, ayahnya adalah sosok yang tidak bisa dilawan. Apapun yang menjadi keputusan Rajiman, mereka harus menurutinya.


"Nanti bapak mau bicara sama kamu, Ga."


***


Pagi-pagi sekali, Angga sudah bersiap untuk menjemput Hana lalu mengantarkannya ke sekolah. Kali ini Angga akan menggunakan motornya yang sudah lama tak ia gunakan. Karena musim hujan, jadi Angga lebih sering menggunakan mobilnya.


Mobil dan motor milik Angga adalah sepenuhnya hasil usaha Angga selama ini. Cukup mapan untuk orang seusia Angga.


"Wih, pagi-pagi udah ngeluarin motor aja. Mau kemana, nih?" Tanya Anggi yang sudah berdiri di teras rumah sambil menggendong si kecil Aufar.


"Mbak kepo benget, sih," jawab Angga sambil tersenyum tipis.


"Jelas kepo. Ini masih jam setengah 6 dan kamu sudah rapi begini. Mbak jadi curiga, kamu mau ngapel ya pagi-pagi begini?"


"Tepat sekali tebakan Mbak Anggi ini."


"Whattt!!??" Anggi memekik kencang. "Serius mau ngapel? Udah punya pacar? Orang mana? Kenapa enggak dikenalin ke Mbak?" Anggi mencercanya dengan berbagai pertanyaan.

__ADS_1


Angga yang mendengarnya hanya bisa menghembuskan napas kesal. Seperti ini yang membuat Angga terkadang tak ingin bercerita apapun tentang apa yang ia rasakan. Kakaknya itu terlalu ingin tahu tentang kehidupannya.


"Bunda ngapain sih pagi-pagi udah teriak-teriak begitu?" Tanya Damar yang baru saja keluar dari dalam rumah.


"Ini Mas, si Angga ternyata udah punya pacar. Pantas saja semalam__"


"Angga sudah punya pacar?" Ucapan Anggi terputus oleh pertanyaan Rajiman yang juga keluar dari dalam rumah.


Baik Angga, Anggi maupun Damar hanya saling berpandangan tak berani menjawab. Tatapan Angga pada Anggi seolah ingin menelan Anggi hidup-hidup karena tidak bisa menjaga mulutnya yang terlalu ceplas-ceplos.


"Benar, Angga?" Rajiman mencoba menginterogasi. Angga menggaruk kepalanya yang tak gatal. Merasa bingung harus jujur atau tidak.


"Siapapun pacar kamu, Bapak nggak setuju!" Ucap Rajiman penuh penekanan lalu pergi meninggalkan mereka bertiga untuk masuk ke dalam rumah.


"Mbak, sih, mulutnya ember banget!" Sungut Angga tak suka.


"I'm so sorry, Angga.." Anggi meminta maaf dengan tatapan mata memelas. Menyesal karena tidak bisa menjaga mulutnya.


***


Tanpa bergabung dengan keluarganya untuk sarapan bersama, Angga berangkat untuk menjemput Hana.


Angga hanya membutuhkan waktu dua puluh menit dengan kecepatan tinggi untuk sampai di rumah Hana. Tepat pukul 6, Angga sudah berada didepan rumah Hana.


Hana yang sengaja menunggu kedatangan Angga didepan membulatkan matanya melihat Angga yang datang dengan motor besarnya.


Senyum Angga tak pernah luntur meskipun dirinya belum juga turun dari atas motor.


Bukan senyum dari Hana yang Angga dapatkan, justru tatapan protes yang Angga terima. Hana berjalan mendekati Angga yang masih duduk diatas motor.



"Mas Angga serius mau boncengin Hana pakai motor ini?" Tanya Hana.


"Iya, sayang. Sudah pakai sepatu dulu aja. Mas mau ketemu Pak Anang sama Bu Widia dulu."


"Hana nggak mau pakai motor Mas Angga," Hana menggeleng kuat. Membuat Angga heran melihatnya.


"Kenapa?" Tanya Angga kemudian.


"Ini motor tinggi banget, Mas. Hana pakai rok kalau Mas Angga lupa. Hana nggak mau! Pakai motor Hana aja."


Hana berlalu. Angga di buat melongo dengan ucapan Hana. Biasanya para gadis diluar sana akan senang kalau dibonceng dengan motor seperti motor Angga. Tapi Hana tidak. Hana malah menyuruhnya untuk memakai motor Hana yang berjenis motor matic.


Kedua orangtua Hana menyambutnya dengan ramah. Sambil menunggu Hana yang sedang bersiap-siap, Angga berbincang sebentar dengan kedua orangtua Hana.


Saling bertanya kabar, dan bertanya bagaimana pekerjaan Angga yang baru.


Setelah perdebatan alot antara Angga dan Hana yang masih saja membahas soal motor, akhirnya Hana menurut saja saat Angga mengajaknya naik ke motor Angga. Dengan perjanjian bahwa hanya sekali saja Hana akan menaiki motor tersebut.


"Pa, Mama kok jadi khawatir ya sama mereka," ucap Widia pelan setelah motor Angga tak terlihat lagi.


"Khawatir yang bagaimana, Ma?" Tanya Anang yang tak mengerti dengan ucapan istrinya.


"Mama takut mereka kebablasan," jawab Widia pelan.


Anang sendiri sebenarnya juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh istrinya. Sepertinya Anang dan Widia harus melakukan sesuatu.


🌹🌹🌹


Maaf kalau cerita ini nggak sesuai dengan harapan kalian. Setiap cerita memang harus ada konfliknya, entah itu berat atau ringan.


Begitu juga dengan cerita Angga dan Hana ini. Kalau ada yang merasa bosan, boleh ditinggalkan. Kalau masih ada yang penasaran, saya ucapkan banyak terimakasih. πŸ€—πŸ˜˜

__ADS_1


Semoga tetap sabar menunggu updatenya. πŸ€—πŸ€—


__ADS_2