
POV : ANGGA
"Kedipin itu mata, Ga. Hana emang cantik."
Aku kembali memfokuskan perhatianku pada mangkuk baksoku. Hanya pura-pura fokus sebenarnya. Sebab pikiranku memang tertuju pada Hana. Dan aku tak ingin Satria mengetahuinya.
Ku dengar Satria terkekeh geli melihatku yang salah tingkah. Ku layangkan tatapan tajam ku ke arahnya. Tapi Satria justru semakin menggodaku.
"Dia jalan ke kedai mbak Siti, tuh," tunjuknya dengan mengangkat sedikit dagunya.
Aku tak menoleh untuk melihat Hana. Tak ingin Satria semakin gencar menggodaku.
"Mbak, bakso dua, mie ayam satu, ya? Minumnya es jeruk tiga," ku dengar Hana memesan makanan pada mbak Siti. Mbak Siti pun mengiyakan.
"Duduk disini saja, Hana!"
Tiba-tiba Satria menawarkan tempat duduk pada Hana. Dasar Satria! Kurang kerjaan, memang.
"Terimakasih, Pak." Jawab Hana. Kini, suaranya lebih renyah dan lebih santun dibanding dengan caranya berbicara denganku tadi.
"Katanya tadi pingsan, ya? Sudah baikan?" Tanya Satria sok perhatian.
Aku jadi punya pikiran untuk membalasnya yang sudah membeda-bedakan caranya berbicara kepadaku dan kepada Satria.
"Orang pingsannya karena kelaparan kalau sudah makan pasti juga sudah sehat lagi," ujarku sarkasme.
Ku yakin wajahnya sudah memerah menahan amarah. Tapi aku sama sekali tak peduli, bahkan aku tak melihatnya. Kulihat Satria yang memberi kode kepadaku melalui lirikan matanya yang melirik Hana.
Mungkin bermaksud untuk memberitahuku bahwa Hana memandangku tajam.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Pak, sudah lebih baik. Kan CU-MA KE-LA-PAR-AN , Pak." Ucapnya penuh penekanan pada kata 'cuma kelaparan'.
Tak lama setelah itu, mbak Siti menyerahkan pesanannya. Langsung saja Hana pergi setelah berpamitan pada Satria. Tapi tidak padaku.
Kurang asem! Sepertinya Hana akan memulai peperangan ini.
"Tega banget kamu, Ga. Sama murid kok gitu banget. Cewek lagi. Kalau cowok, sih, nggak masalah. Mereka bisa tahan dimarahin dan dihukum gimanapun. Tapi ini cewek, Ga. Walaupun kita harus tegas, tapi juga tidak sampai segitunya," ucap Satria panjang menasehatiku.
Aku diam, tapi aku juga berpikir. Apa memang aku sudah keterlaluan selama ini? Terlalu dingin dan galak.
Enam bulan mengajar disini, baru Hana yang berani meninggikan suaranya didepan ku. Yang lainnya, aku lewat saja sudah seperti cacing kepanasan dan mencari perhatian. Cara bicara mereka pun juga menjadi seperti bubur ketika berbicara denganku. Lembek.
Cuma Hana yang tak pernah mencari perhatianku. Dan aku baru menyadarinya.
🌺🌺🌺
"Guru itu di gugu lan ditiru, Le. Artinya setiap apa yang kamu nasehatkan kepada murid-muridmu pasti akan didengarkan. Dan apa yang kamu lakukan pasti akan ditiru oleh mereka. Apalagi anak-anak itu cenderung melihat apa yang orangtua atau guru lakukan daripada melakukan apa yang mereka nasehatkan. Jadi jangan heran kalau banyak murid yang dinasehati jangan terlambat sekolah tapi mereka malah berbalik menjawab "pak guru saja terlambat masak kita ndak boleh terlambat?" Atau saat dinasehati orangtuanya untuk tidak merokok, tapi setiap hari melihat ayahnya merokok. Dalam pikiran mereka pasti juga sama. "Ayah saja merokok kenapa aku tidak boleh?"
Aku teringat nasehat ibu waktu itu. Beliau memang tidak tahu bagaimana aku ketika disekolah. Tapi sepertinya beliau sudah merasa bagaimana anaknya ini. Ikatan ibu dan anak memang begitu kuat.
Mungkin, sikapku saat disekolah memang sudah keterlaluan. Sampai tak ada satupun murid yang dekat denganku. Sedangkan Satria, begitu mudahnya murid-murid mengakrabkan diri kepada Satria. Entah itu perempuan atau laki-laki.
Aku yang juga sebagai guru BP, harus bisa memiliki pembawaan yang tegas. Agar murid yang melanggar bisa jera dengan berbagai ketegangan yang ku miliki.
Sebenarnya bukan hanya karena aku guru BP. Tapi.. ah sudahlah. Tak perlu ku ungkap apa alasanku.
"Jomblo mah gitu, ya? Galau. Haha," mbak Anggi, kakak pertamaku. Seenaknya saja masuk ke kamarku tanpa mengetuk. Dia memang seperti itu. Usil. Berbeda dengan mbak Anggun, kakak keduaku.
"Mbak itu rese banget, deh. Bisa enggak, sih, kalau masuk ke kamar orang itu ketuk pintu dulu. Emang mbak enggak malu apa kalau tiba-tiba mbak masuk terus lihat aku enggak pakai baju," gerutuku panjang lebar.
__ADS_1
"Jijik banget ngomongnya," aku tertawa melihat ekspresi mbak Anggi yang saat ini berkacak pinggang berdiri dan bersandar pada pintu yang terbuka.
"Ngapain kesini? Kesepian dirumah? Kasian, deh." Tanyaku ketus setengah mengejeknya. Suami mbak Anggi adalah seorang dokter. Kalau malam-malam mbak Anggi ada disini, berarti suaminya sedang dinas.
"Biarin. Yang penting pas kesepian bisa kangen-kangenan lewat hp. Daripada situ, jomblo, kalau kesepian ya gitu. Cuma bisa meluk guling. Wlee,"
Ku yakin mbak Anggi menjulurkan lidahnya mengejekku. Saat ini aku memang sedang berbaring di atas ranjang memunggungi mbak Anggi. Dan benar, sedang memeluk guling.
Kesepian? Tidak. Aku begitu menikmati kesendirianku. Belum terpikir olehku untuk mencari pacar bahkan pendamping hidup. Apalagi usiaku yang masih dua puluh tiga tahun. Masih banyak yang ingin aku capai. Kuliah S2, apalagi saat ini aku sedang merintis usaha dengan menyewa sebuah distro dan akan segera membuka cabang yang kedua. Bagiku, begini lebih nyaman. Tidak ribet dengan urusan pacar.
Ribet.
Ribet dengan harus terus memberi kabar. Ribet kalau di cemburui. Ribet kalau ada yang melarang ini itu. Lebih baik begini, sendiri sampai ada yang cocok untuk langsung dijadikan istri.
"Usaha kamu gimana, Ga?" Tanyanya setelah lama kami terdiam.
"Alhamdulillah, Mbak. Lancar. Insyaallah bentar lagi buka cabang," jawabku sambil bangun dari tidur dan menghadap ke mbak Anggi yang saat ini sudah duduk di bibir ranjangku sambil memainkan hp.
"Bagus, deh. Udah dapat kiosnya?"
Aku mengangguk.
"Daerah mana?"
"Belakang UNS."
"Strategis, tuh." Mbak Anggi berbinar mendengar jawabanku.
"Strategis buat cari pacar," bisiknya ditelingaku dan langsung berlari keluar kamarku.
__ADS_1
"MBAK ANGGI!!!"