
Kemarin ada yang bilang, "kok end sih?", "kok endingnya nggak seru," dll. itu pasti karena pada nggak baca sampai paling bawah ya.. ππ
Hana dan Angga belum berakhir yaa.. belum.. pokoknya belum. ππ
Di part ini Hana nggak tampil dulu, ya..
Happy Reading.. π€π€
Angga menatap sedih Hana yang sudah berlalu pergi dengan mengendarai motornya. Benar kata pepatah, bahwa kepercayaan itu ibarat sebuah kaca. Ketika kita memecahkannya, kaca itu tidak akan bisa disatukan kembali. Sekalipun bisa, bentuknya tak akan sempurna seperti sediakala.
Angga paham, sangat paham bahwa kekecewaan yang Hana rasakan sudah cukup dalam. Ini salahnya, salahnya yang tak bisa tegas dengan pilihannya sendiri. Kini Angga harus terima kenyataan bahwa ia harus kehilangan Hana. Kehilangan sesosok yang selama ini telah banyak berkorban untuk memperjuangkan hubungan mereka.
***
Demi memperjuangkan hubungannya dengan Hana, Angga memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Rajiman. Mengatakan bahwa dirinya tak bisa lagi melanjutkan pertunangannya dengan Devina atau Rumi.
"Jadi apa yang mau kamu bicarakan?" Tanya Rajiman memecah keheningan.
Berkali-kali Angga menarik napas kemudian menghembuskannya pelan untuk meredakan kegugupannya. Ada sedikit rasa takut disana. Tapi ini semua demi hubungannya dengan Hana. Semoga perjuangannya belum terlambat.
"Angga mau membatalkan pertunangan Angga dengan Rumi, Pak," ucap Angga tegas.
Hal itu tentu saja membuat Rajiman begitu terkejut. Matanya memerah dan rahangnya mengeras mendengar ucapan Angga.
"Apa maksud kamu!?" Tanya Rajiman dengan suara tertahan.
"Seperti yang sudah Angga katakan. Angga akan memutuskan pertunangan Angga dengan Rumi. Angga mencintai perempuan lain."
Plak!!
Satu tamparan keras mendarat sempurna di pipi kanan Angga. Namun Angga tak melawan. Ia sadar ini adalah resiko dari keputusan yang telah ia ambil.
"Sabar, Pak," Ningsih mencoba menenangkan Rajiman. "Kita bicara baik-baik. Bapak duduk dulu."
"Ini akibatnya karena kamu terlalu sering membela Angga. Dia jadi anak yang kurang ajar dan tak mau menuruti orangtuanya," bentak Rajiman pada Ningsih.
"Berhenti menyalahkan ibu, Pak. Ibu nggak salah," Angga mencoba membela.
"Diam kamu!"
"Kali ini aku nggak akan diam, Pak. Berhenti menyalahkan orang lain dan cobalah bapak instrospeksi diri. Jangan setiap kesalahan selalu bapak limpahkan kepada ibu."
Rajiman menatap tajam mata Angga. Merasa tak terima dengan apa yang telah Angga ucapkan atas dirinya.
"Jangan egois, Pak. Tidak semua yang bapak inginkan itu bisa bapak wujudkan. Jangan bapak pikir aku nggak tahu kalau selama ini bapak selalu melimpahkan kemarahan bapak kepada ibu." Angga melanjutkan ucapannya.
Rajiman mendelik ke arah Angga. "Jaga mulut kamu! Kamu tidak tahu apa-apa. Jangan jadi anak yang lupa balas budi. Kalau tidak ada keluarga mereka, mungkin kamu sudah tidak ada lagi di dunia ini."
"Angga tidak akan pernah lupa dengan hal itu, Pak. Tapi bukan berarti kita membalasnya dengan mengorbankan perasaan Angga. Berbalas budi tidak harus dengan perjodohan, bukan? Angga sudah menurut saat bapak minta Angga untuk bekerja di bawah pimpinan Pak Ratno. Padahal Angga sudah punya pekerjaan sendiri. Apa itu masih kurang?"
"Ini semua demi kebahagiaan kamu!" Rajiman masih saja tak mau mengalah.
"Kebahagian Angga atau kebahagiaan bapak?" Ucap Angga sarkasme.
"Sudah. Sudah, Le.. Nurut apa kata bapakmu!" Ningsih berucap di sela tangisnya. Mencoba melerai perdebatan antara anak dan ayah itu.
Angga menggeleng pelan. "Enggak, Bu. Maaf, Angga nggak akan nurut kali ini. Angga akan tetap membatalkan pertunangan Angga dengan Rumi."
__ADS_1
"Kalau kamu berani melakukan itu, maka jangan sekali-kali kamu menginjakkan kaki kamu dirumah ini lagi," Rajiman mencoba mengancam Angga.
"Baik. Angga tidak akan menginjakkan kaki Angga dirumah ini lagi kalau itu yang bapak mau."
Rajiman menatap tak percaya kepada Angga. Tak menyangka bahwa Angga akan melawan kemauannya. Baru kali ini Angga berani menentang perintahnya.
Angga berlutut di depan Ningsih dan menggenggam erat kedua tangan perempuan yang paling berjasa dalam hidupnya yang kini sedang menangis tersedu.
"Maafkan Angga, Bu. Angga harus pergi," ucap Angga sambil mencium kedua tangan Ningsih. Tak ada yang mampu Ningsih ucapkan selain berdoa dalam hati semoga Angga baik-baik saja dan bisa mendapatkan kebahagiaannya.
Sejujurnya, sebagai ibu, Ningsih tak bisa melihat Angga begitu tertekan karena harus menuruti keinginan Rajiman.
Ningsih sependapat dengan Angga. Berbalas budi tidak harus dengan mengorbankan perasaan. Ucapan terimakasih dan silaturahmi yang baik Ningsih pikir itu sudah cukup.
"Angga pamit, Bu. Doakan Angga! Ibu jaga diri baik-baik, ya?" Ucap Angga yang di balas anggukan kuat oleh Ningsih.
Ningsih melepas kepergian Angga dengan tangisnya. Sejujurnya Angga tak tega meninggalkan Ningsih dalam keadaan seperti ini. Angga takut kalau Rajiman akan berbuat kasar kepada Ningsih setelah kepergiannya.
***
Tampar tujuan Angga setelahnya adalah rumah Rumi. Ia akan membatalkan pertunangannya dengan Rumi segera.
Langkah Angga terhenti didepan pintu rumah Rumi saat mendengar percakapan antara Rumi dan Denis.
"Jadi Hana benar-benar sudah putus sama Angga?" Rumi bertanya pada Denis.
"Udah, kak. Aku lihat sendiri mereka berantem di parkiran sekolah waktu perpisahan kemarin."
"Bagus, deh. Jadi kakak nggak perlu susah-susah nyingkirin cewek yang deket sama Angga. Akting aku bagus kan selama ini? Hana sampai nggak curiga apapun, loh. Padahal aku udah tau hubungan dia sama Angga pas aku ngangkat teleponnya dia lewat HP-nya Angga. Secara nama dia di hp Angga ditulis my Hana."
"Tapi sama aja, kak. Aku nggak bisa deketin Hana. Dia malah marah sama aku gara-gara aku nutupin hubungan kakak sama Pak Angga," keluh Denis.
"Ya ampun, Nis. Cewek nggak cuma Hana kali. Kamu sabar aja! Suatu saat pasti Hana maafin kamu, kok."
"Gimana mau dapat maaf dari Hana kalau sekarang aja nomor Hana udah nggak aktif?"
"Udah, nggak usah dipikirin. Yang penting sekarang aku seneng karena Angga udah balik lagi sama aku. Nggak sia-sia aku mengungkit pengorbanan aku di masa lalu di depan Pakde Ratno biar aku bisa dijodohkan dengan Angga. Kalau nggak begitu, mana mungkin Angga mau tunangan sama aku?" ucap Rumi dengan bangganya.
Cukup! Angga tak tahan lagi. Ternyata Denis dan Rumi yang berada di balik semua ini.
"Jadi kalian yang berada di balik semua ini?" Angga meninggikan suaranya. Tak peduli ia sedang berada di rumah siapa. Tak peduli lagi dengan sopan santun dalam bertamu.
"Eh? Ang.. Angga?"
"Pak Angga?" Denis dan Rumi gelagapan.
"Aku pikir kamu sudah berubah, Rumi. Ternyata jauh lebih buruk. Jilbab yang kamu pakai ternyata tak mampu merubah betapa busuknya hati kamu! Harusnya kamu malu!" Ucap Angga dengan penuh penekanan.
"Dan kamu Denis! Saya tidak menyangka bahwa kamu bisa melakukan ini pada Hana. Salah apa Hana sama kamu? Karena kamu di tolak? Harusnya kamu paham bahwa hati, cinta dan perasaan itu tidak bisa dipaksakan."
"Angga aku bisa jelaskan semuanya..."
"Nggak perlu!" Sahut Angga cepat sebelum Rumi menyelesaikan ucapannya. "Semua sudah jelas. Dan akan aku perjelas lagi, bahwa pertunangan kita cukup sampai disini!" Lanjut Angga.
Rumi menggelengkan kepalanya kuat sambil meneteskan air mata. "Enggak, Ga. Jangan lakukan itu! Aku sayang sama kamu, Ga. Tolong jangan putuskan pertunangan kita."
"Keputusanku sudah bulat. Pertunangan kita batal!" Sekali lagi Angga menekankan pada Rumi sebelum akhirnya Angga pergi meninggalkan rumah Rumi.
__ADS_1
***
Alangkah bahagianya hati Angga saat mendapati nomornya tak lagi di blokir oleh Hana. Namun sayangnya, kebahagiaannya sirna begitu saja saat nomor Hana tak lagi aktif bahkan sampai seminggu setelah nomornya tak lagi di blokir.
"Mas Angga?" Panggil Rena, salah satu pegawainya di distro. Menghentikan langkahnya yang akan memasuki ruangannya.
"Ya, Ren?"
"Ada paketan," ucap Rena sambil mengambil kardus besar yang ia letakkan di bawah meja kasir.
Angga mengernyitkan keningnya. Berpikir siapakah pengirim paket sebesar itu.
"Dari Mbak Hana."
Deg! Hati Angga terasa di hantam dengan sebuah batu. Ucapan Hana tak main-main. Hana benar-benar mengembalikan barang-barang yang pernah ia berikan.
"Makasih, ya, Ren," ucap Angga sambil mengambil kardus tersebut dan membawanya masuk ke dalam ruangannya.
Angga membuka kardus itu dengan tidak sabar. Matanya terbelalak saat melihat semua yang pernah ia berikan pada Hana berada didalam kardus tersebut. Tak satupun yang terlewat. Kecuali beberapa buket bunga yang mungkin sudah layu dan Hana telah membuangnya.
Angga terduduk lemas di kursinya. Apakah sekarang ia benar-benar kehilangan Hana?
Kling...
Satu pesan WhatsApp masuk ke ponsel Angga. Dari Karina.
Karina : "Assalamualaikum, Pak. Maaf ganggu waktunya. Apa bapak tahu dimana Hana sekarang? Ponselnya tidak aktif, saya sudah ke rumahnya dan kata tetangganya rumahnya kosong sejak seminggu yang lalu."
Pikiran Angga tak tenang membaca sederet pesan dari Karina. Angga terus bertanya dalam hati dimana Hana dan keluarganya sekarang.
Berkali-kali juga Angga mencoba menghubungi Ikhsan, tetapi Ikhsan tak juga mengangkat telepon dari Angga. Bahkan pesannya tak satupun yang di balas oleh Ikhsan meskipun Ikhsan telah membacanya.
"Kamu dimana, Hana?"
***
Keberadaan Hana yang entah dimana membuat pikiran Angga benar-benar kalut. Namun, meskipun begitu Angga tetap melakukan perjalanan dari Karanganyar menuju Wonogiri. Angga sudah memutuskan untuk resign dari kantor Ratno dan akan fokus pada usahanya sendiri.
"Maafkan saya, Pak. Saya benar-benar tidak bisa melanjutkan hubungan saya dengan Rumi."
Ratno menghela napas pelan. Sejak awal sebenarnya Ratno sudah melihat ada keterpaksaan di wajah Angga. Ratno paham betul, seusia Angga sudah pasti memiliki pilihan sendiri untuk masa depannya. Termasuk dalam masalah jodoh.
Semua ini tidak akan Ratno lakukan kalau bukan karena desakan Rumi dan betapa antusiasnya Rajiman saat pertama kali Ratno mengatakan bahwa ia ingin menjodohkan Rumi dengan Angga.
"Tapi apa Nak Angga juga harus mengundurkan diri dari sini? Bapak sangat menyayangkan sekali," ada nada kecewa di setiap ucapan Ratno. Ratno akui bahwa kinerja Angga sangatlah bagus.
"Maaf, Pak. Saya mau fokus pada usaha saya sendiri," ucap Angga dengan rasa bersalahnya.
Ratno mengangguk maklum. Ia juga tak bisa memaksa Angga untuk tetap bekerja dengannya.
"Hati-hati, ya? Semoga usaha kamu lancar," ucap Ratno sebelum Angga meninggalkan kantor untuk kembali ke Karanganyar.
Angga tersenyum dan mengucapkan banyak terimakasih atas kebaikan yang telah keluarga Ratno lakukan untuk dirinya dan keluarganya.
Hati Angga sekarang terasa lebih lega. Beban yang selama ini ia tanggung terangkat sudah. Fokus Angga sekarang hanyalah untuk mencari dimana keberadaan Hana.
"Semoga masih ada kesempatan."
__ADS_1