Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 12


__ADS_3

POV : ANGGA


"Bapak mau ngapain!?" Teriaknya meskipun tak begitu keras seolah dia takut kalau ada yang mendengarnya selain aku.


"Tunggu, Hana," Ucapku pelan untuk mencegahnya pergi. Hana begitu terlihat kalau dia sengaja menghindar dariku.


"Saya minta maaf. Gara-gara saya, kaki kamu terkilir. Sudah baikan?" Hana diam tak menanggapi ucapanku. Hana seperti enggan berbicara denganku.


"Na.." panggilku putus asa.


"Saya sudah baikan, Pak. Anggap saja kemarin itu kecelakaan. Jadi Pak Angga tidak perlu menyalahkan diri Bapak sendiri. Saya permisi." Jawabnya sedikit ketus lalu pergi begitu saja.


Baiklah. Aku tak lagi menahannya. Mungkin dia butuh waktu untuk memaafkan aku.


Aku akui aku memang bersalah. Membedakan dirinya dengan yang lain. Tapi aku juga tidak mungkin mengakui semuanya didepan Hana kalau aku melakukan itu semua hanya demi agar bisa melihatnya lebih lama, melihatnya marah-marah, melihatnya mengerucutkan bibirnya manja. Aku terlalu gengsi untuk mengakuinya.


"Cewek kegenitan! Habis ngapain berduaan sama Pak Angga digudang!?"


Sebuah suara tertangkap oleh telingaku dan berhasil menghentikan langkahku saat aku mulai melangkahkan kakiku untuk meninggalkan gudang.


"Siapa yang berduaan?"


Itu suara Hana. Dengan siapa Hana berbicara?


Ku hampiri asal suara yang membuatku begitu penasaran. Aku sedikit mengintipnya, ingin lebih tahu lagi apa yang akan dikatakan orang itu selanjutnya.


"Kamu pikir aku enggak liat kamu tadi berduaan sama Pak Angga? Ngaku kamu habis ngapain? Atau kalau enggak aku aduin kamu sama Pak Angga ke Pak kepsek."


Dia mengancam Hana akan melaporkan aku dan Hana ke kepsek. Ini bisa jadi masalah besar.


"Kamu tanya aja sendiri sama Pak Angga. Tadi aku cuma mau ke toilet. Enggak sengaja juga ketemu sama Pak Angga." Jawab Hana sinis.


"Alaah.. enggak usah ngeles kamu. Kamu sengaja kan.."


"Cukup Vera!!" Gertakku keras tak tahan mendengar tuduhan yang Vera tujukan pada Hana. Tentu saja itu membuat mereka terkejut. Pasti mereka tak menyangka kalau aku masih berada disini.


"Eh? P.. Pak Angga?" Ucap Vera terbata. Tatapan matanya tak setajam ketika menatap Hana. Lebih ke tatapan cari perhatian. Sedangkan Hana justru memalingkan wajahnya tak ingin melihatku.


"Lain kali jangan suka menuduh orang sembarangan. Cari dulu kebenarannya. Tadi saya hanya ingin mengecek kelengkapan alat olahraga di gudang. Tidak sengaja bertemu Hana yang akan pergi ke toilet. Paham kamu!?" Jelasku padanya. "Lagian kamu ngapain disini? Sudah ujian? Sudah pasti nilainya bagus? Sudah sana belajar! Biar nilainya bagus dan tidak hanya pintar mencari kesalahan orang lain." Lanjut ku dengan ucapan yang begitu menohok.


"I..iya, Pak. Saya permisi." Vera tersenyum canggung. Tak lama setelahnya Vera pergi meninggalkan aku dan Hana.


"Permisi, Pak. Dan terimakasih atas pembelaannya," tak lama kemudian, Hana juga berpamitan.


🌺🌺🌺


Ujian untuk sekolah SMA Harapan Bangsa telah usai. Baik ujian tertulis maupun ujian praktek. Kini, para siswa sedang melaksanakan class meeting atau masa jeda sambil menunggu hasil ujian mereka.


Sesuai yang telah dirapatkan para anggota OSIS sebelum ujian kemarin, class meeting ini akan diisi dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Seperti lomba basket, lomba voly, lomba futsal, lomba memasak untuk para siswi antar kelas.


Tugasku untuk merekap nilai pun sudah selesai. Jadi aku bisa mengawasi kegiatan mereka meskipun hanya dari atas balkon.


Jantungku berdebar kencang saat pandanganku tak sengaja bertatapan dengan Hana yang sedang duduk di bawah sana.


"Lagi ngeliat yang main basket apa yang nonton basket, Ga?" Suara Satria sontak membuatku cepat-cepat mengalihkan pandangan.


"Apaan, sih, Sat?" Kilahku cepat tak ingin membuat Satria semakin menggodaku. Satria tertawa terbahak.


"Berisik kamu!"


Bukannya berhenti, Satria justru semakin terbahak sampai membuat orang-orang yang berada di bawah sana mendongak melihat ke atas ke arah kami.

__ADS_1


Sepertinya hanya aku yang merasa malu, tetapi tidak dengan Satria. Dasar!


"Hana cantik, ya?" Celetuknya tiba-tiba.


"Ingat Rissa, Sat. Udah mau nikah kok masih bisa bilang cewek lain cantik. Murid sendiri lagi," tegurku padanya.


"Namanya perempuan itu semuanya cantik, Ga. Jangan sensi gitu, dong. Haha," dia tertawa lagi.


"Suka sama murid sendiri boleh, kok, Ga," aku mendelik mendengar ucapannya. Dan, setelahnya dia membisikkan beberapa kata yang membuatku begitu ingin menjepit mulutnya dengan jepitan jemuran. "Tapi belum bisa dinikahin. Masih kelas sebelas. Masih kecil," setelahnya, Satria langsung berlari kembali masuk ke kantor dan duduk di kursinya. Sikapnya dibuat seolah tak terjadi apa-apa sehingga tak membuat guru-guru yang lain curiga.


Satria hanya melirik ke arahku yang sedang berjalan menuju mejaku sambil mengedipkan sebelah matanya. Menjijikkan.


🌺🌺🌺


"Assalamualaikum," ucapku sambil membuka pintu rumah.


"Waalaikumsalam," suara Bapak menjawab salamku terdengar dari ruang makan.


"Sudah pulang, Ga?" Tanya Bapak.


"Sudah, Pak."


"Bersih-bersih dulu, habis itu makan siang," perintah ibu.


"Iya, Bu."


🌺🌺🌺


"Bagaimana disekolah, Ga?" Tanya Bapak setelah aku duduk dan bersiap untuk makan.


"Alhamdulillah lancar, Pak. Sabtu nanti ada penerimaan raport, habis itu liburan panjang," jelasku yang membuat Bapak mengangguk-angguk dan tersenyum.


"Dua minggu lagi insyaallah akan ada opening untuk cabang."


"Alhamdulillah," ucap Bapak sambil tersenyum bangga.


"Lalu rencana kamu buat ambil S2 gimana, Ga?" Kini giliran ibu yang bertanya.


"Belum kepikiran lagi, sih, Bu. Nanti Angga pikirkan lagi."


Ku lihat Bapak dan ibu saling bertatapan. Mereka seolah berbicara dari mata ke mata. Seolah ada hal serius yang ingin mereka katakan.


"Kamu makan dulu. Bapak sama ibu mau bicara sebentar. Kami tunggu di ruang keluarga, ya?" Ucap ibu pada akhirnya.


"Iya, Bu." Aku tak ambil pusing dan kembali melanjutkan acara makanku yang sempat tertunda.


🌺🌺🌺


Aku duduk di kursi depan meja kerjaku dengan laptop yang menyala di depanku namun tak sedikitpun mendapatkan perhatian dariku.


Otakku ini tiba-tiba buntu begitu saja kalau sudah menyangkut dengan permintaan Bapak dan ibu. Meskipun aku tak mau ambil pusing, tetap saja hal itu tak mau beranjak dari pikiranku.


Belum lagi soal Hana, gadis itu semakin hari semakin cuek kepadaku. Pernah kami bertemu saat Hana datang ke kantor sekolah untuk mencari salah satu guru yang ternyata sedang tidak berada di tempat. Saat itu hanya ada aku dan Satria.


Kalian tahu? Hana hanya berbicara pada Satria dan tanpa menoleh ke arahku sedikitpun. Begitupun saat berpamitan, Hana hanya melihatku sekilas tanpa mengucapkan permisi.


Hal itu sukses membuatku melongo keheranan. Belum lagi Satria yang kemudian menertawakanku habis-habisan karena sikap Hana yang cuek kepadaku.


Aahh.. Gadis itu.


Kembali lagi dengan permintaan kedua orangtuaku.

__ADS_1


Sebagai anak, aku selalu bisa menuruti apa yang kedua orangtuaku inginkan. Mereka ingin aku bisa masuk sekolah favorit, aku berusaha mewujudkannya dengan cara belajar semaksimal mungkin agar nilai ku bagus dan bisa lolos tes masuk ke sekolah favorit.


Mulai masuk masa kuliah, aku harus rela meredam cita-citaku sendiri hanya karena orangtuaku tak mengijinkannya. Mereka kembali mengarahkan aku untuk kelak menjadi guru, mengikuti jejak Bapak yang kini menjabat sebagai kepala sekolah di salah satu sekolah menengah pertama di Karanganyar.


Tapi entah kenapa, rasanya aku sulit untuk mewujudkan keinginan mereka yang satu ini. Bukan aku tak mau lagi menuruti keinginan mereka. Hanya saja untuk kali ini aku tak ingin ada campur tangan orang lain dalam menentukannya. Maksudku, biarlah hal itu menjadi keputusanku sendiri.


Triiiiing...


Mba Anggun's calling..


Ku geser keatas tombol warna hijau untuk menerima panggilan dari mba Anggun.


"Anggaaaaa!!" Teriakannya yang begitu memekakkan telinga yang pertama ku dengar sampai membuatku sedikit menjauhkan handphone ku dari telinga. Khawatir gendang telingaku pecah karena mendengar suara cempreng mbak Anggun.


"Salam dulu, mbak. Jangan teriak-teriak. Suara cempreng begitu bikin kuping aku jebol nanti," ucapku ketus tapi mbak Anggun malah terkekeh pelan di seberang sana tanpa tersinggung dengan ucapanku.


"Hihi.. Assalamualaikum adik mbak yang judesnya enggak ilang-ilang. Kurang-kurangin tuh judes biar cepet dapat cewek," aku memutar bola mata jengah.


"Waalaikumsalam mbakku yang cantik tapi cempreng," jawabku sedikit terpaksa.


Aku sempat bilang bukan, kalau kedua kakakku itu berbeda? Kalau mbak Anggi lebih ke usil dan suka ceplas-ceplos, kalau mbak Anggun lebih ke kalem, manja, tapi juga cerewet kalau sudah kenal dekat.


Tapi satu hal yang sama dari mereka. Mereka selalu kompak dalam hal menyuruhku mencari pacar atau pendamping hidup. Ck, terkadang aku ingin menukar mereka berdua dengan manekin yang ada di butik-butik. Aish, bisa-bisa aku dikutuk jadi batu oleh ibu kalau sampai hal itu aku lakukan.


"Angga.. Liburan ke Bandung, yaa??" Pintanya dengan manja.


Ya, mbak Anggun memang tinggal di Bandung bersama suaminya, Mas Erwin, yang merupakan seorang polisi.


"Angga sibuk, mbak. Persiapan buka cabang,"


"Yahh.." suaranya terdengar putus asa. Tak lama kemudian..


"Hiks.. hiks.." mbak Anggun menangis. Drama apalagi ya Allah?


"Eh? Gitu aja kok nangis, sih, mbak? Malu sama umur. Haha,"


"Jahat, kamu. Hiks.. hiks.. padahal kan ada yang lagi pengen ketemu omnya,"


"Maksud mbak apa? Pengen ketemu? Omnya? Maksudnya apa coba?" Tanyaku bingung.


"Ihh, sebel. Kasian banget anak aku punya om yang pinter tapi lemot. Enggak peka sama sekali,"


"Maksud mbak apa, sih?"


"Mbak hamil, Angga. Mbak kangen sama kamu, mbak pengen ketemu sama kamu. Anak mbak pengen di elus-elus sama kamu. Mbak enggak mau tau, liburan kamu harus kesini. Enggak mau tau pokoknya."


"Tapi... Mbak? Halo? Mbak Anggun?"


Kulihat telepon sudah dimatikan. Aku memijat pangkal hidungku sambil memejamkan mata. Baiklah, drama queen sedang beraksi. Apa maunya harus dituruti.


🌺🌺🌺


***udah panjang banget part'nya 😁 ini part terpanjang. Alhamdulillah πŸ˜…


btw, permintaan orangtua Angga apa ya?


terus jadinya Angga pergi ke Bandung apa enggak? 😁


terimakasih banyak buat yang udah setia nunggu update ceritaku.


jangan lupa like, vote , dan krisannya ya.. πŸ€—πŸ€—***

__ADS_1


__ADS_2