Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia : Merindukan Ayah dan Ibu


__ADS_3

SELAMAT DATANG!


***


Di sinilah mereka sekarang berada, di ruang perawatan, ruang di mana nyonya besar Yudhiantara atau ibu Andra dan Ariana di rawat.


Ruangan ini berada di lantai bawah tanah rumah besar milik keluarga Yudhiantara. Sebelumnya ruangan itu berada di lantai dua rumah besar.


Namun, demi keselamatan mamanya yang sekarang sedang terbaring lemah, Andra pun memindahkan ruang perawatan ke ruang bawah tanah.


Karena bisa saja sewaktu-waktu musuh dari dunia gelapnya menyerang tanpa sepengetahuannya dan itu hal yang berbahaya untuk mamanya.


Dokter Aryo membuka pintu ruang perawatan. Ruangan perawatan itu terlihat elegan. Walau tak sebesar kamar Andra atau kamar Nafisah, namun di dalamnya sangat menarik perhatian.



Di sana terdapat ranjang untuk pasien, sofa beserta mejanya, pigura, tv, lemari, dan juga terdapat kursi dan meja makan.


Ruangan ini memang indah dan suasananya pun terasa sejuk. Semua fasilitas yang di sediakan di dalam sini di peruntukkan untuk pasien dan juga perawat yang telah di sewa oleh Andra untuk mengurus ruang perawatan.


"Selamat datang tuan," sambut perawat dengan nama tag Nindi pada Andra.


"Mama keadannya bagaimana?" tanya Andra yang kini telah duduk di sofa.


"Masih sama seperti sebelumnya tuan, belum ada perkembangan," jawab Nindi.


"Mama!" ucap Ariana dengan suara bergetar.


Dokter Aryo sedang mengecek kondisi mama Andra. Setiap satu kali dalam seminggu Dokter Aryo akan memeriksa mama Andra.


"Mama lo masih tetap sama Ndra, meski begitu kalian tetaplah ajak beliau berkomunikasi! Siapa tahu ada keajaiban seperti Ariana," tutur Dokter Aryo turut sedih.


Sudah lama dia merawat dan memeriksa mama Andra. Namun, sayang dia belum bisa memberikan kabar bahagia kepada sahabatnya itu. Hasilnya selalu saja sama, nihil. Mama Andra masih tenang di alam bawah sadarnya.


Andra tersenyum kecut. Dia tidak tahu harus berkata apa, mau di paksa bagaimana pun hasilnya tidak akan berubah.


"Mama! Ana datang ma, Ana sudah sembuh. Ana mau mama. Ana mau tidur sama mama. Ana mau di suapin sama mama. Ana mau kita seperti dulu lagi. Ana mau mama meluk dan cium Ana kayak dulu!" tutur Ana sambil memeluk tubuh lemah mamanya dan menangis sesegukan.


"Apa mama gak bosan tidur? Mama gak mau lihat Ana dan kak Andra? Ma, Ana mohon bangun!" tambah Ariana.


"Sudahlah, An! Mama juga nanti akan sembuh! Kamu saja yang sudah tiga tahun ini berdiam diri, saja bisa sembuh. Pasti mama pun akan secepatnya sembuh," ujar Andra mengelus lembut punggung Ariana yang bergetar karena tangisnya.


Mereka semua yang melihat itu pun turut sedih. Nafisah jadi teringat dengan Ayah dan ibunya yang berada di kota A.


Dia baru ingat jika dia belum mengabari keluarganya dan pasti kabar jika dia belum pulang ke kontrakannya semalam telah sampai ke telinga kedua orangtuanya. Hal itu di karenakan notaben tetangga kontrakannya yang super duper kepo dan penggosip.


Dia ingin sekali menghubungi keluarganya, namun sayang hpnya terjatuh saat dia di kejar-kejar oleh Andra.


"Kamu kenapa?" tanya Sofia kala melihat ada gurat sedih di wajah teman barunya itu. "Kamu sedih melihat mereka?" tambah Sofia.


"Ya, aku ikut sedih melihat mereka. Kamu punya ponsel?" jawab dah tanya balik Nafisah.


"Pertanyaan apa itu? Kamu kira aku orang yang tidak mampu untuk membeli ponsel? Tentunya diriku ini punya, memangnya kenapa?" cerocos Sofia.


"Boleh Aku meminjamnya? Aku hanya akan menghubungi keluargaku. Mereka pasti sedang menghawatirkanku, aku belum mengabari mereka semlam," jelas Nafisah sedikit memelas.

__ADS_1


Sofia melirik Andra. Sofia mau meminjamkan hpnya pada Nafisah, karena dia bukanlah orang yang pelit. Tapi, dia takut jika bosnya itu nanti murkah kepadanya, karena telah mengizinkan Nafisah menghubungi seseorang. Tapi, Sofia juga tidak tega melihat Nafisah memelas padanya.


"Kalau tidak bisa, tidak apa!" ucap Nafisah sambil tersenyum.


Sofia tidak tega melihat Nafisah bersedih karena tidak bisa menghubungi keluarganya. Namun, Andra jauh lebih menakutkan di banding singa jika ada yang melanggar peraturannya.


"Tunggu sebentar! aku akan meminta izin pada Bos Andra dulu. Jika di izinkan aku akan meminjamkanmu!" seru Sofia dan Nafisah pun mengangguk.


Sofia lalu mendekat ke arah Andra dan membisikkan sesuatu di telinga Andra. Andra melirik ke arah Nafisah, lalu mengangguk.


"Kata bos kau boleh menelpon keluargamu!" Seru Sofia memberikan hpnya pada Nafisah. "Hanya keluargamu, tidak ada yang lainnya lagi!" tambah Sofia.


"Iya aku hanya akan menelpon keluargaku saja, terima kasih sof," ucap Nafisah antusias.


"Sama-sama," balas Sofia.


Nafisah pun keluar dari dalam ruang perawatan untuk menelpon keluarganya.


Andra yang melihat Nafisah keluar memberi kode pada Dimas agar mengikuti Nafisah. Dimas mengangguk mengerti lalu menyusul Nafisah keluar.


Di luar ruangan, Nafisan terdiam. Dia nampak dilema karena tidak tahu harus menelpon siapa, no. Hp ayahnya dia tidak hafal, sedangkan ibunya baru saja ganti no. Hp.


"Aduh bagaimana ini? Aku harus menelpon siapa sekarang?" gumam Nafisah sambil berpikir.


Nafisah menepuk jidatnya sendiri. Dia lupa jika dia mempunyai seorang kakak perempuan yaitu, Amira. Bodohnya!


Bagaimana bisa dia melupakan kakak perempuan cantiknya itu? Astaga!


Untung saja kakak perempuannya itu tidak seperti ibunya yang selalu gonta-ganti no. Hp dan juga tidak seperti ayahnya yang memilih no. Hp yang sulit untuk diingat.


Nafisah maklum hal itu karena kakaknya bukanlah orang yang akan mudah mengangkat panggilan dari nomor yang tidak di kenal.


"Pasti kakak masih berpikir sekarang," tebak Nafisah masih mencoba menghubungi kakaknya.


"Bismillah semoga saja kali ini di angkat," doa Nafisah. Ini adalah percobaan kelima dia berusaha menelpon kakaknya.


"Assalamaalaikum," ucap seseorang dari seberang sana yang tidak lain adalah Amira.


Nafisah bernafas lega akhirnya setalah lima kali mencoba kakaknya mau juga mengangkat panggilannya. Tak mau mengulur waktu lagi, Nafisah pun membuka bicara.


"Waalaikumsalam kakak," balas Nafisah.


"Nafisah?" kata Amira sedikit terkejur.


"Iya kak, ini Nafisah," ujar Nafisah.


"Kamu di mana sekarang?" tanya Amira. Dari nada bicaranya, Nafisah bisa merasakan kecemasan dari kakaknya itu.


"Pasti para tetangga sudah melapor ke ayah jika aku belum kembali sejak semalam," gumam Nafisah dalam hati.


"Aku... aku sedang di rumah temanku," bohong Nafisah tergagap. Dia tidak bermaksud untuk berbohong, namun keadaan memaksanya untuk melakukan hal itu.


"Ya Allah maafkan hamba karena sudah berbohong. Namun, engkau pasti tahu alasan kenapa harus harus berbohong," sesal Nafisah dalam hati.


Nafisah mengutuk dirinya sendiri karena telah berbohong. Seumur hidupnya dia tidak pernah berkata dusta. Lalu sekarang dia sudah mengatakan hal yang berbeda dengan apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Dua puluh tiga tahun dia hidup dan ini adalah kali pertamanya dia berbohong.


"Jangan di matikan dulu, aku akan memberitahu ayah dan ibu yang sangat mengkhawatirkanmu!" seru Amira.


"Yah, bu, Nafisah menelpon!" teriak Amira dengan antusias di seberang sana.


Nafisah hanya mengernyitkan keninganya mendengar teriakan kakaknya bak orang yang baru saja menang undian.


"Apa?! Sinikan hpmu!" Nafisah dapat mendengar suara sang ibu yang sangat ia rindukan saat ini.


"Nafisah, kamu di mana sayang?" tanya Ibu Harfisah.


"Aku menginap di rumah temanku, . Maaf aku lupa mengabari kalian," jelas Nafisah. Lagi dan lagi Nafisah harus berbohong.


Dia tidak suka berada di keadaan seperti ini. Dia benci kebohongan dan bisa-bisanya mulut yang telah ia jaga kesuciannya selama dua puluh tiga tahun ini dengan mudahnya mengatakan kebohongan.


"Alhamdulillah," ucap ayah, ibu dan kakaknya bersamaan.


"Kamu baik kan sayang?" tanya Ayah Hamish.


"Alhamdulillah baik Yah," jawab Nafisah.


"Syukurlah kalau begitu. kami akan ke kota J sekarang!" seru Ibu Harfisah membuat Nafisah terlonjak kaget.


"Tidak usah bu, ibukan sudah tahu kalau Nafisah baik-baik saja. Kalian tetaplah disana! Nafisah janji gak akan membuat Ayah, ibu dan kak Amira khawatir lagi," balas Nafisah cepat-cepat.


Tidak mungkinkan dia membawa keluarganya ke rumah Andra? Apa nanti kata orang tuanya?


Dia tinggal bersama pria yang tidak punya ikatan dengannya dalam satu atap, itu bukanlah hal yang bagus. Apalagi kedua orang tuanya sangat terikat tentang agama.


"Benar kata Nafisah bu! Kita tetaplah disini," ujar Ayah Hamish.


Nafisah menghela nafasnya lega, karena dengan tidak sengaja ayahnya telah membantu dirinya untuk membujuk ibunya yang keras kepala.


"Baiklah, tapi kamu harus janji sama ibu jangan buat khawatir lagi! Kalau mau nginap di rumah temanmu kabari ibu atau ayah, kalau boleh kakakmu juga! Jangan lupa lima waktunya! Sering-seringlah bertukar kabar! Mengerti?!" Ceramah Ibu Harfisah.


"Iya bu," balas Nafisah singkat, padat dan jelas.


"Sudahlah kita sudah tahu kalau Nafisah baik-baik saja, maka tutup saja panggilan telpon itu! Mungkin dia sedang sibuk sekarang!" tutur Ayah Hamish.


"Baiklah, assalamualaikum," kata Nafisah.


"Waalaikumsalam," balas mereka serentak.


Setelah mendapatkan balasan dari salamnya, Nafisah pun mengakhiri panggilannya.


Nafisah tidak mengetahui jika secara diam-diam, Dimas menguping pembicaraannya dengan keluarganya.


Dimas yang menguping di balik dinding pun kembali bersembunyi saat Nafisah akan kembali ke dalam ruang perawatan.


🔫🔫🔫


TBC....


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH KAKAK-KAKAK❤

__ADS_1


__ADS_2