
SELAMAT MEMBACA!
***
Mereka bertiga pun meninggalkan ruang bawah tanah dan kembali ke rumah Besar.
****
Sedangkan Di dalam ruang perawatan, Ariana masih memeluk mamanya sambil menangis.
"Kak, bagaimana bisa seperti ini?" tanya Ariana sesegukan.
"Persaingan bisnis, kamu tahu bukan jika dunia bisnis itu kejam?!" ujar Andra mengelus halus surai panjang milik Ariana.
Ariana mengangguk. Inikah alasan selama ini papa dan Mamanya menginginkan dia menyembunyikan identitasnya?!
Beda dengan Andra yang selalu di pamerkan di awak media dan publik, Ariana malah di minta memprivasi tentang dirinya dengan alasan agar dia tidak terusik karena status dan derajat kedua orang tuanya.
Ariana, yang juga lebih menyukai segala sesuatu di privasi pun menyetujuinya. Tanpa mau bertanya kenapa harus seperti itu.
"Mereka yang sudah membuat papa meninggal dan mama sakit, lihat saja mereka akan merasakan apa yang papa dan mama alami," sumpah Ariana dengan hati yang kini telah tsrselimuti benci, dendam dan amarah yang menggebu-gebu pada mereka, mereka yang belum dia tahu siapa.
"Kamu tenang saja, kakak sudah menyelidiki siapa yang melakukan semua ini. Mereka sangat mahir dalam menyembunyikan identitas dan tidak membiarkan kita membobol jaringan mereka," jelas Andra tangannya sudah terkepal kuat, rahangnya mengeras, tatapannya pun menajam.
"Aku akan membantu kakak," seru Ariana.
Ariana memiliki keahlian meretas komputer dengan terampil atau yang biasa disebut dengan Hacker.
Ariana bisa dengan mudah membobol sistem komputer dengan pengetahuan teknisnya. Selama ini dia sudah belajar tentang cara-cara meretas dan membobol sistem komputer orang lain dengan jeli dan tidak meninggalkan jejak.
Andra sendiri sudah memiliki beberapa hacker terbaik, salah satunya adalah Rio. Namun, keahlian Ariana tidak bisa ia remehkan.
Adik perempuannya itu, sudah pernah membuktikan kalau dia bisa membobol sistem komputer siapa saja dan dengan keahliannya itu, Ariana bertekad untuk membantu kakaknya menemukan siapa dalang dari semua ini.
"Kamu tidak perlu memikirkan ini dulu, kamu pikirkan saja kesehatanmu! Biar kakak yang melakukan semuanya," tutur Andra. Dia tidak mau adiknya terbawa masuk kedalam kejamnya dunia bisnis.
Dia akan membalas dendam, tapi, untuk mengaitkan Ariana rasanya itu tidak mungkin dan dia ingat janjinya pada papanya sebelum meninggal. Ia sudah berjanji apapun yang terjadi Ariana tidak akan di publikasikan baik wajah maupun identitasnya.
"Sebaiknya kita keluar saja, mama butuh udara segar! Kamu juga butuh istirahat," ujar Andra.
Ariana mengangguk. Dia juga baru sembuh dan butuh istirahat penuh.
"Saya titip mama dengan kamu!" titah Andra pada Nindi.
Nindi menunduk lalu berucap, " Baik tuan, percayakan sama saya!"
Andra kemudian meninggalkan ruang perawatan dengan merangkul bahu Ariana di ikuti Dimas yang berjalan di belakang mereka.
__ADS_1
Sesampainya di dalam rumah besar Andra langsung membawa Ariana masuk ke dalam kamar gadis itu.
Setelah membaringkan dan menyelimuti Ariana, Andra pun keluar dari kamar Ariana untuk segera kembali ke kantor.
Sebentar lagi ada meeting penting dan itu sangat menguntungkan bagi perusahaanya. Tadi setelah mendapat kabar dari Sofia jika Ariana sudah kembali normal, dia langsung memerintahkan Dimas untuk mengantarnya pulang dan mengundurkan jadwal meeting.
Di ruang tamu, Andra berpapasan dengan Nafisah yang baru saja kembali dari melihat-lihat halaman belakang bersama Sofia dan Akhsan.
Nafisah yang tanpa sengaja bertatapan dengan Andra pun langsung menundukkan pandangannya. Andra menatap Sofia meminta penjelasan dari mana saja mereka.
"Kami dari melihat-lihat halaman belakang bos," jelas Sofia.
"Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu, tapi besok saja!" kata Andra lalu meninggalkan mereka bertiga bersama Dimas yang selalu setia bersamanya.
"Kenapa tuan mau berbicara denganmu?" tanya Akhsan dan Sofia mengedikan bahunya tidak tahu.
"Aku ke kamar dulu," pamit Nafisah dan di jawab anggukan oleh Akhsan dan Sofia.
Nafisah pun berlalu menuju kamarnya. Sekarang tinggal Akhsan dan Sofia, manusia yang tidak bisa akur lama.
"Tumben sekali, hari ini gak ada musuh?" seru Akhsan.
"Sekarang tugasku hanya menemani nyonya dan Ana! Tidak ada kaitannya lagi dengan markas, kecuali jika itu benar-benar mendesak aku akan turun tangan langsung. Jadi kau harus siap hari-hari melihatku," imbuh Sofia lalu berjalan menuju kamarnya meninggalkan Akhsan yang masih melamun.
"Lah, kok bisa gitu?" tanya Akhsan. Dia tidak sadar kalau Sofia sudah meninggalkannya sendiri.
Akhsan mendengus kesal karena di tinggalkan Sofia sendiri di tambah lagi temannya itu selalu saja menyuruhnya.
"Ish, menyebalkan!" umpat Akhsan sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai dan berjalan menuju teman-temannya yang lain.
"Gak usah mengeluh! Ambil ini bawa ke dapur lalu kupas yang benar!" titah pak Arif, kepala pelayan rumah besar.
***
Keesokan paginya. Seperti pagi sebelumnya Nafisah sudah selesai membereskan kamarnya sendiri. Dia pun sudah selesai mandi dan kini tengah memasang kembali penutup wajahnya.
"Kamu sudah selesai?" tanya Sofia yang sudah masuk ke dalam kamar Nafisah.
"Sudah," jawab Nafisah lalu membalikkan tubuhnya yang semula membelakangi Sofia.
"Ayo kita sarapan, bos Andra dan yang lainnya sudah menunggu kita di bawah!" ujar Sofia.
"Apa tidak sebaiknya aku sarapannya nanti saja? Aku tidak enak sama mereka Sof," pungkas Nafisah.
"Kenapa harus tidak enak? Mereka baik-baik kok, malah bos Andra yang memintaku untuk memangilmu, jadi ayo cepat!" jelas Sofia meyakinkan Nafisah.
Nafisah menurut, mereka pun berjalan beriringan menuju meja makan.
__ADS_1
Di meja makan sudah ada Andra, Dimas, dan Ariana. Nafisah dan Sofia lalu mendudukan diri mereka. Nafisah duduk di samping Ariana dan Sofia duduk di samping Dimas.
"Silahkan tuan, nyonya dan nona!" ujar Pak Arif setelah selesai menata semua makanan dan minuman pada meja makan.
"Bapak tidak makan?" tanya Nafisah pada Pak Arif.
"Kami makannya nanti nyonya, silahkan di makan nyonya," jawab Pak Arif sambil menundukkan kepalanya enggan menatap Nafisah.
"Sudahlah, Naf! Kita makan saja sekarang!" seru Sofia.
"Baiklah," balas Nafisah.
Mereka kemudian memulai sarapan dalam diam. Sebelum menyantap makanannya, Nafisah tak lupa untuk membaca doa. Setelah itu barulah ia memakan makanannya.
Dimas, Andra dan Ariana nampak risih melihat Nafisah yang makan dengan menggunakan penutup wajahnya, namun mau bagaimana lagi, mereka tidak bisa memaksa Nafisah melepaskan kain itu dari wajahnya.
Brak!
Brak!
Bugh!
Suara gaduh -gaduh dari halaman rumah besar membuat mereka yang sedang menyantap makanan lezat itu pun berhenti lalu saling tatap. Andra dan Dimas sudah berdiri dari duduk mereka.
Mereka lantas berjalan menuju halaman rumah besar, sedangkan Sofia yang sudah tahu apa yang terjadi itu pun menemani Nafisah dan Ariana di dalam. Takut-takut ada musuh yang berhasil menyelinap masuk saat mereka semua berada di luar.
"Apa itu?" tanya Nafisah.
"Sekarang kita sembunyi di dalam kamar!" perintah Sofia berdiri dari duduknya dan meneguk kasar air putih miliknya.
"Kenapa?" tanya Nafisah dengan kening berkerut.
"Kakak, kita ikuti saja ucapan kak Sofia!" sahut Ariana memegang erat lengan Nafisah.
"Jangan banyak berpikir Naf! Kau tidak tahu apa-apa tentang hal seperti ini, ikuti saja kata-kataku!" seru Sofia meyakinkan.
Akhsan menghampiri mereka dengan berlari dan napas ngos-ngosannya.
"Sepertinya kita harus bersembunyi!" Kata Akhsan ngos-ngosan.
"Tunggu apa lagi? Ayo!!" ajak Sofia menuntun mereka semua menuju kamar Nafisah.
Mereka semua pun menuruti kata-kata Sofia dan berlari naik ke lantai dua lalu masuk ke dalam kamar Nafisah.
🔫🔫🔫
TBC...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH❤