
SELAMAT MEMBACA!
***
Sedangkan di sisi lain, Dimas, Sofia dan anak buah mereka baru sampai di hotel yang merupakan lokasi kedua yang dikatakan oleh Rio.
"Benarkah ini dia lokasinya?" tanya Sofia setelah turun dari mobil.
"Benar ini adalah lokasinya," jawab Dimas. "Ayo masuk!" ajak Dimas dan mereka semua pun masuk ke dalam hotel.
Hotel itu nampak sepi dari pengunjung dan mungkin ini karena gosip-gosip yang bereda jika hotel ini angker dan banyak terjadi pembunuhan, pemerkosaan dan banyak lagi lainnya sehingga orang-prang jarang bahkan tidak mau menginap di hotal itu.
"Kita berpencar agat lebih mudah menemukan Nafisah!" kata Dimas.
"Sabagian ikut denganku dan sebagiannya lagi ikut dengan Dimas!" titah Sofia kemudian berkari ke arah timur dan Dimas berlari ke arah barat.
***
"Mereka sudah datang!" kata adik Ronal setelah melihat kedatangan Dimas dan yang lainnya dari rekaman CCTV.
"Baik tuan muda kedua," balas Feng, panggilan mereka pun diputuskan sepihak oleh adik Ronal.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan bos?" tanya anak buah yang bersama Feng.
"Apa lagi kalau bukan mempermainkan mereka semua!" ketus Feng. "Memangnya kau mau apa?" selidik Feng.
"Bagaimana kalau kita bermain dengan cara yang baru bos?" saran anak buahnya.
"Maksudmu?" tanya Feng mengernyit bingung.
"Maksudku dengan ini bos," jawab anak buahnya menunjukkan sebotol obat yang Feng ketahuk jika itu adalah obat perangsang.
"Dasar bodoh! Kau mau mati di tangan bos?!" umpat Feng menatap tajam bawahannya itu.
"Maafkan saya bos, saya hanya memberikan saran saja," tunduk anak buahnya. "Lagi pula bos tidak akan membunuh kita kalau hal ini tidak ia ketahui!" tambah anak buahnya.
Feng nampak berpikir dan sepertinya ide anak buahnya itu bagus juga untuk membuat Sofia kapok dan menjadi buruk di mata orang-orang.
"Baiklah aku setuju! Kau lakukan semuanya dan aku hanya terima beresnya saja!" Putus Feng akhirnya.
"Bagi dua yah bos," semangat anak buahnya Feng.
"Itu bisa kita atur nanti," Feng tersenyum miring.
"Asiap bos," balas anak buahnya dan berlalu keluar kamar.
Feng lalu tersenyum sinis membayangkan Sofia menjadi wanita yang lemah setelah ini semua.
***
"Bagaimana apa kau menemukannya," tanya Dimas pada Sofia melalui earphone yang selalu bertengger di telinganya.
"Belum," jawab Nafisah mendesah kesal.
Ia sudah lelah berlarian ke sana ke mari. Membuka satu pintu dari satu kamar hotel ke kamar yang lainnya namun hasilnya tetap sama, nihil. Tidak ada tanda-tanda penyekapan di sini.
"Sepertinya lokasi ini zonk! Kitalah yang dipermainkan di sini," geram Dimas.
"Ya benar! Breng*sek!!" Sofia menendang tong sampah sangkin kesalnya. "Lalu sekarang kita harus apa? Apa kita harus kembali sekarang?" tanya sofia sambil memijit pangkal hidungnya pusing.
"Kita cari lagi lima menit! Kalu hasilnya tetap sama berarti fiks kita dipermainkan," tutur Dimas. "Setelah itu baru kita kembali ke markas besar!" lanjut Dimas.
Sofia mengangguk, "Baiklah," balas Sofia.
"Kalian semua berpencarlah!!" titah Sofia pada semua anak buah yang ikut dengannya.
"Baik bos," balas mereka semua lalu mulai berpencar mencari keberadaan Nafisah.
Nafisah menyandarkan punggungnya pada dinding dia kelelahan dari tadi dia terus saja berlari dan berkoar-koar begitu menguras tenaga dan sekarang kerongkongannya menjadi kering.
Anak buah Feng tersenyum miring saat melihat Sofia dari balik dinding.
__ADS_1
"Hei kau!!" panggil anak buah Feng pada salah satu pelayan yang sedang berjalan dengan mambawa nampan berisi segelas jus jeruk.
Pelayan itu pun mendekat, "Iya ada apa tuan?" tanya pelayan itu sopan.
"Apa kau bisa membantuku? Tenang saja aku akan memberikan tip padamu!" kata anak buah Feng menghasuk pelayan itu.
Pelayan itu pun mengangguk mantap, "Saya mau tuan," ucapnya.
"Bagus! Jus itu untuk siapa?" tanya anak buah Feng.
"Ini untuk tamu di kamar nomor 453 tuan," jawab pelayan hotel.
"Sekarang kau campurkan obat ini ke dalam jus itu dan berikan pada gadis yang ada di sana!" titah Feng sambil menunjuk Sofia yang masih menyandar di tembok.
"Tapi tuan..."
"Kau mau uang bukan? Maka lakukan apa yang kukatakan dan ambil uang ini," ujar anak buah Feng sembari memberikan uang lima ratus ribu pada pelayan hotel.
"Baik tuan," balas pelayan hotel lalu memasukkan semua obat perangsang tersebut ke dalam jus jerus lalu mengaduknya.
"Sekarang pergilah!" titah anak buah Feng dan pelayan hotel itu pun mengangguk dan berjalan menuju Sofia.
Anak buah Feng tersenyum sinis kemudian berlari masuk ke dalam kamar yang di tempati oleh Feng.
"Bagaimana?" tanya Feng.
"Sudah beres bos," jawab anak buahnya penuh keyakinan.
"Bagus," Feng lalu berjalan keluar kamar.
***
"Permisi nona!" sapa pelayan hotel tadi.
"Iya ada apa?" tanya Sofia.
"Kelihatannya nona kecapean, apa anda haus nona?" tanya pelayan hotel.
"Mau minum nona?" tawar pelayan hotel menyodorkan jus jeruk pada Sofia.
Sofia hendak menolak namun karena tenggorokannya terasa begitu kering dan juga sekarang dia sangat haus, jadilah dia dengan senang hati menerima tawaran pelayan hotel itu.
"Terima kasih," ucap Sofia lalu meminum jus jerut tersebut hingga tandas.
Pelayan itu pun tersenyum miring lalu memberi kode pada Feng dan anak buahnya jika semuanya sudah berhasil.
"Kalai begitu saya permisi dulu nona," kata pelayan itu membungkuk hormat dan berlalu dari hadapan Sofia.
Sofia hendak kembali mencari, tapi sebuah gelenjar aneh kini ia rasakan pada tubuhnya. Hawa di sekitarnya seketika berubah menjadi panas.
"Kenapa panas sekali?" gumam Sofia mengipas-ngipaskan tangannya.
"Panas, astaga apa yang telah pelayan itu campurkan pada jusnya? ******* kau!! Pelayan sialan!!" umpat Sofia kala menyadari ada yang aneh dengan dirinya.
Brak!
Sofia mendobrak salah satu pintu kamar hotel dan masuk ke dalam sana. Feng dan anak buahnya yang melihat itu pun tersenyum penuh kemenangan.
"Kau tunggu di sini saja!" titah Feng.
"Siap bos. Selamat menikmati," ucap anak buah Feng mengerlingkan matanya.
"Cih," Feng berdecih lalu menyusul masuk ke dalam kamar yang di masuki oleh Sofia.
Bahkan dia lupa jika di ruangan CCTV masih ada adik Ronal yang mengintai apa yang ia lakukan.
"Apa yang akan Feng lakukan?" gumam adik Ronal menatap lekat rekaman CCTV yang memperlihatkan Sofia dan Feng berada di dalam satu kamar berdua.
"Breng*sek! Bajing*an kau Feng!!" teriak adik Ronal lalu berlari menuju kamar hotel yang di tempati Sofia untuk menghentikan aksi bejad tangan kanan kakaknya itu.
Drt-drt-drt!
__ADS_1
Ponsel Sofia berdering. Karena mendobtak pintu tadi, ponsel Sofia terjatuh ke lantai.
"Hpku, di mana hpku?" kata Sofia risih dengan panas yang menyetang tubuhnya.
Feng lalu mengambil ponsel Sofia dan terpampanglah Nama si pemanggil yang ternyata adalah Dimas. Feng membiarkan saja ponsel Sofia berdering lalu mengirimkan pesan pada Dimas.
To Dimas
Dim, sorry gue cabut duluan! Ada urusan mendadak dan bilang pada bos jila gue tidak pulang malam ini.
Tulis Feng lalu mengirimkannya pada Dimas.
Ting!
From Dimas
Oke
Feng lalu tersenyum miring dan membanting ponsel Sofia di atas ranjang. Dia lalu berajalan mendekat ke arah Sofia.
"Tolong bantu aku! Ini sangat panas," desah Sofia sambil membuka kancing kemejanya.
Feng menyeringai lalu membelai lembut surai Sofia membuat gairah Sofia sampai ke ubun-ubun. Fengn lalu melepaskan earphone yang ada di telinga Nafisah dan membuangnya ke sembarang arah.
Feng memiringkan kepalanya hendak mencium Sofia namun kalah telak ketika seseorang menarik rambutnya dari belakang dan membawanya keluar dari kamar tersebut. Meninggalkan Sofia yang bergerak-gerak bak cacing kepanasan di dalam kamar.
"Kau mau apakan gadis itu breng*sek!!" bentak adik Ronal lalu memukul pipi Feng.
Bugh!
"Baji*ngan!! Apa begini caramu melakukan tugas, ha?" murkah adik Ronal dan terus saja memukul Feng.
"Ma-maafkan saya tuan muda kedua," sesal Feng lalu berdiri dan menunduk begitu dalam.
"Cuih," adik ronal meludah.
"Tuan muda kedua," seru anak buah Feng keluar dari tempat persembunyiannya.
"Ada apa?" sewot adik Ronal masih marah dengan apa yang ingin dilakukan Feng pada Sofia.
"Tadi temanku menelpon dan katanya bos sekarang masuk rumah sakit kerena tertambak oleh Andra," jelas anak buah mereka untuk menyelamatkan Feng dari amukan adiknya Ronal karena ide bodohny itu .
"Apa?!!" pekik Adik Ronal. "Dasar ceroboh!" umpatnya.
"Feng kau pergilah ke rumah sakit dulu! Biar aku yang mengurus Sofia!" titah Ronal seketika lupa kalau dia sedang marah pada Feng.
Dan tanpa di perintah untuk yang kedua kalinya, Feng pun mengangguk dan berpamitan lalu meninggalkan hotel bersama anak buahnya.
Adik Ronal menghela napasnya dengan kasar lalu kembali masuk ke dalam kamar. Matanya menangkap sosok Sofia yang terbaring di ranjang dengan gelisah. Berguling ke sana ke mari.
"To-tolong nyalakan AC-nya," pinta Sofia dengan suara seraknya.
Adik Ronal lalu meningkatkan suhu AC padahal dari tadi AC sudah menyala namun Sofia bilang nyalakan AC-nya.
Sofia tidak tahan dengan panas yang terasa berbeda dengan panas-panas biasanya itu. Ia lalu mulai membuka kancing kemeja yang ia gunakan.
"Apa yang kau lakukan?" tanya adik Ronal membuang muka agar tidak melihat Sofia yang mulai membuka kancing kemejanya.
Dia pria normal dan kalian tahu bukan seperti apa pria normal jika disuguhkan pemandangan seperti ini? That's right!
Sofia turun dari ranjang ia lalu berjalan mendekati adik Ronal yang masih tidak berkutik dari tempatnya.
Sofia lalu merengkuh adik Ronal dan mendaratkan bibir ranumnya pada bibir pria itu. Belum sempat menolak, Sofia dengan agresifnya mulai ******* bibir adiknya Ronal.
Dan terjadilah malam pertama sebelum adanya kata sah di antara mereka berdua atau biasa disebut one night stand.
π«π«π«
TBC...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTEπ
__ADS_1