
SELAMAT MEMBACA!
***
Satu bulan berlalu, sekarang usia kandungan Nafisah telah memasuki minggu ke delapan. Morning sicknes dan ngidam sudah sering ia rasakan.
Pagi ini setelah Andra dan Dimas berangkat ke kantor, Nafisah merengek pada Sofia agar gadis jerman itu mau memasak untuknya.
"Sof please! Aku sangat ingin makan masakanmu, apa kamu tidak kasihan pada bayi yang ada di dalam perutku Sof! Dia merengek ingin makan masakan aunty Sofia-nya," melas Nafisah dengan puppy eyesnya.
"Aku malas geraj Naf!" balas Sofia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
Entah kenapa akhir-akhir ini dia menjadi gadis yang pemalas. Bahkan buang air kecil pun rasanya ia enggan.
"Huwaaaaaa..." Nafisah bersandiwara menangis. "Sabar yah nak!" ucap Nafisah sambil mengelus perutnya.
"Kak Sofia ih! Kak ayolah buatkan masakan untuk Kak Naf sekalian sama Ana juga. Ana sudah rindu dengan masakan kakak," tutur Ariana memohon. "Atau kalau tidak Ana akan bilang ke Kak Andra jika kakak menolak permintaan Kak Naf dan anaknya," ancam Ariana menaik turunkan alisnya.
"Iya-iya," kesal Sofia lalu berdiri dari sofa yang dia duduki. "Ayo sekarang," ajak Sofia kemudian berjalan lebih dulu menuju dapur.
"Tos kak!" Ariana dan Nafisah lalu bertos rial dan tertawa pelan. Mereka pun mengikuti Sofia menuju dapur.
"Kalian mau makan apa?" tanya Sofia yang kini telah berdiri di depan kompor.
"Kamu bisa masak nasi goreng gak Sof?" tanya Nafisah. "Aku pengen makan nasi goreng soalnya," tambah Nafisah.
Sofia mengangguk, "Baiklah kalian duduk saja di sana! Aku akan membuakan nasi goreng spesial untuk kalian," ujar Sofia sambil memasang celemeknya.
"Tapi yang pedas yah kak Sof, gppkan Kak Naf?" timpal Ariana menatap Nafisah.
"Oke, gpp kakak juga suka yang pedas kok," balas Nafisah tersenyum.
"Ayo kalian duduk saja di sana," usir Sofia dan kedua perempuan itu pun menurut dan duduk di kursi yang ada di sudut dapur.
Tak-tak-tak!
Sofia mulai memotong-motong sayur-sayuran yang akan digunakan untuk membuat nasi goreng dengan begitu lincahnya dan penuh semangat padahal tadi dia begitu malas bergerak.
Nafisah dan Ariana menganga, "Luar biasa," kata Ariana tanpa berkedip.
"Wah, hebat banget yah An!" timpal Nafisah dan Ariana mengangguk. "Aku saja tidak selincah itu, takut tangan teriris pisaukan sakit," lanjut Nafisah.
"Iya, tapi tidak dengan Kak Sof. Dia sudah biasa dengan cara itu apa lagi dengan yang wajan di kasih minyak terus muncul api pokoknya hebatlah kak," ujar Ariana bangga.
"Sedangkan Ana, merica dan ketumbar saja belum bisa Ana bedakan," lanjut Ana lalu terbahak begitu pula dengan Nafisah.
"Kamu lucu sekali sih An!" Nafisah semakin terbahak.
__ADS_1
"Huek... huek... huek..." Sofia terlihat mual-mual dan itu membuat Nafisah serta Ariane cemas.
Mereka berdua pun berdiri dari duduknya dan berjalan menuju Sofia yang sedang mual-mual.
"Sof, kamu kenapa?" cemas Nafisah.
"Huek... huek... Naf, aku tidak suka dengan baunya," ucap Sofia menunjuk bawang yang sedang ia goreng sembari menutup hidungnya.
Nafisah laku mematikan kompor kemudian menuntun Sofia untuk duduk terlebih dulu di tempatnya dan Ariana tadi duduk.
"An! Ambilkan balsem!" pinta Nafisah.
"Baik kak," kata Ariana lalu berlari keluar dapur untuk mengambil balsem.
Nafisah pun memijit-mijit tengkuk Sofia guna menghilangkan rasa mual gadis itu. "Gimana? Sudah mendingan?" tanya Nafisah.
"Lumayan," jawab Sofia menikmati pijitan Nafisah.
Ariana kembali masuk ke dalam dapur lalu memberikan balsem yang dibawanya pada Nafisah.
"Ini kak," Ariana menyodorkan balsem tersebut pada Nafisah.
"Terima kasih An!" kata Nafisah dan dijawab anggukan kepala oleh Ariana. "Sof, aku oleskan yah!" ucap Nafisah dan Sofia hanya mengangguk pasrah.
Nafisah pun mengoleskan balsem tersebut pada tengkuk dan juga pelipis Sofia dengan sedikit gerakan pijitan agar mendingan.
"Iya Sof?" tanya Nafisah yang masih subuk mengoleskan balsem pada tengkuk gadis jerman itu.
"Maafkan aku yah Naf! Aku gak bisa masakin kamu. Aku mau melanjutkannya lagi tapi baunya yang menusuk hidungku tidak bisa aku tahan," lirih Sofia.
"Tidak apa-apa yang penting kamu tidak mual-mual dulu," kata Nafisah.
"Loh kak, tapikan aneh. Kakakkan sudah biasa dengan bau-bau tumis apa lagi bau bawang yang sedang di goreng. Tapi sekarang? Kenapa jadi tidak kuat kak?" timpal Ariana bingung.
"Tapi, sudah lama juga aku tidak masak An!" seru Sofia dan dibenarkan juga oleh Nafisah serta Ariana.
"Baiklah sekarang biar aku dan Ana mengantarkanmu ke kamar untuk istirahat," imbuh Nafisah dan diangguki oleh Sofia. Mereka pun menuju kamar Sofia.
"Naf, sekali lagi aku minta maaf yah," sesal Sofia setelah mendudukkan tubuhnya di bibir ranjang.
"Tidak apa-apa lain kalikan bisa Sof," balas Nafisah. "Baring saja sekarang agar kamu bisa mendingan. Istirahatlah sebentar nanti kalau masih gak enakkan kusuruh Akhsan mengantarkanmu makan siang," lanjut Nafisah.
Nafisah dan Ariana lalu keluar dari kamar Sofia untuk memberikan waktu pada Sofia beristirahat.
"Ada apa denganku ini?" batin Sofia bertanya-tanya.
***
__ADS_1
Flashback on
"Awgh..." ringis Sofia sambil memegangi kepalanya yang sakit.
Gadis itu lalu mengedip-ngedipkan matanya menyesuaikannya dengan cahaya lampu.
"Di mana ini?" tanya Sofia pada dirinya sendiri.
Sepotong ingatan tentang tugasnya mencari Nafisah melintas di otaknya. Ia pun hendak bangkit dari tempat tidur, namun rasa sakit di bagian intinya membuatnya meringis menahan sakit.
Sofia mengernyit. Apa yang terjadi padanya?
Dengan perasaan was-was, Sofia lalu menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya.
Deg!
Matanya membulat sempurna. Tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun. Dia edarkan matanya dan menemukan pakaiannya sudah berserakan di lantai.
"A-apa yang terjadi?" tanya gadis eh ralat wanita itu tergagap.
"Si-siapa yang melakukan ini padaku?!!" teriak Sofia sambil menangis.
Harta yang paling berharga dalam hidupnya kini sudah lenyap dalam waktu satu malam.
Dia tidak tahu siapa yang mengambilnya. Ingatan tentang penyatuan itu tidak dapat ia ingat.
"Bodoh! Kau begitu bodoh Sofia!!" jerit Sofia sambil meremas rambutnya kuat-kuat.
"Sekarang apa yang harus kukatakan pada mom dan dad?" tanya wanita itu pada dirinya sendiri.
Memang pada tempat asalnya hal yang seperti ini bukanlah hal yang serius, namun bagi gadis jerman itu ini adalah hal yang berharga.
Bukan sembarang orang yang bisa merenggutnya seenak jidatnya.
Lelaki yang telah membobolnya pun sudah tidak ada di sampingnya. Bagaimana ia bisa mengetahuinya kalau begitu?
"Mom... dad... Aku hancur," ucap Sofia menangis sesegukan.
Demi apapun ia sangat terpukul dengan semua ini. Semua rencana yang telah ia susun matang-matang kini sirna dalam waktu semalam.
"Kaparat kau!!" umpat Sofia.
Flashback off
π«π«π«
TBC...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTEπ