Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia : Akhsan Dan Sofia Bertengkar


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA!


***


"Ini aku kembalikan hpmu, terima kasih," ucap Nafisah memberikan hp Sofia kembali dan tersenyum.


"Sudah selesai?" tanya Sofia.


Nafisah mengangguk dan berkata, " Sudah."


"Baguslah, apa yang di katakan orangtuamu?" kepo Sofia.


"Mereka cuma menanyakan aku sekarang dimana dan kenapa aku tidak pulang ke kontrakanku semalam," jujur Nafisah.


"Terus kamu jawab apa?" tanya Sofia super duper kepo.


"Aku berbohong dan mengatakan jika aku sedang di rumah temanku dan menginap di sana," jawab Nafisah senduh.


"Lebih baik seperti itu dari pada jujur," kata Sofia tersenyum dan Nafisah pun mengangguk.


Tak lama kemudian Dimas kembali masuk ke dalam ruang perawatan. Dia sengaja mengulur waktu untuk masuk kembali agar tidak di curigai Nafisah.


"Ndra, gue pamit yah! Masih banyak pasien di rumah sakit," pamit Dokter Aryo dan di angguki oleh Andra.


"Semuanya, saya duluan," kata Dokter Aryo sebelum keluar dari ruang perawatan.


Sofia menatap kepergian Dokter Aryo dengan mata berbinar. Dia tidak sadar jika Nafisah menangkap basah apa yang di lakukannya itu.


"Ehem..." Nafisah berdehem membuat Sofia tersadar lalu menunduk malu-malu karena telah ketahuan.


"Kamu menyukainya?" tanya Nafisah.


"Ah, ti-tidak," sangkal Sofia.


"Benarkah? Tapi, kenapa aku mengira jika kamu menyukai dokter tampan itu?" goda Nafisah pura-pura berpikir.


"Hahaha... kamu ini mengada-ngada saja," seru Sofia tertawa renyah.


"Kamu boleh kok bercerita kepadaku dan tenang saja rahasiamu di pastikan aman denganku!" bisik Nafisah lalu terrkekeh.


"Mm..." balas Sofia mukanya sudah bersemu merah layaknya kepiting rebus.


Sofia memang sudah lama mengagumi Aryo. Bukan hanya karena Aryo berparas tampan, namun juga karena kehebatan Aryo dalam menangani pasien.


Awalnya gadis jerman itu hanya mengagumi saja, namun dari waktu ke waktu entah kenapa perasaan kagum itu berganti menjadi perasaan  cinta.


Sofia diam-diam menyimpan rasa pada dokter tampan itu. Entah sejak kapan rasa itu hadir, tapi rasa itu mampu menerbangkan kupu-kupu didalam perutnya dan menumbuhkan bunga-bunga di dalam hatinya.


Benar kata mereka jika 'cinta hadir karena terbiasa' dan mungkin saja cinta itu tumbuh karena Sofia terbiasa bersama Dokter Aryo kala dia di rawat inap di RS selama sebulan lamanya dan saat itu Dokter Aryolah yang merawatnya sampai sembuh.


"Kau kenapa senyum-senyum sendiri? Gila yah?!" kata Akhsan yang langsung membuyarkan lamunan indah Sofia bersama  Dokter Aryo.

__ADS_1


"Setan kau! Merusak imajinasi indahku saja," umpat Sofia.


"Astaga, benarkah itu? Oh, maafkan saya nona," ejek Akhsan pura-pura terkejut dan merasa bersalah.


"Diamkan mulutmu itu kalau tidak mau aku iris-iris seperti bawang!" ancam Sofia tersenyum miring.


Akhsan yang mendengar ancaman  Sofiah pun bergidik ngeri membayangkan bibirnya di iris-iris oleh Sofia.


Akhsan lalu menatap Sofia yang juga menatapnya sambil menaik turunkan alisnya, Sofia bagaikan psycopat gila. Pikir Akhsan.


Tangan gadis jerman itu sudah sering digunakan untuk menghabisi para musuhnya. Tangan bersih nan halus miliknya itu sudah sering bersimbuh dengan darah musuh-musuhnya


"Kalau kau mau aku bisa juga menci cang-cincang tubuh lembekmu itu menjadi potongan dadu, lalu memberikannya pada tiger," tambah Sofia lagi menakut-nakuti Akhsan.


"Enak saja, siapa juga yang mau mati di tangan iblis seperti dirimu," geram Akhsan.


"Benar dan aku adalah iblis tercantik di dalam sejarah," sombong Sofia.


"Hidih, ada yah manusia yang mengakui dirinya iblis dan yah mimpi jika dirimu adalah iblis paling cantik dalam sejarah," hina Akhsan lalu berpindah tempat.


"Kamu kenapa?" tanya Nafisah kala melihat Akhsan sudah berada di sampingnya dan menggerutu tak jelas.


"Sofia sudah gila, nyonya," jawab Akhsan asal.


Nafisah terkekeh lalu menatap Sofia yang sudah berdiri di belakang Akhsan.


"Hei! Kau menyebutku gila?!" geram Sofia.


"Oh, jadi kau sudah berani denganku  yah?!"  kesal Sofia sembari meremas-remas kepalan tangannya.


"Dari dulu aku tidak pernah takut padamu," balas Akhsan beradu pandang dengan mata Sofia.


"Kau!!" tunjuk Sofia marah.


"Sofia! Akhsan! diamlah!" bentak Andra pada Sofia dan Akhsan. "Kalian sadarkah di sini ibuku sedang sakit!! Jangan berisik!" tambah Andra.


" Maaf tuan," ucap Akhsan menundukan kepalanya.


"Maaf bos," timpal Sofia. Dia juga menundukkan kepalanya.


"Lebih baik kalian keluarlah!" usir Andra.


Sofia dan Akhsan langsung keluar dari ruang perawatan tanpa membuat bosnya berkata untuk yang kedua kalinya.


Nafisah yang merasa tidak terlalu akrab dengan orang-orang yang masih berada di dalam ruang perawatan itupun juga ikut keluar.


Sesampainya di luar ruangan, Akhsan dan Sofia kembali beradu mulut. Tidak ada yang mau mengalah satu sama lain.


"Ini semua gara-gara kau!" tuduh Sofia kesal gara-gara Akhsan dia sampai di usir keluar oleh Andra.


"Lah, kenapa gara-gara gue? Situ juga yang salah bambang," seru Akhsan tidak mau kalah.

__ADS_1


"Kau itu cowok dan cowok itu selalu salah, sedangkan aku cewek dan cewek itu maha benar. Kalau kau tidak mau disalahkan sana ganti gender!" ujar Sofia geram. Ingin sekali ia menjambak rambut Akhsan lalu memukul wajah mulus itu sampai babak belur.


"Setelah gajiku di cairkan lima bulan ke depan, akan ku pastikan kau akan kalah cantik dariku," ucap Akhsan dengan kepd-an tingkat akutnya.


"Cih, kau bahkan lebih jelek di bandingkan ondel-ondel pak saleh," ejek Sofia. Dia pernah bertemu dengan ondel-ondel pak saleh dan mengatakan jika ondel-ondel itu lebih baik di bandingkan Akhsan pada Dimas.


"Dasar kau! Jangan menyamakanku dengan ondel-ondel!" teriak Akhsan tidak terima.


"Memang kenapa? Memang benar ondel-ondel jauh lebih tampan daripada kau!!" teriak Sofia tak kalah kencangnya sambil berkacak pinggang.


Keduanya sudah diselimuti kemarahan dan kebencian satu sama lain. Mata mereka sudah menyiratkan akan terjadinya perang sekarang.


Nafisah yang sedari tadi hanya menjadi penonton buru-buru memisahkan Sofia dan Akhsan agar tidak terjadi peran kedua di sana.


"Sudah, cukup!" ucap Nafisah berdiri ditengah-tengah antara Akhsan dan Sofia.


"Diam!!" Bentak Akhsan dan Sofia bersamaan pada Nafisah.


"kalau hanya bicara mereka tidak akan mendengarkanku," guman Nafisah.


Tangan Nafisah pun bergerak naik menjewer telinga Sofia dan kakinya bergerak untuk menginjak kaki Akhsan. Gemas juga kan jadinya Nafisah.


"Aduh!" pekik Sofia dan Akhsan kala mendapatkan jeweran dan pijakan kaki dari Nafisah.


"Sakit?" Tanya Nafisah memperkuat jeweran dan juga pijakannya. Pekikan Sofia dan Akhsan pun semakin kencang.


"Berhenti gak sekarang atau telingamu aku putuskan dan kakimu aku bocorkan!" pungkas Nafisah.


"Baiklah, tapi ku mohon lepaskan dulu ini sangat sakit," pinta Sofia meringis kesakitan.


"Iya-iya nyonya kami janji. Tapi tolong lepaskan, kakiku sakit anda injak terus," imbuh Akhsan.


Nafisah pun melepaskan jewerannya pada telinga Sofia dan kakinya ia angkat dari kaki Akhsan.


"Kau tega sekali denganku Naf,"  Sofia sembari mengelus telinganya yang kena jewaran Nafisah.


"Benar," timpal Akhsan sembari mengelus kakinya yang memerah.


"Maafkan aku, tapi kalian sendiri yang tidak mau mendengarkan kata-kataku, jadi tangan dna kakikulah yang bertindak," jelas Nafisah menyengir kuda.


"Untung nih telinga kuat, gak gampang putus," tutur Sofia konyol.


"Sudahlah, aku minta maaf sekali lagi," sesal Nafisah.


"It's oke," balas Sofia dan di angguki oleh Akhsan.


🔫🔫🔫


**TBC...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH KAKAK-KAKAK SEMUANYA**!

__ADS_1


SORRY, NUNGGU LAMA KAKAK-KAKAK, INI DIKARENAKAN PROSES REVIEWNYA YANG LAMA YAH!! PADAHAL AKU UPNYA ITU TANGGAL SEMBILAN JAM DUA SIANG😢


__ADS_2