Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia : Mangga Muda


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA!


***


Di rumah sakit tempat Ronal dirawat. Feng masih setia menjaga bosnya itu. Luka Ronal tidaklah terlalu serius, namun karena kekurangan banyak darah jadinya Ronal harus dirawat.


Apalagi di saat yang bersamaan dia didiagnosa menderita penyakit liver, Kondisi yang merusak hati dan mencegahnya berfungsi dengan baik. Sehingga ia diminta agar dirawat inap untuk sementara waktu di rumah sakit.


"Bagaimana keadaan perusahaan Feng?" tanya Ronal pada Feng yang baru saja selesai berkutak dengan laptopnya.


"Saya sudah meminta bantuan Niken untuk mengatasi semua kekacauan yang ada bos. Kalau saja tuan muda kedua tidak dalam mode penyamaran, mungkin dia bisa mengatasi kekacauan yang dibuat Andra bos," pungkas Feng.


Ronal menutup matanya dalam-dalam dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kalau saja kondisinya tidak sekarat seperti ini, ia pasti akan membalas Andra saat ini.


"Tidak lama lagi aku pasti akan keluar dari ruangan ini," ucap Ronal masih menutup matanya.


"Sepertinya tuan muda kedua membuat kekacauan bos," seru Feng takut-takut.


Feng melihat semuanya, dia melihat bagaimana liarnya kedua manusia itu bercinta di dalam kamar hotel. Namun, Adik Ronal tidak mengetahuinya.


Hal tersebut selalu mengganjal diotaknya. Berulang kali ia ingin memberitahukan hal ini kepada tuan muda pertamanya itu, namun apalah daya dia terlalu takut ditambah lagi bosnya itu sedang sakit.


Ronal membuka matanya lalu menatap Feng, "Maksudmu apa Feng?" tanya Ronal.


"Maksud saya..." Feng menjeda kalimatnya untuk mengambil napas dalam-dalam lalu menghelanya pelan.


Ronal yang tidak sabaran pun menatap Feng dengan tatapan kesalnya.


"Katakan Feng!" bentak Ronal membuat Feng terlonjak kaget.


"Jadi begini bos, saat saya dan tuan muda kedua di hotel," Feng lalu meceritakan secara detail kejadian di hotel.


Bermula saat anak buahnya memberikannya ide untuk berbuat bejad kepada Sofia dan sampai pada akhirnya adik Ronallah yang melakukan hal tersebut dengan Sofia.


Ronal membulatkan matanya setelah Feng menyelesaikan perkataannya.


"Kau!! Dasar breng*sek!!" geram Ronal.


"Maaf-maafkan saya bos," sesal Feng menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Cih, kau sekarang terlihat menyesalinya, apa kau tidak memikirkan akibatnya sebelum bertindak Feng?" tekan Robal menatap tajam Feng


"Maafkan saya bos, saya sudah dibutakan oleh balas dendam untuk menghancurkan semua keluarga Andra Yudhiantara bos," jelas Feng.


"Dendamku ada pada Andra dan meskipun Sofia anak buahnya jangan melakukan hal itu padanya karena dia anak gadis orang!!" peringat Feng dengan tatapan membunuhnya.


"Baik bos!" balas Feng menunduk.


"Lalu Bagaimana keadaan gadis itu sekarang?" tanya Ronal. "Dan adikku?" tambah Ronal.


"Kalau soal Sofia saya masih belum tahu pastinya dan tuan muda kedua masih menyamar bos. Sudah satu bulan berlalu setelah kejadian itu saya lebih fokus pada perusahaan bos dan tidak tahu beritanya lagi,"  jawab Feng.


"Apakah mungkin wanita itu hamil Feng?" tanya Ronal.


"Kemungkinan besarnys iya dan kemungkinan kecil juga tidak bos," jawab Feng seadanya.


"Aky bertanya iya atau tidak? Kenapa jawabanmu berbelit-belit sekali," bentak Ronal.


"Saya bukam tuhan yang tahu semuanya bos," ujar Feng bijak.


Ronal kesal dengan jawaban Feng, "Bodoh!" umpat Ronal.


Ronal kemudian meremas dadanya saat merasakan nyeri yang hebat pada hatinya.


"Apa anda baik-baik saja bos?" tanya Feng khawatir.


"Ka-kau tidak lihat aku kesakitan bodoh! Sana panggil dokter cepat!!" titah Ronal meringis menahan sakit.


Feng pun buru-buru keluar dari ruangan Ronal untuk memanggil dokter.


"Suster di mana dokter Wildan?" tanya Feng pada salah satu suster yang melintas di hadapannya.


"Dokter Wildan ada di ruangannya tuan," jawab suster tersebut lalu pergi.


Feng pun berlari menuju ruangan dokter Wildan, dokter khusus yang menangani Ronal.


"Apa sampai saat ini anda belum mendapatkan transplantasi hati?" tanya dokter Wildan pada Feng yang menjadi wali Ronal.


Feng menggeleng lemah. Sangkin seriusnya menangani perusahaan sampai-sampai Feng melupakan pencarian pendonor hati untuk Ronal.


"Sebaiknya perhatikan ini lebih serius lagi tuan, kita harus secepatnya melakukan transplantasi hati. Semakin hari kesehatan pasien tambah menurun," jelas dokter Wildan pada Feng.


"Baik dok, saya akan memberitahukan adik pasien tentang perihal ini," balas Feng. Dokter Wildan mengangguk lalu keluar dari ruang rawat Ronal.


Feng memandang senduh bosnya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Ia tahu bagaimana perjuangan Ronal sampai seperti sekarang dan dengan mudahnya Andra malah menghancurkan semuanya.


Jangan salahkan Andra karena ini sepenuhnya bukan salahnya. Salahkan Ronal yang selalu mengusik kehidupannya.


"Sepertinya saya harus memberitahukan hal ini pada tuan muda kedua bos, maafkan saya! Saya harus mengingkari janji saya pada anda bos," gumam Feng lalu keluar dari ruangan rawat Ronal memberi waktu agar bosnya itu bisa beristirahat dengan nyaman.


***


Sofia menghirup udara segar di halaman belakang rumah besar. Ia duduk di bangku taman lalu mengedarkan pandangannya memandangi beragam macam bunga yang tumbuh subur di sana.


"Indah," ucapnya tersenyum sembari menghirup dalam-dalam aroma wangi khas bunga-bunga itu.


"Kau sedang apa di sini?" tanya Akhsan yang entah sejak kapan sudah duduk di samping Sofia.

__ADS_1


"Astaga dragon... kau membuatku terkejut Akhsan!" ucap Sofia memukul keras bahu Akhsan.


Akhsan meringis karena merasakan panas akibat pukulan Sofia yang tidak tanggung-tanggung.


"Sakit Sof," ujar Akhsan mengerucutkan bibirnya.


"Siapa suruh kau mengagetkanku bodoh," ketus Sofia memandang sinis Akhsan.


"Kau yang melamun bukan aku yang mengejutkanmu!" seru Akhsan.


Akhsan lalu berdecih kesal. Ia tidak mau memperpanjang perdebatan yang unfaedahnya itu bersama Sofia yang nantinya akan melebar ke mana-mana.


Mata Sofia berbinar-binar saat tanpa sengaja ia melihat buah mangga yang menggantung indah di atas pohon.


"Kau kenapa?" tanya Akhsan kala melihat wajah Sofia berseri-seri.


"Akhsan kau bisa manjat tidak?" tanya balik Sofia.


"Tidak, memangnya kenapa?" jawab Akhsan jujur.


"Cih, kau ini laki-laki tapi lembek sekali," cibir Sofia.


"Emang semua laki-laki harus bisa memanjat gitu?" balas Akhsan sambil bersidekap.


"Yaiyalah," ketus Sofia.


"Rasakan aku akan mengerjaimu, sekali-kali tidak apa-apa bukan?" batin Sofia tertawa jahat.


"Kau memangnya mau apa? Kenapa menanyaiku bisa memanjat atau tidak?" selidik Akhsan memicingkan matanya.


"Aku mau itu," jawab Sofia menunjuk buah mangga yang menggiurkan seleranya.


"Itu masih sangat muda Sof," imbuh Akhsan mengikuti arah tunjuk Sofia dan melihat mengga yang ditunjuk oleh Sofia itu masihlah sangat muda.


"Bilang saja kalau kau tidak bisa! Jangan sok jago padahal kau itu lembek seperti barbie," sungut Sofia entah kenapa dia langsung saja marah-marah tidak jelas karena Akhsan yang bersikap seolah-olah melarangnya untuk memakan buah mangga itu.


Akhsan membulatkan matanya tidak percaya Sofia bisa mengatakan hal tersebut pada dirinya.


"Baiklah mari kita buktikan," tegas Akhsan lalu berdiri dari duduknya diikuti Sofia yang juga ikut berdiri.


Sofia tersenyum miring, "Yah silahkan dicoba!" tutur Sofia mengejek.


Mereka kemudian mendekat ke pohon mangga tersebut.


"Kau tunggulah di sini! Tangkap buah mangganya jangan sampai menyentuh tanah oke!" titah Akhsan dan dijawab anggukan kepala oleh Sofia.


Akhsan lalu mulai memanjat. Sofia tertegun melihat betapa jagonya Akhsan memanjat pohon mangga tersebut.


Akhsan memanjat layaknya seseorang yang sudah profesional. Sofia merasakan ada yang tidak beres, tapi ia buru-buru menepis pikiran tersebut. Mungkin saja itu cuma tekad Akhsan yang ingin membuktikan kalau dia bisa juga memanjat.


"Yang itu," jawab Sofia menunjuk buah mangga yang berada di paling ujung.


"Kau mau membuatku mati, ha?" teriak Akhsan lagi.


"Pokoknya aku mau yang itu kalau kau tidak mengambilkan yang itu aku akan menembakmu dari bawah sini!" ancam Sofia dengan nada tegas.


"Huft... menyebalkan," ucap Akhsan lalu dengan hati-hati berjalan menuju buah mangga yang sangat diinginkan Sofia itu.


"Astaga ini membuat jantungku hampir meloncat saja," gumam Akhsan dengan perasaan was-wasnya.


"Tangkap Sof!" titah Akhsan. Sofia lalu merentangkan tangannya dan Akhsan pun melemparkan buah tersebut pada Sofia.


"Mau yang mana lagi?" tanya Akhsan setelah melemparkan empat buah mangga ke Sofia.


"Sudah cukup!" balas Sofia lalu berlalu meninggalkan Akhsan yang belum turun dari atas pohon.


"Sof! Woy Sof! SOFIAAAAA..." teriak Akhsan dengan kesalnya karena ditinggal pergi begitu saja setelah mendapatkan apa yang dimauinya.


"Jadi penghunilah kau di situ Akhsan," gumam Sofia dengan teganya.


***


Di dapur, Sofia menyerahkan mangga muda tersebut pada pelayan untuk membantunya mengupas lalu memotong-motongkannya.


"Silahkan tunggu sebentar nona," kata pelayan tersebut.


"Bawakan ke ruang tamu yah!" titah Sofia.


Pelayan tersebut mengangguk, "Baik nona," balasnya.


Sofia pun meninggalkan dapur.


"Dari mana Sof?" tanya Nafisah yang baru saja turun dari lantai dua.


"Habis dari dapur Naf," jawab Sofia menyengir kuda.


"Ngapain?" tanya Nafisah lagi.


"Minta tolong ngupasin sekaligus motongin mangga," jawab Sofia lagi.


"Mangga? Dapat dari mana? Muda atau matang?" cerocos Nafisah tanpa jeda. Tiba-tiba saja ia kepengen makan mangga muda.


"Sabar-sabar bumil! iya mangga tadi aku minta Akhsan yang ambilkan di belakang dan masih muda. Kamu mau? Sambil nunggu kita ke ruang tamu aja yuk!" pungkas Sofia lalu menggandeng tangan Nafisah menuju ruang tamu.


"Bentar-bentar Sof!" Sofia lalu menghentikan langkahnya begitu pula dengan Nafisah.


"Ada apa?" tanya Sofia mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Katamu tadi Akhsan yang manjat?" tanya Nafisah memastikan.


"Ho'oh benar. Mustahilkan? Tapi dia jago tahu panjatnya Naf kayak ahli gitu," ujar Sofia dengan semangatnya menjelaskan pada Nafisah yang terdiam tak percaya.


"Cuma kebetulan saja itu dan memang saya kan orangnya hebat nyonya," seru Akhsan yang baru saja kembali dari halaman belakang dengan pakaian yang sudah berantakan.


"Bwahahaha," seketika tawa Sofia meledak karena lucu melihat Akhsan yang tampil berantakan.


"Kamu kenapa itu Akhsan?" tanya Nafisah sembari menahan tawanya.


"Ini semua gara-gara sahabat nyonya itu yang dengan sadisnya meninggalkan saya setelah mendapatkan mangga yang dia inginkan," jelas Akhsan sambil menunjuk ke arah Sofia yang masih terbahak. Padahal Akhsan nampak memprihatinkan tapi dengan bahagianya Sofia malah tertawa begitu lantangnya.


"Kok gua sih, salah elu sendirilah," sahut Sofia setelah meredakan tawanya.


"Nahkan nyonya, bukannya terima kasih. Sudah untung saya baik mau membantu mengambilkan mangga muda itu," sindir Akhsan.


"Makasih," balas Sofia.


"Bilang makasih itu yang tulus bukan seperti itu," sahut Akhsan dengan nada kurang sukanya.


"Iya-iya gitu aja ngambek," cibir Sofia. "Akhsan yang ganteng, tapi gantengan dokter Aryo yang baik hati, tapi lebih baik bos Andra, Akhsan yang lembeknya minta ampun..."


"Stop! Elu muji atau menghina sih?" potong Akhsan.


"Dua-duanya, hahahaha..." jawab Sofia lalu kembali terbahak.


Akhsan berdecih kesal, "Gila yah," ucap Akhsan sebelum meninggalkan Sofia yang masih terbahak di tempatnya sembari memegangi perutnya.


"Aduh perutku," keluh Sofia sembari menghapus air matanya yang sempat keluar karena tertawa kencang.


"Gak baik tahu Sof seperti itu," imbuh Nafisah sambil geleng-geleng kepala.


"Bercanda Naf," kata Sofia membentuk tangannya menjadi tanda piace.


"Keterlaluan itu," balas Nafisah.


"Sudahlah gak usah dipikirin palingan dia cuma ngambek manja doang," jelas Sofia lalu kembali menggandeng tangan Nafisah menuju ruang tamu.


Tak lama setelah mereka duduk, pelayan tadi yang disuruh Sofia mengupas mangganya pun datang dengan membawa sepiring penuh mangga muda.


Sofia dan Nafisah secara bersamaan menelan air liurnya saat melihat betapa menggiurkannya mangga tersebut.


"Ini nyonya, nona," ucap pelayan pria itu sambil meletakkan sepiring mangga tersebut di atas meja.


"Terima kasih," ucap mereka berdua bersamaan lalu menyerbu mangga tersebut.


"Saya permisi dulu nona, nyonya kalau butuh apa-apa silahkan panggil saya saja," tutur pelayan itu.


"Oke," balas Sofia singkat.


Pelayan itu pun meninggalkan kedua wanita seusia itu.


"Enak yah Naf," ucap Sofia dan dibalas anggukan oleh Nafisah karena mulutnya terlalu penuh untuk bicara.


***


Sementara di dalam kamar, Andra kalang kabut menunggu Nafisah yang tidak kunjung juga kembali ke kamar mereka.


"Nafisah ambil air lama banget," ucap Andra lalu menyimpan ponselnya di atas nakas dan bangkit dari baringnya.


Andra pun keluar dari kamar berniat mencari keberadaan istri tercintanya  yang tadinya meminta izin cuma mau mengambil air tapi sampai detik ini pun belum kembali juga.


"Akhsan!" panggil Andra pada Akhsan yang hendak masuk ke dalam dapur.


"Iya tuan?" balas Akhsan menunduk hormat.


"Kamu melihat istri saya tidak?" tanya Andra.


"Nyonya ada di ruang tamu bersama nona Sofia tuan," jawab Akhsan.


"Ohoke, itu pakaian kamu kenapa?" tanya Andra sembari melihat-lihat pakaian Akhsan.


"Tidak apa-apa tuan," jawab Akhsan.


Andra manggut-manggut kemudian berlalu menuju ruang tamu.


Sesampainya di ruang tamu, Andra membelalakkan matanya melihat Nafisah dan sofia yang asik memakan mangga muda tanpa merasa kecut sama sekali.


"Stop!" cegah Andra ketika Nafisah hendak kembali memasukkan potongan mangga tersebut ke dalam mulutnya.


"Kenapa?" tanya Nafisah mengkerutkan keningnya.


"Itu kecut tidak baik buat kesehatanmu. Letakkan itu kembali!" ujar Andra sambil berjalan mendekat ke Nafisah.


"Enak kok," bela Nafisah kemudian memasukkan kembali potongan mangga itu ke dalam mulutnya.


"Sayang aku bilang hentikan. Itu tidak baik buat anak yang ada di dalam kandunganmu itu," jelas Andra dengan nada lembutnya.


"Apanya yang tidak baik sih bos? Orang ini itu makanan ibu hamil kok," seru Sofia yang sedari tadi hanya memperhatikan perdebatan pasutri itu.


"Lantas kenapa kau memakannya kalau itu cuma buat ibu hamil?" tanya Andra mengangkat sebelah alisnya.


🔫🔫🔫


TBC...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE💕

__ADS_1


__ADS_2