Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia : Ariana Sembuh


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA!


***


"An, pasti kakakmu akan senang jika mengetahui kamu sudah sembuh!" ujar Sofia antusias.


"apakah benar begitu?" tanya Ariana.


Dia takut pada kakaknya. Dia takut pada orang tuanya. Dia takut pada dunia.


"Tentu, kamu tahukan betapa sayangnya bos Andra padamu?" tanya Sofia dan Ariana pun mengangguk.


"Mereka tidak akan marah padamu. Mereka menyayangimu dan menunggu dirimu kembali seperti semula," lanjut Sofia.


"Kau tahu betapa besarnya pengorbanan yang dilakukan kakakmu?" lagi-lagi Ariana mengangguk.


"Apakah itu masih kurang untuk membuktikan betapa besarnya kasih sayangnya pada dirimu?!" kata Sofia.


"Tidak. Kakak menyayangiku bahkan sangat menyayangiku. Walaupun waktu itu aku belum normal, namun aku selalu mendengarkan keluhan kakak," jelas Ariana menangis.


"Aku juga tahu kalau papa meninggal dan mama koma selama dua tahun ini di ruang perawatan," lanjut Ariana sesegukan.


"Oh, jadi maksudnya dua wanita lagi adalah Ariana dan ibunya," gumam Nafisah dalam hati.


"Kak, aku mau bertemu mama!" Pinta Ariana.


"Baiklah, tapi kita beritahu kakakmu dulu dan kakak mau kamu diperiksa dulu baru kita bertemu dengan mamamu!" ucap sofia.


"Oke," setuju Ariana.


"Akhsan sebaiknya kamu keluar dulu! Ariana akan berganti pakaian," titah Nafisah.


"Baik nyonya," balas Akhsan kemudian meninggalkan ketiga gadis itu.


"Biar aku yang membantu Ariana ganti baju! Kamu telponlah tuan Andra dan dokter dulu," ujar Nafisah.


"Baiklah terima kasih sekali lagi," kata Sofia lalu keluar dari kamar itu.


"Okey, sekarang aku akan membantumu berganti baju, Ariana," kata Nafisah.


"Panggil Ana aja kak," seru Ariana dan Nafisah pun tersenyum.


Nafisah kemudian membantu Ariana membersihkan tubuhnya lalu menggantikan bajunya dan tak lupa mendandaninya agar terlihat lebih fresh.


***


Di ruang tamu rumah taman, Sofia terlebih dulu menghubungi Andra. Karena bagaimana pun Andra adalah bos sekaligus kakak Ariana yang berhak tahu lebih dulu kabar bahagia ini.

__ADS_1


"Halo," ucap Sofia kala Andra sudah mengangkat panggilannya setelah sepuluh kali mencoba.


"Ada apa?" tanya Andra.


"Bos, Ana... " Sofia menjeda kalimatnya karena tersedak air liuarnya sendiri.


"Ada apa dengan Ana?" tanya Andra dengan nada cemas.


"Maksudku..."


"Jangan bertele-tele denganku Sof!" tegas Andra.


"Makanya dengarkan aku dulu! Aku mau bilang kalau Ana sudah sembuh," tutur Sofia dengan girangnya.


"Kau jangan bercanda!" Kata Andra.


"Siapa yang bercanda sih bos? Aku bicara jujur dan kalau bos tidak percaya, sekarang datanglah ke rumah taman!" kesal Sofia. Bosnya ini bodoh atau sinting sih?


"Aku mau menelpon dokter Aryo untuk memeriksa keadaan Ana, Panggilan aku akhiri," lanjut Sofia. Andra tidak menjawabnya. Sofia pun menutup panggilannya.


Sofia tahu jika bosnya itu sekarang sudah berlarian tak jelas untuk  langsung ke rumah taman, mengecek sendiri keadaan Ariana.


Satu hal yang dapat kita tangkap dari kisah Ariana ini, yaitu tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan telah berkehendak maka 'kun fayakun'.


Sofia lalu menghungi dokter Aryo, dokter keluarga Yudhiantara. Setelah selesai mengutarakan maksudnya pada Dokter Aryo, Sofia kemudian mengakhiri panggilan.


"Di mana Ana?" tanya Andra.


"Dia di dalam kamarnya," jawab Sofia.


Andra pun langsung masuk ke dalam rumah taman dan berjalan menuju kamar adik perempuannya yang telah lama ia rindukan selama tiga tahun belakangan ini.


Memang benar Ariana atau Ana tidak pergi jauh. Namun, raga dan jiwanya berada di tempat yang berbeda. Raganya mungkin berada disini tapi tidak dengan jiwanya yang melayang entah kemana.


Sofia dan Dimas mengekori Andra masuk ke dalam rumah taman.


Andra membuka pintu kamar Ariana dengan hati yang penuh harap. Ariana yang baru saja selesai disisiri oleh Nafisah pun langsung menatap ke arah orang yang dengan sedikit kasar membuka pintu kamarnya.


"Kakak!" ucap Ariana. Matanya kini sudah mengembun, siap menjatuhkan mutiara cair.


Andra langsung menghambur memeluk tubuh mungil sang adik. Nafisah memundurkan sedikit tubuhnya, karena dia berada pas disamping Ariana.


Nafisah tertegun melihat Andra yang merupakan pria yang di capnya kejam itu ternyata sangat menyayangi Ariana.


Andra menghujani Ariana kecupan di puncuk kepala gadis mungil itu. Ariana menangis di dalam dekapan sang kakak.


"Kakak!" ucap Ariana terisak.

__ADS_1


"Hust... jangan menangis!" kata Andra.


"Kakak, Ana minta maaf sudah membuat kakak khawatir dan juga telah merepotkan kakak dan yang lainnya!" imbuh Ariana.


Sebenarnya dia mendengar semua yang diucapkan kakak dan juga orang-orang yang selama ini mengajaknya berbicara. Namun, bayang-banyang masa lalu itu kembali menghantuinya, sehingga dia lebih memilih berada di kondisi seperti itu.


Dibilang mati, namun masih bernafas. Dibilang hidup, tapi seperti mayat. Tak berucap dan juga berdiam bak patung monalisa.


Namun, Nafisah berbeda dengan orang-orang yang sudah berusaha membuatnya sadar dan mengajaknya mengobrol. Nafisah memberikannya motifasi jika tuhan itu tidak tidur, sedangkan yang lainnya hanya menjadikannya tempat curhat.


"Kau tidak salah, Ana! Kami tidak pernah menyalahkanmu dan jangan pernah mengungkit masa lalu, Sekarang yang harus kamu pikirkan hanyalah masa depanmu bukan masa lalumu!" tegas Andra sembari menghapus air mata Ana.


"Kau sudah menelpon dokter?" tanya Andra pada Sofia dan terus menghapus air mata Ariana.


"Sudah bos, sebentar lagi dokter Aryo datang," jawab Sofia.


Tak lama Dokter Aryo pun datang dan mulai memeriksa kondisi Ariana.


"Semuanya sudah membaik, Ana sepenuhnya sembuh. Tidak ada gangguan fisik maupun batin," jelas Dokter Aryo ikut bahagia. Selama tiga tahun belakangan ini dia yang mengecek kondisi Ana dan ini adalah kabar gembira bukan hanya bagi Andra, tapi juga bagi dirinya.


"terima kasih dokter," ucap Sofia.


"Terima kasih kembali sudah memanggilku nona Sofia," kelakar Dokter Aryo. "Ohyah, gue juga akan memeriksa mama lo. Jadi apa di perbolehkan?" tanya Aryo.


"Dasar bodoh! Memangnya gue pernah melarang lo untuk memeriksa ibu gue?" kesal Andra.


Dokter Aryo terkekeh melihat tingah atasan sekaligus sahabatnya itu. Dia, Andra dan Dimas merupakan sahabat karib.


Ayah Aryo adalah dokter kepercayaan keluarga Yudhiantara, namun karena usianya yang sudah mulai menua dia pun di gantikan oleh Aryo putra tunggalnya.


"Baiklah, kalau begitu gue mau ke ruang perawatan dulu!" pamit Aryo.


"Aku ikut!" ucap Ariana.


"Kamu istirahatlah dulu!" seru Andra lembut.


"Tidak! Aku mau menemui mama," rengek Ariana dengan mata berkaca-kacanya.


"Baiklah! Dasar cengeng," kata Andra sambil mengacak-acak rambut Ariana gemas.


"Aku tidak cengeng yah kak! Aku strong!!" sombong Ariana dan itu membuat semuanya terkekeh geli.


🔫🔫🔫


TBC...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE💕

__ADS_1


__ADS_2