Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia : Masa Lalu


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA!


***


Di tempat lain di kota J, Ronal sedang menunggu kedatangan asisten pribadinya yang ia tugaskan untuk memantau ruman besar Andra.


Tak-tak-tak!


Bunyi suara sepatu kulit yang beradu dengan lantai. Feng, ya pria yang di tunggu-tunggu pun akhirnya tiba.


"Selamat malam bos," sapa Feng membungkuk hormat.


"Mmm... bagaiamana?" tanya Ronal.


"Mereka sedang berpesta untuk merayakan hari ulang tahun Andra bos," jawab Feng sesuai apa yang ia ketahui.


Ronal hanya manggut-manggut mengerti. "Bagaimana rencana besok? Apa sudah bisa kita lakukan Feng?" tanya Ronal tanpa menatap Feng.


Feng mengangguk, "Iya bos. Saya sudah mempersiapkan semuanya dan anak buah kita pun sudah bersiap," jelas Feng mantap.


"Bagus, aku mengandalkanmu Feng!" seru Ronal penuh keyakinan.


"Percayakan semuanya sama saya bos," imbuh Feng dan Ronal pun meengangguk.


"Kamu boleh pergi sekarang!" usir Ronal dan Feng pun membungkuk hormat.


"Saya permisi bos," ucapnya sebelum meninggalkan Feng.


Drt-drt-drt!


Tidak lama setelah kepergian Feng, ponsel Ronal berdering dan itu adalah panggilan dari adiknya yang masih dirahasiakan identitasnya sampai sekarang.


"Halo," sapa Ronal lalu mendudukkan tubuhya di kursi kerjanya. "Ada apa?" tanya Ronal.


"Aku cuma mau bertanya, kapan rencanamu akan dilakukan?" tanya adiknya.


"Besok," jawab Ronal singkat, jelas dan padat. "Memangnya kenapa?" tanya Ronal.


"Tidak ada, aku cuma mau tahu dan lagian aku juga berperan penting dalam rencanamu, jadi jangan sewot begitu!" kesal adiknya di seberang sana.


"Hahaha... lama-lama kau sudah mirip banci di taman lawan," ejek Ronal sambil terbahak.


"Sekali lagi kau menertawakanku, akan ku sumpal mulutmu itu dengan kulit durian," sungut adiknya sinis.


"Wo wo wo... kau sadis sekali dengan kakakmu sendiri," lirih Ronal sok mendrama.


"Jangan mainkan drama remehanmu itu!! Sudahlah bicara denganmu hanya akan membuatku darah tinggi," kesal adiknya lalu memutuskan sambungan telpon.

__ADS_1


Tut-tut-tut!


"Orang ini, kelamaan dia menyamar dan sekarang lihatlah, dia sensi sekali seperti cewek," gumam Ronal lalu terkekeh.


Ronal lalu meraih sebuah foto yang ia pajang dan ada di manapun di mana Ronal berpijak. Seorang gadis dengan rambut pendeknya tersenyum begitu manis di dalam foto tersebut.


Ronal menatap lekat-lekat foto itu dan memorinya kembali teringat akan peristiwa lima tahun yang lalu.


Flashback on


Lima tahun yang lalu...


Malam itu adalah malam di mana Ronal dan kekasihnya yang bernama Audy sedang bermalam mingguan.


Saat itu usia Ronal masih dua puluh tiga tahun begitu pula dengan sang kekasih. Mereka satu perguruan tinggi saat kuliah dulu.


Ronal dan Audy berjalan bergandengan tangan menelusuri pasar malam. Sesuai dengan janjinya pada sang kekasih penakluk hati, akhirnya Ronal menepati janjinya untuk membawa Audy berjalan-jalan.


"Terima kasih sayang, kamu adalah pacar terbaik sepanjang masa," puji Audy terkekeh.


Ronal mencubit gemas hidung minimalis kekasihnya, "Kamu bisa aja bikin aku gemas tahu gak," ucap Ronal lalu mencium pipi Audy.


"Itu mah bukan gemas tapi maunya kamu. Main nyosor aja," Audy memutar bola matanya jengah.


"Biar romantis sayang," kata Ronal mengacak-acak rambut Audy.


"Kamu mau naik?" tanya Ronal dan dijawab anggukan kepala oleh Audy. "Ya sudah ayo!" ajak Ronal dengan semangat.


Sebelum naik, Ronal terlebih dulu membeli karcis wahana tersebut.


"Pak, saya beli tiketnya dua!" ucap Ronal pada penjual karcis.


"Ini mas," penjual karcis memberikan dua lembar kertas pada Ronal.


"Berapa pak?" tanya Ronal.


"Empat puluh rebu mas," jawab penjual karcis dan Ronal pun memberikan selembar uang biru pada penjual karcis.


"Kembaliannya ambil aja pak," kata Ronal.


"Terima kasih mas," syukur penjual karcis itu. "Silahkan naik," mempersilahkan Ronal dan Audy untuk naik.


Ronal dan Audypun naik di sapah satu gerbong bianglala. Wahana itu pun mulai berputar.


"Suka hmm?" tanya Ronal melihat Audy begitu berbinar.


Audy mengangguk antusias, "Suka, aku sangat suka. Makasih sayang," kata Audy dengan girang lalu memeluk Ronal.

__ADS_1


Ronal kemudian menggenggam erat tangan Audy dan menetap kekasihnya itu dalam-dalam.


"Kamu kenapa?" tanya Audy aneh melihat Ronal tidak biasanya menatap dirinya seperti itu.


"Audy, jangan tinggalkan aku," lirih Ronal dengan suara memberatnya.


"Memangnya aku akan ke mana? Kamu ada-ada saja!" Audy terkekeh sambil geleng-geleng kepala.


"Entahlah, tapi kamu harus berjanji tidak akan dan tidak akan pernah meninggalkan diriku! Aku mencintai dan juga menyeyangimu. Always," ujar Ronal begitu menyentuh.


Mata Audy berkaca-kaca. "Tenanglah! Aku akan selalu berada di sampingmu, sekarang dan selamanya," timpal Audy tersenyum.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku, namun hatiku mengatakan jika kamu akan pergi meninggalkanku. Aku tidak mau dan tidak akan pernah rela jika kau meninggalkanku Audy," jelas Ronal lalu mendekap tubuh Audy begitu erat seolah-olah ia tidak membiarkan tubuh itu pergi menjauh darinya.


"Ssst... itu hanyalah firasat dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Sekali pun kamu yang meminta diriku untuk pergi meninggalkanmu," tutur Audy membalas pelukan Ronal.


"Aku mencintaimu," aku Ronal.


"Aku juga mencintaimu," balas Audy dan Ronal pun ******* bibir Audy begitu dalam di atas bianglala dan di saksikan oleh beribu bintang dan bulan yang menggantung di atas langit malam.


Flashback off


Ronal meneteskan air matanya sembari mengelus-elus foto Audy.


"Sayang, kenapa kamu tega padaku? Apa masih kurang cinta dan sayang yang aku berikan padamu? Aku bahkan rela mati jika kamu menginginkan hal itu," kata Ronal terisak.


"Bukankah kamu berjanji akan selalu berada di sampingku? Tapi mana? Mana? Jangan berjanji jika kamu hanya mengingkarinya!!" teriak Ronal mulai histeris.


"Andra!!!!!" teriak Ronal menggema. "Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang setelah semua yang telah kau lakukan pada Audy!!" kata Ronal bersumpah.


"Ini adalah sumpah dari Ronal Dirgantara," tambah Ronal.


Ronal menangis sesegukan sekuat apapun seorang pria pasti dia pernah menangis. Apalagi jika itu berurusan dengan perasaan.


Cinta sejati akan selalu menjadi yang sejati dan selamanya akan bertahta sampai tersingkirkan oleh hati yang baru.


Menerawang ke depan...kadang kata itu gampang di ucapkan oleh banyak orang tapi pada kenyataanya masih banyak manusia yang selalu teringat  pada masa lalu.


masa lalu atau masa depankah? Masa lalu yang manis, masa lalu yang indah, masa lalu yang terkadang membuat mata manusia berbinar, masa di mana manusia berjaya.


Ada masa lalu yang indah dan ada juga masa lalu yang kelam. Begitulah masa lalu seorang Ronal Dirgantara. Ada manisnya dan ada pahitnya.


🔫🔫🔫


TBC...


JANGAN LUPA, LIKE, KOMEN DAN VOTE💕

__ADS_1


__ADS_2