Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia : Nafisah diculik


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA!


***


Keesokan paginya, Andra dan Dimas sudah berangkat ke kantor dan sekarang tinggallah ketiga perempuan itu.


"An kamu gak kuliah?" tanya Sofia mendudukkan tubuhnya pada sofa di samping Ariana sambil mengunyah buah apel.


Ariana menggelengkan kepalanya, "Enggak kak," katanya kemudian.


"Loh kenapa An?" tanya Nafisah yang duduk di single sofa.


"Dosen Ana gak masuk kak, lagi pula buat apa ke kampus kalau dosen aja gak masuk? Buang-buang tenaga dan bensin aja," cerocos Ariana panjang lebar.


"Hadeh," Sofia menghela napasnya. "Terus sekarang kamu di rumah aja mau ngapain? Kalau kakak yah dulu mau ada dosen atau enggak kakak tetap tuh ke kampus cuci-cuci mata ngintip senior ahahaha..." Sofia tergelak mengingat tingkah absurdnya dulu.


"Itukan kakak bukan Ana," Ariana memutar bola matanya jengah. "Ana sih ada rencana untuk ke toko buku, kakak berdua mau ikut?" tawar Ariana.


"Boleh, kakak juga mau ikut. Mau beli novel terbaru," seru Nafisah bersemangat.


"Ya udah kalau mau ikut, siap-siap gih!" imbuh Ariana.


"Oke," Nafisah bangkit dari duduknya. "Aku siap-siap dulu yah," ucap Nafisah dan di angguki oleh Ariana dan Sofia.


" Kak Sof gak ikut?" tanya Ariana.


"Ikut," jawab Sofia.


"Kenapa gak ganti baju kalau mau ikut?" tanya Ariana.


"Memang pakaianku ada yang salah? Ada yang kurang?" tanya Sofia beruntun sambil melihat-lihat penampilannya yang sudah oke menurutnya.


"Gak juga sih, tapikan aneh," kata Ariana memelankan intonasi suaranya. "Terserah kakak sajalah, aku mau siap-siap dulu," tambah Ariana lalu meninggalkan Sofia sendiri.


Tak lama setelah kepergian Ariana, ponsel Sofia berdering.


Drt-drt-drt!


Sofia lalu mengangkat panggilan dari nomor yang tidak dikenal.


"Halo, ini siapa?" tanya Sofia ketus.


"Halo bos, ini saya anak buah anda. Sekarang di markas sedang terjadi keributan. Cepatlah ke sini bos, kami sisa sedikit," jelas si penelpon dengan napasnya yang mulai susah.


"Halo, halo! Katakan dengan jel..."


Tut-tut-tut!


Panggilan itu pun terputus.


"Sialan!! Siapa dia?!" geram Sofia. Dia kemudian menghubungi ponsel Jack untuk memastikan markas aman-aman saja dan yang tadi menelponnya hanyalah orang iseng saja.


"Angkat bodoh!" kesal Sofia namun Jack belum juga mengangkat ponselnya. "Orang ini memang tidak ada manfaat-manaatnya sama sekali," marah Sofia memandang kesal ponselnya.


Sofia lalu menghubungi Rio namun hasilnya tetap nihil, sama saja Rio juga tidak mengangkat panggilannya.


"Ke mana mereka berdua ini. Kenapa di saat sepeerti ini ponsel mereka semua malah sulit untuk di hubungi," gerutu Sofia kesal. "Apa mereka mojok berdua? Dasar pisang makan pisang," tuduh Sofia sangkin kesalnya.

__ADS_1


"Apa benar jika markas di serang?" gumam Sofia gelisah. Ia lalu berjalan terburu-buru menuju kamar Ariana.


Tok-tok-tok!


"An!" panggi Sofia sembari terus mengetuk pintu kamar Ariana.


"Ana!" panggil Sofia lagi.


"Iya kak Sof ada apa? Ana sedang ganti baju," sahut Ariana dari dalam.


"An, kakak mau bilang kalau kakak gak jadi ikut sama kalian," ujar Sofia.


Ceklek!


Ariana membuka pintu lalu mengernyitkan keningnya. "Kenapa?" tanya Ariana.


"Tiba-tiba saja kakak ada urusan mendadak dan harus pergi sekarang juga," jelas Sofia dan Ariana pun mengangguk mengerti.


"Baiklah, kakak boleh pergi," seru Ariana dan Sofia pun berlalu.


"Ada apa dengan kak Sof? Buru-buru sekali," kata Ariana lalu kembali menutup pintu kamarnya dan bersiap.


"Hayuk kak berangkat!" ajak Ariana setelah selesai bersiap pada Nafisah yang sudah menunggunya dari tadi di ruang tamu.


"Di mana Sofia?" tanya Nafisah saat tidak melihat Sofia.


"Kak Sofia katanya tidak jadi ikut, tiba-tiba saja dia ada urusan mendesak tadi," jelas Ariana. "Udah tidak usah dipikirkan ayo!" tambah Ariana lalu menarik tangan Nafisah keluar rumah.


Mereka pun meninggalkan rumah besar dengan mengendarai mobil yang dikemudikan oleh Ariana.


"Pelan-pelan An!" tegur Nafisah karena Ariana terlalu kencang membawa mobilnya.


***


Sedangkan di sisi lain, Feng dan anak buahnya sudah siap siaga dengan rencana mereka.


"Kata bos, Sofia tidak bersama mereka dan bodyguard pun tidak ada yang ikut karena keras kepala bocah itu. Ini sangat menguntungkan bagi kita," seru Feng tersenyum miring.


"Memangnya kenapa jika Sofia bersama mereka bos?" tanya anak buahnya bodoh.


Pletak!


Feng menyentil dahi anak buahnya dengan sangat keras. "Dasar bodoh! Memangnya kau mau mati di tangan Sofia?!" ucap Feng.


"Kan saya cuma tanya bos," cicit anak buahnya.


"Sofia, meskipun dia adalah seorang perempuan namun kemampuannya masih di atas kita! Dia lincah dan jago," jelas Feng bergidik ngeri.


"Ayo kalian taburkan cepat paku tindis itu!!" perintah Feng pada anak buahnya yang lain.


"Baik bos," balas anak buahnya lalu keluar dari mobil dan menaburkan paku tindis di jalanan.


Untung saja jalanan yang Ariana akan lewati adalah jalanan yang selalu sepi dari kendaraan sehingga memudahkan mereka untuk menjalankan rencana mereka tanpa takut salah sasaran.


"Beres bos," kata anak buahnya setelah selesai menaburkan paku tindis dan masuk kembali ke dalam mobil.


"Kerja bagus," ucap Feng.

__ADS_1


Duar!


Bunyi ban mobil Ariana terdengar di telinga Feng dan anak buahnya. Feng tersenyum miring lalu memakai kacamatanya.


"Kalian turun ketika aku beri kode!" titah Feng sebelum turun dari mobil.


Ariana mengerem mobilnya mendadak ketika tahu jika ban mobilnya bocor.


"Kenapa An?" tanya Nafisah.


"Sepertinya ban mobil Ana bocor kak," jawab Ariana. "Kakak tunggu di sini saja, biar Ana yang lihat," tutur Ariana dan Nafisah pun mengangguk. Ariana lalu turun dari mobilnya.


"Bagaimana An?" tanya Nafksah dari dalam mobil.


"Bocor kak," jawab Ariana.


"Astaga dasar paku sialan! Bisa-bisanya dia menempel sempurna di ban mobilku," gerutu Ariana.


"Bagaimana tidak bocor coba, lihat saja seisi jalanan ini sudah di taburi paku tindis, siapa sih orang kurang ajar itu!" cerocos Ariana.


Feng mendekat ke arah Ariana, "Ada apa nona?" tanya Feng mengamati mobil Ariana.


"Ban mobil saya bocor tuan. Gara-gara orang kurang kerjaan yang menaburkan paku tindis di sekitar sini," jawab Ariana kesal sendiri.


"Tuan, di sekitar sini ada bengkel tidak? Saya lupa bawa ban serep," tanya Ariana.


"Ada sekitar seratus meter dari sini," jawab Feng asal padahal dia juga tidak tahu ada atau tidaknya bengkel di sini.


"Sepertinya aku harus menghubungi kakakku kalau seperti itu," ujar Ariana hendak mengambil ponselnya yang ada di dalam mobil namun tangannya dicekal oleh Feng.


"Argh... anda jangan kurang ajar yah!" berontak Ariana.


Feng lalu mengkode anak buahnya untuk segera turun dari mobil.


"Bawa wanita itu!" titah Feng.


"Baik bos," balas anak buahnya lalu membuka pintu mobil dan menyeret paksa Nafisah.


"Lepaskan! Lepaskan saya!!" berontak Nafisah.


"Lepaskan kakak iparku bajing*an," maki Ariana.


"Kau terlalu banyak bicara bocah," kata Feng lalu memukul tengkuk Ariana dan membuat Ariana meloroh ke aspal tidak sadarkan diri.


"An! Anaaaaa!!!" teriak Nafisah menggema namun Ariana sudah kehilangan kesadarannya.


"Kau apakan dia?!!" teriak Nafisah terisak.


"Dia tidak apa-apa hanya akan pingsan beberapa jam saja," santai Feng. "Bawa dia!!" tambahnya dan anak buahnya pun langsung menyeret Nafisah menuju mobil mereka.


***


Para Visual "The Mafia Is My Husband" sudah aku buatkan yah! silahkan dicek di igku [@noona_risma14 ]🙃


Pantengin terus karena semua info novel-novelku ada disana✌


🔫🔫🔫

__ADS_1


TBC...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE💕


__ADS_2