
SELAMAT MEMBACA!
***
Mobil yang dikendarai Andra akhirnya sampai di rumah sakit, tadinya Andra mau membawa Nafisah ke rumah sakit terdekat saja namun karena fasilitasnya kurang jadinya mereka harus berkendara sekitar tiga puluh menit ke rumah sakit kota atau rumah sakit milik keluarga Yudhiantara.
Tanpa menunggu lama, Andra langsung saja menggendong Nafisah ala brydel style memasuki rumah sakit. Bahkan dia tidak menunggu suster membawakan bangsal untuk istrinya itu.
"Hei!! Di mana Aryo?!!" teriak Erwin menggema sangkin khawatirnya sampai-sampai ia lupa jika sekarang dia berada di rumah sakit.
"Andra! Nafisah kenapa?" tanya Dokter Aryo yang baru saja keluar dari kamar pasien berjalan mendekat ke arah Andra yang terlihat sangat cemas.
"Nafisah pingsan, ayo buruan lo periksa dia!!" jawab Andra.
"Tenang dulu Ndra percayakan sama gue! Sekarang lo letakkan istri lo di atas bangsal ini dulu," titah Dokter Aryo menunjuk bangsal yang sedari tadi di dorong suster namun Andra tidak menggubrisnya.
Andra pun mengangguk lalu meletakkan tubuh Nafisah di atas bangsal rumah sakit tersebut.
Suster-suter itu pun langsung mendorong bangsal menuju ruang IGD.
"Lo tunggu di sini!" cegah Aryo kala Andra ingin menerobos untuk masuk ke dalam.
"Tidak!! Gue harus ikut masuk! Gue ingin melihat kondisi istri gue," bentak Andra pada Dokter Aryo yang mencegahnya untuk masuk ke dalam ruang IGD.
"Calm down Ndra! Percayakan semuanya pada gue. Gue yakin istri lo itu gpp! Jadi gak usah secemas itu!" ujar Dokter Aryo memutar bola matanya malas. Beginilah kalau bos mafia sudah bucin, berubah menjadi menyebalkan.
"Kau mau mati yah!!!" teriak Andra namun Dokter Aryo sudah masuk ke dalam ruang IGD dan menutup rapat pintu ruangan itu.
Dokter Aryo lalu berjalan menuju Nafisah dan mulai memeriksa kondisi istri dari sahabatnya itu. Dokter Aryo lalu mengecek detak jantung Nafisah dan menurutnya semuanya normal.
"Suster, tolong panggilkan Dokter Mia!" titah Dokter Aryo pada suster yang menemaninya di dalam ruang IGD.
Suster itu pun mengangguk, "Baik dok," balasnya lalu keluar dari ruangan.
Ruang IGD terbuka, suster itu lalu berlari menuju sebuah ruangan dokter bernama Mia itu.
Andra yang melihat itu semakin panik. Suster itu berlari sangat kencang. Apakah terjadi sesuatu dengan istrinya? Apa kondisi Nafisah sangat buruk?
"Aku tidak akan memaafkanmu Ronal jika terjadi sesuatu pada Nafisah," kata Andra.
Bugh!
Andra meninju tembok hotel dengan tangannya.
"Bos tenanglah!" ucap Jack menenangkan Andra sebelum semuanya menjadi kacau kembali.
Tak lama suster itu kembali masuk ke dalam ruang IGD bersama dengan seorang dokter perempuan.
Andra memajukan langkahnya untuk bertanya, namun sebelum Andra bertanya, pintu IGD kembali tertutup. Andra menggeram kesal bukan main.
__ADS_1
"Arghhhhh..." jerit Andra tertahan sambil menarik-narik rambutnya sendiri.
Jack tidak tahu harus berkata apa lagi dan dia pun memilih untuk diam saja dari pada dia yang jadi sasaran kemarahan bosmya itu.
Drt-drt-drt!
Ponsel Jack berdering.
"Halo," ucap Jack setelah mengangkat panggilan tersebut.
"Kalian di mana?" tanya Dimas dari seberang sana.
"Di rumah sakit," jawab Jack.
"Kenapa? ada apa? Apa kau terluka? Atau bos?" tanya Dimas bertubi-tubi.
"Tidak ada yang terluka hanya saja nyonya pingsan setelah berhasil di selamatkan oleh bos," jawab Jack lagi.
"Kalian di rumah sakit mana sekarang?" tanya Dimas khawatir.
"Di rumah sakit biasa," jawab Jack dan panggilan dimatikan sepihak oleh Dimas.
Tidak butuh waktu lama bagi Dimas untuk sampai di rumah sakit. Sekarang pria itu sudah berlarian di koridor rumah sakit setelah bertanya pada resepsionis karena sebelumnya dia lupa menanyakan pada Jack di ruangan mana Nafisah di rawat.
"Ndra!!" panggil Dimas lalu berjalan mendekat ke arah Andra. "Bagaimana kondisi Nafisah?" tanya Dimas dengan napasnya yang ngos-ngosan. Andra menggeleng lemah tidak tahu.
"Baji*ngan! Bang*sat!" umpat Dimas dengan wajah memerahnya. "Setelah ini kita harus benar-benar menghabisi pria breng*sek itu Ndra!" emosi Dimas.
"Di mana Sofia Dim?" tanya Jack ketika menyadari jika Dimas datang sendirian.
"Katanya dia ada urusan dan malam ini dia tidak akan pulang," jawab Dimas. Andra dan Jack pun menganggukkan kepala mereka mengerti.
Ruangan IGD kembali terbuka dan keluarlah Dokter Aryo. Andra pun berjalan mendekat ke arah Dokter Aryo.
"Bagaimana kondisi istri gue Yo?" tanya Andra tidak sabaran.
"Nafisah sudah sadar dan sekarang sedang ditangani Dokter Mia," jawab Aryo tersenyum.
"Siapa itu Dokter Mia?" penasaran Aryo.
"Dokter Mia adalah dokter obgyn di rumah sakitmu ini Tuan Andra Yudhiantara," tekan Dokter Aryo memutar bola matanya jengah.
"Oh," Andra mengangguk mengerti dan detik berikutnya matanya membulat sempurna lalu menatap Aryo yang tersenyum jenaka menatapnya. "Maksud lo dokter obgyn?" tanya Andra bingung.
"Ya, sepertinya istri lo sedang hamil," jawab Dokter Aryo mantap.
"Ha-hamil?" tanya Andra gagap.
"Yes, Nafisah sedang hamil. Kerena setelah gue cek dan juga laporan laboratoriumnya keluar ternyata di dalam darah istri lo terdapat kendungan hormon HGG atau human chorionic gonadotropin," jelas Dokter Aryo.
__ADS_1
"Hormon ini terbentuk hanya jika seorang wanita sedang hamil saja," tambah Dokter Aryo.
"Jadi?" tanya Andra.
"Bodoh! Jadi istri lo hamillah," malas Dokter Aryo.
"Karena ini kabar bahagia, jadi kali ini gue biarkan elo ngatain gue bodoh," balas Andra dan Dokter Aryo hanya berdecih kesal.
"Apa sekarang gue sudah bisa masuk?" tanya Andra dan dijawab anggukan kepala oleh Dokter Aryo. Tanpa dipersilahkan Andra pun masuk begitu saja ke dalam ruangan.
"Mas," panggil Nafisah dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya sayang," ucap Andra mendekat lalu duduk di bibir ranjang dan memegang erat tangan istrinya.
"Mas, aku hamil," kata Nafisah bahagia dan Andra pun mengangguk lalu mencium kening Nafisah penuh kasih sayang.
"Iya sayang kamu hamil sebentar lagi kita akan memiliki anak, terima kasih," tutur Andra meneteskan air matanya lalu menyekanya kembali.
Dokter Mia tersenyum, "Selamat tuan dan nyonya Yudhiantara," ucap Dokter Mia ikut berbahagia.
"Terima kasih dok," balas Nafisah dam Dokter Mia pun mengangguk.
"Untuk memperjelasnya mari kita lakukan USG terlebih dulu," ujar Dokter Mia.
"Baik dok," kata Nafisah tersenyum sumringah.
Ultrasonography (USG) adalah prosedur pencitraan menggunakan teknologi gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk memproduksi gambar tubuh bagian dalam, seperti organ tubuh atau jaringan lunak.
"Suster tolong oleskan gel ini," pinta dokter Mia pada suster. Suster pun mengoleskan gel tersebut di atas permukan kulit perut Nafisah.
"Baiklah mari kita lihat dedek bayinya," ucap dokter Mia lalu mulai menggerakkan alat sensor di perut Nafisah.
"Bisa tuan dan nyonya lihat itu? Itu adalah anak kalian. Usianya sudah empat minggu dan saat ini tabung jantungnya sudah dapat berdenyut 65 kali dalam satu menit. Panjangnya sudah 0,6 cm lebih kecil dari butiran nasi," jelas dokter Mia. Andra dan Nafisah mendengarkannya dengan seksama sembari menatap layar monitor yang menampilkan janin Nafisah.
"Pada trimester pertama anda juga akan mulai mengalami gejala kehamilan, contohnya mudah kelelahan, peningkatan level hormon dan masih banyak lagi," lanjut dokter Mia.
"Jadi, tuan harus sabar menghadapi ibu hamil!" tambah dokter Mia.
Andra mengangguk lalu mencium punggung tangan sang istri dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Sekali lagi selamat tuan dan nyonya," ucap dokter Mia.
"Makasih dokter," balas Nafisah sambil tersenyum.
"Jaga kesehatan yah nyonya. Dalam usia kandungan ini, rentang terjadinya keguguran, jadi usahakan anda jangan sampai stress dan kelelahan," tambah Dokter Mia dan Nafisah pun mengangguk tanda mengerti.
🔫🔫🔫
TBC...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE