Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia : Mencari pelaku


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA!


***


Feng melepas topengnya lalu membuangnya ke tong sampah yang berada di dekatnya. Ya, orang yang menghadang dan menembak Dokter Mia adalah Feng.


Dia sengaja menguntit di sekitaran rumah besar Andra, ia hanya ingin tahu bagaimana kondisi rumah besar itu setelah memberikan kerugian besar pada Ronal.


Dan selama proses menguntitnya, ia jadi penasaran kala melihat Dokter Aryo. Setelah itu tidak lama datanglah juga dokter Mia hal itu membuatnya menjadi kepo seratus persen dan demi menghilangkan perasaan keponya, dia pun menghadang dokter Mia agar mendapatkan informasi.


"Jadi Sofia hamil?" tanya Feng pada dirinya sendiri.


Tak mau berlama-lama, Feng pun masuk kembali ke dalam mobilnya dan mengemudikan mobilnya itu menuju rumah sakit.


Hal tersebut harus segera ia beritahukan pada Ronal karena jikalau tidak adik Ronal dalam bahaya saat Andra tahu siapa ayah dari bayi yang dikandung Sofia sekarang.


Dua puluh menit waktu yang dibutuhkan Feng untuk sampai di rumah sakit. Dengan perasaan gelisah, Feng pun berlari menelusuri koridor rumah sakit.


Tidak menghiraukan teriakan serta umpatan dari pengunjung yang sempat ia tabrak sangkin paniknya.


Brak!


Feng membuka pintu ruangan Ronal sedikit kasar membuat si empunya ruangan terkejut.


"Bodoh! Kau mau membuatku mati serangan jantung, ha?" hardik Ronal pada Feng yang masih berdiri di ambang pintu menetralkan detak jantung dan juga napasnya yang ngos-ngosan.


Feng kemudian mendekat ke arah Ronal yang berbaring dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran bed rumah sakit.


"Bos," lirih Feng.


"Apa?" ketus Ronal.


"Ada kabar buruk bos," ucap Feng memperhatikan raut wajah bosnya.


"Cepat katakan! Jangan bertele-tele!" titah Ronal.


"So-Sofia hamil bos," balas Feng langsung to the poin.


"APA?!!" teriak Ronal membulatkan matanya.


"Iya bos, Nona Sofia hamil," tutur Feng lagi.


"Aku tidak tuli bodoh!" balas Ronal.


"Darivmana kau tahu hal ini?" tanya Ronal dan Feng pun menceritakan semuanya.


"Antar aku ke rumah besar sekarang!" titah Ronal sembari bangkit dari baringnya.


"Tapi kondisi anda masih kritis bos," balas Feng hati-hati.


"Masih kritis bukan? Belum sekarat. Cepatlah jangan banyak membantah!"  tegas Ronal dan mau tidak mau Feng pun menurut.


"Mintalah pada suster untuk melepaskan selang infus ini dulu dari tanganku," perintah Ronal dan Feng pun mengangguk lalu keluar ruangan mencari salah satu suster yang dapat membantu bos keras kepalanya itu.


"Dasar ceroboh! Kenapa kau begitu ceroboh breng*sek! Bagaimana kalau Andra tahu dan menghajarmu sampai mati, seharusnya aku tidak membiarkanmu untuk masuk ke dalam rumah besar itu," gumam Ronal memikirkan segala kemungkinan yang akan dilakukan Andra jika dia tahu kebenarannya.


Feng beserta suster masuk ke dalam ruangan Ronal. Tidak banyak bertanya karena sebelumnya sudah dijelaskan oleh Feng, suster itu langsung saja melepaskan selang infus tersebut.


"Harap kembali secepatnya tuan," tutur suster itu sebelum meninggalkan ruang rawat Ronal.


"Kau bantu aku berjalan!" kata Ronal dan Feng langsung saja memapah Ronal.


"Ini semua salahmu Feng," ucap Ronal.


Feng mengangguk, "Ya benar ini salah saya bos," ucapnya.


"Setelah ini kau tahu apa yang harus kau lakukan sebagai hukumanmu!" tegas Ronal.


"Saya siap menerima semua hukuman yang anda berikan kepada saya tuan," pasrah Feng.


***


Di kamar Sofia masih terjadi ketegangan. Hanya Sofialah yang bisa menjelaskan semuanya namun wanita jerman itu tak juga kunjung membuka matanya.


Satu menit berlalu, semuanya masih diam di tempat mereka sembari menunggu Sofia membuka kelopak matanya.


Sofia menggerakkan jarinya tanda dia sudah bangun dari pingsannya.

__ADS_1


"Auch..." Sofia memegang kepalanya saat ia merasakan sakit disana.


Saat pingsan tadi kepala Sofia terbentur sedikit keras pada lantai kamar mandi dan mungkin karena itulah ia merasakan sakit pada kepalanya.


Sofia menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. Ia masih berusaha mengumpulkan nyawanya yang sempat melayang.


Dia mencoba untuk mengingat kembali apa yang terjadi padanya sehingga dia bisa seperti ini dan jangan lupakan mereka semua yang berkumpul di dalam kamarnya.


"Kau tidak apa-apa atau kau merasakan sakit?" tanya dokter Aryo bertubi-tubi.


Sofia terdiam sejenak dan detik berikutnya, "Aaaa...!!" Sofia berteriak histeris.


"Hush tenanglah Sof," tutur Dokter Aryo sembari mengelus-elus pundak Sofia agar dia tenang.


Tapi bukannya tenang Sofia malah berteriak histeri dan menangis sejadi-jadinya.


Membuat semua yang berada di kamar itu menjadi ikut menangis. Andra semakin merasa bersalah. Ia pun semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri, menenggelamkan wajahnya di perut Nafisah.


"Tenanglah Sof!" ucap Dokter Aryo lalu merengkuh Sofia menyandarkan kepala wanita itu pada dada bidangnya.


"A-aku ha-hamil," ucap Sofia tergagap sambil terisak.


"I-itu tidak be-benarkan?" tanya Sofia berharap itu bukanlah kenyataan sebenarnya. Berharap apa yang ditunjukkan benda sialan itu hanyalah kesalahan.


"Sttt... diamlah tenangkan dirimu dulu!" imbuh Dokter Aryo.


Andra kemudian melepaskan pelukannya pada sang istri, memberanikan dirinya untuk bertanya apa yang terjadi pada Sofia satu bulan yang lalu.


"Sof!" panggil Andra. Rasanya tenggorokangnya seakan-akan tercekik.


"Bos, i-itu bohong. Aku tidak ha-hamil," balas Sofia sesegukan.


"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Andra.


Sofia menggeleng lemah, "A-aku tidak tahu dan semuanya terjadi begitu saja," pungkas Sofia lalu menceritakan semuanya pada Andra.


"Apa kau diberi obat perangsang oleh pelayan itu?" tanya Andra mengepalkan tangannya dan rahangnya sudah mengeras tanda jika ia sedang marah.


"Sepertinya iya Ndra, menurut gue jus jeruk itu dicampur dengan obat perangsang," timpal dokter Aryo.


"Dimas, Cepat pergi ke hotel itu! Lihat rekaman CCTV bulan lalu dan bawa hasil rekamannya ke sini!" titah Andra dengan nada sangat tegasnya.


"Biar aku saja yang menenangkan Sofia," seru Nafisah.


"Baiklah," balas Dokter Aryo lalu melepaskan rengkuhannya dan kemudian berdiri dari tempatnya.


Nafisah menggantikan Dokter Aryo. Ia merengkuh tubuh gemetar Sofia yang terisak sampai sesegukan seraya mengusap punggung sahabatnya itu.


Baru kali ini ia melihat Sofia begitu lemah. Hatinya ikut teriris ketika mendengar teriakan wanita itu. Sungguh demi apapun wanita yang ada direngkuhannya ini bukanlah Sofia yang ia kenal.


"Kakak mau Ana ambilkan makan?" tawar Ariana karena Sofia belum sarapan pagi ini.


Sofia menggeleng lemah.


"Sof, makanlah walau hanya sesuap! Kasihan bayimu. Dia tidak bersalah dan jangan hukum dia," ujar Nafisah.


"Aku tidak menginginkannya hadir Naf," balas Sofia datar.


"Aku tahu, tapi inilah takdir," timpal Nafisah.


"Takdir selalu saja mempermainkan hidupku," ucap Sofia putus asa.


"Sstt... jangan bilang seperti itu! Jangan salahkan takdir," balas Nafisah.


***


Dimas sampai di hotel. Ia bersama anak buahnya lalu memasuki hotel itu dengan berlari.


"Di mana ruang CCTV?" tanya Dimas dengan nada tegasnya pada kedua resepsionis hotel.


"Maaf pak, anda ada urusan apa yah?" tanya resepsionis itu sopan.


"Katakan di mana ruang CCTV breng*sek!" bentak Dimas. Emosinya jadi tersulut ketika mengingat jika salah satu pekerja hotel ini ikut andil dalam peristiwa yang terjadi pada Sofia.


"Di-di sana pak," jawab resepsionis yang satunya lagi ketakutan dan menunjuk pada arah jalan menuju ruang CCTV.


Dimas dan beberapa anak buahnya pun berlari menuju ruang CCTV dan yang lainnya berjaga agar tidak ada yang masuk ke dalam hotel.

__ADS_1


Apalagi sampai kedua resepsionis itu melapor dan membuat semua rekaman CCTV itu dihapus.


Brak!


Dimas membuka pintu ruang CCTV dengan keras membuat salah satu engsel pintu itu terlepas.


"Mau apa kalian?" tanya penjaga ruangan itu.


Tanpa menjawab, Dimas memerintahkan agar anak buahnya memegang penjaga itu untuk mempermudahkannya melakukan tagasnya.


Dimas lalu mengotak atik tombol-tombol itu. Dan tidak perlu membuang waktu yang lama, dia pun menemukan rekaman yang ia cari.


Tangannya mengepal kuat-kuat ketika ia melihat Feng memasuki kamar yang sama dengan kamar yang dimasuki Sofia, namun sebelum berhasil mencuri ciuman dari Sofia, tiba-tiba rambut Feng ditarik oleh seseorang.


Dimas lalu mencari rekaman CCTV yang ada di depan kamar tersebut dan betapa terkejutnya dia mendapatkan sesuatu yang sangat sulit ia percayai.


"Apa-apaan ini!" murkah Dimas.


Berikutnya ia memutar rekaman selanjutnya dan dia pun tahu siapa pelakunya.


"Aku tidak tahu apa niatmu, tapi kau telah menghancurkan hidup Sofia maka kau harus dihancurkan pula," ucap Dimas dengan mata berkilat marah.


"Berikan rekaman CCTV itu padaku! Cepat!!" titah Dimas seraya membentak.


Penjaga itu pun langsung saja memberikan rekaman yang diminta Dimas.


Dimas meninggalkan tempat itu. Yang diinginkannya sudah ia dapatkan, tinggal melihat pertunjukkan selanjutnya.


Tak lama setelah kepergian Dimas dan anak buahnya, Ronal dan Feng tiba di hotel. Tanpa bertanya lagi, Feng langsung saja berlari menuju ruang CCTV.


Feng meninju keras tembok ruang CCTV dirinya kalah telak dari tangan kanan Andra.


Sebelum berangkat tadi, Ronal sempat menelpon adiknya menanyakan apakah rekaman CCTV sudah ia hapus atau tidak dan ternyata karena ceroboh, adiknya itu melupakan untuk menghapus rekaman CCTV itu.


Feng masuk ke dalam mobil.


"Bagaimana?" tanya Ronal.


"Kita terlambat bos, Dimas sudah mendapatkannya," jawab Feng.


"Bajing*an! Breng*sek! Bast*ard!" umpat Ronal bertubi-tubi.


"Cepat! Kita harus secepatnya ke rumah besar!!" titah Ronal sedikit membentak.


Feng pun mengemudikan mobilnya di atas kecepatan rata-rata, berharap mereka sampai pada waktu yang tepat.


***


"Kenapa Dimas lama sekali?" tanya Andra tidak sabaran.


"Sabar!" timpal Dokter Aryo.


"Itu kak Dimas sudah datang," ucap Ariana ketika mendengar bunyi deru mobil yang dipakai Dimas tadi memasuki halaman rumah besar.


Andra dan Dokter Aryo keluar dari kamar Sofia.


"Aku mau ikut," seru Sofia pada Nafisah yang masih setia menenangkannya.


"Jangan! Kita tunggu saja di sini!" cegah Nafisah.


"Iya kak," timpal Ariana.


Tapi, bukan Sofia namanya kalau tidak membantah.


"Pokoknya aku mau keluar," tegas Sofia kemudian melepaskan pelukan Nafisah.


"Baiklah ayo keluar!" imbuh Nafisah. Mereka bertiga pun keluar dari kamar itu.


Andra dan dokter Aryo menunggu Dimas di ruang tamu.


"Bagaimana?" tanya Andra langsung ketika Dimas sudah ada dihadapannya.


"Ini bos," Dimas menyerahkan CD yang merupakan rekaman CCTV tersebut.


Tatapannya menajam bergerak ke sana ke sini, ia sedang mencari seseorang yang merupakan pelaku yang telah mengambil kesempatan saat Sofia lepas kendali gara-gara obat sialan itu.


🔫🔫🔫

__ADS_1


TBC...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE💕


__ADS_2