Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia : Flashback


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA!


***


"Berjanjilah padaku Akhsan! Jika kamu tidak akan menduakanku," pinta Joy sambil terisak.


"A-aku," gugup Akhsan.


"Kamu tidak perlu mengucapkannya kalau tidak bisa! Tapi aku mau kamu membuktikannya. Aku tidak butuh janji dengan kata-kata, aku butuhnya pembuktian! Mari kita sama-sama menjaga hati," pungkas Joy.


Akhsan menyeka air mata Joy kemudian mencium kelopak mata itu. "Kamu percaya sama aku bukan? Maka tetaplah percaya!" balas Akhsan tersenyum.


"Aku akan menolak permintaan kakak, aku tidak bisa menyakiti Joy. Aku takut jika nanti dia mengetahuinya, ini akan berakibat buruk bagi dirinya," batin Akhsan.


"Aku selalu mempercayaimu," balas Joy lalu menyatukan bibirnya dan bibir Akhsan.


***


"Sayang!" panggil Andra dari walk in closet.


"Apa?" tanya Nafisah sembari berjalan menuju suaminya.


"Bantu aku memakai ini," pinta Andra menyodorkan dasi yang di berikan Nafisah waktu itu sebagai hadiah ulang tahunnya.


"Baiklah sini," Nafisah mengambil dasi tersebut dan mulai mengikatnya.


Andra tersenyum melihat Nafisah yang dengan cekatannya memakaikan dasi untuknya.


Cup!


Andra mencium kening Nafisah singkat. Nafisah mendongak lalu tersenyum.


Sebenarnya tadi Andra telah rapih, namun karena permintaan konyol Nafisah dan Sofia, membuat jas kantornya kotor jadilah dia harus menggantinya sebelum ke kantor.


"Sayang," panggil Andra.


"Mmm," Nafisah berdehem.


"Makasih telah menjadi istri terbaik untukku," tulus Andra.


"Terima kasih kembali telah menjadi suamiku," imbuh Nafisah.


"Aku bukanlah pria terbaik, tapi kamu masih mau menjadi istriku. Aku sangat mencintaimu, teruslah bersamaku sekarang dan selamanya," ujar Andra tersenyum lembut.


"Selama Allah masih mengizinkanku untuk bernapas, parcayalah jika aku akan selalu berada di sisimu dan menjadi istri serta ibu dari anak-anakmu kelak," timpal Nafisah membuat Andra tersenyum bahagia.


Cup!


Cup!


Cup!


Andra kembali memberikan kecupan bertubi-tubi pada kening Nafisah.


"Sudah ayo nanti kamu terlambat!" kata Nafisah.


"Aku bosnya tidak ada yang berani menegurku!" imbuh Andra dengan sombongnya.


"Iya-iya bos Andra," ucap Nafisah terkekeh.


Andra membungkuk, mensejajarkan kepalanya dengan perut Nafisah. Ia lalu mengelus-elus perut Nafisah dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Halo baby!" sapa Andra pada anak yang masih berada di dalam kandungan Nafisah itu.


"Apa kamu mendengar papa sayang?" tanya Andra konyol mendekatkan telinganya pada perut Nafisah.


Nafisah berusaha menahan tawanya. Mana mungkin bayi yang masih berbentuk gumpalan darah itu bisa mendengar ucapan Andra? Aneh-aneh saja suaminya itu.


"Baiklah, kamu dengarkan papa baik-baik!" ucap Andra lalu menghela napasnya terlebih dahulu. "Papa minta sama kamu, untuk tidak meminta yang aneh-aneh okey! Kamu tahu betapa tersiksanya papa sayang?! Mintalah yang enak-enak sayang, seperti minta untuk papa mengunjungimu," tambah Andra tersenyum jenaka menatap Nafisah yang membulatkan matanya tidak percaya.


"Lihatlah mamamu begitu lucu jika terkejut," ucap Andra sambil terkekeh geli dengan ucapannya sendiri. "Dan yah jangan menyusahkan mamamu! Papa sayang kamu dan juga mama," lanjut Andra.


Cup!


Andra mencium perut Nafisah dengan sayang. Dia kembali menegakkan tubuhnya.


"Aku berangkat dulu, kamu hati-hati di rumah," tutur Andra dan kembali mencium kening serta bibir Nafisah.


"Hati-hati mas," kata Nafisah dan di angguki oleh Andra. Andra pun keluar dari kamar.


"Ndra!" panggil Dimas.


"Bagaimana? Apa kalian sudah mendapatkan buktinya?" tanya Andra.


"Sudah," jawab Dimas mantap.


"Bagus! Kita bicarakan hal ini di kantor," ujar Andra. Mereka pun berangkat bersama ke kantor.


***


Flashback On


Tepat hari dimana Audy meninggal karena di bunuh dan juga di perkosa. Saat itu Andra berada di bar sedang melakukan penjualan pada salah satu pelanggangnya dalam dunia gelap.


Andra tersenyum miring, "Bagus," kata Andra.


"Apa ini cukup?" tanya pria bule itu memperlihatkan uang yang ia sediakan dalam koper.


"Lebih dari cukup," jawab Andra mengambil alih koper tersebut dan memberikannya pada Dimas.


"Terima kasih atas kerja samanya," tutur Andra berdiri dari duduknya lalu menjabat tangan pria bule itu dan berlalu meninggalkan bar tersebut.


"Yuhuuuu... kita dapat duit," ucap Jack dengan girangnya sambil berputar-putar.


Dimas dan Andra hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol Jack itu.


Drt-drt-drt!


Ponsel Andra berbunyi.


"Gue ada telpon, kalian duluan aja ke mobil nanti gue susul," ucap Andra pada Dimas.


"Oke," balas Dimas.


Andra pun sedikit menjauh untuk mengangkat panggilan itu.


"Audy," gumam Andra saat melihat nama Audy yang tertulis di layar monitor ponselnya.


"Tumben sekali dia menelpon gue, apa dia sedang bertengkar lagi dengan Ronal?" tambah Andra lalu memutuskan untuk mengangkat panggilan Audy.


"To-tolong!" tardengar suara Audy yang tertahan dari balik ponsel.


"Audy! Halo! Kau kenapa?" tanya Andra mulai khawatir.

__ADS_1


"To-tolong!" ucap Audy lagi.


"Cari gadis itu!" teriak seseorang dari seberang sana yang dapat di dengar oleh Andra.


"Audy, siapa laki-laki itu?" tanya Andra.


"Pe-penja..."


Tut-tut-tut!


Panggilan tiba-tiba saja mati karena Andra lupa mencharger ponselnya dan sekarang sudah mati karena lowbat.


"Audy dalam bahaya!" putus Andra kemudian berlari begitu kencang menuju mobilnya.


"Hei bos kau kenapa?" tanya Jack.


"Kalian berdua turunlah! Aku ingin menggunakan mobil ini, pulanglah ke markas menggunakan taksi atau berjalan kaki saja," pungkas Andra lalu menancap gas meninggalkan Dimas dan Jack yang melongo di tempat mereka.


"Bos sudah gila? Ya kali kita di suruh jalan kaki kembali ke markas," gerutu Jack.


"Sepertinya bos ada urusan mendesak," tutur Dimas.


"Kenapa tidak membawa kita berdua?" tanya Jack dan ini adalah kesalahan terbesar Andra tidak membawa mereka berdua bersamanya.


Dimas mengedikan bahunya acuh tak acuh.


Sedangkan di rumah Audy, satu jam sebelum dia menelpon Andra.


Empat orang pemuda berhasil menerobos masuk ke dalam kontrakan Audy.


"Siapa kalian?" bentak Audy was-was.


Pria yang dikenal bernama Brian itu tersenyum miring. "Apa kau tidak mengenaliku gadis manis?" tanya Brian mencolek dagu Audy.


"Ka-kau," tunjuk Audy pada Brian. Dia kembali mengingat dua hari yang lalu dia yang menolong pria ini dari maut.


"Kenapa kau masuk ke dalam rumahku?" tanya Audy takut-takut.


"Karena aku menginginkan dirimu!" jawab Brian lalu tersenyum miring. "Aku jatuh cinta padamu saat kau menyelamatkanku waktu itu, aku mencari tahu semua tentang dirimu dan sayangnya kau telah memiliki seorang kekasih. Aku tidak terima itu! Kau harus menjadi milikku dan jika tidak maka pria itupun tidak boleh memiliki dirimu!" tambah Brian lalu menarik tangan Audy dan menyudutkannya di tembok.


"Lepaskan aku!" rontah Audy mendorong Brian yang hendak menciumnya.


Brian terdorong dan terjatuh pada kursi. Dia marah dan mengobrak-abrik ruang tamu Audy. Audy menggigil ketakutan.


Plak!


Brian menampar Audy.


"Lancang sekali dirimu mendorongku! Aku memang menyukaimu, namun bukan berarti aku tidak bisa menyakiti dirimu!" bentak Brian.


Audy memegang pipinya yang memerah bekas tamparan Brian dan menangis.


***


Yang mau lihat visualnya Joya maupun yang lain, cus Follow Ig Risma [@Noona Risma]


πŸ”«πŸ”«πŸ”«


TBC...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTEπŸ’•

__ADS_1


__ADS_2