
SELAMAT MEMBACA!
***
Brak!
Ariana tanpa sengaja menabrak tubuh seorang pria yang berdiri di hadapannya.
"Auch..." Ariana tersungkur di lantai.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya pria itu mengulurkan tangannya pada Ariana.
"Tidak apa-apa," ketus Ariana lalu berdiri sendiri tanpa menerima uluran tangan pria itu.
"An! Ka-kau tidak ap-ap-apa? A-aku melihatmu ta-tadi terja-jatuh," khawatir Siti.
"I'm fine," jawab Ariana. "Ayo ke kelas," ajak Ariana lalu menarik tangan Siti menuju kelas mereka.
Pria yang di tabrak Ariana mengernyit bingung pasalnya Ariana menabraknya dan tidak meminta maaf padanya.
***
"Selamat siang semua!" sapa dosen pada semua mahasiswa dan mahasiswi di kelas Ariana.
"Siang bu," balas mereka serentak.
"Siang ini kita kedatangan mahasiswa baru di kelas ini, saya harap kalian semua bisa berbaur dengan dia," pungkas Ibu dosen.
"Kamu silahkan masuk!" ucap bu dosen pada mahasiswa baru tersebut.
Mahasiswa itu masuk dengan berjalan cool membuat para mahasiswi berteriak tertahan dan para mahasiswa insecure dengan penampilan keren mahasiswa baru tersebut.
"Uwuuuu... banget," seru salah satu mahasiswi yang dikenal bernama Disa.
"Ini mah lebih dari kata uwuuuuu..." timpal Keysia.
"Tarik sis!!" teriak Fani.
"Semongko," dan ditimpali oleh satu kelas.
"Diam!" bentak Bu Dita selaku dosen yang mengajar di kelas Ariana hari ini.
"Silahkan perkenalkan tentang diri kamu terlebih dulu!" kata Bu Dita dan dijawab anggukan kepala serta senyuman oleh mahasiswa tersebut.
"Abang gulanya di kurangin dikit dong! Manis banget," histeris Disa lagi.
"Bang, bapak kau penjual gula aren yah?" tanya Fani.
"Kok tahu," teriak satu kelas.
"Soalnya senyummu begitu manis sampai-sampai membuatku diabetes seketika," goda Fani dengan gaya centilnya.
"Diam! Sekali lagi kalian ribut, saya keluarkan kalian dari kelas ini!" kata Ibu Dita menggertak semuanya dan seketika mereka semua langsung menciut.
Dari luar kelas, Ariana dan Siti baru saja kembali dari toilet karena Siti yang mules-mules sehingga harus buang hajat jadilah Ariana menemaninya ke toilet.
"A-ada apa yah An?" tanya Siti kala mendengar suara ribut-ribut dari dalam kelas mereka.
"Entah," jawab Ariana mengedikkan bahunya tidak tahu.
"Ayo masuk sebelum Bu Dita mengeluarkan kita!" seru Ariana lalu berjalan masuk ke dalam kelas.
__ADS_1
"Permisi bu," kata Ariana dan Siti.
Tatapan semua orang langsung tertuju pada mereka. Ariana yang merasa ada kejanggalan pun memfokuskan matanya pada orang yang berdiri di samping Ibu Dita.
Dan seketika matanya membulat terkejut ternyata pria yang tadi ia tabrak adalah mahasiswa baru di kelasnya.
"Kalian berdua duduklah!" titah Ibu Dita membuyarkan keterkejutan Ariana.
"Ba-baik bu," kata Siti lalu menarik Ariana menuju tempat duduk mereka.
"Ayo perkenalkan diri kamu!" ucap Ibu Dita.
"Halo semuanya!" sapa Mahasiswa baru.
"Hai," jawab mereka semua.
"Perkenalkan nama saya Satya Pratama Wardana. Sebelumnya saya kuliah di Korea selatan," jelas Satya.
"Ada yang mau bertanya pada Satya?" tanya Ibu Dita.
"Saya bu," ucap Gita mengangkat sebelah tangannya.
"Ya, silahkan Gita!" balas Ibu Dita mempersilahkan.
"Akang," panggil Gita.
"Akang gendang kalau saya bilang muter, muter yah! Bwahahaha," imbuh Nana dan semuanya kembali ricuh karena terbahak akan lawakan Nana.
"Diamlah Nana! Aku ingin bertanya pada akangku," bentak Gita menatap sinis Nana.
Nana langsung menutup mulutnya rapa-rapat lalu menggelengkan kepalanya berjanji kalau dia tidak akan mengulanginya lagi.
"Akang, pernah ketemu oppa Lee teuk gak? Punya nomor ponselnya gak? Tahu pin BBMnya kagak? Tahu alamat rumahnya? Tahu dimana rumah orangtuanya?" tanya Gita bertubi-tubi.
"Gita apa-apaan kamu ini!" tegur Ibu Dita.
"Ya maap bu, kan saya kepo," monyong Gita.
"Satya silahkan kamu duduk di samping Ariana," tunjuk Ibu Dita karena hanya kursi samping Arianalah yang tersisa.
"Saranghae," sorak Nana dan juga Disa.
"Diam!" gertak Ibu Dita. "Sekarang naikan buku kalian dan saya akan memulai pembelajaran hari ini," lanjut Ibu Dita.
***
Plak!
Plak!
Plak!
Marvin menampar semua anak buahnya yang tidak becus melakukan apa yang ia perintahkan.
"Dasar bodoh!" umpat Marvin.
"Maafkan kami bos," seru salah satu dari mereka.
"Aku tidak butuh maaf kalian semua, aku hanya ingin kalian membawakan apa yang aku mau!!" gertak Marvin dengan wajah merah marahnya.
"Rumah besar Andra kembali diperketat bos, kita tidak bisa menerobos masuk," jelas anak buahnya.
__ADS_1
"Sialan! Ternyata Andra bergerak cepat juga," geram Marvin.
Prang!
Marvin menghempaskan semua barang-barang yang ada diatas meja kerjanya.
Marvin Matthew atau yang lebih dikenal dengan nama Marvin adalah ketua dari geng mafia "anacobra". Dia sangat membenci Andra karena menjadi mafia nomor satu mengalahkan gengnya.
Ayahnya adalah orang yang dibunuh Andra waktu itu dan dilihat oleh Nafisah. Andra tidak akan melukai seseorang jika mereka tidak bersalah, namun buktinya ayah Marvin salah karena secara diam-diam, pria tua itu mencuri data-data pribadi perusahaannya dan membeberkannya pada pesaing bisnis Andra.
"Bagaimana dengan Sofia?" tanya Marvin.
"Dari informasi yang saya dapat nona Sofia sudah tidak ditugaskan di markas besar lagi bos. Dia ditugaskan untuk menjaga dan melindungi istri dan adik Andra," jelas anak buah Marvin.
"Sudah lama aku tidak bertemu dengan gadisku itu," kata Marvin tersenyum miring.
Marvin dan Sofia dulunya adalah mantan pasangan kekasih, namun setelah mengetahui jika Marvin menjebaknya Sofia lalu memutuskan hubungan mereka dan sampai saat ini dia sangat membenci Marvin.
Awalnya Marvin memang sengaja mendekati Sofia untuk membalaskan dendamnya pada Andra, tapi ternyata dia juga merasakan cinta yang dirasakan Sofia lebih dulu.
Namun, waktu sudah tidak dapat diputar kembali bahkan saat dia mencoba mengungkapkan rasanya, Sofia malah menembaknya sehingga ia harus dirawat selama lima bulan lamanya.
Dan setelah ia tahu jika ayahnya meninggal karena Andra, niatnya yang semula ingin berbaikan, dia batalkan dan memilih untuk menghabisi Andra dan keluarganya.
"Aku akan mendapatkanmu kembali setelah menghabisi Andra," gumam Marvin.
"Tidak akan kubiarkan orang lain memilikimu selain aku, MARVIN MATTHEW!" tambah Marvin tersenyum sinis.
"Apa yang kalian lakukan di sini bodoh!" hardik Marvin lalu melemparkan buku pada anak buahnya yang masih diam mematung di tempat mereka.
"Keluarlah! Dan lakukan tugas kalian!!" titah Marvin dengan nada tegasnya.
"Baik bos," balas mereka lalu keluar dari ruangan Marvin.
"I miss you baby," ucap Marvin sembari melihat fotonya dan Sofia yang sengaja ia pajang di atas meja kerjanya.
"Sofia... Sofia... Sofia... aku sangat-sangat mencintaimu," teriak Marvin seperti orang gila.
***
"Auch..." ringis Sofia ketika tanpa sengaja ia mengiris jarinya dengan pisau buah.
"Kamu kenapa Sof?" tanya Nafisah sembari meletakkan buah-buahan yang tadi ia kupas dan meraih tangan Sofia yang berdarah.
"Tanganmu berdarah!" seru Nafisah panik.
"Ini cuma luka kecil kok Naf! Jangan terlalu khawatir seperti itu!" timpal Sofia memutar bola matanya malas.
"Kenapa bisa terluka seperti ini?" tanya Nafisah
"Entahlah, perasaanku tiba-tiba saja menjadi tidak enak," jawab Sofia.
"Hanya perasaanmu saja! Aku juga sering merasakan seperti itu," timpal Nafisah dan dijawab anggukan kepala oleh Sofia.
"Aku berharap tidak akan terjadi apa-apa," harap Sofia dan ditimpali amin oleh Nafisah.
***
Yang merasa namanya Risma pakai komen yahπ Yang mau namanya Risma masukin dalam novel ini komen juga yuk!π
π«π«π«
__ADS_1
TBC...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTEπ