Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia : Pertumpahan Darah


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA!


***


Plak!


Marvin menampar Jack.


Plak!


Marvin juga menampar Rio.


Andra membulatkan matanya tidak terima dengan perlakuan Marvin yang seenaknya memukuli anak buahnya.


"Marvin!!" teriak Andra emosi.


"Jangan berteriak padaku sialan!!" teriak balik Marvin lebih keras dari teriakan Andra.


"Kau bahkan tidak tega melihatku memukuli anak buahmu lantas bagaimana jika aku menghabisi istri atau calon bayimu?" ujar Marvin menaik turunkan alisnya.


"Kalau kau berani menyentuh istri dan juga calon anakku, akan kupastikan semua keturunanmu akan kuhabisi sehingga tidak tersisa satu pun di dunia ini," ancam Andra dengan wajah merah murkahnya.


"Sebelum kau melakukannya, kau juga akan menyusul ayahmu itu!" balas Marvin tersenyum miring.


Srek!


"Argh..." Ringis Jack setelah mendapatkan goresan pisau dari Marvin pada pipinya.


"Kau juga ternyata lemah," ejek Marvin tersenyum miring pada Jack.


Dor!


"Argh..." Marvin berteriak ketika lengannya di tembak oleh seseorang.


"Siapa di sana?" teriak Marvin.


Andra dan Dimas tidak menyia-nyiakan keadaan. Mereka lalu mengambil senjata mereka dan mulai menembaki anak buah Marvin.


Dor!


Dor!


Dor!


Dimas menembak dua anak buah Marvin yang menyandera Rio.


Bugh!


Bugh!


Rio menendang kedua orang itu dengan bengisnya.


"Rio!" Dimas melempar pistol pada Rio.


"Hap... dapat," ucap Rio berhasil menangkap pistol yang di lemparkan Dimas padanya.


"See you," kata Rio menyunggingkan senyum miringnya.


Dor!


Dor!


Rio menembak jantung kedua anak buah Marvin.


Plak!

__ADS_1


Jack menampar pipi orang-orang yang memegang tangannya tadi.


Pertumpahan darah pun semakin menjadi-jadi saat anak buah Andra yang lainnya sampai di markas besar.


"Di mana Marvin?" tanya Andra pada Dimas seraya terus menembaki anak buah Marvin.


"Sepertinya dia kabur Ndra," pungkas Dimas.


"Pengecut," cibir Andra dan dengan satu kali tarikan pada senapannya, Anak buah Marvin pun tumbang.


"Bawa semua hama-hama ini ke kandang tiger," titah Andra dan diangguki oleh anak buahnya.


***


"Auch... pelan-pelan Rio!" ucap Jack saat luka sayatan yang ada di pipinya diobati oleh Rio.


"Lo sendiri saja yang mengobatinya," balas Rio malas.


"Sini! Elo gak pake hati ngobatin luka gue," kata Jack mengambil alih kapas yang dipegang Rio.


"Uweeek... amit-amit gue ngobatin elu pakai hati. Emang gue laki apaan?" ucap Rio jijik dan Jack hanya memutar matanya malas.


"Bagaimana Marvin bisa masuk ke dalama sini?" tanya Andra memicingkan matanya.


"Maafkan kami bos," tutur Jack dan Rio bersamaan.


"Aku tanya bagaimana bukan meminta kalian minta maaf bodoh!" pekik Andra menatap tajam Rio dan Jack.


"Ini semua karena kami mau makan pizza dan ternyata kurir yang mengantar adalah anak buah Marvin sialan itu," geram Jack karena dendam wajahnya menjadi korban kekejaman pisau kecil sialan milik Marvin itu.


"Bukankah sudah kubilang sebelumnya pada kalian untuk beli makan dari penjualnya langsung? Di luar sana masih banyak musuh kita dan itu adalah aturan di markas ini, lalu kenapa kalian melanggarnya bodoh?" bentak Andra membuat Rio dan Jack menciut.


"Untung kita diselamatkan oleh penembak itu," timpal Dimas. Mereka tidak sempat melihat wajah orang yang telah membantu mereka tadi.


"Perketat keamanan rumah besar dan tetaplah berjaga-jaga!!" titah Andra.


"Baik bos," balas Rio dan Jack.


***


Andra dan Dimas baru saja sampai di rumah besar dan ini sudah sangat tengah malam. Orang-orang rumah besar sudah tertidur pulas di kamar mereka masing-masing.


"Sembunyikan hal ini pada Sofia! Gadis itu bisa memberontak jika tahu Marvin menyerang kita tadi," ujar Andra.


"Lo tenang aja Ndra! Gue gak akan mungkin memberitahu Sofia yang lagi hamil," balas Dimas.


"Gue ke atas sekarang," pamir Andra lalu berjalan menuju kamarnya.


Ceklek!


Andra membuka pintu kamarnya dan terlihatlah Nafisah yang tertidur pulas di atas ranjang mereka.


Andra berjalan mendekat lalu membelai halus pipi istrinya itu.


"Ehmm..." erang Nafisah merasa tidurnya terganggu.


Andra tersenyum tipis lalu mencium pipi Nafisah kemudian mengelus perut Nafisah dengan sayang.


"Papa tidak akan membiarkan kamu dan mama kenapa-kenapa! Kalian berdua adalah kebahagiaan papa dan papa tidak akan bisa hidup tanpa kalian," jelas Andra lalu mencium sayang perut Nafisah.


Entahlah tiba-tiba saja ada perasaan takut kehilangan di hati Andra. Dia tidak tahu karena apa, namun perasaan itu tiba-tiba saja menyelimutinya.


"Mas," panggil Nafisah dengan suara seraknya. "Kamu baru pulang?" tanya Nafisah.


"Tidurlah lagi!" tutur Andra saat Nafisah hendak bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Kenapa pulang tengah malam?" tanya Nafisah dengan bibir yang di monyongkan.


"Ada problem pada perusahaan tadi," jawab Andra berbohong. Dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya agar Nafisah tidak kepikiran.


"Mas sudah makan?" tanya Nafisah.


"Sudah," jawab Andra.


"Mau ke mana?" tanya Nafisah kala Andra membalikkan badannya.


"Aku mau bersih-bersih sayang, kenapa? Mau ikut?" ucap Andra tersenyum nakal.


"Ti-tidak usah, pergilah!" kata Nafisah malu-malu.


Andra tersenyum miring lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih. Nafisah menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang menunggu suaminya selesai mandi.


Lima menit berlalu barulah Andra keluar dari dalam kamar mandi.


"Kenapa belum tidur lagi?" tanya Andra pada Nafisah.


"Aku menunggumu," jawab Nafisah.


Andra tersenyum menanggapi ucapan Nafisah. Dia lalu masuk ke dalam walk in closet untuk memakai piyama tidurnya.


"Sekarang ayo tidur!" seru Andra setelah membaringkan tubuhnya di samping Nafisah.


"Kenapa?" tanya Andra melihat Nafisah yang belum juga bergeming dari posisinya dan sedang memandang malas ke arahnya.


"Ish... tidak apa-apa," rajuk Nafisah lalu tidur dengan posisi membelakangi Andra.


Andra lalu menarik tubuh Nafisah masuk ke dalam dekapannya.


"Kalau cuma mau di peluk kenapa tidak bilang?" goda Andra yang langsung mendapatkan pukulan manja dari istrinya itu.


"Tidurlah aku mengantuk," balas Nafisah menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Andra.


Andra lalu mematikan lampu kamarnya danm mereka pun tidur dengan saling berpelukan.


***


"Argh..." Marvin menjerit kesakitan saat dokter mengeluarkan peluru dari lengannya.


Dokter itu hanya geleng-geleng saja.


"Lihatlah pria sok jagoan ini, dia bahkan merasa sangat kesakitan namun tidak mau di bius... ckckck," batin dokter yang mengobati luka Marvin.


"Aku akan memblasmu Andra Yudhiantara!!" geram Marvin.


"Argh..." erangnya lagi. "Pelan-pelan bodoh," maki Marvin pada dokter itu.


"Maafkan saya tuan," ucap dokter itu mengalah.


"Argh..." erang terakhir Marvin setelah dokter menyelesaikan jahitan luka Marvin.


"Sudah selesai tuan," ujar dotkter tersebut.


"Ambil ini dan pergilah," usir Marvin setelah memberikan uang pada dokter tersebut.


"Terima kasih tuan," kata dokter itu lalu keluar dari ruangan Marvin.


πŸ”«πŸ”«πŸ”«


TBC...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTEπŸ’•

__ADS_1


__ADS_2