
SELAMAT MEMBACA!
***
Tak-tak-tak!
Suara tapakan sepatu pada lantai terdengar di telinga para anak buah Ronal yang ada di markas geng fire saat itu.
"Selamat datang tuan muda kedua," sambut mereka semua sembari membungkuk hormat.
"Hmm," dehem adik Ronal. "Di mana kakakku?" tanya pria itu ketika tidak melihat kakaknya.
"Selamat datang adikku," sahut Ronal yang baru saja keluar dari ruang pribadinya.
Ronal lalu memeluk adiknya sembari menepuk-nepuk punggung adiknya itu.
"Tumbeng kau mau datang ke sini? Apa tidak akan ada yang mencarimu di sana?" tanya Ronal menuntun adiknya itu untuk duduk di sofa.
"Ckckck... mereka tidak akan ada yabg sadar jika aku pergi dan lagi pula tidak ada yang curiga denganku," sombong adiknya.
"Baguslah," timpal Ronal lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Feng!" panggil Ronal pada Feng.
"Iya tuan?" tanya Feng mendekat.
"Apa kau sudah memberi wanita itu makan?" tanya balik Ronal.
Feng menggelengkan kepalanya, "Belum tuan," jawab Feng.
"Cih, untuk apa kau beri dia makan? Biarkan saja dia mati kelaparan dan dengan begitu kita tidak usah repot-repot menhotori tangan kita dengan darahnya," seru adik Ronal dengan sinisnya.
"Ckckck... kau ini sadis sekali. Bagaimana pun juga musuh kita bukanlah dia tapi suaminya dan prinsipku tidak akan melukai orang yang tidak berdosa," jelas Ronal pada adiknya.
"Kau terlalu bersikap lembut kalau seperti itu. Katamu kau mau menyingkirkan semua orang terdekat Andra lantas mengapa kau tidak bunuh saja istrinya itu?" ujar adiknya bingung.
"Ya menyingkirkan dalam artian menyembumunyikannya dari Andra, kalau aku pikir-pikir kembali terlalu banyak dosa yang akan ku tanggung nanti jika harus menumpahkan banyak darah manusia. Menyembunyikan mereka dari Andra adalah cara menyiksa yang lebih ampuh," pungkas Feng.
"Terserah aku tidak perduli," acuh adiknya.
"Feng cepat beri wanita itu makan," titah Ronal dan Feng pun mengangguk.
"Baik bos," balas Feng lalu berjalan menuju dapur guna mengambilkan makanan untuk Nafisah.
"Dan kau ambilkan kami minuman cepat!" kata Ronal pada salah satu anak buah yang berdiri di sampingnya.
Anak buahnya itu pun berlalu untuk mengambilkan minuman.
***
Ceklek!
Feng membuka pintu kamar yang di tempati oleh Nafisah.
Feng melihat Nafisah sedang berbaring dengan menyandarkan punggungnya di sandara ranjang sambil menutup matanya.
Mendengar ada yang berjalan masuk, Nafisah pun membuka matanya. "Mau apa kau?" bentak Nafisah pada Feng.
"Ckckck," Feng berdecak kesal. "Aku hanya membawakan anda makanan nyonya," tambah Feng lalu meletakkan nampan yang ia bawah di atas meja sofa.
__ADS_1
"Kenapa membawakanku makanan?" tanya Nafisah bodoh.
"Apa anda mau mati karena kelaparan?" tanya balik Feng menaikkan sebelah alisnya.
"Kalian menculikku tapi memperlakukanku layaknya seorang tamu hotel," gerutu Nafisah bangkit dari baringnya.
"Bukankah itu bagus? Anda diculik tapi diperlakukan layaknya tamu," sindir Feng sinis.
"Toh aku juga tidak memintanya kalian sendiri yang memberikannya," balas Nafisah.
"Kau tunggu apa lagi? Bukannya hanya membawa makanan? Sekaramg keluarlah!" kata Nafisah menunjuk pintu agar Feng segera keluar dari kamar itu.
Feng tidak membalas ia langsung saja menyeret kakinya keluar dari kamar itu. Benar kata Ronal, jika berbicara dengan Nafisah mampu membuat darah tingggi dan itulah yang dirasakan oleh Feng.
Di mata Feng semua wanita adalah orang yang paling menyebalkan di dunia ini.
Setelah kepergian Feng, Nafisah berjalan mendekat dan duduk di sofa.
"Huwek... huwek..." melihat makanan itu kembali membuat Nafisah ingin kembali muntah.
"Ada apa denganku?" gumam Nafisah lemas.
***
Feng kembali ke ruang tamu.
"Bagaimana Feng apa dia sudah memakannya?" tanya Ronal sembari meneguk minumannya.
"Saya sudah memberinya makan bos tapi saya tidak menunggunya untuk menghabiskan makanan itu," jelas Feng.
"Kenapa?" tanya Ronal mengernyit.
"Ahahaha... kau ada-ada saja Feng," kekeh Ronal mengusap sudut matanya yang sedikit mengeluarkan air mata.
"Sudah jangan menggoda balok es itu lagi kak," seru Adiknya.
"Uhuk... uhuk... uhuk..." Ronal terbatuk sembari memegang dadanya.
"Kak kau kenapa?" tanya adik Ronal panik.
"Tidak apa-apa," jawab Ronal pura-pura baik-baik saja.
"Apa kau sakit?" selidik adiknya.
"Kau kira aku pria penyakitan?" sewot Ronal menatap tajam adiknya itu. "Ini cuma sakit biasa mungkin karena aku terlalu banyak tertawa," lanjut Ronal.
"Padahal kalau kau sakit itu jauh lebih baik," timpal adiknya sekenanya.
Pletak!
Ronal menyentil dahi adiknya.
"Dasar adik tidak ada akhlak, kau menyumpahi kakakmu ini sakit terus mati begitu?" ketus Ronal.
"Kalau kau sakit terus mati itu sangat menguntungkan diriku," ucap adiknya tambah tidak ada akhlak.
"Kau!!" geram Ronal.
"Semua yang kau punya akan beralih ke tanganku," tambah adiknya. Namun, itu hanyalah omong kosong, nyatanya ia tidak ingin dan tidak akan bisa kehilangan kakaknya itu.
__ADS_1
"Feng! Lihatlah adik laknatku dia bahkan seperti kacang yang lupa dengan kulitnya," sindir Ronal namun adiknya itu hanya berdecih kesal lamu meneguk winenya hingga tandas tak tersisa.
"Berhenti menyindirku kakak!" peringat adiknya namun bukannya takut Ronal malah terbahak.
"Feng tolong ambilkan satu botol lagi," titah Ronal menunjuk ke bawah kolom meja sofa.
"Baik bos," balas Feng lalu berjalan untuk mengambilkan apa yang diperintahkan Ronal padanya.
Prang!
Sesuatu jatuh dari saku kemeja yang di kenakan Feng ketika Feng membungkukkan tubuhnya untuk meraih botol minuman.
"Apa itu?" Ronal mengernyit.
Adiknya lalu berdiri dan mengambil benda tersebut.
"Alat pelacak," kata adiknya sambil melihat-lihat benda tersebut.
"Apa?" Ronal berdiri dari duduknya dan mengambil alih benda tersebut.
"Dasar ceroboh!" kesal Ronal. "Sekarang lokasi kita pasti sudah diketahui oleh Andra dan yang lainnya lalu bagaimana sekarang?" tambah Ronal memijit pangkal hidungnya.
"Tenanglah dulu! Aku ada rencana," adik Ronal tersenyum miring.
"Apa itu?" tanya Ronal penasaran.
Adiknya lalu menjelaskan rencananya pada sang kakak dan detik berikutnya Ronal tersenyum miring.
"Kau memang pintar," puji Ronal.
"Karena aku tidak pernah bodoh," sombong adiknya.
"Sekarang aku harus pulang," pamit adiknya.
"Kenapa buru-buru sekali?" tanya Ronal.
"Karena sudah terlalu lama aku pergi dan aku harus kembali ke rumah sakit sekarang. Nanti aku akan memberitahu kalian apa yang telah di rencanakan oleh Andra!" jelas adiknya Ronal.
"Baiklah," kata Ronal.
Adiknya Ronal lalu pergi meninggalkan markas geng fire.
"Kau duduklah Feng! Temani aku minum," ucap Ronal.
"Baik bos," balas Feng lalu duduk dan mulai menuangkan minuman di dalam gelasnya dan juga gelas bosnya.
***
Ada sapaan loh dari Andra buat para pembaca kesayangan... Penasaran? yuk, follow akun ig-nya risma [@noona_risma14 ].
Semua info akan aku up di ig. Jadi buat yang penasaran tentang semua novelnya Risma boleh di Follow akunku yah😊
Salam peluk dan cium dari Risma😙
🔫🔫🔫
TBC...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE💕
__ADS_1