
SELAMAT MEMBACA!
****
"Aku akan menggugurkannya!" jawab Sofia.
Deg!
Semua terkejut mendengar perkataan Sofia yang tiba-tiba. Mata mereka membulat sempurna.
"Jangan bercanda Sof! Ini tidak lucu!" tegas Andra.
Sofia menggeleng, "Aku serius," ucap Sofia sungguh-sungguh.
"Jangan bodoh Sof! Anak itu tidak salah. Kalian yang salah lalu kenapa dia yang harus menanggung semuanya? Coba pikirkan! Bukan semua wanita bisa menjadi seorang ibu dan tuhan memberimu ini karena dia percaya kau bisa menjaga dan menyayanginya," jelas Dokter Aryo.
Sofia tersenyum miris. Dia tertawa. Menertawakan dirinya sendiri yang begitu bodoh, tapi dia juga belum siap dengan semua ini. Bukan hanya dia yang harus bertanggung jawab penting karena ayah dari anak itu pun sama.
Bukan hanya untuk menafkahi saja, tapi menjaga, memberikan kasih sayang dan semua yang dibutuhkan seorang anak juga merupakan tugas seorang ayah.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Sofia frustasi.
"Sabar kak," imbuh Ariana lalu mendekap tubuh lemah Sofia.
"Kau lihat itu?!!" bentak Andra pada Akhsan yang hanya memandang jengah Sofia.
"Keputusanku sudah bulat, aku tidak akan menikah dengannya titik!" tegas Akhsan.
"Aku pun sama, keputusanku sudah bulat untuk menggugurkannya," timpal Sofia dengan nada tegasnya pula.
"Kalian berdua berhentilah bersikap keras kepala!!" bentak Andra membuat semuanya terkejut.
"Kau sebagai seorang pria bersikaplah gentelman jangan seperti ini, kau lelaki bukan?" ujar Andra menyudutkan Akhsan.
Akhsan terdiam seribu bahasa. Memang benar kata Andra dan juga kakaknya untuk bersikap gentelman dengan cara bertanggung jawab dan menikahi Sofia yang sedang mengandung anaknya.
Namun, setelah mengingat tunangannya yang ada di negri gingsen ia menjadi tidak tega untuk melepaskannya.
Akhsan sangat mencintainya dan gadisnya itu pun sedang menunggunya kembali di sana.
"Keluar! Pergi dari sini!!" teriak Sofia melemparkan vas bunga ke arah Akhsan. Untung saja Akhsan sigap dan berhasil menghindar.
"Seret mereka!!" titah Andra pada anak buahnya.
Anak buah Andra pun berbondong-bondong menyeret ketiga pria itu keluar dari rumah besar.
"An, bawalah Sofia masuk ke dalam kamarnya!" ucap Andra dan diangguki oleh Ariana.
"Mari kubantu kak," kata Ariana lalu menuntun Sofia menuju kamar wanita itu.
"Sekarang harus bagaimana bos?" tanya Dimas setelah terdiam begitu lama.
"Akhsan harus bertanggung jawab dan Sofia tidak boleh menggugurkan janinnya itu!" tukas Andra.
"Sebaiknya kalian harus mengawasi setiap gerak-gerik Sofia. Dia wanita yang nekat bisa saja dia melakukannya secara sembunyi-sembunyi," seru Dokter Aryo dan hal itu dibetulkan oleh Andra dan Dimas.
Di saat seperti ini, mereka bisa saja lengah dalam mengawasi Sofia.
"Aku pamit dulu," pamit Dokter Aryo dan dijawab anggukan kepala oleh Andra.
Dokter Aryo pun meninggalkan rumah besar.
"Minta pelayan membereskan semua ini dan perketat pengamanan rumah besar! Kalau bisa suruh Jack yang turun tangan langsung!" jelas Andra sebelum meninggalkan Dimas sendiri.
***
Di dalam kamar, Nafisah duduk di ranjang memeluk lututnya sambil menangis. Entah mengapa hatinya tiba-tiba saja sakit mendapati sebuah kenyataan seperti tadi.
Dia bisa menerima kenyataan jika suaminya itu adalah seorang bos Mafia, namun pembunuh sekaligus pemerkosa sangat sulit ia terima. Sangat-sangat sulit.
"Sayang," panggil Andra yang baru saja masuk ke dalam kamar mereka.
Nafisah menjauh ketika Andra mendekat. Andra menghentikan langkahnya ketika Nafisah sudah tidak bisa bergerak mundur lagi.
"Sayang jangan seperti ini," tutur Andra memelas.
__ADS_1
"Itu hanyalah salah paham," tambah Andra.
"Apa yang sebenarnya?" tanya Nafisah dengan nada takutnya.
Andra sakit melihat istrinya sendiri takut dengan dirinya. Andra sekarang merasa sangat hina, kini ia sadar jika Nafisah dan dirinya memang berbeda jauh.
Nafisah wanita suci tanpa dosa, sedangkan dia adalah laki-laki pendosa. Tangannya sudah sering berlumuran darah manusia, membunuh tanpa ampun dan sadis.
Pendosa sepertinya tidaklah pantas dengan Nafisah yang suci.
"Aku akan mengatakan kebenarannya, tapi tidak sekarang," ujar Andra dengan nada lemasnya.
"Maka jangan dekati aku sampai kau terbukti tidak salah!" tegas Nafisah hendak keluar kamar, namun terhenti ketika Andra kembali membuka suara.
"Kamu mau ke mana?" tanya Andra mengernyit.
"Untuk sementara waktu aku tidak ingin kita seranjang dulu!" jawab Nafisah. Ia tahu tidak pantas seorang suami istri tidur secara terpisah, tapi dia kecewa dengan Andra.
Dia sudah berusaha menerima semuanya tentang Andra, seharusnya Andra bisa jujur padanya. Mengatakan semuanya, tapi dia malah semakin membuat Nafisah berpikir yang macam-macam.
Sekarang Nafisah merasa jika dirinya bukanlah orang yang spesial bagi Andra.
"Kamu tetaplah di sini! Biar aku yang tidur di kamar sebelah," ujar Andra lalu keluar kamar.
Nafisah menjatuhkan bokongnya pada ranjang. Ia pun menangis dalam diam. Ia meremas dadanya yang terasa sesak menahan teriakannya agar tidak ada yang tahu jika saat ini dia begitu lemah dan rapuh.
"Ya allah kenapa sesakit ini?" gumam Nafisah disela-sela tangisnya.
***
Andra masuk ke dalam kamar yang dulu di tempati oleh Nafisah. Andra menyandarkan punggungnya pada daun pintu. Ia meremas kuat-kuat rambutnya lalu meninju tembok samping pintu.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Berulang kali Andra meninju tembok tersebut. Ia sudah tidak peduli dengan tangannya yang mengeluarkan darah segar sangkin kuatnya ia meninju tembok itu.
Tidak hanya tembok dan sofa yang menjadi korban kekesalannya, meja dan beberapa benda di dalam kamar itu juga habis diporak-porandakan Andra.
Dia tidak bisa diabaikan seperti ini. Apalagi diabaikan oleh Nafisah. Wanita yang sangat amat ia cintai. Sejujurnya ia mau mengatakan kebenarannya pada Nafisah, namun rasanya percuma karena dia tidak memiliki bukti.
Dijaman sekarang, walau kita berkata jujur akan tetap dianggap bohong jika tidak memiliki bukti.
Andra terduduk lemas di lantai samping ranjang. Kalau saja bisa, ia ingin sekali menangis, meraung-raung, tapi kembali ke sifatnya yang super duper gengsi.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Menjelaskannya pun akan terasa sia-sia. Aku tidak mau kamu menganggapku pria bajin*gan dan pembohong," lirih Andra.
Kamar itu sudah berantakan. Barang-barang sudah berserakan di lantai dan jangan lupakan serpihan kaca dari meja sofa itu.
Andra meraih ponselnya yang ia simpan di dalam saku kemejanya. Ia lalu mencari-cari kontak Dimas kemudian menghubunginya.
"Bawakan aku anggur!!" titah Andra tanpa mau dibantah.
"Bawa ke kamar kedua," tambahnya setelah itu memutuskan panggilan tersebut.
Andra memang bukan peminum seperti Ronal, namun jika berada disituasi dan keadaan yang seperti ini, Andra akan menyentuh minuman itu.
Mungkin dengan cara mabuk ia bisa melepaskan sejenak pikirannya.
Tak lama Dimas pun datang dengan membawa dua botol wine dengan merek berbeda di tangannya.
Di tangan sebelah kanannya, Dimas menenten wine dengan merek krug 1928. Wine ini masuk dalam kategori sepuluh wine termahal di dunia dan menempati nomor urut ke delapan.
Wine ini berasal dari daerah Lembah Napa, California Amerika Serikat. Disisi lain Krug 1928 juga menjadi salah satu anggur multi generasi yang mengkombinasikan tradisi dan inovasi dalam menciptakan wine terbaik, terenak, juga termahal di dunia.
Untuk mendapatkan anggur yang satu ini setidaknya Anda harus menyiapkan uang sebesar US $ 17.625 atau setara Rp295 juta.
Dan anggur yang ada ditangan kiri Dimas adalah wine dengan nama Chateau Margaux 1787 menempati posisi kedua dalam kategori sepuluh wine termahal di dunia. Dengan kisaran harga mencapai 3,1 M.
__ADS_1
Di belakang Dimas sudah ada satu pelayan dengan membawa dua gelas red wine. Ya, karena Dimas pun akan bergabung dalam minum-minum bos sekaligus sahabatnya kali ini.
Dia akan mendengarkan semua ocehan Andra. Karena hanya dengan keadaan mabuklah pria itu bisa mengeluarkan semua beban yang selama ini ada di pundaknya.
Selama ini, baru dua kali Andra mengeluh tentang semua hal dan itu juga dalam keadaan mabuk.
Hanya Dimaslah yang tahu bagaimana sosok Andra yang sebenarnya. Di luar sana banyak yang mengatakan jika Andra pengusaha yang kejam dan sadis begitu pula dalam dunia gelapnya, namun mereka tidak tahu saja bagaimana Andra yang sebenarnya.
Di tinggal seorang ayah dan diberi tanggung jawab penuh pada perusahaan itu bukanlah hal yang mudah.
Ditambah lagi ia harus mengurus dua perempuan yang sangat penting baginya, mama dan adiknya. Tapi, Tuhan akhirnya menyembuhkan Ariana melalui Nafisah.
Sehingga Andra sekarang hanya harus memikirkan bagaimana cara agar mamanya itu bisa sadar dari komanya.
"Bos," seru Dimas. Dimas mengedarkan pandangannya. Kamar itu sudah sangat berantakan.
"Kau simpanlah gelas itu di sana lalu keluarlah!" titah Dimas pada pelayan tersebut. Pelayan itu pun menurut lalu menyimpan gelas yang dipegangnya itu d iatas nakas sesuai arahan Dimas.
"Saya permisi dulu tuan," ucapnya sembari membungkuk hormat lalu meninggalkan Dimas dan Andra.
Dimas kemudian bergabung dengan Andra, dia juga duduk di lantai. Dimas meletakkan wine itu di hadapan Andra lalu meraih gelas red wine dan mulai menuangkan wine kedalam gelas tersebut.
"Minumlah," ucap Dimas sembari memberikan gelas yang sudah ia isi wine kepada Andra.
Andra menerimanya dan tanpa babibu Andra langsung meneguknya hingga tandas.
"Lagi!" imbuh Andra mengarahkan gelasnya pada Dimas agar Dimas mengisinya.
Dan hal itu dilakukan Andra berulang kali. Satu botol wine sudah habis. Andra sudah oleng, dia meracau tidak jelas.
Dimas hanya mendengarkannya seraya menyesap wine-nya secara pelan.
"Hahahaha," Andra tertawa miris entah apa yang ia tertawakan itu. "Dim," panggil Andra.
"Hmm," Dimas hanya berdehem.
"Lo tahu gak kenapa gue di sini?" racau Andra.
Dimas berdecak, " Kenapa?" tanyanya.
"Nafisah ngusir gue, katanya dia gak mau tidur sama gue lagi. Parahkan? Padahal gue gak salah apa-apa. Dia salah paham," ujar Andra lalu kembali meneguk wine-nya.
"Kenapa lo gak jelasin aja semuanya sama Nafisah dan gue juga penasaran apa maksud Akhsan tadi," selidik Dimas dengan mata memicingnya.
"Menjelaskan semuanya gak semudah mebalikan telapak tangan bodoh! Tanpa bukti mana ada yang percaya pada gue," cerocos Andra.
"Ada, gue," balas Dimas. Mau tanpa bukti ataupun tidak, Dimas akan selalu percaya pada bosnya itu.
Mereka sudah bersama sejak lama. Saling tahu cerita hidup masing-masing dan Andra bukanlah tipekal orang yang akan lari dari tanggung jawabnya seperti apa yang dikatakan kakak beradik itu.
"Lo memang akan membela gue, tapi mereka hanya akan mengatakan jika lo membela gue karena lo sahabat dan tangan kanan gue! Pikir Dim pikir!!" lontar Andra sembari mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada kepalanya.
Dimas terdiam. Dia ingin memberikan waktu pada Andra untuk mengeluarkan unek-uneknya terlebih dulu.
"Mereka semua salah paham sama gue!" ucap Andra menunjuk kearah pintu. "Bukan gue yang bunuh dan memperkosa Audy!!" teriak Andra penuh emosi.
"Sumpah bukan gue, tapi kenapa mereka gak percaya sama gue. Gue dan Ronal sudah sahabatan sejak lama, tapi kenapa dia tidak percaya sama gue Dim? Sedangkan kita sahabatan pas SMA aja elo sangat percaya sama gue?!" raung Andra sambil terisak.
Dimas nampak terkejut, namun itu hanya berlaku sementara saja.
Wajah Andra sudah memerah bercampur dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Dim! Gue harus punya bukti kalau bukan gue pelakunya, bukan!" cetus Andra dan detik berikutnya dia pun terlelep karena efek dari wine itu.
"Ckckck... dia tidur!" Dimas pun membopong tubuh Andra untuk dibaringkan ke atas ranjang.
Ia lalu kembali terduduk di lantai sembari mengingat-ingat semua yang dikatakan Andra padanya.
"Bukti? Ya, tidak akan ada yang percaya jika hanya sekedar omongan saja," gumam Dimas dan kembali meneguk wine-nya hingga tandas lalu membereskannya dan keluar dari kamar itu.
🔫🔫🔫
TBC...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE💕
__ADS_1