Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia : Good Bye Feng


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA!


***


Ronal dan Akhsan sampai di rumah mereka. Selama ini memang Ronal tinggal di apartemen, namun bukan karena dirinya tidak memiliki rumah hanya saja jarak apartemen lebih dekat dengan perusahaannya.


Ronal tidak kembali ke rumah sakit. Ia ingin menyelesaikan masalah ini dulu bersama sang adik yang sangat keras kepala.


"Kalau kakak memintaku untuk menikahinya, kukatakan sekali lagi, aku tidak akan menikahinya dan tidak akan pernah!" tegas Akhsan pada kakaknya yang sedari tadi menatapnya tajam.


"Kau mau Sofia menggugurkan anakmu itu? Ayah macam apa kau ini, ha?" bentak Ronal dadanya terasa nyeri, namun dia tidak peduli lagi. Dia harus menyadarkan pikiran sesat adiknya ini.


"Nikahi dia dan tinggalkan Joy!" titah Ronal dengan nada tegasnya.


"Aku tidak mau!" balas Akhsan frustasi.


"Jangan keras kepas Akhsan!!" teriak Ronal. Dia sangat marah. Adik yang selama ini ia bangga-banggakan menolak untuk bertanggung jawab.


"Dia anakmu! Pikirkan masa depannya!" lanjut Ronal.


Akhsan nampak berpikir. Memang benar apa yang dikatakan kakaknya. Dia pun tidak ingin anak yang ada di dalam rahim Sofia digugurkan, namun jika harus menikahi Sofia rasanya ia tidak bisa.


Dia tidak bisa menjanjikam sebuah pernikahan yang diharapkan oleh wanita jerman itu. Dia tidak bisa memberikan kebahagiaan dan juga cintanya yang sudah ia berikan pada tunangannya.


"Joy pasti mengerti itu!" kata Ronal melembut. Dia tahu apa yang sedang dipikirkan adiknya itu.


Dia pun akan sama beratnya meninggalkan orang yang sangat ia sayangi dan cintai hanya demi menikahi wanita lain. Tapi, tanggung jawab tetaplah tanggung jawab.


Jika tidak mau bertanggung jawab, maka jangan lakukan hal itu. Tunggu sampai kekasihmu menjadi halal bagimu.


"Kita berbeda keyakinan kak," imbuh Akhsan.


"Kalau Sofia tidak mau masuk islam, maka menikahlah di atas kertas!" tutur Ronal.


"Ingat Akhsan, nyawa anakmu tergantung padamu. Memang Sofia tidak menyukaimu bahkan membencimu, tapi kau harus menjadi pelindung bagi anakmu!" tambah Ronal.


Akhsan terduduk lemas di sofa. Ronal juga ikut mendudukkan bokongnya pada Sofa dan menepuk-nepuk bahu sang adik.


"Pikirkan sekali lagi! Setidaknya pikirkan nyawa anakmu!" ujar Ronal.


Feng baru saja masuk ke dalam rumah karena mengurus suatu hal tadi. Ia berdiri di hadapan Ronal dan Akhsan sembari membungkukkan badannya.


"Hukumanmu dimulai Feng!" tegas Ronal.


Feng mengangguk hormat, "Maafkan saya tuan, mungkin dengan ini tuan bisa memaafkan saya. Sekali lagi maafkan saya tuan," ucap Feng lalu mengambil pistolnya dan menaruhnya di pelipisnya.


"Apa yang kau lakukan bodoh?!" bentak Ronal bangkit dari duduknya.


"Maafkan saya bos, tapi hukaman ini yang saya pilih. Semoga anda berdua bisa hidup bahagia!" ucap Feng sebelum dia menarik pelatuk pistol itu.


Dor!


Feng menembak dirinya sendiri di hadapan Ronal dan Akhsan. Ronal membulatkan matanya, sedangkan Akhsan tertawa getir.


Sebenarnya hukuman yang diberikan Ronal hanyalah hukuman biasa, yaitu mencambuk dirinya sendiri, tapi Feng memilih mengakhiri hidupnya.


Sebelum ambruk ke lantai Feng sempat tersenyum melihat kedua orang yang selama ini selalu ia hormati dan lindungi. Kedua orang itulah yang mengajarinya apa arti hidup sebenarnya walau masih salah, tapi setidaknya Feng tahu hal-hal itu.


Brak!

__ADS_1


Feng jatuh di lantai dan detik berikutnya ia pun menghembuskan napas terakhirnya.


"Gilaaaa!!" teriak Ronal histeris.


Petugas medis pun datang dengan membawa tandu mereka.


Flashback on


Setelah keluar dari rumah besar Andra, Ronal dan akhsan masuk ke dalam mobil begitu pula Feng. Mobil dikemudikan oleh Feng, namun saat sudah agak jauh dari rumah besar, Feng memberhentikan mobil tersebut.


"Bos, saya mau meminta izin," ucap Feng pada Ronal.


"Ke mana?" tanya Ronal sebelum memberikan Feng izinnya.


"Ke suatu tempat bos... hehehe," jawab Feng terkekeh.


"Sudah pergilah!" ketus Ronal dan Feng pun keluar dari mobil. "Jangan lupakan hukuman sedang menunggumu!" tambah Ronal.


Ronal mengambil alih kemudi, karena tidak mungkin bagi Akhsan untuk berkemudi dengan tubuh yang seperti itu.


Mobil Ronal pun menjauh. Feng tersenyum lalu memberhentikan taksi.


"Ke rumah sakit X pak," titah Feng pada sopir taksi.


"Baik tuan," balas sopir taksi itu kemudian mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.


Setelah sampai di rumah sakit, Feng langsung saja menemui dokter Wildan.


"Selamat datang tuan Feng," sambut dokter Wildan lalu meminta Feng untuk duduk.


"Ada yang bisa saya bantu tuan? Kata suster tuan Ronal pergi, apakah sudah kembali? Kondisinya tidak memungkinkan sekarang ini!" cerocos dokter Wildan.


"Dia tidak apa-apa, bos saya tidak selemah itu!" tegas Feng pada dokter Wildan.


"Baiklah katakan ada apa anda ingin bertemu dengan saya?!" imbuh dokter Wildan.


"Saya ingin memberikan hati saya pada bos Ronal," jawab Feng serius.


"Apa anda serius?" tanya dokter Wildan memastikan.


"Apa saya terlihat berbohong?" tanya balik Feng dan dokter Wildan pun menggelengkan kepalanya.


"Kapan transplantasinya akan dilakukan?" tanya dokter Wildan.


"Malam ini!" jawab Feng.


"Ha?" kaget dokter Wildan.


"Tugas anda cuma melakukannya saja bukan? Jadi tidak usah banyak bicara!" tegas Feng lalu melangkah pergi.


"Dan yah aku ingin satu ambulance!" tambah Feng dan diiyakan oleh dokter Wildan.


Feng kembali ke rumah Ronal dengan menggunakan ambulance tanpa membunyikan sirena agar kedua tuannya itu tidak mengetahui jika dia pulang membawa petugas medis bersamanya.


Setelah sampai di rumah Ronal, Feng turun dari ambulance dan memerintahkan mereka untuk tetap di sana.


"Tetaplah di sini! Masuklah ketika kalian mendengar bunyi tembakan!" ucap Ronal membuat para medis yang ikut bersamanya bingung dan juga ketakutan.


"Tidak usah takut dan jangan banyak bicara! Kalian hanya menjalankan tugas!!" tegas Feng lalu melangkahkan kakinya memasuki rumah yang cukup besar itu.

__ADS_1


Flashback off


"Siapa yang menyuruh kalian datang?" tanya Ronal pada para petugas medis itu.


"Kami datang bersama tuan Feng, tuan," jawab salah satu di antara mereka.


Mereka pun membawa Feng menuju ambulance dan diikuti oleh Ronal dan juga Akhsan.


***


Mereka sampai di rumah sakit. Ronal dan Akhsan nampak bingung karena Feng dibawah ke dalam ruang Operasi bukan kamar mayat.


"Ada apa ini?" tanya Ronal pada dokter Wildan.


"Apa anda sudah siap tuan?" tanya balik dokter Wildan.


Ronal mengernyit, "Siap apa?" tanya Ronal.


"Transplantasi hati," jawab dokter Wildan.


"Apa sudah ada pendonornya?" tanya Ronal.


"Tuan Feng yang akan mendonorkan hatinya untuk anda," jawab dokter Wildan membuat Ronal terbelalak dan begitu pula dengan Akhsan.


"Tadi dia ke sini menemui saya dan mengatakan jika dia ingin mendonorkan hatinya untuk anda tuan," jelas dokter Wildan.


Ronal mengeluarkan air mata. Feng sangat peduli padanya. Selama ini Feng yang selalu bersamanya baik dalam keadaan sulit maupun senang.


"Silahkan masuk tuan! Operasi harus segera kita lakukan agar tuan Feng bisa kita makamkan," ujar dokter Wildan.


"Masuklah kak!" seru Akhsan menguatkan sang kakak.


Ronal pun masuk ke dalam ruang operasi. Akhsan menunggu di luar. Ia sedih karena telah kehilangan sosok Feng.


Meskipun terkadang Akhsan suka membentak dan meneriaki Feng, tapi dia sayang pada Feng layaknya seorang adik yang sayang pada kakaknya. Baginyan, Feng adalah kakak keduanya.


Operasi dimulai. Akhsan sekarang harap-harap cemas. Berharap operasi berjalan lancar dan cemas jika sampai terjadi sesuatu pada kakaknya di dalam sana.


Akhsan kemudian duduk di kursi tunggu. Seorang suster berjalan mendekat ke arahnya dan menawarkan diri untuk membantu mengobati luka-luka di wajah Akhsan.


"Mari ikut saya tuan," ucap suster itu dan Akhsan pun menurut.


Di koridor rumah sakit, langkah Akhsan terhenti ketika penglihatannya baru saja menangkap seorang gadis yang sangat ia kenali.


Akhsan mengucek matanya berulang kali untuk memastikannya, namun orang itu lebih dulu berlari keluar dari rumah sakit.


"Kak Audy?" gumam Akhsan.


Matanya tidak salah melihatkan? Apa benar yang barusan ia lihat adalah kekasih kakaknya?


"Ada apa tuan?" tanya suster itu.


Akhsan menggeleng, "Tidak ada apa-apa," jawab Akhsan.


Akhsan dan suster itupun kembali berjalan. Akhsan masih memikirkan apa yang tadi ia lihat. Itu nyata, namun juga terasa seperti mimpi.


"Apa mungkin dia masih hidup?" tanya Akhsan pada dirinya sendiri.


🔫🔫🔫

__ADS_1


TBC...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE💕


__ADS_2