
SELAMAT MEMBACA!
***
"Ini enak kan? Gak kamu kasih racun tikus kan?" tanya Sofia sebelum duduk dikursi meja makan di tempat biasanya.
"Tidak," jawab Akhsan. " Cuma kucampurkan sianida saja," lanjut Akhsan dan seketika membuat Sofia tersedak.
"Uhuk... uhuk... uhuk..." Sofia terbatuk-batuk.
"Bwahahaha," Akhsan malah terbahak setelah mengerjai Sofia.
"Sialan kau," umpat Sofia lalu melempar Akhsan dengan sumpit.
"Bleeee... gak kena gak kena," ejak Akhsan kemudian berlari meninggalkan Sofia sendiri di meja makan.
***
Setelah memastikan bosnya baik-baik saja, Feng pun meminta izin untuk keluar sebentar tanpa memberitahukan ke mana tujuannya dan dengan siapa dia mau bertemu.
Feng mengendarai mobilnya dengan sedikit cepat. Ia akan bertemu dengan adiknya Ronal. Dia telah bertekad untuk memberitahukan tentang penyakit yang diidap bosnya itu.
Feng memberhentikan mobilnya tepat di atas jembatan yang terbilang sepi dari kendaraan yang berlalu lalang.
Ia keluar dari mobil lalu mendekat ke arah seseorang yang sedang memandangi laut dari atas jembatan. Ya, pria itu adalah adiknya Ronal.
"Kau ini kenapa lama sekali?!" sewot adiknya Ronal.
"Maafkan saya tuan muda kedua, saya harus memastikan bos tertidur lebih dulu baru saya kemari," jelas Feng meski tanpa diminta untuk menjelaskan.
"Ada apa kau meminta bertemu denganku?" tanya Adik Ronal itu langsung to the point.
"Saya mau mengatakan sesuatu mengenai bos Ronal tuan muda kedua," jawab Feng.
"Ada apa dengan kakakku?" tanya Adiknya Ronal lagi.
"Bos sedang sakit," jawab Feng dengan suara pelan.
"Yah aku tahu itu, lalu kenapa?" ketus Adik Ronal. Menurutnya Feng terlalu berbelit-belit dan itu membuatnya kesal.
"Masalah ini serius tuan muda kedua," terang Feng.
"Cih, katakan dengan jelas! Kau terlalu ribet," tukas Adik Ronal itu sedikit membentak.
"Jadi begini tuan muda kedua," Feng menghirup napas terlebih dulu. "Bos Ronal mengidap penyakit liver dan harus transplantasi hati secepatnya. Namun, perusahaan kacau selama sebulan ini. Sangat susah bagi saya untuk mendapatkan pendonor yang cocok. Sebenarnya hal ini dirahasiakan oleh bos pada anda tuan, tapi saya tidak tega," ungkap Feng.
"Dasar orang itu! Sudah berapa kali aku katakan padanya untuk tidak minum namun dia malah menganggap perkataanku hanyalah angin lalu semata. Biarkan dia tersiksa kalau perlu mati sekalian," murka Adiknya Ronal.
Feng terdiam. Meskipun tuan muda keduanya itu berkata demikian, namun percayalah jika dia pasti akan mengusahakan mendapatkan pendonor hati untuk kakak keras kepalanya itu.
"Dan kenapa soal perusahaan baru kau katakan padaku, ha?" bentak Adik Ronal
"Bos melarang saya mengatakannya karena anda masih dalam mode penyamaran tuan," jelas Feng jujur.
"Apa kau pikir orang sekarat itu bisa mengatasi ini tanpa memberitahukannya padaku?" desis Adik Ronal tertahan.
"Besok aku akan ke perusahaan minta semuanya mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan! Aku akan menggantikan kakakku mengurus perusahaan," ujar Adik Ronal dan Feng pun mengangguk.
"Baik tuan muda kedua," balas Feng.
"Aku kembali sekarang," pamir tuan muda keduanya dan Feng pun menunduk hormat.
Adik Ronal lalu mengendarai motor ninjanya meninggalkan Feng yang masih berdiri diam di tempatnya sampai Adiknya Ronal tidak terlihat lagi barulah ia kembali ke mobilnya.
***
Pagi hari, Sofia sudah bangun dari pukul lima tadi. Entah kenapa hari ini ia cepat sekali bangunnya.
Sofia lalu mengambil test pack itu dan dengan hati yang sudah dimantapkan ia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk mengecek apakah ia hamil atau tidak.
"Setelah itu tunggu dua sampai lima menit," Sofia membaca petunjuk penggunaan test pack.
Sambil menunggu Sofia tiada hentinya berdoa semoga hasilnya negatif agar dia merasa legah.
Lima menit berlalu dengan perasaan was-was, Sofia pun meraih test pack yang tadi telah ia celupkan pada urine-nya.
"Ti-tidak ini ti-tidak mungkin," sangkal Sofia saat melihat hasil test pack itu.
__ADS_1
Test pack tersebut menunjukkan hasil dua garis merah yang artinya jika Sofia saat ini sedang mengandung anak dari seseorang yang tidak ia ketahui siapa.
"Tidaaaaaaak...aku tidak mau hamiiiil!! Pergi kauuuu!!" teriak Sofia histeris sambil memukul keras perutnya.
***
Prang!
Nampan yang dipegang Nafisah terjatuh ketika mendengar teriakan Sofia dari dalam kamar wanita itu.
Bukan hanya Nafisah saja yang mendengar teriakkan Sofia, tapi semua orang yang ada di dalam rumah besar itu mendengarnya.
"Ada apa dengan Sofia?" gumam Nafisah lalu berjalan menyusul yang lainnya ke kamar wanita jerman itu.
"Sof!! SOFIAA! KAU KENAPA? SOFIA BUKA PINTUNYA!!" teriak Andra sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Sofia begitu pula dengan Dimas.
"Sebaiknya kita dobrak saja Ndra," ujar Dimas dan Andra pun mengangguk.
Bruk!
Satu dobrakan dari Andra dan Dimas mampu membuat pintu kayu yang terbuat dari kayu jati itu terbuka lebar.
"Di mana Sofia?" tanya Nafisah kala mendapatkan kamar Sofia sepi tidak ada orang.
"Di sana kak," seru Ariana menunjuk kamar mandi yang pintunya terbuka.
Mereka pun berlarian menuju kamar mandi.
"Sofia!!" teriak semuanya bersamaan.
"Dimas angkat Sofia ke ranjang!" titah Andra. Mereka menemukan Sofia yang sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Mereka keluar dari kamar mandi, kecuali Ariana yang masih penasaran akan sesuatu yang membuat Sofia berteriak histeris dan sampai pingsan.
"Apa ini?" tanya Ariana lalu mengambil test pack yang digunakan Sofia tadi.
"Inikan?" Mata Ariana membulat sempurna saat menyadari benda apa yang sedang ia pegang itu.
Ariana menyusul mereka semua keluar dan menghampiri Nafisah yang berdiri dengan cemasnya di samping ranjang Sofia.
"Iya An?" tanya Nafisah. Ariana lalu menyerahkan test pack yang ia temukan itu kepada Nafisah.
"So-Sofia ha-hamil," ucap Nafisah terbata-bata dan hal itu didengar oleh Andra, Dimas, pak Arif dan Akhsan yang baru saja masuk dengan membawa air minum.
"Sayang apa yang kamu katakan?" tanya Andra bingung.
Nafisah lalu memberikan test pack tersebut pada Andra membuat Andra terbelalak.
"Bagaimana bisa?" tanya Andra melihat ke arah Dimas yang dijawab gelengan kepala.
"Dim, panggil Aryo kemari!" titah Andra dan dengan satu kali perintah Dimas pun keluar kamar guna menelpon dokter Aryo.
Andra terduduk lemas di samping Sofia sambil meremas rambutnya sendiri. Ia marah, murkah dan juga merasa bersalah. Gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri, gadis yang seharusnya ia jaga kini telah ternodai dan sadisnya lagi ia tidak mengetahui hal itu.
Andra merasa dirinya telah gagal. Gagal menjaga amanah dari wanita yang telah ia anggap sebagai ibu keduanya. Dia gagal menjaga putri mantan tangan kanan ayahnya dan juga mantan kepala chefnya itu.
"Mas," panggil Nafisah berusaha menenangkan sang suami.
"Aku gagal," lirih Andra sembari memandang senduh Sofia yang tertidur begitu pulas.
"Kamu tidak gagal mas, ini adalah musibah. Kita tunggu Sofia sadar dulu baru menanyakan hal ini," pungkas Nafisah memeluk suaminya itu agar tenang.
Sepuluh menit kemudian, barulah Dokter Aryo datang.
"Cepat periksa Sofia!" titah Andra. Aryo pun langsung memeriksa Sofia.
"Bagaimana?" tanya Andra setelah Dokter Aryo menyelesaikan pemeriksaannya.
"Dia hanya syok saja dan kenapa dia bisa syok sampai pingsan seperti ini?" tanya balik Dokter Aryo.
"Karena ini kak," jawab Ariana lalu menyerahkan alat tes kehamilan itu pada Dokter Aryo.
Dokter Aryo mengernyitkan keningnya bingung. Ya, siapa yang tidak bingung. Sofia gadis jutek dengan seribu kegarangannya bisa hamil. Padahal gadis itu tidak pernah dekat dengan siapa pun sebelumnya setelah mantan kekasihnya yang dulu.
"Kenapa kau tidak mengatakan ini padaku Dim?" desis Dokter Aryo dan Dimas hanya mengedikkan bahunya.
"Tunggulah sebentar aku akan menelpon Dokter Mia dulu," ujar dokter Aryo lalu keluar dari kamar Sofia dan menelpon dokter Mia.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian keluarlah," ucap Dimas pada pak Arif dan Akhsan.
Pak Arif dan Akhsan pun menunduk hormat lalu keluar dari kamar Sofia.
"Menurutmu, Nona Sofia dihamili siapa?" tanya pak Arif penasaran pada Akhsan.
Akhsan mengedikkan bahunya acuh tak acuh lalu berjalan cepat meninggalkan pak Arif.
***
"Bagaimana dok?" tanya Dokter Aryo pada dokter Mia yang baru selesai memeriksa Sofia.
Dokter Mia tersenyum, "Selamat Nyonya Sofia hamil empat minggu," seru dokter Mia.
Deg!
Semuanya terkejut. Bukannya merasa bahagia mereka semua merasa sedih dan marah disaat yang bersamaan.
Empat minggu. Sofia hamil empat minggu dan mereka semua tidak mengetahui hal tersebut, begitu pula ibu dari janin itu
"Terima kasih sudah membantuku Dokter Mia," ucap Dokter Aryo.
"Sama-sama Dokter Aryo," balas Dokter Mia.
"Mari saya antar ke depan," tutur Dimas dan Dokter Mia pun berpamitan pada semua orang.
***
Di tengah jalan, mobil yang dikendarai dokter Mia dipaksa berhenti.
Dokter Mia langsung turun saat seorang pria yang tidak ia kenali menyodongkan senjata api ke arahnya.
"Ada apa ini?" tanya Dokter Mia memberanikan dirinya yang sudah takut setengah mati.
"Aku tidak akan menembakmu jika kau memberitahaku sesuatu," balas pria bertopeng itu.
"Beritahu apa?" tanya balik Dokter Mia.
"Informasi. Ya, informasi tentang apa yang kau lakukan di rumah besar keluarga Yudhiantara," tutur pria bertopeng itu masih dengan menyodongkan pistolnya ke arah Dokter Mia.
"Ini bersifat pribadi, saya tidak bisa memberitahukan hal ini pada anda," seru Dokter Mia dengan nada tegasnya. Sebelum pergi, Dimas terlebih dulu memintanya untuk menyembunyikan tentang kehamilan Sofia pada siapapun dan tanpa banyak tanya, Dokter Mia pun menyetujuinya.
"Katakan atau kepalamu ku tembak," ancam pria bertopeng itu.
"Jangan macam-macam yah anda, saya bisa melaporkan anda pada pihak berwajib," ancam balik Dokter Mia.
"Hahahaha..." orang itu tertawa licik. "Mau melaporkanku? Wow... aku terkejut," ucap orang itu mendrama.
"Sebelum kau melaporkanku sudah kupastikan jika tubuh bagusmu itu sudah berada di dalam mulut harimau peliharaanku," ucap pria bertopeng itu tersenyum sinis.
"Saya mohon lepaskan saya," mohon Dokter Mia sembari mengatupkan kedua tangannya dan bersimpuh.
"Percuma kau melakukan itu, aku hanya membutuhkan informasi bukan permohonanmu itu," kata orang itu lalu melepaskan satu buah pelurunya ke arah atas.
Dor!
Dokter Mia terlonjak kaget. Jantungnya berdetak begitu kencang dari detak normal biasanya. Ia ketakutan, antara mau mengatakannya dan juga tidak.
Ia tidak mau mengkhianati Andra dan sebagai dokter dia harus memegang teguh janjinya.
"Mau kau katakan atau..."
"Baiklah saya akan mengatakannya," potong Dokter mia.
Dokter Mia menarik napas terlebih dulu, "Saya dipanggil untuk memeriksa Nona Sofia. Dia hamil empat minggu. Sebenarnya ini tidak boleh sampai ke telinga orang lain, tapi karena saya sayang nyawa maka dari itu saya memberitahu anda mengenai ini," jelas Dokter Mia.
"Baiklah kerja bagus," balas orang itu lalu melepaskan pelurunya tepat mengenai lengan kiri dokter Mia.
Dor!
Dan detik berikutnya Dokter Mia tumbang di aspal bersamaan dengan perginya pria bertopeng itu.
🔫🔫🔫
TBC...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE💕
__ADS_1