
SELAMAT MEMBACA!
***
Di halaman rumah besar, anak buah Andra dan anak buah musuh Andra sudah saling bergulat.
Suara tendangan dan bogeman terdengar di mana-mana. Dari arah gerbang terlihat beberapa mobil berwarna hitam masuk begitu saja dan hal itu membuat Andra geram.
"Berani sekali mereka masuk ke rumahku!!" geram Andra. Tangannya sudah mengepal keras, tatapannya kini sudah berubah siap membasmi para hama yang dengan beraninya melakukan penyerangan padanya.
"Dim, hubungi Jack sekarang!!" titah Andra dengan nada tegasnya.
Dimas pun langsung menekan Complete Separation Type di telinga kanannya, dia menghubungi Jack memintanya untuk segera datang ke rumah besar membawa anak buah yang ada di markas besar bersamanya.
Anak buah Andra kalah banyak dari anak buah musuhnya itu, Andra hanya menempatkan sekitar dua puluh anak buah di rumah besarnya, sedangkan yang lainnya berada di markas besarnya.
Anak buah Andra yang tersisa sedikit itu pun langsung menghujani musuh-musuh mereka dengan peluru. Anak buah Andra sudah di berikan pegangan pistol 'Deseart Eagle'.
Senjata buatan Israel ini sudah punya pamor yang mendunia akan kemampuan mematikannya. Kalau biasanya pistol lain hanya seperti menusuk saja, Desert Eagle mampu membuat obyeknya tertusuk dan meledak. Daya hancurnya memang gila dengan sematan peluru 325 gram-nya.
Dilihat dari tampilannya sih sangat klasik, tapi pistol ini sangat ikonik dan keren. Desert Eagle yang sering disebut Deagle ini hanya memuat tujuh peluru saja, padahal pistol biasanya mampu memuat lima belas bahkan dua puluh.
Alasannya ya karena peluru untuk Deagle ini besar-besar. Lagi pula, satu peluru Deagle dampaknya sama seperti 3-4 peluru biasa.
Mereka mulai meluncurkan aksinya, menghujani para musuh mereka dengan tembakan demi tembakan membuat beberapa musuh tumbang sebelum melakukan perlawanan.
Para musuh juga tak tinggal diam, anak buah dari geng mafia yang bernama Fire itu pun juga mulai menembakan pistol mereka ke sembarang arah.
"Fire," ucap Dimas pada Andra dan dijawab anggukan oleh Andra.
"Ronal," seru Andra.
"Apa sebenarnya mau orang itu?" geram Dimas mengepalkan tangannya.
Dor!
Dimas menembak salah satu anak buah Ronal dengan pistol kesayangannya sangkin gemasnya dia dengan bos mereka.
"Habisi mereka semua!!" teriak Dimas pada anak buah mereka.
"Siap bos," balas mereka serentak.
Tak lama kemudian Jack dan anak buah Andra yang lainnya pun datang, mereka lalu membantu teman-teman mereka yang sudah kelelahan menghadapi anak buah Ronal.
Dor!
Dor!
Dor!
Suara tembakan menggema di halaman rumah besar. Darah-darah dari anak buah Andra dan Ronal juga berserakan di halaman rumah besar Andra.
Andra menggeram melihat darah berserakan di halaman rumahnya, ia pun langsung menghajar anak buah Ronal dengan sadis tanpa ampun.
Bugh!
Bugh!
"Setan kau!!" umpat Andra menendang perut anak buah Ronal berulang kali.
__ADS_1
Bugh!
Andra melayangkan satu tendangan maut pada pipi pria itu,membuat si empunya muntah darah.
"Kenapa? Kau juga mau seperti temanmu itu?" ketus Andra tsrsenyum miring lalu kembali memukuli pria yang tadi menatapnya.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Perut pria itu berulang kali mendapatkan tinju yang sangat kuat dari tangan keras Andra.
Srek!
Andra menyayat wajah pria tersebut sambil tersenyum smirk. Pria yang di sayat wajahnya itu pun meringis sakit.
"Dasar lemah!" hina Andra dan kembali menusukan pisau kecilnya pada perut pria itu lalu memutar-mutarnya.
Di sisi lain, hal yang sama juga di lakukan oleh Dimas. Dia meninju dan juga menendang para hama-hama itu tanpa ampun sedikit pun.
"Kalian yang menginginkan ini bukan? Maka terimalah ini!" teriak Dimas lalu mendang keras perut lawannya.
Dor!
Dimas menembak orang yang berusaha melukai dirinya dari belakang. Dimas menoleh ke belakang lalu tersenyum miring melihat bidikannya tepat sasaran mengenai jantung musuhnya.
Dia lalu menatap ke arah orang yang tadi ia tendang sedang beringsut kesakitan di bawah sana.
"Inilah hidup kawan jangan jadi anak buah kalau tidak bisa menahan rasa sakit," cibir Dimas. "See you," kata Dimas.
Dor!
Dor!
Dor!
Suara tembakan terus saja terdengar di antara dua geng mafia itu, tidak ada yang ingin menyerah. Mereka bahkan siap mati dari pada angkat tangan.
"Kalian semua hanyalah kotoran *** ayam, cih menjijikan," hina Andra dan mulai menembaki anak buah Ronal yang masih tersisa dengan bengisnya.
Srek!
Srek!
Dimas juga tidak mau tinggal diam, ia membasmi dengan menggunakan pisau kecilnya.
Pertarungan pertumpahan darah itu berlangsung selama kurang dari tiga puluh menit lamanya. Anak buah Ronal tumbang, mereka berhasil dihabisi oleh Andra dan anak buahnya.
"Bersihkan semua kekacauan ini!" titah Andra pada anak buahnya.
"Siap bos," balas mereka. "Bawa mereka ke kandang tiger," titahnya dan anak buah Andra pun mulai menyeret jasad yang mati mengenaskan itu menuju kandang hewan buas peliharaan Andra.
"Kalian berdua, ikut denganku!" kata Andra. "Jangan lupa hubungi Aryo untuk mengobati mereka yang sempat terluka tadi,"tambahnya lalu berjalan masuk diikuti Jack.
Dimas tidak ikut masuk dia menghubungi Dokter Aryo dulu lalu menyusul Andra dan Jack ke dalam rumah besar.
***
__ADS_1
Di dalam kamar Nafisah, semua yang bersembunyi di sana semakin takut kala mendengar bunyi tembakan. Saat suara tersebut semakin lama semakin menjadi mereka reflek menutup kedua telinga mereka.
Berbanding terbalik dengan Sofia. Jika yang lainnya sudah mati takut, dia malah berwajah datar dan bersikap biasa saja, seolah-olah tidak terjadi apapun di bawah sana.
Nafisah yang melihat sikap acuh Sofia itu jadi semakin penasaran siapa gadis jerman dan keluarga ini sebenarnya.
"Sepertinya sudah berhenti," tutur Akhsan setelah tidak lagi mendengar bunyi tembakan.
"Alhamdullillah," ucap Nafisah bersyukur.
"Kalian ini bagaimana, kalian itu cowok bukan cewek! Kenapa ikut bersembunyi disini? Benarkah jika kalian semua itu laki-laki?" sungut Sofia pada para pelayan rumah besar yang semuanya berjenis kelamin laki-laki.
"Kami juga manusia, bisa takut!" seru Akhsan sewot, sedangkan yang lainnya hanya menunduk.
"Kau selalu saja membalas ucapanku!!" bentak Sofia menatap tajam Akhsan. "Memangnya kau siapa, ha?" bentak Sofia lagi.
Akhsan tidak lagi membalas ucapan Sofia setelah mendapat pelototan mata dari Pak Arif. Dia hanya bisa mengumpati Sofia dalam hati.
"Dasar pshycopat gila," umpat Akhsan dalam hati
Sofia lalu mengintip ke bawah melalui jendela kamar Nafisah, memastikan apakah sudah aman atau belum.
"Bagaimana, nona?" tanya Pak Arif.
"Sudah aman," jawab Sofia dan semua pun bernafas lega lalu terduduk lemas di lantai
"Kalian boleh keluar sekarang! Bekerjalah seperti biasa! Anggap saja jika tidak terjadi apa-apa tadi!" pungkas Sofia pada semua pelayan termasuk Akhsan dan mereka pun mengangguk mengerti lalu keluar dari kamar Nafisah.
"Kenapa masih di sini?" tanya Sofia kala melihat Akhsan masih terduduk di lantai.
"Aku keluarnya nanti Saja," jawab Akhsan.
Sofia menendeng kaki Ikhsan dan berucap, "pergilah."
"Iya-iya, kasar sekali kau jadi cewek," Cibir Akhsan sambil meringis kesakitan karena Sofia menendang mata kakinya.
Akhsan pun keluar dari kamar Nafisah dengan menyeret kakinya yang sakit. Sofia dan Ariana juga meninggalkan kamar Nafisah.
"Siapa sebenarnya mereka ini?" Batin Nafisah bertanya-tanya.
***
"Sof, kamu dipanggil tuan Andra ke ruang kerjanya, se-ka-rang!" ucap Akhsan yang baru saja sampai di depan Sofia dan juga Ariana yang sedang duduk di meja makan.
"Baiklah," balas Sofia.
Set!
Sofia berdiri dari duduknya, "An, kakak ke ruangan bos Andra dulu yah!" pamit Sofia.
"Oke kak. Ana juga mau istirahat," balas Ana.
Sofia pun berjalan menuju ruang kerja Andra, sedangkan Ariana sudah kembali ke kamarnya dan Akhsan juga kembali berkutak dengan pekerjaannya.
π«π«π«
TBC...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTEπ
__ADS_1