Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia : Di Markas Besar


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA!


***


Setelah makan, Andra dan Nafisah pun keluar kamar. Nafisah lalu menghampiri keluarganya yang berada di teras.


"Kalian sudah mau pulang?" lirih Nafisah.


"Iya sayang," jawab Ibu Harfisah.


"Tidak bisakah kalian tinggal lebih lama di sini?" tanya Nafisah memelas.


"Tidak Naf, ayah, ibu dan juga kakakmu bekerja, jadi kami harus pulang sekarang agar besok bisa masuk bekerja," jelas Ibu Harfisah.


"Baiklah," balas Nafisah pasrah.


"Jangan sedih dong! Kan kamu sudah punya keluarga di sini. Kamu punya suami, adik ipar, sahabat buat apa kamu sedih?" pungkas Ibu Harfisah memegang dagu Nafisah.


"Aku maunya kalian," ucap Nafisah pelan.


"Kalau kamu rindu, kamu bisakan ke kampung! Untuk apa di pikirkan?" Ibu Harfisah geleng-geleng kepala.


"Nak Andra, ayah titip putri bungsu ayah ini denganmu," kata Ayah Hamish pada Andra.


"Baik yah," balas Andra.


"Naf, ayah dan yang lainnya pulang dulu," pamit Ayah Hamish memeluk Nafisah erat.


"Jadilah istri yang berbakti pada suami nak!" tukas Ibu Harfisah dan diangguki Nafisah.


"Aku akan sangat meridukanmu dek," Amira memeluk erat Nafisah.


"Kapan-kapan datanglah lagi kak," imbuh Nafisah.


"Insyaallah," ucap Amira.


Keluarga Nafisah lalu masuk ke dalam mobil yang telah di sediakan Andra untuk mengantarkan mereka ke bandara dan mobil itu pun berlalu meninggalkan halaman rumah besar.


"Sudahlah Naf! Masih ada kami di sini," tutur Sofia mendekat lalu merangkul Nafisah.


Nafisah menatap Sofia lalu tersenyum.


"Mas Andra tidak bekerja?" tanya Nafisah.


Andra melirik jam tangan yang melingkar di tangannya, "Sepertinya aku juga akan berangkat sekarang," ucap Andra.


"Baiklah," balas Nafisah lalu mencium punggung tangan Andra dan Andra pun mencium kening Nafisah sebelum masuk ke dalam mobil mewahnya.


Dimas sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil dan setelah Andra masuk mobil itu pun di kendarakan Dimas berlalu pergi meninggalkan rumah besar.


"Sekarang kita harus apa?" tanya Ariana dan dijawab kedikan bahu oleh Nafisah.


"Bagaimana kalau kita ke rumah taman?" usul Ariana dengan girangnya.


"Boleh," balas Nafisah dan disetujui oleh Sofia. Mereka pun berjalan menuju rumah taman.

__ADS_1


Ting!


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Sofia. Sofia menghentikan langkahnya lalu membuka pesan tersebut dan membacanya. Kening gadis jerman itu mengernyit.


"Naf! An!" panggil Sofia seraya berlari menuju Ariana dan Nafisah.


Nafisah dan Ariana pun menghentikan langkahnya lalu membalikkan tubuh mereka.


"Kenapa?" tanya Nafisah saat Sofia sudah berada di depan mereka.


"Aku ada urusan penting dan maaf sekali aku harus pergi sekarang," tutur Sofia.


"Oke," balas Ariana dan Nafisah bersamaan.


Sofia lalu berlari menuju mobil miliknya dan mengendarainya keluar dari rumah besar.


"Ayo kak!" ajak Ariana dan mereka pun kembali berjalan menuju rumah taman.


***


Setengah jam waktu yang di perlukan Sofia agar sampai di tempat tujuannya. Setelah sampai, Sofia lalu keluar dari mobil dan berjalan dengan santainya memasuki sebuah bangunan luas nan besar.


Bangunan itu terasa mencekam saat gadis jerman itu mulai menapakkan kakinya. Semua anak buah Andra dengan postur tubuh kekar dan berotot sontak menunduk memberi hormat kala Sofia melintas di depan mereka.


"Selamat datang Nona Sofia," sambut Jack dengan suara lantangnya sambil menuruni tangga.


Sofia tidak membalas sambutan Jack dia hanya menatap Jack datar dan tatapan malasnya.


"Oh ayolah Sof, jangan terlalu dingin seperti itu!" ujar Jack. "Dan jangan menatapku terlalu lama atau nanti kau bakal jatuh cinta padaku," tambah Jack ke pd-an.


"Cih... aku terpesona denganmu? Hoek... dalam mimpimu pun tidak akan dan tak akan pernah," sinis Sofia.


"Siapa juga yang mau menjadi tipe dari pria seperti dirimu! Kasihan sekali perempuan yang akan menjadi jodohmu," imbuh Sofia tanpa perasaan.


"Kau!!" tunjuk Jack dengan wajah merah padamnya.


"Apa?" tantang Sofia dengan berkacak pinggang.


"Kalau saja kau bukan perempuan, sudah ku buang kau masuk ke dalam kandang harimau," ucap Jack tertahan.


"Sebelum kau melakukannya sudah ku pastikan harta berhargamu itu jadi impoten," balas Sofia sambil menunjuk kepemilikan Jack.


Jack lalu menutupinya dengan kedua tangannya, "Apa-apaan kau ini, kenapa membawa-bawa masa depanku?" ketus Jack.


"Bodo amat," ucap Sofia acuh tak acuh.


"Hei kalian berdua!" seru seorang pria berjalan ke arah mereka berdua dengan gaya coolnya. "Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya pria itu.


"Main layangan," jawab Jack dan Sofia asal.


"Sudah lihat orang lagi debat, pakai tanya lagi dasar stupid," cibir Sofia.


"Eh, santai!!" ujar pria yang tidak lain adalah Rio, hacker handal Andra.


"Lo dari mana saja?" tanya Jack pada Rio.

__ADS_1


"Kenapa? Apa lo merindukan gue?" goda Rio.


"Huek... gue buka pisang makan pisang yah!" tegas Jack menatap tajam Rio.


"Memangnya siapa yang bilang kalau elo itu pisang?" balas Rio tersenyum jenaka.


"Up to you," malas Jack. "Di mana bos?" tanya Jack kemudian.


"Dia lagi perjalana ke sini," jawab Rio.


Sofia dan Jack hanya ber"oh" ria.


Tak lama mobil yang di kendarai oleh Andra pun sampai di bangunan yang di jadikan markas besar geng forest lion.


Andra lalu masuk ke dalam markas besarnya menuju tempat di mana semua anak buahnya berkumpul sekarang.


"Selamat siang bos," sapa mereka ssmua seraya membungkuk saat Andra sudah berdiri di tengah-tangah ruangan. Ruangan yang sering mereka gunakan untuk menyampaikan sebuah pengumuman.


"Hmm..." balas Andra. Kali ini Andra datang sendirian karena Dimas menemani Ariana untuk mendaftarkannya di salah satu universitas.


"Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan kalian semua dan jika kulihat-lihat, ada yang berwajah lain di antara kalian," ujar Andra sambil memandang anak buahnya satu persatu.


Jack mengernyit bingung dia lalu menatap Sofia dengan maksud bertanya apa yang di maksud oleh Andra namun Sofia malah mengedikkan bahunya tidak tahu.


"Matilah kau Jack," bisik Rio menakut-nakuti Jack.


Jack menatap tajam Rio yang tertawa melihatnya kepucatan karena takut ada kesalahan yang telah ia lakukan.


"Apa kau merekrut anak buah baru Jack?" tanya Andra tanpa menatap Jack.


Deg!


Jantung Jack berdetak tidak normal. Dia tahu sekarang jika di antara anak buahnya ada sosok penyamar.


"Tidak bos," sangkal Jack.


"Lalu wajah-wajah baru ini, siapa mereka? Apa anak buahmu ada yang operasi plastik?" sindir Andra dengan sinisnya.


"Kalian yang mengaku sendiri atau aku yang membuat kalian ketahuan?!" teriak Andra entah di tunjukkan pada siapa teriakannya itu.


Para anak buahnya saling melempar pandang, mereka juga bingung apa maksud dari bos besar meraka itu.


"Saya Udin dan tetap Udin bos," seru anak buah Andra dengan perawakan berotot, berkumis dan berkepala botak menyebut dirinya sebagai Udin.


"Saya Fajar yang selalu dinantikan bos," timpal Fajar.


"Saya Rahul yang bermain di drama kabhi khushi kabhi gham," imbuh Rahul.


"Bukan kalian idiot!!" bentak Andra dan ketiga orang itu pun menunduk takut.


Andra mengeluarkan sebuah senjata api yang selalu ia bawa ke mana-mana dan dia simpan di saku jas bagian dalamnya.


Dor!


πŸ”«πŸ”«πŸ”«

__ADS_1


TBC...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTEπŸ’•


__ADS_2