
SELAMAT MEMBACA!
***
Sofia lalu menatap semua yang ada di ruang tamu satu persatu lalu menganggukkan kepalanya, "Baiklah aku setuju," putus Sofia.
"Terus bagaimana pernikahan ini akan dilakukan?" tanya Andra. "Biar aku yang mengurus semuanya! Kapan pernikahannya akan dilakukan?" tanya Andra.
"Besok pagi sekitar jam delapan pemberkatannya akan dilakukan di gereja dan resepsi akan diselenggarakan malamnya," jelas Ronal.
Akhsan membulatkan matanya terkejut lalu berdiri dari duduknya. Semua mata langsung tertuju pada Akhsan yang tiba-tiba saja berdiri.
"Kau itu kenapa? Kau kesetanankah?" cerocos Dimas.
"Kita tidak perlu melangsungkan resepsi. Biarkan pernikahan ini dilakukan secara diam-diam!" ujar Akhsan.
"Tidak," tolak Ronal. "Aku sudah mempersiapkan semuanya dan kau hanya perlu berdiri saja tidak usah susah-susah lagi! Jangan menolak kau suka sekali membantahku!" kesal Rona menatap tajam Akhsan.
Akhsan mendengus kesal lalu kembali menghempaskan bokongnya dengan kasar di sofa.
"Undangan resepsinya akan kukirimkan besok! Kalian bisa mengundang sahabat, teman, atau rekan kerja kalian. Kalau begitu kami permisi dulu," ujar Ronal dan diangguki oleh Andra.
Setelah kepergian Ronal dan Akhsan, semua anggota keluarga berkumpul di ruang keluarga.
"Ada apa denganmu Sof?" tanya Nafisah saat melihat wajah murung Sofia.
Sofia tersenyum kaku, "Tidak apa-apa kok Naf! Hanya saja aku memikirkan kedua orangtuaku. Aku harus mengatakan apa pada mereka?" bingung Sofia.
"Tidak usah pusing Sof! Aku yang akan berbicara dengan Paman Jashon dan Bibi Suzan," tutur Andra.
"Baiklah, terima kasih bos," kata Sofia.
"Apa kakak yakin akan menikah dengan Kak Akhsan? Apa nanti kalian berdua akan bahagia? Aku takutnya kalian berdua saling tersakiti. Tapi, kalau keputusannya sudah mantap sudah lupakan saja yang aku katakan!" ujar Ariana tersenyum kikuk.
"Aku yakin An! Kalau bukan karena anakku aku juga tidak akan menikah dengannya!" jelas Sofia.
"Aku tidak pernah mengharapkan kebahagian dari pernikahan ini. Aku hanya ingin membalas dendam karena dia telah menodai dan juga menolakku mentah-mentah waktu itu dan dengan cara seperti ini aku yakin Marvin tidak akan lagi mengganggu hidupku! Mari kita bermain Sofia!" batin Sofia tertawa licik.
"Kau tidak merancanakan hal-hal aneh kan Sof?" selidik Dimas.
"Maksudmu apa? Kau pikir nanti aku akan melenyapkannya begitu? Cih dasar otakmu!" ketus Sofia memutar bola matanya malas.
"Ya mungkinkan," timpal Dimas.
"Sudah jam 23.30 sebaiknya kita semua tidur besok akan jadi hari yang melelahkan bagi kita semua apa lagi bagi Sofia!" pungkas Nafisah melirik jam dinding.
"Baiklah," balas mereka semua serentak.
Mereka pun berlalu menuju kamar mereka masing-masing.
__ADS_1
***
Pagi hari, sesuai kesepakatan kini mereka semua sudah ada di gereja untuk melakukan pemberkatan Akhsan dan Sofia.
Andra yang tadi lebih dulu masuk bersama Dimas untuk mengurus segala kelengkapannya pun kembali keluar dan menghampiri yang lainnya.
"Apa katanya?" tanya Ronal pada Andra.
"Katanya Akhsan dan Sofia harus bertemu Pendeta dulu untuk ditanyai beberapa hal. Kalian berdua masuklah, aku dan Ronal akan menemani kalian," tutur Andra.
Akhsan dan Sofia pun masuk ke dalam gereja guna menemui Pendeta begitu pula dengan Andra dan Ronal yang menemani kedua mempelai itu.
"Selamat pagi tuan, nyonya," sapa Pendeta.
"Pagi Pendeta," jawab mereka serentak membungkuk hormat.
"Mereka yang akan menikah Pendeta," ujar Andra menunjuk Akhsan dan Sofia.
Pendeta mengangguk lalu tersenyum menatap Akhsan dan juga Sofia, "Apa kalian siap melakukan pernikahan ini? Menikah ?memerlukan kesiapan mental dan apa kalian berdua yakin?" tanya Pendeta pada Akhsan dan Sofia.
Akhsan dan Sofia mengangguk, "Iya kami yakin," balas Sofia.
"Baiklah mari kita mulai pemberkatannya," imbuh Pendeta.
Andra menelpon Dimas, "Kalian boleh masuk sekarang! Pemberkatannya akan di mulai," ucap Andra.
"Baik Ndra," balas Dimas.
Dor!
"Hentikan ini semua!!!" teriak Marvin dari pintu masuk gereja sambil menembak salah satu patung yang ada di gereja tersebut.
"Apa-apaan ini!!" teriak Pendeta. "Apa yang kalian lakukan! Tidak seharusnya kau menembak di tempat suci seperti ini!" ujar Pendeta tidak terima Marvin melakukan sesuatu seenaknya.
"Diam kau bapak tua!! Siapa yang menyuruhmu menikahkan kekasihku dengan pria bencong itu!!" bentak Marvin menunjuk wajah Akhsan.
"Kau yang siapa!! Siapa kau datang-datang langsung marah-marah dan mengatakan jika Sofia kekasihmu! Kau yang tidak tahu diri Marvin!!" timpal Andra marah.
"Oh, jadi semua ini kau yang merencanakannya?! Kau boleh membalasku dengan cara lain tapi Sofia hanya milikku dan tetap milikku!" tegas Marvin dan berjalan mendekat.
Plak!
Akhsan memukul tangan Marvin yang hendak menarik tangan Sofia. "Jangan pernah menyentuhnya breng*sek!" peringat Akhsan murkah.
"Minggir kau bencong!" Marvin mendorong tubuh Akhsan ke samping membuat si empunya tersungkur di lantai.
"Jack datang ke gereja sekarang!" titah Dimas secara diam-diam melalui complate separation type yang ada di telinganya.
"Baik," balas Jack.
__ADS_1
"Marvin!!!" geram Andra lalu mendorong tubuh Marvin.
Tubuh Marvin terpental lalu jatuh ke lantai dengan posisi berbaring. Andra lalu menaikki tubuh Marvin dengan duduk di atas perut musuhnya itu.
Bugh!
Andra memukul pipi kanan Marvin dengan keras.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Karena kesal Andra lalu membabi buta memukul Marvin habis-habisan.
"Mas! Stop!" teriak Nafisah ketakutan.
"Kakak stop! Kau bisa membunuhnya!" teriak Ariana juga.
"Biarkan saja! Orang ini memang pantas untuk dilenyapkan!" balas Andra dan terus saja memukuli Marvin yang sudah terbatuk-batuk.
"Mau apa kalian!!" bentak Dimas pada semua anak buah Marvin yang berjalan mendekat ke arah Andra yang sedang membabi buta Marvin.
"Apa yang anda tunggu? Cepat lanjutkan!" kata Ronal pada Pendeta.
"Hei bodoh! Jangan lanjutkan atau kau kehilangan nyawamu sekarang!!" teriak Marvin dengan sekuat tenaganya.
"Tutup mulutmu!!" Bentak Andra dan kembali meninju rahang Marvin.
"Lakukan sekarang!" teriak Andra pada Pendeta.
"Bajin*an kau Andra!!" umpat Marvin. Satu tangannya berusaha meraih pistolnya dan dia mengumpati Andra untuk mengalihkan perhatian pria itu.
"Breng*sek!!" murkah Andra.
Dor!
Marvin berhasil mendapatkan pistolnya. Darah bercucuran di lantai.
***
Mampir juga ke novel di bawah ini yah👇
🔫🔫🔫
TBC...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE❤