
SELAMAT MEMBACA!
***
"Lo maunya apa sih Vin? Gue kan udah bilang gue gak mau bicara sama lo lagi!!" teriak Sofia frustasi.
"Halo Sof! Ini aku Andra!" ternyata Andralah yang menelponnya bukan Marvin.
"B-bos," gugup Sofia menggigit bibir bawahnya.
"Kenapa kau marah-marah seperti itu Sof?" selidik Andra.
"Ti-tidak bos, aku hanya kesal saja dari tadi ada orang gila yang terus saja menelponku dan kukira kau adalah dia jadi aku meneriakimu bos," jelas Sofia.
Andra hanya ber 'Oh' riah.
"Kenapa menelponku bos?" tanya Sofia.
"Aku mau bilang, aku dan Nafisah keluar jadi jika ada yang mencariku katakan aku tidak ada!" ujar Andra.
"Baik bos," balas Sofia mantap.
Tut-tut-tut!
Andra memutuskan panggilan sepihak.
"Kebiasaan," cibir Sofia.
***
Andra memarkirkan mobilnya di pinggir jalan depan gerai penjual pece lele.
"Sayang, beneran kamu mau makan di sini?" tanya Andra memastikan sembari meneliti gerai pecel lele yang berada di pinggir jalan itu.
Hanya berdindingkan tenda biru, berbentuk persegi berukuran kecil dan di dalamnya hanya ada bangku panjang sekitar empat sampai lima bangku yang bisa diduduki oleh tiga sampai empat orang saja.
Nafisah menganggukkan kepalanya yakin, "Benar, aku lebih suka makan di tempat seperti ini dari pada di restoran mewah," jelas Nafisah pada suaminya.
"Tapi, ini kotor sayang! Polusi ada di mana-mana. Lihatlah motor itu," tunjuk Andra pada motor pespa yang mengeluarkan banyak asap dari kenalpotnya. "Dia menyebarkan banyak polusi di lingkungan sekitar!" tukas Andra.
"Ya aku tahu, tapi bukan berarti makanan yang dijual di sini tidak bersih dan juga tidak halal. Aku percaya mereka seratus persen menjual makanan yang bersih," balas Nafisah dengan keyakinan penuhnya.
"Baiklah," pasrah Andra lalu mereka pun keluar dari mobil dan berjalan bergandengan tangan memasuki gerai pecel lele itu.
"Selamat datang tuan dan nyonya," sambut istri dari bapak penjual pecel lele itu.
"Terima kasih bu," balas Nafisah.
"Mau pesan berapa neng?" tanya ibu itu.
"Kamu mau mas?" tanya Nafisah pada Andra namun Andra menggelengkan kepalanya.
"Kamu aja aku gak usah," jawab Andra.
"Oke, dua piring aja bu," kata Nafisah pada ibu itu.
"Kok dua sayang? Kan aku gak," timpal Andra.
"Iya kamu enggak tapi aku maunya dua. Satu buat aku dan satunya lagi buat anak kita," jelas Nafisah tersenyum.
__ADS_1
"Ckckck... dasar bumil," Andra menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku juga hamil anak kamu, masa cuma pecel lele aja kamu pelit sih mas," kesal Nafisah lalu duduk lebih dulu pada kursi panjang yang ada di pojok kedai.
"Jangan marah dong, kan aku terkejut sayang kamu makannya banyak banget dua piring," jujur Andra namun Nafisah tidak mendengarkannya.
"Sayang jangan marah dong, aku janji nanti apapun yang kamu inginkan aku turutin deh," bujuk Andra.
Nafisah menoleh dengan wajah berbinarnya, "Beneran mas?" tanya Nafisah memastikan dan Andra pun mengangguk. "Baiklah aku memaafkanmu, tapi setelah ini kamu harus membelikanku odading," lanjut Nafisah.
"Odading? Makanan apa itu? Sejenis stick atau pizza?" tanya Andra kebingungan.
"Jangan bilang kalau kamu tidak tahu makanan itu," tebak Nafisah dan dengan polosnya Andra pun mengangguk.
"Aku memang tidak tahu sayang," ucap Andra.
"Odading bukan sejenis stick atau pizza seperti yang kamu katakan, tapi berupa roti goreng yang menggelembung," jelas Nafisah pada Andra.
Andra manggut-manggut mengerti, "Lalu di mana kita bisa membelinya?" tanya Andra.
"Aku maunya kita membelinya langsung dari asalnya, kota Bandung karena aku mau memakannya langsung di sana," jawab Nafisah.
"Langsung di sana?" tanya Andra memastikan dan Nafisah pun mengangguk.
"Jarak Jakarta dan kota Bandung hanya sekitar 153 km dan waktu tempuhnya dua jam sembilan belas menit," pungkas Nafisah.
"Tapi sayang, apa kamu kuat duduk di mobil selama itu?" tanya Andra dan Nafisah pun mengangguk yakin.
"Kuat, jangan banyak mengeluh mas dan tepati janjimu!" tegas Nafisah.
Ibu penjual pecel lele pun menghampiri mereka dengan membawa dua piring pecel lele di kedua tangannya.
"Silahkan di makan nyonya," ucap ibu itu.
Nafisah lalu menyantap pecel lelenya dengan lahap. Andra hanya memandangi istrinya itu dan sesekali menelan kasar air liurnya.
"Kenapa mas? Mau?" tawar Delima menyodorkan satu lele pada suaminya.
Andra buru-buru menggelengkan kepalanya, "Gak usah aku gak minat," tolak Andra.
"Yakin gak mau?" goda Nafisah dan lagi-lagi Andra mengangguk penuh keyakinan. "Ya sudah," lanjur Nafisah lalu kembali menyantap pecel lelenya.
"Bu, es tehnya satu yah!" seru Andra pada ibu-ibu tadi.
"Siap tuan," balas ibu itu mengacungkan jempolnya pada Andra.
Ibu itu lalu membawakan satu gelas es teh ke meja Andra dan Nafisah.
"Minum dulu sayang dan makannya pelan-pelan saja. Tidak akan ada yang berani mencuri makananmu," ucap Andra lalu terkekeh pelan.
"Makasih mas," balas Nafisah lalu meraih es tehnya dan meneguknya hingga tandas.
***
"Ini bu," Andra memberikan uang dua ratus ribu pada ibu yang tadi melayani mereka.
"Kebanyakan tuan harganya cuma sepuluh rebu aja dan totalnya jadi dua puluh rebu," pungkas ibu itu.
"Tidak apa-apa bu, lebihnya buat ibu dan keluarga," balas Andra.
__ADS_1
"Terima kasih banyak tuan, nyonya," ucap ibu itu sambil membungkuk-bungkukkan badannya berulang kali.
"Iya sama-sama bu," balas Nafisah dan Andra.
"Kami permisi dulu," pamit Nafisah.
Ibu itu mengangguk, "Iya nyonya hati-hati," ucapnya.
Nafisah dan Andra masuk ke dalam mobil mereka.
"Sayang yakin mau ke Bandung nih?" tanya Andra setelah selesai memasangkan seat belt Nafisah.
"Iyalah," ketus Nafisah.
"Iya-iya sayang, jangan ketus-ketus dong," balas Andra tersenyum manis pada istrinya. "Tapi, perut kamu masih bisa gak nampung tuh makanan?" tanya Andra.
"Mas, aku ini lagi hamil dan dalam perjalanan kita ke bandung pasti akan lama dan itu membuatku akan kembali lapar lagi," cerocos Nafisah.
"What? Apa selera makan ibu hamil meningkat dari sebelum mereka hamil?" gumam Andra.
Andra lalu melakukan mobilnya menuju kota Bandung sesuai kemauan istri dan juga calon anak mereka.
"Mas aku akan menelpon Sofia dulu mungkin dia mau dibelikan juga," ucap Nafisah lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya dan mencari kontak Sofia.
Berdering...
"Halo," ucap Sofia.
"Halo sof," balas Nafisah.
"Iya Naf, ada apa?" tanya Sofia.
"Aku dan Mas Andra mau ke Bandung sekarang kamu mau nitip aku belikan odading gak Sof?" ujar Nafisah.
"Odading? Odading mang oleh kak?" sahut Ariana entah sejak kapan anak itu bersama Sofia.
"Odading loh An, roti goreng dari bandung," timpal Nafisah.
"Ana mau kak," kata Ariana.
"Kamu Sof?" tanya Nafisah pada Sofia.
"Belikan juga untukku," ucap Sofia.
"Ya sudah kalian sabar yah! Tunggu aku pulang," ujar Nafisah.
"Iya kak," balas Ariana dan panggilan pun terputus.
***
Kakak-kakak mampir juga ke novel di bawah ini yah👇
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote😗
🔫🔫🔫
__ADS_1
TBC...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE❤