Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia : Sofia Yang Aneh


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA!


***


"Apanya yang tidak baik sih bos? Orang ini itu makanan ibu hamil kok," seru Sofia yang sedari tadi hanya memperhatikan perdebatan pasutri itu.


"Lantas kenapa kau memakannya kalau itu cuma buat ibu hamil?" tanya Andra mengangkat sebelah alisnya.


Deg!


Sofia menelan salivanya susah payah dan matanya pun membulat sempurna.


"Oh my god, bos," Sofia menepuk jidatnya sendiri. " Maksudku begini, ibu hamil itu kebanyakan sukanya mangga muda. Begini nih kalau gak pernah baca artikel ibu hamil gak tahu apa-apakan?!" jelas Sofia.


"Salah kamu sendirilah, bilangnya apa maksudnya apa, aneh," tukas Andra lalu duduk di samping Nafisah yang menyimak sambil terus memakan mangga muda.


"Apa itu gak kecut sayang?" tanya Andra sembari mengernyit seakan-akan dia bisa merasakan rasa kecut dari buah mangga yang masih sangat muda itu.


"Gak, enak malah," jawab Nafisah. "Mas mau?" tawar Nafisah memberikan sepotong buah mangga itu kepada Andra.


"Gak usah, aku gak minat," balas Andra menggelengkan kepalanya.


"Baiklah," ucap Nafisah lalu memakan buah mangga itu lagi.


"Eh btw, kalian sudah beritahu ayah dan ibumu Naf, kalau kamu hamil?" tanya Sofia.


"Astaga ya ampun aku kelupaan," ucap Nafisah dan ditimpali dengan anggukan oleh Andra.


"Kompak banget lupanya," sindir Sofia.


"Namanya juga pasangan suami istri, emang kamu jomblo akut tingkat gajah kata Ana," balas Nafisah dengan sadisnya membuat Sofia tersedak buah mangga yang belum sempat ia kunyah.


"Mantap sayang," puji Andra sembari mengelus-elus bangga kepala Nafisah.


"Cih, ngejek nih yah," ucap Sofia menatap Nafisah tajam.


"Hahaha... maaf Sof, gak maksud," ucap Nafisah lalu berdiri dari duduknya. "Mas yuk ke kamar! Aku mau telpon ayah dan ibu dulu," ajak Nafisah.


"Suami istri selalu ngamar mulu yah," cibir Sofia.


"Makanya nikah biar ngerasain," ejek Andra kemudian menggandeng Nafisah menuju kamar mereka.


"Kalau dokter Aryo ngelamar gue besok, gue langsung terima biar gak kek nyamuk gini hadeh," gumam Sofia.


***


"Mas hpku mana?" tanya Nafisah kala tidak menemukan keberadaan ponselnya yang semula ia simpan di atas nakas namun tidak ada.


"Coba cari lagi yang benar yang!" balas Andra sambil berjalan masuk menuju walk in closet.


"Mana sih kok gak ada?" tanya Nafisah pada dirinya sendiri sembari membuka-buka satu persatu laci nakas.


Andra keluar dari walk in closet dengan membawa sebuah paper bag yang entah apa isinya sambil berjalan menuju Nafisah.


"Aku ada sesuatu untukmu," ucap Andra membuat Nafisah menghentikan aksi mencarinya.


"Apa?" tanya Nafisah.


"Ini," Andra menyodorkan paper bag itu kepada Nafisah.


" Ini apa mas?" tanya Nafisah dengan wajah bingungnya.


"Buka saja dulu," jawab Andra menuntun Nafisah untuk duduk di bibir ranjang terlebih dulu agar tidak kelelahan berdiri.


Nafisah pun kemudian membuka paper bag itu yang ternyata berisi sebuah ponsel keluaran terbaru berlogokan apel gigit.


"Ini buat siapa mas?" tanya Nafisah sembari membalik-balikkan dos hp itu.


"Buat kamulah sayang masa buat pak Arif," jawab Andra memutar bola matanya.


"Tapi aku kan masih punya hp mas. Itu pun masih bagus dan baik-baik aja gak ada lecet sama sekali," pungkas Nafisah dengan polosnya membuat Andra terkekeh lalu mencium pipi Nafisah singkat.


"Emang harus yah ganti hp kalau hp-nya sudah rusak? Enggakkan? Aku bisa beli,  kenapa harus nunggu hp kamu rusak dulu? Tenang sayang harga hp ini gak akan membuat suamimu ini jatuh miskin," ujar Andra tersenyum penuh kebanggaan.


"Iya-iya bapak Andra Yudhiantara," tutur Nafisah memutar bola matanya malas.


"Terus hpku yang lama kamu ke manakan?" tanya Nafisah teringat ponsel lamanya yang tidak ia temukan di manapun.


"Sudah kuberikan pada salah satu anak buahku," jawab Andra santai.


"Mas," desis Nafisah tertahan.


"Tenang sayang, semua yang ada di ponsel lamamu itu sudah ku pindahkan ke ponsel barumu itu," imbuh Andra.


"Terserahlah," pasrah Nafisah lalu membuka dos hp tersebut dan mengeluarkan hp barunya.


"Aku lupa bilang terima kasih suamiku," ucap Nafisah.


"Itu saja?" tanya Andra pura-pura kecewa.


"Terus?" tanya Nafisah tidak mengerti.


Andra lalu menunjuk pipinya tanda dia minta cium pada Nafisah. Dengan perasaan malu, Nafisah pun akhirnya mendaratkan ciuman singkat di pipi sebelah kiri suaminya itu.


"Ini belum," ucap Andra menunjuk pipi sebelah kanannya.


Nafisah lalu kembali mendaratkan ciuman singkatnya di pipi bagian kanan Andra, setelah itu jidat dan dagu Andra karena pada akhirnya suaminya itu pasti akan meminta cium di bagian itu juga.


"Pintar," tutur Andra mencubit gemas pipi Nafisah.


"Tapi masih kurang yang," ujar Andra.

__ADS_1


Nafisah mengernyit bingung dan Andra pun menunjuk bibirnya barulah Nafisah peka.


"Nanti saja yah mas, aku mau menelpon ayah dan ibu dulu," kata Nafsisah.


"Menolak suami dosa loh sayang," seru Andra tersenyum penuh kemenangan.


Nafisah kembali mendaratkan bibirnya pada bibir suaminya itu, namun sebelum ia menjauhkan bibirnya, Andra lebih dulu menahan tengkuknya lalu ******* bibir ranun Nafisah dengan lembut.


Setelah merasa pasokan udara mereka mulai menipis, barulah Andra melepaskan tautan bibir mereka.


"Mas ih," ucap Nafisah dengan napas yang tersendat-sendat sementara Andra hanya tersenyum.


Nafisah lalu duduk di bibir ranjang kemudian menelpon ayahnya.


"Assalamualaikum yah," sapa Nafisah.


"Waalaikumsalam sayang," balas Ayah Hamish.


"Ayah, ibu dan kakak apa kabar?" tanya Nafisah.


"Alhamdulillah kami baik nak, kamu dan suamimu apa kabar?" tanya balik Ayah Hamish.


"Kami juga alhamdulillah baik yah," jawab Nafisah. " Yah, ibu dan kakak mana?" tambah Nafisah.


"Ibumu lagi masak dan kakakmu lagi ke kantor. Sibuk ngurus pemindahan tugasnya," ujar Ayah Hamish.


"Kakak mau pindah? Ke mana?" tanya Nafisah.


"Katanya sih di jakarta, di induk perusahaan tempatnya bekerja," jawab Ayah Hamish seadanya.


"Oh gitu, terus nanti tinggal kalian aja yang di sana?" ucap Nafisah.


"Gpp sayang! Lagi pula anak-anak ayah memang harus mandiri bukan? Maka kakakmu juga harus belajar mandiri dari sekarang dan kamu pun harus menjadi istri yang baik dan juga ibu yang baik buat suami dan anakmu kelak!" ujar Ayah Hamish.


"Amin yah, tapi yang aku takutkan kakak kan gak pernah pisah dari ayah dan ibu, apa dia bisa hidup sendiri," pungkas Nafisah.


"Tenang kakakmu gak pergi sendiri, ada Aliya yang pergi bersamanya," ujar Ayah Hamish.


"Aliya juga ikut?" ulang Nafisah dan diiyakan oleh Ayah Hamish.


"Tumbeng kamu telpon ayah," seru Hamish.


"Aku rindu sama kalian dan aku mau memberikan sebuah kabar gembira untuk kalian," tukas Nafisah dengan senangnya.


"Kabar bahagia apa sayang?" tanya Ayah Hamish tidak sabaran.


"Nafisah hamil yah," jawab Nafisah.


"Alhamdulillah," ucap Ayah Hamish dan Ibu Harfisah yang entah sejak ibunya sudah ada di samping ayahnya.


"Selamat sayang," sahut Ibu Harfisah bahagia.


"Makasih bu, yah," kata Nafisah.


"Iya yah, mas Andra ada di sampingku nih," jawab Nafisah lalu melirik ke arah Andra yang sibuk sendiri dengan hp-nya.


"Coba di loudspeaker dulu sayang," titah Ayah Hamish dan Nafisah pun menurutinya.


"Assalamualaikum Andra," sapa Ayah Hamish dan Ibu Harfisah berbarengan.


" Waalaikumsalam ayah, ibu," jawab Andra.


"Selamat yah Ndra bentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah," kata Ibu Harfisah.


"Terima kasih bu," balas Andra.


"Ndra dengarkan ayah! Kamu harus banyakin bersabar yah! Menghadapi ibu hamil itu harus banyakin bersabar, jangan marah-marah sehingga menyakiti perasaannya. Hati mereka  itu sensitif seperti layaknya seorang balita, jadi banyakin bersabar yah Ndra," pungkas Ayah Hamish dan dijawab anggukan oleh Andra meskipun tidak dapat dilihat oleh Ayah Hamish di sebelah sana.


"Iya yah terima kasih sarannya," kata Andra.


"Baiklah, mungkin sampai di sini saja yah sayang kamu istirahatlah yang banyak! Jangan banyak-banyak bergerak dulu," ucap Ibu Harfisah.


"Iya bu," balas Nafisah tersenyum.


"Assalamualaikum," ucap Ayah Hamish dan Ibu Harfisah.


"Waalaikumsalam," balas Andra dan Nafisah lalu panggilan itupun terputus.


"Nah seperti kata ibu, sekarang waktunya kamu istirahat," tutur Andra lalu mengambil ponsel Nafisah dan menyimpannya di atas nakas kemudian membaringkan Nafisah.


"Temanin," pinta Nafisah dengan manjanya.


Andra pun menurut. Ia lalu ikut berbaring di samping Nafisah dengan posisi miring lalu memeluk Nafisah.


Nafisah membalikan posisinya. Nafisah lalu membalas pelukan hangat yang diberikan suaminya itu dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Andra menghirup dalam-dalam wangi maskulin aroma khas seorang Andra Yudhiantara.


"Mas," panggil Nafisah.


"Hmm?" balas Andra dengan mata terpejam.


"Katanya kakakku akan dipindah tugaskan di jakarta," ujar Nafisah menatap Andra yang kemudian membuka kelopak matanya.


"Dia dipindahkan ke perusahaan induk tempatnya bekerja," tambah Nafisah lagi.


"Lalu?" tanya Andra.


"Aku mau kakakku dan sepupuku tinggal di sini. Mereka sebelumnya tidak pernah tinggal jauh dengan ayah dan ibu. Mereka tidak tahu bagaimana itu kota J, jadi kumohon izinkan mereka tinggal di sini yah mas," pinta Nafisah dengan puppy eyesnya.


Andra mencium singkat bibir Nafisah lalu mengangguk sebagai tanda setuju, " Apa yang tidak buat kamu sayang. Mereka keluargamu otomatis kelurgaku juga bukan, maka mintalah mereka untuk tinggal di sini saja," putus Andra.


"Makasih suamiku tersayang," kata Nafisah tersenyum sumringah lalu mencium singkat pipi Andra dan kembali menenggelamkan wajahnya di dada Andra.

__ADS_1


"Tidurlah aku mau tidur," seru Nafisah yang merasa bahwa Andra akan membuka suara dan menggodanya lagi.


Andra pun senyum-senyum melihat tingkah menggemaskan istrinya itu. Ia pun menuruti apa kata istrinya. Mereka tidur dengan posisi saling berpelukan.


***


Di ruang tamu, Sofia masih asik memakan buah mangga muda yang masih banyak itu.


Setelah berganti pakaian Akhsan kembali menghampiri Sofia yang terlihat rakus memakan mangga itu.


"Kau ini doyan atau lapar?" sindir Akhsan berdiri di depan Sofia.


Sofia tidak memperdulikannya, ia terus saja mengunyah dan mengunyah tanpa mengindahkan kehadirian Akhsan di depannya.


"Akhs..."


"Apa? Mau meminta bantuanku lagi? Huft... jangan harap aku akan membantumu lagi nona," sela Akhsan bersidekap.


"Hehehe..." Sofia cengengesan.


Ia pun melakukan puppy eyes agar si boneka barbie yang sangat sensitif layaknya gadis yang sedang pms itu bisa luluh hatinya.


"Pleaseee..." mohon Sofia dengan mengatupkan kedua tangannya.


"No!" tegas Akhsan.


"Aish... kau ini," kesal Sofia lalu bangkit dari duduknya dan langsung menjambak rambut berwarna orange Akhsan membuat si empunya meringis kesakitan.


"Auch... Nona Sofia yang terhormat mohon lepaskan rambut saya, ini sakit. Anda mau merontokkan semua rambut saya nona?!" seru Akhsan sambil berusaha melepaskan jambakkan Sofia.


"Gak akan sebelum kamu mengatakan iya," tegas Sofia semakin menguatkan jambakannya.


"Iya-iya," kesal Akhsan. Sofia pun melepaskan jambakannya dan tersenyum penuh kemenangan tanpa merasa bersalah pada Akhsan.


"Baiklah mau apa No-na So-fi-a?" tanya Akhsan menekankan kata nona Sofia sangkin geramnya.


"Aku mau makan," imbuh Sofia.


Akhsan memutar bola matanya malas, " Yah tinggal makan apa susahnya sih?" ucap Akhsan.


"Nah karena aku mau makan, tapi makanan yang aku inginkan tidak ada, maka dari itu kamu harus membuatkannya untukku se-ka-rang!" titah Sofia membuat Akhsan melongo.


"Kan ada Chef Xion minta padanya untuk membuatkan makanan yang ingin kau makan!" ujar Aksan membuat Sofia menggeleng.


"Tidak aku tidak mau makanan buatannya. Tidak enak," ungkap Sofia dengan suara pelan agar tidak didengar oleh Chef Xion.


"Biasanya kau memakan makanan buatannya, kenapa sekarang kau malah mengatakan jika makanan buatannya itu tidak enak? Kau ini aneh-aneh saja," cibir Akhsan.


"Kau kenapa cerewet sekali sih!! Kau kan jago masak apa masalahnya? Tinggal masuk dapur memasak apa yang ku inginkan sudah bereskan gak usah berdebat lagi denganku buruan sana pergi ke dapur," terang Sofia lalu mendorong Akhsan menuju dapur.


"Kau seperti orang ngidam saja," kelakar Akhsan membuat langkah Sofia terhenti seketika.


"Kau kenapa lagi? Tidak jadi ku buatkan makanan? Oh syukurlah," tukas Akhsan.


Sofia menggelengkan kepalanya, "Tidak! Kau tetap masakkan aku makanan aku akan ke kamar dulu sebentar," imbuh Sofia dengan nada tegasnya tidak mau dibantah.


"Masakkan aku spagheti," tambah Sofia lalu berlalu meninggalkan Akhsan yang masih termangu di tempatnya.


Akhsan pun masuk ke dalam dapur untuk membuatkan spagheti sesuai perintah dari musuh bebuyutannya itu.


"Kalau ku suruh Chef Xion dia tahu gak yah?" gumam Akhsan menerka-nerka.


"Ah gak usahlah yang ada nanti kalau dia tahu bisa habis aku dimakannya," lanjutnya lagi lalu mecari-cari bahan-bahan yabg digunakan untuk membuat spagheti.


***


Sofia masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci kamarnya dari dalam. Di dalam kamar ia terus saja mondar-mandir tidak karuan.


"Ada apa dengan diriku ini?" tanyanya pada dirinya sendiri sambil menggigit jarinya.


"Makan mangga yang masih sangat muda itu bukanlah diriku dan apa itu tadi? Aku meminta Akhsan buat membuatkanku spagheti?! What apa aku ini sudah gila," gumam Sofia setelah menyadari keanehannya hari ini. Ia lalu duduk di tepi ranjang dan mengacak-acak rambutnya tidak karuan.


Pikirannya kembali lagi pada benda pengecek kehamilan itu. Hatinya berdesir ketika membayangkan benda tersebut.


"Apa aku harus mengeceknya? Tapi kalau benar aku hamil, apa yang harus aku lakukan?" tanya Sofia pada dirinya lagi dan lagi. Sofia nampak frustasi.


"Aku tidak sanggup menerima kenyataan ini," lanjutnya lagi menjerit tertahan.


Sofia pun melangkahkan kakinya menuju nakas tempat di mana ia meletakkan test pack tersebut setelah mengambilnya dari kurir.


"Apa aku harus menggunakan ini?" tanyanya sembari memperhatikan benda itu.


Sofia lalu membaca aturan pakai pada bungkus test pack itu dan menemukan waktu pakai yang akurat adalah pagi hari.


Itu dikarenakan pagi hari merupakan waktu HCG dalam urine sedikit lebih tinggi saat membuang air kecil pertama kali di pagi hari.


Tok-tok-tok!


Suara ketukan pintu kamarnya membuat Sofia tersadar dari khayalannya. Ia pun kembali memasukkan test pack itu ke dalam laci lalu menutupnya rapat-rapat.


Barulah kemudian ia berjalan menuju pintu.


"Spaghetinya sudah matang," ucap Akhsan dan dijawab anggukan oleh Sofia.


Sofia keluar dari kamarnya lalu menutup rapat-rapat pintu kamarnya dan mendahului Akhsan menuju ruang makan.


"Aneh," ejek Akhsan kemudian mengikuti Sofia menuju meja makan.


🔫🔫🔫


TBC...

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE💕


__ADS_2