Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia : Ke Kota A


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA!


***


Satu minggu kemudian.


Andra dan yang lainnya berencana ke kota A hari ini, mereka akan menemui keluarga Nafisah.


"An, Sof! Kalian sudah selesai belum?" teriak Dimas dari ruang tamu.


"Tunggulah sebentar kakak," jawab Ariana sambil memasukkan baju yang akan ia bawa ke dalam koper.


"Aku sudah selesai," seru Sofia sembari mengunci kamarnya.


"Lelet sekali," cibir Dimas pada Sofia yang berjalan mendekat dengan menyeret kopernya.


"Kau yang tidak sabaran," ketus Sofia.


"An!! Cepatlah kalau kau tidak mau di marahi kakakmu!!" teriak Dimas lagi pada Ariana yang belum juga keluar dari kamarnya.


"Iya-iya bawel," sewot Ariana yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.


"Ayo buruan!" titah Dimas lalu berjalan keluar rumah.


***


Di teras rumah besar, Andra, Akhsan dan pak Arif sudah lama menunggu ketiga manusia lelet itu.


Andra berdecih kesal sambil melirik jam tangannya. Mereka sudah berdiri di sini sekitar lima menit yang lalu, namun sampai sekarang ketiga manusia itu belum juga nampak batang hidungnya.


"Kenapa lama sekali? Tidak sekalian datangnya besok saja!" ketus Andra lalu berjalan menuju mobil yang akan digunakannya.


Dimas, Ariana dan Sofia lalu menyusul Andra masuk ke dalam mobil.


Dimas yang mengambil alih kemudi seperti biasanya. Sedangkan Andra dan Ariana duduk di jok belakang dan Sofia duduk di samping Dimas..


Dimas lalu mengemudikan mobil mewah itu keluar dari halaman rumah besar diikuti mobil yang membawa pak Arif dan Akhsan.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Andra.


"Sudah bos, Jack dan beberapa anak buah kita sudah ada di sana," jawab Sofia.


"Bagus kalau begitu," balas Andra lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobil.


"Kok Ana takut yah kak?" kata Ariana tiba-tiba.


"Takut kenapa?" tanya Andra dengan kening berkerut.


"Entahlah, Ana cuma takut lamaran kakak ditolak," lirih Ariana.


"Tidak mungkin, Nafisah pasti sudah membujuk kedua orangtuanya itu di sana," ujar Andra sangat yakin.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu, Ana mau tidur sebentar nanti bangunin yah kak," ucap Ariana dan dijawab anggukan kepala oleh Andra. Ariana lalu menutup matanya.


Nafisah lebih dulu pulang ke kota A tiga hari yang lalu. Itu sudah mereka rencanakan dengan matang-matang.


Setelah cukup lama berkendara akhirnya mereka sampai juga di sebuah tanah yang sangat luas.


Di tengah-tengah tanah itu, sudah terparkir jet pribadi milik Andra.



Dimas dan Sofia lebih dulu turun dari mobil guna untuk menurunkan semua koper yang mereka bawa.


"An! An!" Andra menepuk-nepuk pipi Ariana.


"Hoam..." Sofia menguap.


"Bangun kita sudah sampai!" seru Andra lalu keluar dari mobil.


Nafisah meregangkan otot-otot tubuhnya terlebih dulu lalu mengucek matanya dan barulah ia keluar dari mobil menyusul yang lainnya.


Andra membuka kacamatanya, "Sudah kau pastikan jika ini aman? Tidak ada sabotase?" tanya Andra pada Jack.


"Semuanya aman bos," jawab Jack penuh percaya diri.


"Baguslah," balas Andra. "Kalian ikut denganku!" titah Andra menunjuk lima orang anak buah yang datang bersama Jack.


"Siap bos," jawab mereka sembari membungkuk hormat.


"Ba-baik bos," gugup Jack.


"Good!" kata Andra lalu naik ke jet pribadinya.


"Kalian bawalah ini naik ke atas!" titah Dimas pada kelima anak buahnya itu lalu berjalan lebih dulu diikuti Sofia dan Ariana di belakangnya.


Pak Arif dan Akhsan juga ikut naik ke jet. Kelima anak buah itu lalu menyeret semua koper-koper bosnya itu naik ke atas jet.


***


Jet pribadi milik Andra ini sangatlah mewah dan elegan sama seperti pemiliknya.


Harga jet ini sebelum dirombak sebesar US$ 403 juta.


Interiornya menawarkan ruangan hampir 4.800 kaki hingga bisa diisi dengan berbagai fasilitas termasuk sebuah kamar tidur, ruang makan yang megah, yang dapat dikonversi menjadi ruang rapat.





__ADS_1


"Jalankan sekarang Fero!" ucap Dimas melalui Complete separation type yang selalu bertengger di telinga kanannya.


"Baik," balas Fero, pilot Andra dan langsung saja pesawat itu lepas landas.


***


Di kota A, tepatnya di rumah keluarga Nafisah. Saat ini Nafisah dan keluarganya sedang bersantai di ruang keluarga menikmati tontonan yang di tayangkan oleh televisi.


"Yah, bu, kak," panggil Nafisah tiba-tiba membuat ketiga orang itu mengalihkan pandangannya menatap ke arah Nafisah.


"Kenapa?" tanya Ibu Harfisah mewakili pertanyaan Ayah Hamish dan juga Amira.


"Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan kalian," jawab Nafisah.


"Bicaralah!" kata Ayah Hamish.


"Sebenarnya Nafisah pulang ke sini karena hal ini," tutur Nafisah.


"Hal apa?" tanya Ibu Harfisah.


"Seseorang akan melamarku, yah, bu, kak," pungkas Nafisah.


Deg!


"Me-melamarmu?" gagap Amira. Nafisah menjawab dengan anggukan kepala.


"Siapa?" tanya Ayah Hamish.


"Besok dia akan datang ke sini, biar kalian berkenalan langsung saja dengannya besok," tutur Nafisah tersenyum.


"Besok?" kaget Amira dan dijawab anggukan kepala lagi oleh Nafisah. "Lalu Adam?" tanya Amira.


"Aku akan berbicara dengannya nanti. Awalnya aku akan menerima lamaran Adam, namun setelah melakukan salat istikharah ternyata dia bukan jodohku. Lalu dia datang dan mengatakan jika dia mau melamarku. Aku melakukan salat istikhara lagi dan jawabannya dia yang dijodohkan allah denganku," jelas Nafisah.


"Bagaimana pendapat kalian tentang hal ini?" tanya Nafisah menatap satu-satu keluarganya.


"Mmm... kalau Allah sudah menentukannya, lantas untuk apa kita menolaknya?" ujar Ibu harfisah tersenyum.


"Keputusanmu sudah tepat sayang, ikuti semua yang telah ditetapkan oleh Allah maka insyaallah itu adalah yang terbaik untukmu," jelas Ayah Hamish.


"Kalau kamu bahagia, kami pun ikut bahagia," timpal Amira lalu memeluk Nafisah.


"Aku sayang kalian," tutur Nafisah.


"Kami juga menyayangimu," seru Ayah Hamish, Ibu Harfisah dan juga Amira bersamaan.


πŸ”«πŸ”«πŸ”«


TBC...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTEπŸ’•

__ADS_1


__ADS_2