
SELAMAT MEMBACA!
***
Setelah melaksanakan sholat dzuhur empat rakaat dengan khusu, Nafisah pun keluar dari kamarnya. Dia berniat menemui Sofia meminta agar Sofia mau mengajaknya berjalan-jalan supaya tidak bosan di dalam rumah terus-menerus.
"Huft, di mana gadis itu?" tanya Nafisah pada dirinya sendiri setelah selesai menelusuri rumah besar itu dan tidak juga menemukan sosok yang di carinya.
"Nyonya cari siapa?" tegur Pak Arif yang kebetulan melintas dibelakang Nafisah.
"Saya cari Sofia Pak," jawab Nafisah dengan sopan.
"Nona Sofia tadi dipanggil tuan Andra ke ruang kerjanya nyonya," ujar Pak Arif.
"Oh gitu yah pak," ucap Nafisah.
"Iya nyonya," balas Pak Arif.
"Bapak bisa menunjukkan di mana kamarnya Ana?" tanya Sofia. Dia tidak mungkin menyusul ke ruang kerja Andra, akan tetapi dia bisa ke kamar Ana.
"Kamar nona Ana di sana nyonya," kata pak Arif sembari menunjuk ruangan dengan pintu berwarna putih.
"Terima kasih pak, saya ke kamar Ana dulu," pamit Nafisah dan dijawab anggukan kepala oleh Pak Arif.
Nafisah pun berjalan menuju kamar Ariana.
"Rumah ini besar sekali dan lihatlah barang-barang itu, ini pasti sangat mahal," kata Nafisah sembari melirik-lirik benda-benda pajangan di rumah itu dan berdecak kagum.
Nafisah pun sampai di depan kamar Ariana.
Tok-tok-tok!
Nafisah mengetuk pintu kamar Ariana.
"Masuk!" seru Ariana dari dalam kamarnya.
"Kak Nafisah," ucap Ariana.
"Ya, ini aku," balas Nafisah tersenyum.
"Ada apa kak? Apa kakak butuh sesuatu?" tanya Ariana.
"Tidak ada, aku hanya bosan berdiam diri di dalam kamarku jadi aku ke sini. Tidak apa-apakan? Apa aku mengganggumu?" tanya Nafisah sungkan.
"Tidak kok kak," jawab Ariana lalu kembali berkutak dengan komputernya.
"kamu sedang apa?" tanya Nafisah sembari melihat Ana mengotak-atik komputernya.
"Tidak ada, cuma mau nonton drama china saja," jawab Ana tersenyum.
Nafisah hanya ber 'oh' riah.
"Apa kakak bosan seharian hanya di sini saja?" tanya Ana dan Nafisah pun mengangguk.
"Mau Ana temani jalan-jalan biar tidak bosan?" tawar Ariana.
"Katamu kamu mau menonton tadi," seru Nafisah. "Tidak apa-apa aku akan menemanimu menonton di sini," tambah Nafisah.
"Gak papa kok kak, Ana masih bisa nonton lain waktu," ujar Ariana.
"Baiklah, kalau kamu memaksa," balas Nafisah terkekeh.
"Tunggu sebentar yah kak, Ana matikan ini dulu," tutur Ariana lalu mematikan komputernya.
"Sudah selesai, mari pergi!" kata Ariana kemudian menggandeng tangan Nafisah keluar dari kamarnya.
"Kita mau kemana An?" tanya Nafisah saat mereka sudah sampai di teras rumah.
"Rahasia," jawab Ana tersenyum jenaka. "Yang intinya aku tidak akan membawa kakak ke kandang tiger," canda Ariana.
"Hiiy, amit-amit An!" Nafisah bergedik ngeri.
__ADS_1
"Bwahahahah," Ariana terbahak. "Kakak ini lucu sekali, jangankan kakak aku pun juga takut melangkahkan kakiku memasuki kandang tiger," aku Ariana jujur.
"Ternyata kamu tidak seberani kakakmu yah," ejek Nafisah.
"Kakak itu ibarat singa dan aku hanyalah seekor kucing yang menggemaskan," kelakar Ariana membuat Nafisah terkekeh dan mencubit gemas hidung Ariana.
"Auch... kakak," rengek Ariana mengerucutkan bibirnya.
"Habisnya kamu luci sih," tutur Nafisah.
"Akukan anak kucing," balas Ariana sok imut.
"Hadeh, terserah kamulah An," pasrah Nafisah.
"Baiklah, mari ikut denganku!" ajak Ariana dan Nafisah pun mengikuti langkah Ariana.
Mereka pun berjalan dengan bergandengan tangan. Ariana yang menuntun Nafisah menuju tempat yang katanya adalah rahasia.
***
Tok-tok-tok!
Sofia mengetuk pintu ruang kerja Andra.
"Masuk!" Seru Andra dari dalam.
Sofia pun membuka pintu lalu melangkahkan kaki jenjangnya memasuki ruang kerja Andra.
Ruang kerja Andra ini berbeda dengan ruang kebesarannya di perusahaan Yudhiantara Financial. Ruangan ini dihiasi oleh banyaknya senjata mematikan.
Di antaranya, pistol, senapan, bom, granat, pisau, samurai dan masih banyak lagi. Ruangan kerja itu juga dilengkapi oleh peralatan kerja Andra sebagai seorang CEO.
Sofia mengedarkan pandangannya, dia baru menyadari jika Dimas dan Jack juga ada di sana.
"Kenapa dua makhluk astral itu juga di sini?" gumam Sofia.
"Woy penganten! Percepat jalanmu atau bapak penghulu akan meninggalkanmu," teriak Jack asal membuat Andra dan Dimas terkekeh kecil.
"Stop! Kalian ini," sela Dimas menengahi Sofia dan Jack.
Sofia memandang malas Jack lalu berjalan mendekat ke arah Andra, "Bos memanggilku?" tanya Sofia.
"Tentulah bodoh," sewot Jack.
"Hei!! Aku tidak bertanya padamu yah! Kau kira, kau itu bos," sungut Sofia.
"Berhenti!!" bentak Andra merasa pusing berada di tengah-tengah kedua orang itu.
"Aku mengumpulkan kalian disini, bukan untuk bertengkar," seru Andra melirik ke arah Jack dan Sofia dengan tajam.
"Sorry bos," ciut Jack dan Sofia.
"Sekarang pasang telinga kalian baik-baik sertakan juga otak kalian, jangan ada yang menyela," tegas Andra.
"Baik bos," jawab mereka bertiga serentak.
"Jack kau bergeserlah sedikit! Aku mau duduk pegal nih kakiku terus-terusan berdiri," tukas Sofia dan untuk pertama kalinya Jack mau menurut sama Sofia.
"Kita masih mempunyai banyak musuh di luaran sana dan salah satunya adalah Ronal. Dia tidak akan pernah menyerah menyerang kita sebelum kita hancur berkeping-keping," ujar Andra.
"Aku yakin setelah ini, dia masih akan melancarkan aksinya untuk menyerangku. Orang itu bukanlah orang yang mudah putus asa! Maka dari itu kalian harus pintar-pintar menghadapi dirinya," tambah Andra.
"Hari ini kita sudah kecolongandan mereka berhasil masuk ke dalam rumah ini, mungkin saja besok atau hari-hari yang akan datang dia bisa saja melakukan hal yang lebih dari serangan tadi. Untung saja para anak buah siaga," jelas Andra lagi.
"Ingatlah tugas kalian masing-masing!" tegas Andra pada ketiga orang kepercayaannya itu.
"Pasti," balas mereka mantap.
"Apa masih ada yang akan kau jelaskan bos?" tanya Jack.
"Sudah tidak ada lagi," jawab Andra.
__ADS_1
"Kalau seperti itu, aku pamit dulu," ujar Jack dan Andra pun mengangguk.
Jack lalu keluar dari ruang kerja Andra.
"Dim, lo urus anak buah kita yang tadi sempat terluka," titah Andra.
"Oke, gue pergi sekarang," ucap Dimas.
Dimas berdiri dari duduknya begitu pula dengan Sofia.
"Sof, Kau tetap di sini!" tukas Andra.
Dimas pun meninggalkan Andra dan Sofia. Sofia lalu kembali duduk di tempatnya
"Kenapa kau menahanku di sini?" tanya Sofia malas.
"Di sini siapa bosnya?" sombong Andra.
"Ya-ya-ya, bo-s An-dra yang terhormat kenapa anda menahan saya untuk tidak keluar dari sini?" ejek Sofia.
"Sof-ia!" geram Andra.
"Cepatlah bos, aku capek mau istirahat," tukas Sofia.
"Hei!! Kau di sini bukan untuk istirahat kau tahu itu!!" kata Andra sinis.
"Cih, kalau kau bukan bosku sudah ku tendang pantatmu itu," gumam Sofia kesal.
"Kau bilang apa tadi?" desis Andra.
"Aku tidak bilang apa-apa! Jangan menuduhku mengatakan yang tidak-tidak yah bos!" bohong Sofia balik menuduh Andra.
"Arghhh..." jarit Andra tertahan.
"Kau mau mengatakan apa bos? Jika tidak ada maka biarkanlah dayang-dayangmu ini pergi tuan," mohon Sofia memelas.
"Tutup dulu mulutmu itu! Bagaimana aku bisa mengatakannya jika mulutmu itu tidak pernah berhenti bicara!" sindir Andra dan Sofia pun menutup mulutnya rapat-rapat dan mempersilahkan Andra untuk bicara.
"Bagaimana caranya Ariana sembuh?" tanya Andra to the poin.
"Yah, karena Tuhanlah bos," jawab Sofia asal.
"Hellen Sofia Cherin," desis Andra dengan mata menatap tajam Sofia.
"Hehehe... iya-iya bos sekarang serius," cengir Sofia. "Jadi gini bos, kemarin pagi setelah sarapan, Aku mengajak Sofia berjalan-jalan ke rumah taman..."
"Lancang sekali kau membawa orang asing ke rumah taman!" teriak Andra.
Sofia terkejut, "Astaga bos, hampir saja aku mati jantungan," decak Sofia sembari mengelus-elus dadanya.
"Dengarkan aku dululah bos," tutur Sofia.
"Ehem... baik lanjutkan," luluh Andra.
Sofia lalu memutar bola matanya malas.
"Terus aku membawanya masuk ke dalam rumah taman dan mempertemukannya dengan Ana. Gadis itu memiliki tekad yang kuat untuk membantu Ana sembuh..." Sofia pun menceritakan semuanya secara rinci pada Andra.
Andra ber "oh" riah setelah Sofia menyelesaikan ceritanya.
"Hanya oh bos?" ucap Sofia menganga. Dia bahkan hampir kehabisan napas bercerita dan bosnya hanya ber "oh" riah, sungguh luar biasa.
"Terus aku harus bilang amazing gitu?" balas Andra.
Prok-prok-prok!
"Wow... Aku tersanjung," ejek Sofia lalu keluar begitu saja dari ruangan Andra
π«π«π«
TBC...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTEπ