
SELAMAT MEMBACA!
***
Brak!
Andra menggebrak mejanya begitu keras. Tangannya sudah mengepal memperlihatkan buku-buku tangannya yang memutih dan wajahnya pun juga sudah memerah.
"Lo bilang apa tadi?!" desis Andra pada Dimas.
"Ndra, Nafisah diculik," ulang Dimas.
"Breng*sek! Bajing*an! Bagaimana bisa Nafisah diculik?!!" murkah Andra menghempaskan semua benda yang ada di meja kerjanya.
"Di mana Sofia? Kenapa Nafisah bisa diculik? Dan apa kerjaan anak buah kita jika Nafisa masih bisa diculik! Dasar tidak berguna!!" teriak Andra.
"Tenanglah Ndra!" ucap Dimas.
"Lo bilang tenang? Istri gue diculik Dim! Lo tahu gak gimana keadaan istri gue sekarang!" sungut Andra.
"Iya gue tahu, tapi lo sabar dulu Ndra! Kita lagi di kantor bukan di markas maupun di rumah," ujar Dimas menasehati Andra.
"Lo antar gue ke markas sekarang!" titah Andra lalu berjalan keluar ruangannya.
"Pak ini dokumen yang anda..." Andra tidak menghiarukan kariawan yang hendak memberikannya dokumen yang tadi ia minta sebelumnya.
"Pak Dimas," panggil kariawan wanita itu.
"Kamu letakkan saja di atas meja kerja saya!" imbuh Dimas lalu berlari menyusul Andra.
***
Plak!
Plak!
Plak!
__ADS_1
Sofia menampar semua anak buah yang ia tempatkan di rumah besar.
"Dasar bodoh!! Aku menempatkan kalian di rumah besar untuk melindungi nyonya dan Nona Ariana, tapi mengapa kalian malah asik di rumah dan membiarkan mereka keluar hanya berdua sialan!!" marah Sofia menatap tajam mereka semua.
"Maafkan kami bos," cicit mereka semua.
"Apa kau bilang maaf? Apa maaf bisa mengembalikan nyonya dan membuat Ariana sadar ha?!!" bentak Sofia.
Semua anak buahnya kembali menunduk tidak berani menatap maupun membalas ucapan Sofia.
"Sekeras kepala apapun Ariana seharusnya kalian tidak menurutinya!! Kalian kupekerjakan untuk melindungi dan menjaga mereka bukan malah menjadi satpam!!" jelas Sofia marah.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Sekarang giliran Jack yang memukul mereka semua. Karena gara-gara mereka, mereka semua akan terkena imbasnya.
"Bodoh! Kalian semua kenapa bodoh sekeli!!" marah Jack mengepalkan tangannya.
Cit!
Dimas mengerem mati mobilnya setelah tiba di markas besar. Andra lalu turun dan berjalan terburu-buru memasuki markas besar.
Brak!
Andra menendang pintu utama sangkin emosinya membuat semua netra orang-orang yang ada di sana menatapnya.
Plak!
Bugh!
Plak!
"Breng*sek! Bajing*an! Anj*ing!" umpat Andra dengan wajah memerahnya.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan sampai Nafisah bisa diculik, ha?!!" tanya Andra membentak. "Dan kau Sof! Bukankah tugasmua untuk menjaga Nafisah dan Ariana? Lantas kenapa semua ini bisa terjadi?" tanya Andra menahan emosinya..
"Maafkan aku bos," cicit Sofia lalu menceritakan semua yang telah terjadi. Bermula saat ia mendapatkan panggilan dengan mengatas namakan anak buahnya yang ternyata hanyalah omong kosong dan sekarang Sofia baru sadar jika itu adalah salah satu cara agar mereka bisa menculik Nafisah.
"Bodoh!!" umpat Andra.
"Di mana Rio?" tanya Andra saat menyadari jika Rio tidak ada di sana.
"Rio sedang mencari tahu keberadaan Nafisah bos," jawab Sofia.
"Bagaimana keadaan Ariana?" tanya Andra lagi karena di belum sempat melihat adiknya itu.
"Dia sudah sadar dan sekarang dia di temani Pak Arif dan Akhsan di rumah sakit," jelas Sofia dan Andra pun bisa bernapas lega namun napasnya masih naik turun menahan amarahnya.
"Ndra lo tahu siapa dalangnya?" tanya Dimas.
Andra mengangguk, "Ya gue tahu. Siapa lagi kalau bukan Ronal?" jawab Andra.
"Orang itu yang selalu ingin mengibarkan bendera peperangan dengan gue," kesal Andra.
"Gue juga mikirnya sama," timpal Dimas.
Tak-tak-tak!
Rio menuruni anak tangga dengan terburu-buru.
"Apa kau sudah nendapatkannya?" tanya Andra dan Rio mengangguk mantap.
"Nona Ariana menyimpan alat pelacak di saku kemeja orang yang memukul tengkuknya dan itu memudahkan kita bisa melacaknya. Sepertinya orang itu tidak sadar jika ada alat pelacak di sakunya karena sampai sekarang alat itu masih terdeteksi," pungkas Rio.
"Dasar bodoh!" kata Andra tersenyum miring. "Baguslah, kita lakukan malam ini dan persiapkan diri kalian!" titah Andra.
"Baik bos," balas mereka serentak.
"Bersabarlah sayang, aku pasti akan membebaskanmu dari orang-orang terkutuk itu," gumam Andra tersenyum miris.
🔫🔫🔫
__ADS_1
TBC...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE❤