Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia : Ariana


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA!


***


"Kita mau kemana?" tanya Nafisah.


"Ikut saja, aku akan membawamu ke suatu tempat!" jawab Sofi sambil menggandeng tangan Nafisah dan   berjalan keluar dari rumah itu.


Di sela-sela perjalanan ke suatu tempat yang dimaksud Sofia, Nafisah menyempatkan matanya untuk melihat-lihat halaman rumah besar.


"Kenapa disini banyak sekali pohon-pohon besar?" tanya Nafisah mengedarkan pandangannya melihat-lihat semua pohon besar yang tumbuh menjulang tinggi di halaman rumah besar Andra.


"Mungkin untuk memberikan udara yang sejuk," jawab Sofia asal. "Kita sudah sampai!" seru Sofia.


Ternyata Sofia membawa Nafisah ke halaman belakang rumah besar milik Andra. Dan hal yang menakjubkannya adalah di sana terdapat sebuah rumah taman sederhana dengan teras yang di hiasi penuh oleh berbagai macam bunga.



"Ini indah sekali," puji Nafisah sembari menyentuh setiap bunga yang ada.


"Mau masuk?" tanya Sofia dan Nafisah pun mengangguk.


Sofia dan Nafisah kemudian masuk ke dalam rumah taman itu. Sekali lagi Nafisah dibuat takjub dengan isi rumah tersebut. Memang dari luar terlihat sederhana, namun di dalamnya terhias begitu indah sehingga menghasilkan nuansa mewah.


"Wow," Nafisah takjub melihat keindahan di dalam sana. "Ini rumah siapa?" tanya Nafisah.


"Kamu masih ingat tentang apa yang ku katakan padamu waktu itu?" tanya balik Sofia. "Jika masih ada perempuan selain aku di sini," ucap Sofia mengingatkan Nafisah. Nafisah pun mengangguk ketika kembali mengingatnya.


"Apa kamu mau bertemu dengannya?" tanya Sofia.


"Dengan senang hati," jawab Nafisah tersenyum.


"Ikut aku!" Sofiah lalu menarik tangan Nafisah menuju sebuah ruangan di dalam rumah taman.


"Tapi sebelum masuk, aku harap kamu tidak berisik!" tutur sofia sebelum membuka pintu ruangan tersebut.


Pintu ruangan itu terbuka lebar, ruangan itu ternyata adalah sebuah kamar.


"Dia" tunjuk Nafisah. "siapa?" tanya Nafisah sedikit berbisik pada Sofia.


Di dalam kamar itu, terdapat seorang gadis remaja dengan tatapan kosongnya serta wajah pucat tanpa make up sedikit pun.


Perempuan itu memang membuka matanya, namun tatapannya terlihat kosong. Gadis tersebut sedang menatap ke luar jendela, entah apa yang sedang dia lihat disana.


"Dia adalah Ariana," jawab Sofia.

__ADS_1


Sofia dan Nafisah tidak masuk ke dalam kamar itu, mereka hanya berdiri di ambang pintu seraya memperhatikan perempuan yang disebut bernama Ariana itu dari sana.


"Ya, dia Ariana. Dia adalah adik tuan Andra," tutur Sofi saat melihat Nafisah mengernyit tidak paham.


"Oh, lantas kenapa dia disini? Dan ada apa dengannya?" tanya Nafisah beruntun.


"Dia mengalami trauma," jawab Sofia. "Ariana dulunya adalah gadis ceria dan sangat cerewet. Tapi karena trauma itu, keceriannya lenyap seketika," tambah Sofia.


"Kenapa dia tidak di bawa ke rumah sakit atau memberikan dia perawatan medis?" tanya Nafisah.


"Bos Andra sudah melakukan segala cara agar Ariana sembuh dari traumanya, namun semuanya sia-sia sampai Dokter pun menyerah," jawab Sofia tersenyum getir.


"Kasihan sekali," lirih Nafisah.


"Kata Dokter, Ariana sebenarnya bisa kembali seperti semula, tapi Ariana sendirilah yang memilih untuk tetap dalam kondisi seperti itu." ujar Sofia.


"Sudah berapa lama dia begitu?" tanya Nafisah.


"Sudah sekitar tiga tahun," jawab Sofia.


Nafisah manggut-manggut mengerti. Nafisah kemudian masuk ke dalam kamar Ariana di ikuti Sofia.


"Halo Ariana!" sapa Nafisah.


Namun, kalau dia terus-terusan dibiarkan seperti ini, akan mengerikan sekali. Ariana masih muda, tidak baik jika dia hanya berdiam diri memandang kosong kesembarang arah di kamar ini.


"Kau sudah makan?" tanya Nafisah yang kini sudah duduk di tepi ranjang milik Ariana.


Ariana lagi-lagi tidak bergeming. Dia bahkan tidak mengindahkan kehadiran dua gadis di kamarnya itu. Dia sibuk dengan dunianya sendiri. Dunia kosong tanpa gangguan siapapun.


"Sudahlah Naf, dia tidak akan mendengarkanmu!" Kata Sofia menepuk pundak Nafisah menyuruhnya untuk berhenti.


"Kalau kita membiarkannya seperti ini, kasihan dia. Dia masih kecil. Berapa usianya?" tanya Nafisah.


"Delapan belas tahun," jawab Sofia.


"Berarti dia mulai begini saat usianya lima belas tahun?" tanya Nafisah dan Sofia pun mengangguk.


"Aku tidak tahu kenapa dia bisa begini. Yang aku tahu sepertinya kau tidak berniat memberitahukanku penyebabnya, namun tak apalah! Disini aku akan membantunya sembuh," tutur Nafisah tersenyum dan sofia pun mengalah.


"Aku tidak punya hak untuk memberitahukan masalah itu kepadamu," ujar Sofia menunduk. Ini adalah rahasia sekaligus aib yang tidak diperuntukan untuk di umbar-umbar.


"Aku mengerti," balas Nafisah tersenyum.


"Kau mau sesuatu Ariana?" tanya Nafisah mencoba berkomunikasi dengan Ariana.

__ADS_1


Ariana memutar kepalanya dan menatap Nafisah degan tatapan tajamnya. Sepertinya ia tak suka Nafisah selalu saja bertanya dan itu membuatnya terusik.


"Naf, sudah yah! Sebelum dia mengamuk ayo kita pergi dari sini!" pinta Sofia.


"Kalau kau takut, kau boleh pergi," seru Nafisah.


"Mau berteman?" lanjut Nafisah sambil mengulurkan tangannya pada Ariana.


Ariana hanya memandang tangan Nafisah singkat kemudian kembali menatap ke luar jendela dengan tatapan kosongnya.


"Sudah ku bilang bukan? Dia tidak akan mendengarkan dirimu maupun yang lain," ujar Sofia sinis.


"Sudahlah! Sebaiknya kita keluar dari sini sebelum bos Andra kembali," lanjut Sofia lalu keluar lebih dulu dari kamar itu meninggalkan Nafisah yang masih tidak bergeming dari tempatnya.


Nafisah lalu menatap lekat-lekat Ariana dan tersenyum lembut. "Kamu sebenarnya masih bisa kembali, namun tidak tahu tujuan hidupmu kedepannya bukan? Yakinlah selama kau mempunyai Tuhan, dia akan selalu memberikan kemudahan untukmu," Seru Nafisah sambil mengelus surai milik Ariana.


Nafisah sudah membalikkan badannya berniat meninggalkan kamar Ariana, namun terhalang karena sebuah tangan menggenggan erat tangannya.


Nafisah membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah tangannya yang di genggam oleh Ariana. Nafisah amat sangat terkejut melihat tangannya digenggam Ariana.


"Kakak siapa?" tanya Ariana menatap balik Nafisah.


"Aku Nafisah," jawab Nafisah.


"Kakak percaya Tuhan?" tanya Ariana.


Nafisah mengangguk dan berucap, " sangat, aku sangat mempercayainya."


"Kenapa? Dia jahat. Dia membuat hidupku seperti ini. Dia tidak menyayangiku. Aku pun mempercayainya, namun dia tidak membalasnya. Malah dia membuatku terpuruk seperti ini," ujar Ariana.


Terkadang orang yang diuji dengan cobaan terberat akan selalu meragukan Tuhan. Karena, bagi mereka Tuhanlah akar dari semua permasalahan yang mereka dapatkan.


Namun, mereka lupa jika Tuhan mengujinya itu masih di tahap mereka mampu mengatasinya, karena Tuhan tidak akan menguji umatnya dibatas kemampuannya. Bukankah begitu?


"Kamu salah, Tuhan mengujimu itu wajar karena setiap manusia pernah diuji. Namun, kembali lagi pada diri kita. Apakah kita mau menyelesaikannya atau kita lebih memilih diam dan terpuruk lebih dalam lagi. Kamu tahu? Tuhan bahkan menguji setiap umatnya dengan batas kemampuan yang mereka bisa. Tidak pernah menguji diluar kemampuan kita!" ujar Nafisah bijak.


"Kakak tahu apa masalahku?" tanya Ariana dengan tersenyum getir.


Nafisah menggeleng, karena memang dia tidak tahu bukan?


🔫🔫🔫


TBC...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE💕

__ADS_1


__ADS_2