
SELAMAT MEMBACA!
***
Pagi yang cerah kini telah menyapa sebagian negara di dunia. Para penghuni rumah besar sudah duduk manis di kursi meja makan.
"Selamat makan tuan, nyonya dan nona," tutur Pak Arif setelah menyajika sarapan untuk mereka.
"Selamat makan semuanya," ujar Ariana.
Mereka pun memulai makan meraka.
***
Setelah lima belas menit, akhirnya mereka selesai juga menyantap sarapan masing-masing.
" Tunggu!" cegah Andra saat melihat semua orang mulai berdiri dari tempat duduk mereka.
Mereka berempat saling pandang, kemudian kembali duduk.
"Ada apa kak?" tanya Ariana pada kakaknya.
"Ada yang ingin aku tanyakan pada kalian," tutur Andra.
"Soal apa kak?" tanya Ariana penasaran.
"Soal ipa, matematika, sejarah, ekonomi atau bahasa indonesia?" kelakar Dimas.
"Tidak lucu," cibir Andra datar.
"Memang tidak lucu, gue kan bukan pelawak," ketus Dimas lalu bersidekap.
"Diantara kalian semua, apakah ada yang akan menikah?" tanya Andra tiba-tiba.
"Mungkin, tapi bukan aku orangnya," jawab Ariana melirik Sofia, Dimas dan juga Nafisah.
"Bukan aku," geleng Sofia.
"Gue juga bukan," timpal Dimas.
"Kak Nafisah?" tunjuk Ariana pada Nafisah.
"Semua orang akan menikah, baik sekarang maupun masa yang akan datang," jawab Nafisah bijak.
"Benar juga yah," Dimas garuk-garuk kepala.
"Makanya kalau bicara itu pakai otak bukan pakai dengkul," ejek Sofia.
"Kakak juga sama," timpal Ariana menskakmat Sofia.
Jleb!
Sofia menelan salivanya kasar.
"Bwahahahahah..." Dimas terbahak.
Plak!
Nafisah memukul pundak Dimas dengan sangat kencang.
"Auch... kenapa memukul gue sih Sof?" geram Dimas.
"Lo kira lucu! Lama-lama elo bisa gila tertawa mulu dari tadi," cibir Sofia.
"Hei kalian berdua, berhentilah sekarang!" bentak Ariana.
Ariana lalu mengalihkan pandangannya menatap Nafisah. "Kakak mau laki-laki seperti apa?" tanya Ariana.
__ADS_1
Dan tanpa sengaja hal yang seharusnya ditanyakan oleh Andra sudah ditanyakan oleh Arian.
"Aku hanya ingin pria yang bisa menuntunku dan anak-anak kami kelak menuju surganya allah," jawab Nafisah mantap.
Prok-prok-prok!
"Dengar tuh buat yang mau melamar Kak Nafisah rajin-rajinlah salat agar di terima... hehehe," sindir Ariana pada kakaknya.
"Kenapa melirik kakak seperti itu?" tanya Andra datar.
"Siapa tahu kakak, mau melamar Kak Nafisah," jawab Ariana dengan santainya.
"An!" seru Nafisah malu-malu.
Andra tidak membalas ucapan Ariana lagi, ia berdiri dari duduknya sambil memperbaiki jasnya. Dirinya dan Dimas sekarang harus berangkat bekerja.
"Dim, ayo!" kata Andra lalu berjalan lebih dulu. Dimas pun segera mengikuti langkah Andra.
***
Mobil Andra yang di kemudikan oleh Dimas di selip oleh mobil lain dari arah kanan dan juga kiri. Menempatkan mobil Andra di antara mobil berwarna hitam tersebut.
Brak!
Brak!
Mobil Andra di hantam begitu keras oleh mobil yang berada di sebelah kiri mobilnya.
"Hama-hama ini!!" geram Dimas lalu menancap pedal gas begitu keras.
"Lo tetap mengemudi! Biar gue yang ngurus mereka semua!" titah Andra.
"Baiklah," balas Dimas.
Andra lalu mengeluarkan pistol yang selalu ia simpan di kantong jasnya. Dia kemudian menurunkan kaca jendela mobilnya dan mengeluarkan kepalanya.
Dor!
Andra melepaskan satu pelurunya dan tepat mengenai ban depan mobil hitam yang tadi menghantam bagian sebelah kiri mobilnya.
Dor!
Satu kali lagi Andra menembakan peluru pada ban depan mobil itu. Mobil itu oleng lalu menabrak pembatas jalanan begitu keras.
Blar!
Mobil itu meledak dan orang-orang yang ada di dalam sana juga ikut terbakar seiring dengan terbakarnya mobil sedan tersebut.
Mobil yang satunya lagi masih terus mengejar mobil Andra. Salah satu orang dari mobil itu juga mengeluarkan kepalanya pada jendela mobil lalu mulai menembaki mobil Andra.
"Dim berikan aku Fn Fal!" titah Andra.
Dimas lalu menekan sebuah tombol yang membuat mobil itu bergerak otomatis dan Dimas pun beralin menuju jok belakang untuk mengambil senapa Fn Fal.
Setelah mendapatkannya, Dimas kembali mengambil alih kemudi mobil dan memberikan senapan itu pada Andra.
Dalam waktu 1 menit, senapan mesin ini mampu melesakkan 700 butir peluru. Namun sebagai gantinya, sang penembak mudah terdorong mundur.
Andra menyunggingkan senyumnya, "Let's play!" katanya dan kembali mengeluarkan kepalanya pada jendela mobil.
"Game over!" ucap Andra.
Dor!
Dor!
Dor!
__ADS_1
Andra menghujani mobil itu dengan peluru-peluru dari senapannya.
"Lebih banyak lagi Ndra!!" teriak Dimas dengan senangnya.
Dor!
Dor!
Dor!
Blar!
Mobil itu pun meledak setelah ditembaki terus menerus oleh Andra. Sama seperti mobil sebelumnya, para pengendara mobil itu juga ikut terbakar bersama mobil yang meledak dahshyat itu.
Andra kembali menghempaskan bokongnya pada tempat duduknya semula.
"Siapa mereka?" tanya Andra. "Sepertinya mereka bukan anak buah Ronal," tambahnya.
"Lo benar, mereka bukan anak buah Ronal," timpal Dimas.
"Lalu siapa hama-hama busuk itu?" bingung Andra. "Siapapun mereka, mereka akan habis di tanganku," sinis Andra menyunggingkan senyum liciknya.
"Huft... jasku jadi berantakan seperti ini," cerocos Andra memperbaiki kembali jasnya yang sedikit berantakan.
Dimas hanya menyunggingkan senyumnya lalu kembali menancap pedal gas mobil meweh itu menuju perusahaan Yudhiantara Financial.
***
Mobil mewah milik Andra itu memasuki gedung perusahaan Yudhiantara Financial.
Andra dan Dimas turun dari mobil dengan gaya cool khas mereka berdua. Andra lalu memasuki lobi perusahaan di ikuti Dimas di belakangnya.
"Selamat pagi bos," sapa para kariawan yang berpapasan dengan Andra.
Andra memberhentikan langkahnya ketika melihat salah satu pekerjanya memaki-maki seorang office boy.
"Kenapa bos?" tanya Dimas formal.
"Kau lihat pegawai itu," tunjuk Andra pada kariawan wanita itu. Dimas menganggukan kepalanya.
"Pecat dia!" titah Andra. "Gue tidak suka di perusahaan ini ada yang semena-mena seperti itu pada bawahan mereka," tegas Andra.
"Kau urus dia!" Andra lalu meninggalkan Dimas.
Dimas berdecih melihat tingkah kariawan wanita itu. Dimas lalu berjalan mendekat.
"Dasar kau ini..."
Dimas menahan tangan kariawan wanita itu yang hendak menampar si OB yang hanya bisa menunduk.
"Pak Dimas," gugup kariawan itu lalu membungkukkan badannya hormat.
"Perhatian buat kalian semua yang ada di sini!!" teriak Dimas membuat semua mata tertuju pada dirinya.
"Kalian di sini di gaji untuk bekerja bukan untuk memaki-maki orang!" sindir Dimas. "Perlakukanlah semua pekerja di sini dengan baik, bukan karena derajat kalian lebih tinggi dari mereka, bisa seenaknya memarahi mereka!" tambah Dimas.
"Ini peringatan untuk kaliaj semua dan kau di pecat!" tunjuk Dimas. "Bereskan semua barang-barangmu dan keluar dari perusahaan ini," titah Dimas.
"Bos tidak menyukai orang-orang seperti dia, jadi dari sekarang mulailah menghargai orang yang berada jauh di bawah kalian!!" tegas Dimas menatap mereka satu persatu.
"Baik pak," balas mereka semua serentak.
Dimas meninggalkan mereka semua lalu menyusul Andra ke ruangan kebesaran pria itu.
π«π«π«
TBC...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTEπ