Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia : Masalah Ariana


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA!


***


"Duduklah! Biar kuceritakan semuanya padamu," kata Ariana.


Nafisah pun duduk di bibir ranjang. Tangannya sudah tidak di genggam Ariana lagi. Ariana nampak menghirup napas dalam-dalam dan menghelanya dengan sedikit kasar.


"Tiga tahun yang lalu adalah tahun yang paling aku benci dalam hidupku, tahun dimana hanya ada kesengsaraan dan air mata," ujar Ariana dengan sorot mata penuh kebencian.


"Kakak pasti bertanya apa yang aku alami bukan? Kakak tahu aku adalah adik dari Andra Yudhiantara meski begitu aku lebih memilih privasi agar tidak ada orang yang mengusikku hanya karena derajat dan martabat dari keluargaku."


"Selama sekolah dulu, aku selalu berpenampilan culun dan juga tertutup. Mama memilihkanku sekolah elit padahal aku menginginkan sekolah seperti anak kalangan bawah pada umumnya. Karena semuanya sama saja bukan?"


"Dan hari yang tidak pernah kuduga dan bayangkan terjadi. Hari dimana aku berteriak, menjerit, meraung dan menangis. Mereka membuli, dan menghina diriku di depan semua siswa dan siswi sekolah itu."


"Mereka bahkan tega merobek seragamku dan menyiramiku dengan air got. Saat itu aku bahkan memohon pada mereka untuk tidak melakukan itu padaku, tapi mereka seolah tuli dan semakin menjadi. Hanya karena aku cupu dan culun mereka tega melakukan itu padaku."


"Aku sadar aku tidak secantik dan sekeren mereka, tapi bukankah itu sikap yang tidak berkemanusiaan? Aku juga sama seperti mereka manusia. Dari dulu aku memang selalu berpenampilan seperti itu baik di rumah maupun di sekolah ataupun tempat-tempat umum lainnya. Keluargaku saja tidak masalah lalu kenapa mereka bermasalah?" Jelas Ariana mengeluarkan semua permasalahan yang telah ia pendam selama tiga tahun ini.


Ia begitu malu memperlihatkan wajahnya ke hadapan umum apalagi pembulian waktu itu di jadikan video oleh teman-teman sekolahnya dan menguploadnya di berbagai media sosial.


Walaupun semuanya sudah ditangani pihak berwajib dan semuanya sudah dibereskan oleh kakaknya, tapi yang namanya malu tetap saja malu. Mau di taruh dimana mukanya? Semua orang sudah tahu.


Memang dia adalah korban, namun keadaannya waktu itu sangatlah memprihatinkan apalagi banyak bisik-bisik yang mengatakn jika dia adalah gadis kotor.


"Kamu cantik tidak jelek. Tuhan menciptakan kita dengan sifat dan bentuk yang berbeda-beda. Ingatlah, perempuan tidak ada yang tidak cantik, kita semua cantik!" tutur Nafisah jujur, karena gadis yang dihadapannya ini memang cantik meskipun tanpa make up sekalipun.


"Kakak salah, aku jelek!" ujar Ariana dengan tersenyum getir.


"Apa kakak pernah jatuh cinta?" tanya Ariana dan di jawab anggukan kepala oleh Nafisah.


"Aku pernah mencintai dan sampai sekarang masih mencintainya, Allah dan keluargaku aku mencintai mereka lebih dari apapun yang ada di dunia ini," jawab Nafisah mantap.


"Mungkin cintaku terdengar konyol, tapi percayalah aku mencintainya tidak lebih dari cintaku kepada Tuhan dulu. Apa dia tahu bagaimana sakitnya aku setelah melakukan semua itu padaku?" racau Ariana meremas dadanya yang terasa sesak.


"Dia siapa?" tanya Nafisah dengan kening berkerut.


"Dia, laki-laki yang aku suka. Aku sadar jika cintaku itu hanyalah cinta monyet," jawab Ariana. "Ini memang lucu karena aku masih bocah dan sudah tahu apa itu cinta, cih... jika mengingatnya rasanya aku ingin muntah," tutur Ariana.


Cinta bukanlah suatu yang salah. Namun, cinta terkadang jatuh pada orang yang salah. Mencintai bukanlah kesalahan. Menolak pun bukanlah kejahatan.


"Sudahlah. Kamu lupakan semuanya dan mulaiah lembaran baru! Lebihlah mendekatkan dirimu pada Tuhanmu jangan mengikuti bisikan setan yang terkutuk!" seru Nafisah.


"Terima kasih kakak sudah mau mendengarkan keluh kesahku," kata Ariana tersenyum pada Nafisah.

__ADS_1


"Kembali kasih," balas Nafisah tersenyum.


***


Sedangkan di teras rumah taman itu,  Sofia sedang menunggu Nafisah. Namun tak kunjung juga muncul. Sudah lima belas menit dia menunggu tapi gadis bercadar itu beum juga terlihat batang hidungnya.


"Kenapa Nafisah lama sekali?" tanya Sofia pada dirinya sendiri.


"Bisa gawat kalau bos sampai tahu kami datang ke sini tanpa sepengetahuannya," gumam Sofia takut-takut.


"Woy, ngapain kamu disitu bengong?" tanya Akhsan yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Sofia.


"kayak jalangkung saja. Datang tak diundang pulang tak dijemput," cibir Sofia.


"Enak saja kamu mengataiku jalangkung. Aku buka jalangkung yah!" kata Akhsan.


"Kalau bukan jalangkung apa dong?" tanya Sofia.


"Kuyang!" jawab Akhsan ketus.


"Gak usah ketus-ketus seperti itu. Muka udah kusut dibuat tambah kusut lagi!" ejek Sofia lalu meninggalkan Akhsan masuk kembali ke dalam rumah taman itu.


"Eh, mak lampir tungguin aku!" teriak Akhsan lalu berlari menyusul Sofia.


"Itu mulutmu mau di sumpal tidak? Kalau tidak jangan berisik!" bentak Sofia menatap tajam Akhsan.


"Eh, tunggu sebentar!" cegah Akhsan menahan tangan Sofia yang hendak membuka pintu kamar Ariana.


"Apa?" tanya Sofia sewot lalu menepis kasar tangan Akhsan.


"Kamu ini cewek apa cowok sih? Beraninya main kasar, Aku aja cowok lembut gak malu sama aku?" Ujar Akhsan.


"Gak! Ngapain malu sama elo, elo itu cowok jadi-jadian," ejek Sofia. " Ini apa-apaan lagi pegang-pegang tangan gue. Gue harus mandi kembang tujuh rupakan sekarang," kata Sofia melap tangannya yang tadi di pegang Akhsan.


"Idih, emang aku kotoran anjing kudu pake mandi-mandian segala," Ketus Akhsan.


Yah, beginilah jika Sofia dan Akhsan dipertemukan. Mereka akan selalu bertengkar bak tom and jerry. Walau masalah kecil saja, mereka selalu bertengkar.


"Baru sadar!" Sofia memutar matanya malas. "Ada apa?" tanya Sofia.


"Itu telingamu tuli atau bagaimana? Kamu tidak dengar di dalam ada yang lagi ngobrol," ucap Akhsan sambil menempelkan telinganya  ke daun pintu.


Sofia juga ikut-ikutan dengan Akhsan. Dia menempelkan telinganya pada daun pintu mengecek apa yang di katakan Akhsan benar adanya atau hanya halu dari cowok jadi-jadian itu.


Setahunya di dalam hanya ada Nafisah dan Ariana yang kondisinya belum normal. Mungkinkah Nafisah masih berusaha menyadarkan Ariana, namun kata Akhsan mengobrol.

__ADS_1


Bukankah mengobrol itu berarti dua orang atau lebih? Satu orang mana bisa!


"Oh iya, apa kamu tidak bosan berada di dalam sini terus menerus?" tanya Nafisah.


"Mmm... ini adalah tempat ternyamam bagiku. Di sini aku tersembunyikan, sedangkan di rumah besar banyak orang," jawab Ariana.


Sofia dan Akhsan saling menatap. Mereka melototkan mata mereka masing-masing. Ini adalah hal mustahil. Benarkah Ariana adik bosnya itu sudah kembali normal? Tapi, itu adalah suara Ariana. Sofia masih ingat suara lembut itu.


"Benarkah yang ku dengar tadi itu?" tanya Sofia dan Akhsan mengangguk mantap.


"Ariana," ucap mereka bersamaan.


Sofia langsung memutar knop pintu dan membuka pintu kamar Ariana. Ariana dan Nafisah sontak langsung memandang ke arah Sofia dan Akhsan yang diam tak percaya di ambang pintu.


"Kalian?" ucap Nafisah dengan kening berkerut.


Sofia berjalan menghampiri Ariana dan langsung memeluknya dengan perasaan haru. Akhirnya orang yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri kini kembali berbicara. Itu adalah sebuah anugrah.


"Kamu sudah sembuh An?" tanya Sofia. Ariana mengangguk dan membalas pelukan Sofia.


"Iya kak, Ana sembuh berkat bantuan kak Nafisah," Ucap Ariana.


Sofia menatap Nafisah dengan mata yang memancarkan sorot kebahagiaan, "Terima kasih kamu telah menyembuhkan Ariana," ucap Sofia.


"Jangan berterima kasih kepadaku, Ariana sembuh itu karena kehandak Tuhan dan juga karena kemauannya sendiri," balas Nafisah tersenyum.


Sofia melepaskan pelukannya lalu memegang kedua pipi ariana dan menatap Ariana dalam-dalam.


"An, tetaplah seperti ini! Jangan pikirkan lagi masa lalu pikirkan saja masa depan, masa lalu biarlah berlalu, tapi masa depan sudah menunggumu!" tutur Sofia dan Ariana pun mengangguk.


"Iya kak, Ana janji tidak akan seperti itu lagi!" balas Ariana dan Sofia pun kembali memeluknya.


"Astaga ini mengharukan sekali," kata Akhsan sambil menghapus bulir-bulir bening yang berhasil lolos keluar dari matanya.


"Halo, nyonya!" sapa Akhsan pada Nafisah.


"Hay," balas Nafisah.


"Perkenalkan saya Akhsan salah satu pelayan rumah besar. Maklum saja yah nyonya jika gaya saya seperti ini. Karena saya ingin menjadi cewek, namun terlahir jadi cowok," pungkas Akhsan mengerucutkan bibirnya.


"Eh, i-iya," kata Nafisah gugup.


🔫🔫🔫


TBC...

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE💕


__ADS_2