
SELAMAT MEMBACA!
***
Sore hari di kota A, Nafisah sedang berjalan-jalan untuk menghirup udara segar. Sudah lama ia tidak ke kampungnya ini dan sekarang dia sudah ada di sini.
Nafisah menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan dan Nafisah pun tersenyum.
"Kak Adam," ucap Nafisah kala melihat orang yang beberapa waktu lalu datang melamarnya.
Lelaki berparas tampan, tubuh tinggi, kulit putih, hidung mancung, dan bermata bulat, berusia kisaran 25 tahun sama dengan kakaknya.
Nafisah pun berjalan mendekat ke arah Adam yang tengah melakukan joging.
"Assalamualaikum," salam Nafisah.
"Waalaikumsalam," jawab Adam dengan raut wajah nampak kaget. "Kapan balik, Naf?" tanya Adam.
"Tiga hari yang lalu kak," jawab Nafisah dan Adam manggut-manggut.
Kembali sunyi. Hening. Tidak ada yang membuka bicara. Keduanya sama-sama canggung. Tidak tahu harus berkata apa, karena memang mereka tidak terlalu akrab.
"Oh iya kak, aku mau membicarakan sesuatu dengan kakak," ujar Nafisah serius.
"Sepertinya hal yang serius bicaralah!" ucap Adam.
"Bagaimana kalau kita duduk dulu, gak enak ngomong seperti ini," kata Nafisah.
Adam pun menganggukkan kepalanya lalu mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk buat mereka berdua.
"Kita duduk di sana saja!" kata Adam menunjuk bangku taman.
"Baiklah," balas Nafisah.
Mereka kemudian berjalan berdampingan menuju bangku taman. Nafisah duduk di bangku taman.
"Kakak kenapa berdiri?" tanya Nafisah. "Sini duduk!" lanjut Nafisah.
"Gpp aku berdiri di sini saja, lagian kita bukan mahram kalau duduk berdekatan seperti mereka," ujar Andra lalu menatap ke arah dua sejoli yang sedang bermesraan di depan umum.
Nafisah juga ikut memandang dua sejoli itu lalu menganggukkan kepalanya mengerti.
"Tapi, Aku gak enak loh kak, kalau aku enak-enak duduk kakak malah berdiri. Berkesan aku itu gak ngehargain orang yang lebih tua," tutur Nafisah.
Adam tersenyum. "Aku juga belum terlalu tua Naf!" timpal Adam menggeleng-gelengkan kepalanya. "Baiklah, tadi kamu mau mengatakan apa?" tanya Adam.
"Kak Adam," ucap Nafisah.
"Hmm?" balas Adam.
"Aku mau mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat kakak sakit hati atau apa, tapi aku tidak ada niatan untuk menyakiti kakak," jelas Nafisah.
"Maksudnya?" tanya Adam mengernyit bingung.
__ADS_1
"Maafkan aku kak, tapi aku tidak bisa menerima lamaranmu," jawab Nafisah to the point.
"Kenapa?" tanya Adam sembari tersenyum kaku pada Nafisah.
"Karena kita bukanlah jodoh yang di takdirkan Allah untuk bersama kak," jawab Nafisah dan dia harap Adam bisa mengerti apa maksudnya.
"Maafkan aku sekali lagi kak, jika aku tanpa sengaja menyakiti kakak maupun hati kakak," kata Nafisah dengan penuh penyesalan.
"Tidak, kamu tidak perlu minta maaf! Mungkin memang benar kita bukanlah jodoh yang di takdirkan Allah untuk bersama-sama," balas Adam sambil tersenyum.
"Aku akan mendoakan semoga kakak mendapatkan perempuan yang lebih baik dari aku. Lebih cantik dan juga lebih sholeha pastinya," kata Nafisah tersenyum.
"Tidak ada perempuan yang mampu melebihi dirimu di mataku Naf dan sampai kapan pun hati ini akan selalu menjadi milikmu," batin Adam.
"Amin," ucap Adam.
"Baiklah kak, kurasa ini sudah terlalu sore aku harus kembali sekarang," ucap Nafisah berdiri dari duduknya.
"Aku juga mau pulang sekarang," timpal Adam.
"Mari pulang bersama kak," tutur Nafisah dan di jawab anggukan kepala oleh Adam.
Mereka berdua pun berjalan menuju ke rumah masing-masing.
***
"NAFISAH!!" teriak seseorang dari arah belakang Nafisah dan Adam.
Seorang gadis berhijab berjalan mendekat ke arah mereka. Wajahnya terlihat garang di tambah lagi dengan apa yang dipegangnya. Sapu lidi, senjata ampuh the power of emak-emak. Yang mampu membuat bekas dan memberi rasa panas jika dipukulkan ke tubuh manusia.
Adam dan Nafisah saling menatap lalu sama-sama mengidikkan bahu masing-masing.
"Kau sudah pulang?" tanya gadis itu dengan girang. Wajahnya yang tadi terlihat garang kini telah berubah berseri-seri dengan hiasan bibir melengkung serta jejeran gigi dengan gingsul.
"Iya, eth... kau mau apa?" tanya Nafisah memundurkan tubuhnya kala gadis itu akan menubruk tubuhnya.
"Mau peluklah," sewot gadis itu.
"Oh, kirain mau memukulku," kata Nafisah.
"Kau ini selalu saja soudzon denganku," imbuh gadis itu mengerucutkan bibirnya.
"Yaudah sini peluk aku kalau mau peluk, tapi itu disimpan dulu okey!" ucap Nafisah sambil menunjuk sapu lidi yang dipegang gadis itu.
Gadis itu langsung saja membuang sapu lidinya ke sembarang tempat dan dengan sekajap mata ia telah memeluk tubuh Nafisah dengan begitu senangnya. Sampai ia berjingkrak-jingkrik membuat Nafisha kelelahan mengimbanginya.
"Sudah-sudah aku lelah," keluh Nafisah. Gadis itu langsung melepaskan dekapannya dan menyengir kuda pada Nafisah.
"Sorry, aku terlalu bahagia dengan kepulanganmu. Sudah lama kita tidak pernah bertemu," ucap gadis itu.
"Ohiya, kau kapan datang? Kenapa tidak mengabariku? Dan kenapa beberapa hari yang lalu aku tidak bisa menghubungimu? Apa hpmu rusak?" tanya gadis itu beruntun.
"Sepertinya kalau aku menceritakannya sekarang, sampai maghrib pun tidak akan selesai. Jadi, kau datanglah ke rumahku biar aku menceritakan semuanya. Kasihan kak Adam harus menungguku lama," tutur Nafisah menatap Adam yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan dari kedua gadis seumuran itu.
__ADS_1
"Oh, ada abang ganteng juga ternyata, assalamualaikum abang," sapa gadis itu dengan gaya centilnya pada Adam.
"Waalaikumsalam," jawab Adam lalu tersenyum pada gadis yang telah lama menjadi pengagum rahasianya itu.
Gadis itu tersipu malu. Dia menundukkan wajahnya sambil menggigit bibir bawahnya. Jantungnya berdebar-debar.
"Kalau begitu kami pulang dulu yah!" pamit Nafisah.
"Aku ikut ke rumahmu!" pinta gadis itu sambil mengedipkan sebelah matanya.
Nafisah mengangguk, namun baru saja mereka akan melangkah pergi suara besar kembali terdengar. Tapi, sekarang bukan dari gadis itu melainkan dari seorang ibu paruh bayah.
"ALIYAH!! MAU KE MANA KAMU? INI DAUN BELUM KAMU SAPU," teriak ibu paruh bayah pada gadis bernama Aliyah itu.
"IYA BU BESOK ALIYAH SAPU KOK," balas Aliyah pada ibu paruh bayah yang merupakan ibunya itu.
"BESOK-BESOK, TIDAK ADA BESOK-BESOK SAPU SEKARANG!!" titah ibunya Aliyah.
"Ish ibu nih, Aliyah mau ke rumahnya pakcik dan makcik bareng Nafisah," ucap Alya sambil menghentak-hentakkan kakinya pada aspal.
"Nanti malam saja kamu ke rumah pakcik dan makcikmu, sekarang sapu ini dulu!" balas ibunya lagim
"Benar kata ibumu, kamu kerjakan dulu itu Al, nanti malam baru ke rumahku!" seru Nafisah pada sapupunya itu.
"Okeylah," balas Aliyab masih dengan wajah kesalnya.
"Makcik, Nafisah dan kak Adam balik dulu yah," pamit Nafisah pada ibunya Alya.
"Iya, hati-hati yah," balas ibunya Aliyah dengan lembut nan ramah beda saat dia berbicara dengan putrinya.
"Iya makcik, assalamualaikum," ucap Nafisha dan Adam.
"Waalaikumsalam," jawab Aliyah dan ibunya.
Adam dan Nafisah pun kembali berjalan menuju rumah mereka masing-masing.
"KAMU KENAPA MASIH DISITU KEMBALI KESINI!" titah Meurah, ibu Aliyah
"IYA," balas Aliyah.
"Sama orang lain aja lembutnya minta ampun. Sama anak sendiri galaknya macam kak ros," gumam Aliyah.
"Sapu mana?" tanya Meurah saat Alya sudah kembali ke halaman rumah mereka tanpa membawa sapu lidi yang tadi di pegangnya.
Alya menggaruk kepalanya yang terhalangi jilbab. Bagaimana bisa ia melupakan sapu lidi kesayangan ibunya. Oh astaga, bisa terjadi perang keempat ini.
"Aliyah lupa ngambil," ucap Aliyah lalu berlari guna mengambil sapu yang tadi ia buang ke sembarang tempat tadi.
🔫🔫🔫
TBC...
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN💕
__ADS_1